Keep Rocking!

Di sebuah perbincangan hangat antara aku dan papaku, terselip sebuah kalimat dari papa yang sekarang sering aku kumandangkan. Kalimat itu berbunyi, “Aku bicara begini karena sudah di umur yang kesekian. Aku bicara ini karena sudah pernah mengalami umurmu.”

Aku dan papa adalah sahabat karib. Lebih karib dari sahabat-sahabat yang kupunya. Pola pemikiran kami sama, bergerak dengan langkah yang nyaris sama dan tentu saja, ada gen beliau dalam tubuhku. Kedekatan ini memang sengaja kami eratkan. Tidak ada yang aku tutupi dari beliau, seluruh pemikiran yang mendalam tentang kehidupan kami bagi bersama. Bahkan pada hal-hal yang sensitif, tentang laki-laki dalam hidupku, tentang hal paling memalukan yang pernah terjadi dalam hidupku. Yeah, shit happens, tetapi prinsip keluarga kami adalah, selalu ada hati dan rumah tempat berpulang. Ini membuatku ringan menghadapi segalanya. Aku beruntung.

Melakukan banyak perjalanan dan menetapkan posisi sebagai road warrior ternyata membuatku banyak bertemu dengan kawan-kawan yang masih muda. Sejujurnya, aku tidak pernah peduli berapa hitungan tahun yang sudah aku sesap sebagai penduduk bumi. Bukan malu pada kenyataan aku sudah tua, sudah hampir 40 tahun. Tidak, aku tidak mengingkari itu, hampir 40 tahun, dengan pigmen-pigmen warna putih yang mulai bertebaran di rambut, tiga dekade berlalu, melewati beberapa kali rezim, serta setumpuk pengalaman panjang. Aku justru bangga karenanya, hampir 40 tahun, masih bisa berproduksi dan mengikuti nyaris apapun yang zaman berikan.

Kembali ke kawan-kawan mudaku. Banyak diantara mereka masih  memandangku sebagai seseorang yang lahir jauh sebelum mereka. Sementara, aku lebih menyukai posisi setara pada semua orang, termasuk mereka yang lebih tua. Tidak berarti melupakan unggah-ungguh, tetapi aku berketetapan bahwa feodalisme dalam hal diskusi dan berbagi apapun harus dihilangkan agar diskusi bukan lagi bersifat komando. Soal hormat menghormati, tak peduli usia, harus tetap dilakukan.

Dalam beberapa pertukaran saran diantara mereka, tak pelak, naluri panjangnya hal yang sudah aku lalui sebelum mereka, membuatku tak bisa menghindar pada pendapat. Dalam situasi seperti ini, aku lebih suka menempatkan diriku pada posisi yang sama seperti mereka. Mencoba berpikir a la mereka, lebih tepatnya, mencoba mendalami lagi perkembangan usia dan pengalaman mereka.

Karena aku lebih suka menjelaskan sesuatu melalui analogi dan metafora, bicara lintas generasi memang tak mudah. Aku mengalaminya sendiri ketika tiba-tiba kawan mudaku bengong tak tahu siapa dan apa yang kubicarakan. Aku lupa, mereka belum lahir ketika apa yang kubicarakan itu terjadi. Analogi yang tidak tepat.

Dalam memberikan pendapat dalam hal pribadi, aku nyaris selalu berkata, “Aku bicara begini karena sudah pernah berada pada umurmu.” Lalu keluarlah saran-saran menjalani pilihan hidup yang pernah kulalui. Terakhir kubilang, “Tidak selalu tepat seperti begitu, kau bisa mengolahnya sesuai apa yang kau inginkan.”

Sebaliknya, dari kawan-kawan mudaku aku bisa melakukan update dalam hal apapun. Kadang ada perasaan iri jika menyadari mereka telah melampaui banyak hal di usia mereka. Berbeda dengan yang alami dulu. Tetapi bagiku tak ada kata terlambat buat belajar. Aku masih bisa belajar dari mereka, kawan-kawan muda yang energik.

Jadi, aku, kamu dan mereka, berapapun usianya, tak penting untuk diperdebatkan. Aku dan papaku masih bisa terus sejalan meskipun hampir 30 tahun beda usia. Kadang papa juga belajar dariku, dan aku belajar lebih banyak darinya. Demikian juga pada kawan-kawan mudaku. Kita belajar bersama, ambilah pengalamanku dan bagikan kisahmu.

Keep rocking!

 

5 thoughts on “Keep Rocking!

  1. .. Saya lho, kenal sama papanya Lisa, tapi saya tetep tenang dan biasa ajah.. serta ndak sumbung babas blarr.. hehehe…

  2. Wooo….
    Wis meh 40tahun taa…? #mringis

    Btw, baca inti jurnal diatas, membuatku teringat dengan kalimate Plato ya mBak…
    “Orang yang berilmu mengetahui orang yang bodoh karena dia pernah bodoh, sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang berilmu karena dia tidak pernah berilmu”

    Nah mung kalimate Plato di atas isih ana lanjutane ik, yaitu; “Sayangnya, kesalahan orang pandai adalah bahwa mereka acapkali lupa tentang -sampai dimana- cara orang bodoh berpikir” #mdrcct :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>