Tag Archive: Lisa Febriyanti

Jiwa, Pilihan Hidup dan Samsaranya

kehidupanmu yang kini adalah sebuah rentang untuk memperbaiki kehidupanmu yang lalu Selembar nyawa selalu baru dan satu, tetapi jiwa adalah energi yang telah hidup sejak masa lampau. Itu yang aku percaya. Terlepas dari institusi keyakinan (yang disebut agama) yang aku anut, aku percaya bahwa jiwa yang ada dalam diriku telah berkelindan pada masa-masa lampau. Jiwa yang kini menjadi penghuni tubuhku adalah percikan energi yang terus berdialektika mencapai moksanya, mencapai titik paling kulminasi lalu berpulang ke rumah abadi dan bercahaya gemilang di sana. Bukan sebuah kebetulan jika pada orang-orang tertentu, jiwaku ini menjadi mudah erat, bahkan pada perjumpaan pertama sekalipun. Baca Selanjutnya...

Pohon Jambu yang Menyimpan Suara Kecil

Ketika kau masih kanak-kanak, kemana resah kau sembunyikan? art nouveau style tree Sejak kanak-kanak, banyak resah yang terangkum dalam hatiku. Resah a la kanak-kanak yang tersimpan sendiri dan tak bisa diungkapkan. Ringan saja, misalnya tentang kenapa perempuan banyak bermain dengan boneka? Kenapa papa dan mama harus bekerja?Kenapa aku harus mengaji? Hanya cuplik resah tentang banyak pertanyaan, ketika aku tak tahu bagaimana harus bertanya dan mencari jawabannya. Aku tumbuh dalam keluarga besar. Dua rumah yang disajikan satu. Ada 13 orang dan 3 generasi yang tinggal di dalamnya. Generasi nenek, generasi orang tua dan anak-anak. Dalam pertumbuhanku, aku tak banyak ingin tahu Baca Selanjutnya...

Atas Nama Asmara

Pada suatu waktu yang disebut malam
Aku menebar kecemburuan pada bulan yang boleh mencapai kirana
Aku merepih pada embun yang boleh memeluk daun
Sesekali panas hatiku pada dua cicak yang bercumbu tanpa malu

Atmaku terburai, renik-renik dijumput waktu yang tak kupunyai
Ditingkahi siluet senyummu di tiap-tiap partikelnya
Jika ini memang samsaraku, atas nama asmara, aku ingin meminta maaf karena ingin memilikimuÂ…tanpa batas waktu.

Share

Taman, Pagi IniÂ…

Kekosongan adalah keberadaan ilalang Ada aktivitas baru yang sekarang kulakukan tiap pagi. Setelah alarm berbunyi, aku memaksa tubuh menyapa pagi. Menyeruput satu gelas besar air putih, membuka pintu, lalu membiarkan sisa-sisa embun melesak ke dalam pernapasanku. Aku duduk di pojok beranda. Ujung ubinnya bersentuhan dengan batu-batu putih dan tanah yang jadi penghuni taman. Di sana, tempat favorit baruku. Tiap pagi, aku mencuri waktu sekira lima belas menit untuk duduk diam di sana. Membolehkan pagi membuka mataku lebih lebar, agar aku bisa memandangi hijau rumput, pucuk-pucuk daun, rekah bunga kamboja, meliuknya sansiviera, dan bunga jalanan berwarna ungu yang entah dinamai Baca Selanjutnya...

Kau Matahari dan Aku Bumi

Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (WS Rendra) Kau adalah matahari. Pembongkar kesadaranku akan hidup. Sinarmu, terik memercik, menyilaukan, mampu membuatku buta pada banyak hal. Sekaligus, cahaya itu yang menjadi terang dalam gelapku. Solarmu adalah tenaga kehidupanku, pemberi energi abadi. Duhai, bintang pusat galaksi bima sakti, kau adalah pusat mikrokosmosku. Aku adalah bumi. Belajar bersabar menunggumu di tiap-tiap fajar. Dan ketika malam tiba, aku termangu pada bulan, menantikan pantul sinarmu di permukaan bulan. Ketika senja datang membawa resahku, aku percaya, kau tak pernah hilang Baca Selanjutnya...

Daun yang Menikmati Karma

Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi Bergerigi pada pinggirnya Warnanya masih hijau Melayang pelan diiring angin Ia berbisik pada angin “Inilah karmaku dan aku menerimanya sebagai takdirku.” Angin tak menjawab Ia hanya mengiringi Daun luruh Masih hijau Menyentuh bumi Ia menyapa bumi, “Izinkan aku melesak, memburai dan nadir.” Bumi tak menjawab Ia hanya menerima Daun meringkuk di tanah Ia tahu sebentar lagi kehidupan direnggut darinya Ia rela melewati karma lebih cepat Ia membaca dialektika pohonnya Ia menerima antithesisnya Ia tersedak dan melonggarkan renggutnya pada tangkai pohon Dalam detak kehidupannya yang tinggal sedikit Ia Baca Selanjutnya...

Ada Berapa Wajah dalam Dirimu?

Ada berapa wajah dan jiwa yang kita punya? Apakah seseorang memiliki konsistensi untuk tetap menunjukkan satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya? Kerap kali aku melihat kawan, sahabat yang aku rasa kenal betul tiba-tiba menjadi seseorang yang berbeda, dalam ruang yang berbeda. Aku kira sudah sepenuhnya kenal siapa diri mereka, tetapi dalam ruang yang berbeda, terjadi perubahan. Wajah mereka berbeda, seperti juga jiwanya. Layaknya, mereka seseorang yang baru aku kenal. Inikah adaptasi atau memang tak ada seorang pun yang memiliki satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya? Lalu, aku melihat diriku sendiri. Apakah tanpa aku sadari, aku pun memiliki perubahan yang demikian? Lisa Febriyanti Baca Selanjutnya...
Loading...
X