Jakarta Bukan Jawa (?)

monas

“Cha, kapan pulang ke Jawa?”

Sudah beberapa kali saya mendengar pertanyaan ini. Dan itu seringkali diungkapkan oleh mereka yang sepanjang hidupnya tinggal di Jakarta, baik Betawi maupun bukan. Lah, emangnya Jakarta bukannya ada di Jawa ya? Saya yakin, banyak diantara Anda juga sering mendengar atau ditanya seperti itu. Hmmm, kenapa begitu ya?

Saya lalu iseng melakukan penelusuran di dunia maya tentang hal ini. Dan menemukan beberapa hal berbau primordialisme yang masih terpelihara. Saya rangkum cuplikannya di sini:

Read the rest »

Ayo Bung, Rebut Kembali!

100 Tahun Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia

mkn1

20 Mei, Kebangkitan Nasional. Saya bergabung bersama Komunitas Historia Indonesia, menjelajahi Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta di waktu malam. Merunut waktu perjuangan Indonesia menjelang kemerdekaannya. Jelajah malam ini menyimpulkan beberapa petikan dalam memaknai kebangkitan Indonesia.

Kebangkitan Indonesia ditandai dengan kebangkitan kaum intelektual di awal abad 20. Imbas dari politik etik pemerintah Hindia Belanda di bidang irigasi, edukasi dan transmigrasi, lahirlah intelektual-intelektual Indonesia yang menjadi tercerahkan atas nasib bangsanya.

Read the rest »

Suroboyo, Cuk!

bambu runcing

Ah..Surabaya. Tak ada kota seperti Surabaya. Maksud saya bukan topologi kotanya atau juga keadaan geografisnya. Surabaya sih sama dengan kota-kota metropolitan lain, dengan segala permasalahannya, dengan segala kemajuannya. Tapi khas nya itu loh, yang membuat saya berani bilang there’s no city like Surabaya.

Salah satu yang khas dari Surabaya adalah dialeknya. Letak geografisnya di pesisir, membuat Surabaya menjadi tempat akulturasi budaya. Dan yang lebih mengedepan adalah kasarnya orang-orang di pesisiran. Dalam langgam bahasa Jawa, dialek Surabaya selalu diiringi denganĀ  logat yang keras dan kasar. Letaknya pada penekanan kata saat pengucapannya.

Read the rest »

Patung Buddha Empat Muka, Surabaya

4muka1

Melihat patung Buddha empat muka ini berdiri dengan megahnya di salah satu sudut Pantai Ria Kenjeran Surabaya, mengingatkan pada patung yang sama di Thailand, yang menjadi salah satu obyek wisata paling banyak dikunjungi, Erawan Shrine. Tapi ternyata patung di Surabaya ini lebih tinggi daripada di Thailand. Mengagumkan!

Patung setinggi sembilan meter ini menempati area seluas 225 meter. Begitu menjulang dan makin megah karena bahannya dilapis dengan emas murni. Pelapisnya sendiri langsung didatangkan dari Thailand. Hmm..pantas saja, informasi yang saya dapat biaya pembuatan patung ini mencapai lebih dari 4 milyar rupiah.

Patung menempati sebuah bangunan semacam stupa, dimana Sang Buddha duduk di singgasananya. Jika dihitung, tinggi patung dan stupa mencapai 36 M. Karena ada empat muka, mungkin Anda bingung, mana yang disebut sebagai bagian depan. Gampang kok ternyata.Wajah yang menghadap depan adalah yang tangannya memegang tasbih.

Read the rest »

Giyanti: Momentum Perpecahan Kekuasaan Jawa

giyanti

Hingga abad 17, Jawa ada dalam kekuasaan Kasultanan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah. Wilayahnya sendiri sebenarnya merambah hingga ke Pulau Madura. Dan, seperti juga sejarah yang terus berulang, perebutan kekuasaan dan intrik politik dalam Kasultanan Mataram, membuka peluang perpecahan. Apalagi saat itu VOC (baca: penjajah), sudah mencengkeramkan kakinya di tanah Jawa. Tentu saja perpecahan ini bagai terbukanya pintu lebar-lebar setelah lama mengetuk.

Kita mengenal Giyanti sebagai salah satu lipatan sejarah Nusantara. Tapi mungkin tak banyak yang tahu letak persisnya dimana atau mungkin nilai sejarah apa yang ada di Giyanti. Dalam sebuah perjalanan ke Jawa Tengah, saya sempat mampir ke tempat bersejarah itu dan mengulik sedikit kisah sejarah di baliknya.

Read the rest »