Ode to Serenity

Apa yang membuatmu merasa hidup? Helaan napas, langkah kakimu, atau desau sejuk angin di jiwamu?

Semua itu membuatku merasa hidup. Ketiganya membuatku merasa bahwa aku manusia yang masih mempunyai tugas di semesta ini untuk tetap ada. Ketiganya, bukan salah satunya. Jika satu direnggut, maka dimensi kehidupan kurasakan menciut.

Sejak nada kematian berdenting di sampingku, persis di sampingku, gemanya bersiar di kedalaman jiwaku.  Kehilangan seseorang dengan sangat mendadak, tanpa basa-basi, jalan kehidupanku berbelok arah. Menelikung ke lorong di saat awal dan melihat cahaya yang terang di ujungnya. Tak urung, banyak perubahan yang harus aku amini, sebagai bagian dari dimensi kehidupan. Napasku masih ada, kaki tersaruk, tetapi masih terkembang langkah, hanya desau jiwa yang harus dipulihkan.

Menjadi survivor bukan perkara mudah. Sederhana dalam kata, tetapi rumit menjalaninya. Aku mengambil posisi pemberontakan sekaligus menempatkan diri serendah bumi. Berontak pada ketetapan yang tak bisa aku ubah, namun sekaligus berlapang dada padanya. Sulit, tetapi pun sudah kulalui, akhirnya.

Dukungan keluarga, sahabat dan sekitar menjadi berkah paling mulia bagi pengembalian kepercayaan diri. Tak hanya itu, aku cukup terbantu dengan  ego untuk tidak kembali menjadi rapuh dan meminta perlindungan di zona aman. Pertalian dengan seseorang yang menjadi pembangkit jiwa adalah impetus bagi jiwa merasakan desau sejuk angin kembali.

Dan sejak itu pula, pandangan tentang hidup makin menuju kasunyatan. Seluruh riuh rendah yang diciptakan oleh manusia, kurasai makin menjadi pemicu ambruknya harmonisasi semesta. Seluruh imajiner dalam kepalaku tumpah, menemui realitanya. Inilah saatnya bersikap terhadap carut marut. Aku memutuskan untuk keluar dari kegamangan metropolitan, berenang ke tepian dan membangun dermagaku sendiri pada labuhan yang kuanggap cukup indah. Jogja adalah labuhan itu.

Pelan-pelan aku mengatur langkah bagi kedua kaki untuk menjejak utuh di sana. Saat ini memang belum bisa keduanya. Satu langkah kaki masih harus tertambat pada pemenuhan ekonomi, dan Jakarta adalah kiblatnya. Tetapi yang kusyukuri, satu kakiku telah mulai menapak pada kedalaman langgam hati. Aku mulai membangun kehidupan di Jogja.

Bersama kawan-kawan, aku mulai mengembangkan mimpi-mimpi. Menyusun rencana memajukan ranah sastra di Jogja. Sastra dengan eksperimen-eksperimen baru, sastra yang berkolaborasi dan mengadaptasi media-media baru, tak melulu pada buku. Dukungan mengalir. Masih dalam lingkup kecil dan aku masih belum bisa bicara banyak, beberapa saat lagi pasti akan kuselipkan dalam catatan berikutnya.

Dan satu yang mendamaikan adalah terwujudnya sebuah rumah yang damai, di lereng gunung, Selatan Jogja. Tak menjadi masalah ketika sinyal adalah barang mewah di sana. Karena justru di sana lah, suara semesta lebih nyaring berkidung. Sangat eksotik. Pagi hari adalah embun yang menitik di daun dan cicit burung jadi alarm pagi. Malam hari adalah suara jangkrik yang bersahutan dengan cahaya bulan yang terasa dekat. Dan keseluruhan harinya adalah hangat jiwa yang terangkum dalam genggaman. Napas, langkah dan jiwa mencapai pemenuhannya di sini. Di dalam kasunyatan, aku menemukan kedamaian.

Jika sedang di Jakarta, nyanyian semesta di rumah itu selalu memanggil-manggil untuk pulang, The Ode to Serenity.

Inilah cahaya itu! Inilah iluminasiku.

 

 

One thought on “Ode to Serenity

  1. Saat ini memang belum bisa keduanya. Satu langkah kaki masih harus tertambat pada pemenuhan ekonomi, dan Jakarta adalah kiblatnya. Tetapi yang kusyukuri, satu kakiku telah mulai menapak pada kedalaman langgam hati. Aku mulai membangun kehidupan di Jogja.

    Kok hampir serupa yaa…
    Selamat menempuh keduanya mBakkk…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>