Loading...
X

Pohon Jambu yang Menyimpan Suara Kecil

Ketika kau masih kanak-kanak, kemana resah kau sembunyikan?

art nouveau style tree

Sejak kanak-kanak, banyak resah yang terangkum dalam hatiku. Resah a la kanak-kanak yang tersimpan sendiri dan tak bisa diungkapkan. Ringan saja, misalnya tentang kenapa perempuan banyak bermain dengan boneka? Kenapa papa dan mama harus bekerja?Kenapa aku harus mengaji? Hanya cuplik resah tentang banyak pertanyaan, ketika aku tak tahu bagaimana harus bertanya dan mencari jawabannya.

Aku tumbuh dalam keluarga besar. Dua rumah yang disajikan satu. Ada 13 orang dan 3 generasi yang tinggal di dalamnya. Generasi nenek, generasi orang tua dan anak-anak. Dalam pertumbuhanku, aku tak banyak ingin tahu tentang geliat orang tua. Aku adalah anak kecil yang asyik dengan diri sendiri. Aku adalah anak kecil yang sudah cukup memiliki keasyikan dengan dirinya sendiri. Meskipun dalam generasiku ada 4 sepupu laki-laki yang bertumbuh bersama, tetapi hanya separuh waktu kuhabiskan bermain dengan mereka. Selebihnya, aku lebih suka menciptakan permainanku sendiri. Bukan bermain masak-masakan atau boneka. Aku lebih suka bermain jadi guru dengan murid-murid virtual yang namanya kuciptakan sendiri. Beradegan mengajar dengan mencoreti pintu kayu menggunakan kapur dan meminjam sepatu berhak tebal milik mamaku. Aku menciptakan panggung hiburanku sendiri di sana.

Ruangku yang lain untuk melabuhkan resah adalah pohon jambu di belakang rumah. Banyak siang yang aku habiskan di batang jambu klutuk itu. Jika mengajar virtual adalah kegiatan menghabiskan waktu dengan tenaga, lalu di batang jambu itu lah percik-percik pemikiran dan keresahan kugantungkan di dahan-dahannya. Kadang aku tak sepenuhnya sendirian duduk di sana. Ada beberapa buku bacaan yang kubawa serta ke atas. Nina, Trio Detektif, Lima Sekawan, itulah kawan-kawan sejatiku pada masa kecil.

Nyaris setiap habis ashar, aku duduk di salah satu dahannya. Aku memilih dahan yang menjulur horisontal dan kukuh. Aku merasa pohon jambu itu punya telinga yang bisa mendengarkan resahku. Aku bicara padanya tanpa suara. Jika pohon jambu itu sudah kebak dengan galauku, aku memakluminya. Lalu, membiarkan angin yang membawa pergi suara kanak-kanakku.

Aku meninggalkan pohon jambu itu ketika mulai beranjak dewasa. Ketika sore yang kupunyai lebih banyak dilewatkan bersama teman-temanku. Tetapi, sesekali aku masih mendatangi pohon jambu itu, duduk di dahan yang mulai rapuh, setelah menyingkirkan semut-semut merah yang merayapi dahannya. Tak berlama-lama di sana, hanya mencoba terus mengekalkan ikatan energiku dengannya.

Ketika aku bertolak ke Jakarta, tanpa sepengetahuanku, pohon jambu itu ditebang. Lahan di belakang rumah kemudian difungsikan sebagai service room. Sahabat baik yang telah bertukar energi denganku selama bertahun-tahun itu sudah luruh. Bagiku, dia hidup untuk memberi ruang bagi keresahan-kerasahanku. Untuk suara-suara kecilku yang tak tahu dimana harus dialamatkan. Dia menyimpan banyak celoteh bisuku di tiap dahan, daun dan buahnya yang sepat. Jika saja seluruh tubuhnya bisa menampung kata-kata selayak kertas, pasti dia sudah penuh dengan coretan.

Saat ini, aku ingin mengulang penyatuan energiku bersama pohon jambu itu. Aku begitu merindukan sahabatku itu. Sahabat tanpa kata yang jadi ruang membenamkan gelisah. Aku merindukan dia tumbuh di halaman belakang rumahku saat ini. Agar aku bisa melabuhkan gundah yang seperti kekal menghuni hati. Aku merindukan memeluk dahannya yang keras. Aku merindukan duduk menjuntai di dahan itu, tanpa pernah merasa kesepian meskipun tak ada suara yang kami tukar lewat udara. Rasanya hanya pohon jambu itu yang berani bersabar untuk mendengarkan cericauku.

Di rumah yang penuh sesak oleh kenangan itu, di jalur kehidupanku yang entah menuju kemana ini, aku bermimpi pohon jambu itu ada untuk aku bertengger sejenak melabuhkan resah yang tak berhenti bernyanyi. Karena telinga terhalau rambut, karena ruang telah pepat oleh ego dan waktu terlalu sibuk untuk dirinya sendiri. Pohon jambu itu tanpa suara, namun mampu menyimpan suara dalam frekwensi berapapun.

: untuk rindu yang menggebu. semoga tak jadi debu.

.

Share

Leave Your Observation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>