Tag Archive: puisi

Daun yang Menikmati Karma

Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi Bergerigi pada pinggirnya Warnanya masih hijau Melayang pelan diiring angin Ia berbisik pada angin “Inilah karmaku dan aku menerimanya sebagai takdirku.” Angin tak menjawab Ia hanya mengiringi Daun luruh Masih hijau Menyentuh bumi Ia menyapa bumi, “Izinkan aku melesak, memburai dan nadir.” Bumi tak menjawab Ia hanya menerima Daun meringkuk di tanah Ia tahu sebentar lagi kehidupan direnggut darinya Ia rela melewati karma lebih cepat Ia membaca dialektika pohonnya Ia menerima antithesisnya Ia tersedak dan melonggarkan renggutnya pada tangkai pohon Dalam detak kehidupannya yang tinggal sedikit Ia Baca Selanjutnya...

Ode untuk Rintik Hujan

Jika, Kesiur angin tak menerbangkan mega di bentang langit Apakah kau akan tetap datang? Kalau saja, matahari tak surut menjantang Sudikah kau menghujam bumi? Jika, dan hanya jika Aku adalah telaga tanpa tepi yang tak mengenal daratan Beranikah kau menitipkan satu rintikmu di telagaku? Nyatanya, Kau datang pada satu ruang sahara Meluruhkan segala ketidakmungkinan Dan aku bernyanyi diantara rintikmu Sebuah Ode untuk Rintik Hujan Baca Selanjutnya...

Kau dan Bulan

Ada bulan di sela rambutmu
Berpendar pada dongeng malam
Kirana bertumbuk pada harum helai rambutmu
Aroma malam yang selalu kurindukan

Ada bulan di sela rambutmu
Bulat jumawa di langit hitam
Mengayunkan getar mistis
Energi yang selalu ingin kudekap

Ada bulan di sela rambutmu
Memamerkan kilau
Mata hati menghakimi
Kau lebih indah dari bulan itu, duhai separuh jiwakuÂ….

(Catatan bulan yang menjantang di akhir Februari)

Share

Ra

Percik membiak cepat Merapahi ruang-ruang waktu Menyibak selimut kelam malam Membolehkan nur menerobos: matahari Ra* Sulur menyapa Dalam temperatur pagi yang hangat Dalam gelora siang yang menggiat Dalam pendar senja yang meranum Dalam perak sinar yang kau titipkan pada bulan Dari belahan semesta yang berbeda Ra Kosong kantung tanpa bekal Tanpa ragu kujejaki langkah Untuk mendedah hari Untuk mengoyak labirin Untuk ayunan damai yang kita mainkan Demi hakiki yang telah menjajah hati Ra Darimu, hidup telah dimulaiÂ…. *Ra adalah Dewa Matahari, Dewa Tertinggi dalam kepercayaan Mesir Kuno . Baca Selanjutnya...

Laki-Laki Malaikat Pos

Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingakuÂ….selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan. Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku berpijak, tentang bintang yang pernah disinggahinya. Sayap lebar mengepak bersamaan dengan kerling godanya. Lalu ia pun menyusur di jejak yang sama denganku kini. Seperti tak ingin dia melepas, laki-laki malaikat menebar serbuk-serbuk kasih diselubungku. Menjeratku dengan Baca Selanjutnya...

Yan

yan, ada rekam jejak yang menggores tebal pada sulur-sulur waktu lalu labirin yang begitu saja terhampar meliuk di jalan labuh hitungan angka yang kau ungkit terlalu lama buat resam tubuh melenakan aku pada gumuk membumbung tinggi lepas sentuh renjana tak lagi berbahasa meretas kubu tanpa himpitan kurva kau yang meredam beku dalam dingin alaska minus sepuluh aku yang tergugu pilu diguyur gemuruh hujan tanpa sambut kubuku bersinar saat bumimu melesak tak ada lagi fusi tlatah bersuara beda dalam harap rasa yang tak jadi sampah bisakah kotak pandora ini kita kemasi? yan, suara membahana di depan kita semua berhak bahagia, bukan? (desember ketika hati kau Baca Selanjutnya...

Rapuh

prolog: tolong putar lagu Rapuh-Padi, saat kau baca catatan iniÂ… Mungkin, kau salah membaca senyumku Kau kurang cermat melihat garis bibir ini, karena ini bukan senyum Tapi, bagaimana kau bisa lihat jika tak memandang? Mungkin, kau lupa soal jantungku Kau kurang menghitung detaknya yang melambat Tapi, bagaimana bisa kau ingat jika tak merasakan? Mungkin, kau eja dari hanya dari pikiranmu Kau tak mengutip percik-percik yang kusimpan Tapi, bagaimana kau eja jika kau mendaraskan dengan geram? Mungkin kau tak lagi bisa mengintip dari kacamatamu Tapi, biarlah kusampaikan lewat puisiku Aku di ujung rapuhÂ… Seperti hujan yang lesak ke tanah, menunggu sirnaÂ… (merapuh Baca Selanjutnya...
Loading...
X