Posted by Lisa Febriyanti on Nov 5, 2008 | In ladang budaya | 6 Comments
Pada suatu sore, di kampung halaman, ditemani gerimis di luar sana, samar-samar saya mendengar sebuah kidung khas Suroboyo. Mungkin dari sebuah radio antik milik tetangga saya. Yang terdengar adalah suara khas seorang laki-laki sedang menyenandungkan parikan. Segera saya hapal pemilik suara itu: CAK KARTOLO.
Bagi kawan-kawan yang pernah tinggal di Surabaya pada era 80-90an, pasti mengenal Kartolo cs. Bersama dengan kawan-kawannya: Basman, Blonthang, Sapari, Sokran dan isterinya sendiri, Tini, mereka menyatu dalam grup kesenian karawitan Sawunggaling. Mereka dengan lincahnya menghibur dengan guyonan khas Suroboyo, baik melalui pertunjukan seni visual seperti ludruk, maupun lewat siaran-siaran radio.
Saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan dengan begadang semalaman di kamar saat membuat tugas kuliah maupun skripsi. Di saat radio lain hanya berbunyi sssssssssttttttttttttttttttttttttt, saya mencari gelombang yang menyiarkan guyonan Kartolo cs itu. Sembari mengerjakan tugas, saya bisa tertawa terpingkal-pingkal sendiri mendengarkan guyonan itu. Jadi kawan yang meriah sembari bergelut dengan diktat kuliah. Langgamnya mengalun dalam irama yang gemulai sekaligus tegas, memberikan ciri khas pada budaya Jawa Timuran.
Selengkapnya »
Popularity: 24% [?]
Posted by Lisa Febriyanti on Nov 4, 2008 | In ladang puisi, ladang kisah | 8 Comments
Yup, konsentrasilah. Genangkan hanya satu hal dalam benak: lepaskan dunia…
Himpun semua energi. Bervibrasilah hingga ke tingkatan tertinggi.
Hup, terbang, membumbung. Tinggalkan sebentar raga yang penuh luka dan dendam, tubuh yang penuh emosi dan kelicikan, sarira yang dikotori ambisi, napsu dan angkara. Mengapung, melayang, ke bintang yang bercahaya gemilang…

KE ALAM ASTRAL!
dan kau akan tahu….sebuah kedamaian bukanlah utopia…
(my trance, serpong 4:19am)
pic taken by icha, using olympus camera
Popularity: 32% [?]
Posted by Lisa Febriyanti on Nov 1, 2008 | In ladang gambar, ladang pelesir | 11 Comments
edisi gambar akhir pekan
Kemarin saya sempat berbincang dengan seorang kawan. Dia saat ini tengah berada di Porong, dikelilingi lumpur yang meluap tanpa henti, akibat kecerobohan dan ketamakan Lapindo Brantas. Bukan sedang pelesir, tapi sedang berbuat sesuatu untuk para penduduk yang makin tak jelas nasibnya di sana. Selain menuliskan terus update kondisi di Porong, kerap ia duduk melingkar bersama anak-anak di sana dan mengajari mereka membuat komik. Komik Curhat, itu istilah dia.
Dari dia saya tahu, bahwa makin banyak desa yang terhapus dari peta. Bahwa, semburan lumpur yang kabarnya memiliki 99 bubble itu entah kapan akan berhenti, karena satu ditutup, semburan baru akan terkuak di sebelahnya. Bahwa, ganti rugi yang diberikan selama ini tak juga lengkap. Bahwa di tengah kondisi carut marut itu, masih banyak juga provokasi dan intrik antara sesama warga. Bahwa, luapan yang terus dibuang ke laut akan berpotensi menimbulkan bencana yang baru lagi.
Bulan Juli 2007, saya pernah datang ke Tanggul Siring. Saat itu, Tanggul Siring masih berjarak kira-kira satu kilometer dari jalan raya. Dan awal tahun ini, ketika saya melewati Porong lagi. Tanggul Siring sudah sangat melebar. Tanggul itu kini persis ada di sisi jalan raya Porong. Disokong dengan tanah dan batu-batu yang direkatkan dengan kawat, yang makin meninggi.
Foto-foto di bawah ini adalah situasi desa dan Tanggul Siring saat kunjungan pertama saya di tahun 2007. Saat ini, rumah, pohon, masjid yang mengitari Tanggul Siring sudah tenggelam dan tak nampak lagi. Ini sebuah kenangan tentang sebuah tempat yang terhapus dari peta.

Desa Siring
Selengkapnya »
Popularity: 36% [?]
Posted by Lisa Febriyanti on Oct 31, 2008 | In ladang kisah | 9 Comments
Saya teringat…..
Pada sebuah persahabatan yang indah dan tak lekang. Puluhan tahun kami mengulum manisnya cerita. Meski bergulung-gulung lembaran yang tertoreh, tak pernah setitik pun luka jadi bahasanya. Berbagi gembira, berbagi sedih, saling menopang, meski membentang jarak dan waktu.
Saya teringat….
Pada berbiji-biji perubahan yang mengiringi langkah kami masing-masing. Wajah, gaya rambut, berat tubuh, kawan-kawan yang mengitari, cerita yang mengikat hidup, kedukaan yang silih berganti, keberhasilan yang menyapa. Kami terus bertumbuh, bermetamorfosa dalam kepompong masing-masing. Tapi kami punya satu hal yang terus tergenggam, persahabatan.
Selengkapnya »
Popularity: 27% [?]
Posted by Lisa Febriyanti on Oct 29, 2008 | In ladang kisah | 7 Comments
Hidup di Jakarta? Hmmm, ya gitu deh….tentu ada selaksa liku dan cerita. Sedih, senang, gagal atau berhasil. Jakarta sungguh suatu ujian. Sudah banyak yang tahu itu. Tapi tetap juga banyak orang berbondong-bondong datang. Hingga tiap tahun Pemda DKI bersusah payah melakukan operasi yustisi di tiap daerah.
Ujian sekaligus surga bagi yang mampu mengalahkannya. Apa saja tersedia di Jakarta. Cari harta atau cinta, bisa dengan cara apa saja. Soal cinta, memang bisa ditemukan di mana saja. Tapi di Jakarta, mau cari cinta model apa saja tersedia.
Mau cinta a la busway yang melaju kencang di jalur tanpa hambatan, dengan pendingin, petugas keamanan dan pengemudi yang tampil ekslusif, lalu penumpang yang rata-rata berbau harum. Ada di sana. Cinta model intelek. Atau mau cari cinta model bajaj yang berjalan tersuruk dan ekstra keras mewujudkan setoran agar mampu bertahan. Atau malah mau cari cinta a la taxi yang bisa disewa pada jam-jam yang kita kehendaki, mau berkeliaran dimana saja asal sanggup bayarnya, juga banyak.
Selengkapnya »
Popularity: 25% [?]