Kau dan Bulan

Ada bulan di sela rambutmu
Berpendar pada dongeng malam
Kirana bertumbuk pada harum helai rambutmu
Aroma malam yang selalu kurindukan

Ada bulan di sela rambutmu
Bulat jumawa di langit hitam
Mengayunkan getar mistis
Energi yang selalu ingin kudekap

Ada bulan di sela rambutmu
Memamerkan kilau
Mata hati menghakimi
Kau lebih indah dari bulan itu, duhai separuh jiwaku….

(Catatan bulan yang menjantang di akhir Februari)

Ra

tribal-sun-tattoo

Percik membiak cepat
Merapahi ruang-ruang waktu
Menyibak selimut kelam malam
Membolehkan nur menerobos: matahari

Ra*
Sulur menyapa
Dalam temperatur pagi yang hangat
Dalam gelora siang yang menggiat
Dalam pendar senja yang meranum
Dalam perak sinar yang kau titipkan pada bulan
Dari belahan semesta yang berbeda

Ra
Kosong kantung tanpa bekal
Tanpa ragu kujejaki langkah
Untuk mendedah hari
Untuk mengoyak labirin
Untuk ayunan damai yang kita mainkan
Demi hakiki yang telah menjajah hati

Ra
Darimu, hidup telah dimulai….

*Ra adalah Dewa Matahari, Dewa Tertinggi dalam kepercayaan Mesir Kuno

Catatan Bahagia dari ILUMINASI Jakarta Gathering, 9 Februari 2010

nukilan

Satu pertanyaan yang menggelitik dilontarkan Daniel Mahendra di malam ILUMINASI Jakarta Gathering selasa lalu, “Apakah engkau bahagia?”. Mulanya kupikir, pertanyaan apa ini? Bukankah ini diskusi buku? Tetapi jeda waktu yang ada sebelum menjawab pertanyaan itu memberiku kesempatan mengorek-orek isi hati. Tak terlalu dalam menembus endotel hati, ternyata tak ada rasa lain yang kurasakan selain BAHAGIA!

Banyak kejutan yang datang membuat hatiku melonjak. Di hari itu, bertepatan dengan tanggal kelahiranku dan memperkenalkan ILUMINASI, kawan-kawan dari berbagai komunitas berduyun datang. Tak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah: Surabaya, Semarang, Malang dan Bali. Sinkronitas telah memungkinkan mereka semua untuk menyambangi dan berbagi iluminasi di Newseum Cafe.

Untuk bahagiaku itu, aku haturkan banyak terima kasih pada:
Selengkapnya »

Laki-Laki Malaikat

dark-angel-21114Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku….selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.

Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku berpijak, tentang bintang yang pernah disinggahinya. Sayap lebar mengepak bersamaan dengan kerling godanya. Lalu ia pun menyusur di jejak yang sama denganku kini.

Seperti tak ingin dia melepas, laki-laki malaikat menebar serbuk-serbuk kasih diselubungku. Menjeratku dengan indahnya. Tak terbantahkan. Aku tergagap dalam putaran rasa yang ia persembahkan. Indah sekaligus membuatku menggigil.

Seperti tak pernah lelap, laki-laki malaikat berkitar di telingaku, di kepalaku, di bibirku, di lentik jariku, di legam kulitku, di lebar langkahku, di pijar mataku. Dia di sana, terus di sana. Tak tersiah sekejab pun dari fragmen takdirku.

Laki-laki malaikat mendekap hidupku, menawarkan senampan harapan. Memperkokoh kepalan tanganku yang mengangkasa menantang kehidupan. Menghangatkan lewat pendar-pendar cahayanya.

Runtutan waktu yang terus berjalan, laki-laki malaikat tak lekang. Mengiring tak terpisahkan pada langkah, pada keputusan, melekat pada senyum, menghambur pada duka, mendekap kisi-kisi indah yang hanya dirasakan hati. Lalu mengingini menjadi tak tertangkis.

Gemetar tangan ini ingin menyentuhnya, memeluknya dan mendekap hingga jiwa ini luruh jadi debu, lalu terlahir kembali. Tapi dia laki-laki malaikat dengan selapis dimensi yang berbeda. Ketika dia melayang dengan indahnya, aku hanya menapak bumi. Ketika dia berkilau dengan cahaya, aku bergumul dengan debu. Ketika dia abadi, aku melalui reinkarnasi. Dia laki-laki Malaikat…..

Bisa kah kau turun sebentar dari dimensimu?

(untuk kesekian kali menonton film City of Angel tanpa pernah bosan)

“Aku lebih memilih sekali saja menghirup rambutnya, sekali saja mengecup bibirnya, sekali saja menyentuh tangannya, daripada menjalani keabadian tanpa pernah merasakannya. Sekali saja.”

(Nicolas Cage sebagai Seth dalam City of Angels)

#1: Sandya

mimi_yinyang

Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.

Dari cermin yang sama, terpantul oleh mataku satu sosok, sumber kebahagiaanku. Ia bulan yang turun  dari langit, mempertaruhkan keabadian yang dimilikinya demi menyuntingku. Bulan yang datang tiba-tiba di malam-malamku yang dingin, memberi cahaya dari matanya, lalu semua hariku dipenuhi kata-kata darinya. Begitu saja. Tanpa bisa kutolak.

Aku masih memerhatikannya dari cermin. Berdiri di samping tempat tidur yang ditaburi plumeria putih.  Ia melepas satu persatu kancing baju putihnya, pelan dan matanya terfokus pada kancing yang ia dorong melalui selarik lubang. Resam tubuhnya elok, seakan tiap gerak yang ia lakukan tak ada yang sia-sia. Semuanya punya tujuan dan dalam komposisi yang sangat tepat, tak pernah berlebihan maupun kekurangan. Di  mataku, semua geraknya adalah tarian yang dipersembahkan dengan sangat indahnya. Bukan gemulai, tetapi begitu kokoh dan pasti. Seluruh tubuhnya menyanyikan aroma taksu yang mungkin hanya dipersembahkan bagi linga sariraku.

Laki-laki dalam cermin itu diperkenalkan padaku di sebuah senja berwarna merah. Tinggi dan kulitnya rata-rata milik Mongoloid. Pada perjumpaan pertama, matanya begitu murung, mengalahkan muramnya senja. Aku tak tahu apa yang menggilas sinar kehidupannya dari sana, tetapi yang kutahu apapun itu adalah sebuah jurang yang mendorongnya terlalu dalam. Pada perjumpaan pertama, aku tak merasai pijar yang bergelora, hanya merasakan satu tarikan sulur dari taksunya.  Serasa dekat. Jiwanya serasa pernah kutemui di kehidupan lalu, entah kapan. Hanya itu saja.

Nyaris tiga tahun lalu, senja jadi saksi perkenalan kami. Hari-hari berikutnya, seperti semesta telah mengaturkan semuanya. Ada saja hal-hal yang bisa kami diskusikan bersama, ada saja hal-hal yang mencuatkan kata “Aha!”, lalu ketika hariku tak ada kata-kata darinya, aku terbungkus rasa yang kehilangan yang mendalam. Kemudian kutahu, itu dinamai rindu.

Selengkapnya »