Loading...
X

Kawasan Urban yang Bertiwikrama

11 tahun terbilang. Dalam 11 tahun itu percepatan perubahan di kawasan tempatku tinggal, bak ksatria kurus yang melakukan tiwikrama. Menakjubkan.

Pertama kali menginjakkan kaki di komplek perumahan tempat tinggalku sekarang, di bilangan perbatasan Ciledug dengan Serpong, hawa segar pagi masih terasa. Sesekali masih terlihat beberapa ekor kerbau lewat di depan rumah, menyeruak di sela-sela embun yang mulai berkalang tanah. Di kawasan komplek, aku termasuk penghuni awal yang berani tinggal di tengah tanah lapang yang masih belum terbangun rumah-rumah, sehingga masih punya kenangan tentang kosongnya ruang.

Tinggal di kawasan pinggiran begini membuat malas untuk datang ke Jakarta di luar jam kerja. Ada kawasan Serpong, sangat dekat  dengan komplek tinggalku yang bisa disinggahi untuk kebutuhan sehari-hari. Kawasan Serpong yang sekarang masuk di wilayah administrasi Tangerang Selatan adalah sebuah situs urban terbesar di pinggir Barat Jakarta. Di Kawasan ini bertebaran komplek-komplek perumahan, mulai dari skala besar hingga menengah. Di 11 tahun yang lalu, Serpong lebih banyak dihiasi oleh kawasan perumahan ketimbang fasilitas umum besar.

Kawasan Serpong mulai dikembangkan sekitar tahun 1989. Sejak awal, kawasan ini memang dikader menjadi sebuah kota mandiri. Berbagai kawasan perumahan disediakan untuk kaum urban. Beragam fasilitas direncanakan untuk siap memenuhi berbagai kebutuhan warganya. Dan, benar saja, janji kota mandiri itu pun terpenuhi di 3 tahun belakangan ini.  Berbagai fasilitas khas urban yang tak kalah dengan metropolis sudah bisa dinikmati di kota mandiri ini. Mulai dari pusat hiburan (mall, bioskop, wisata kuliner, taman rekreasi), perkantoran hingga lembaga-lembaga pendidikan ternama. Dalam ingatanku, di kawasan Serpong sudah ada 7 mall, diantaranya yang sekarang menjadi icon warga Serpong adalah Summarecon Mall Serpong (SMS), Living World dan Teras Kota. Lembaga pendidikan ternama mulai dari TK hingga SD pun sudah mendekati komplek-komplek perumahan. Yang masih sedang dalam proses pembangunan saat ini adalah sebuah kampus bertaraf internasional. Bahkan beberapa perkantoran dan perbankan pun tak ragu untuk membuka aksesnya lebar-lebar di wilayah ini.

Jalan-jalan baru dibuat, jalan-jalan yang sudah ada diperlebar, namun tetap tak menampung kemacetan akibat makin bertambahnya jumlah warga dan dibangunnya fasilitas-fasilitas. Serpong benar-benar menjadi sebuah kota mandiri yang membuat penduduknya boleh berkata bangga, “Tak perlu ke Jakarta, di Serpong pun ada.”

Di antara tiwikrama nya wilayah ini, di tengah suara gedung-gedung yang dibangun, aku merasa masih belum cukup kemandirian ini. Sejak ikut dalam barisan yang menyatakan Jakarta hanya untuk kerja dan beberapa pertemuan yang direncanakan, aku mengidamkan sebuah bangunan ikut menjadi bagian dari tiwikrama kawasan. Setelah satu tangan raksasa mengepal di udara dengan berbagai pusat hiburan, aku mengidamkan satu tangan lagi ikut terangkat dengan dibangunnya gedung kesenian. Jika Jakarta punya TIM, Jogja punya TBY atau Surabaya punya Balai Pemuda, maka buatku Serpong pun sudah selayaknya memiliki sebuah ruang bagi budaya dan kesenian berbicara. Aku percaya, masyarakat yang dekat dengan budaya, menghargai seni dan budaya adalah mereka yang tercerahkan.

Ditambah lagi, aku mencatat berbagai komunitas seni, baik yang lahir dari ruang-ruang kaca maupun lahir di jalanan pun mulai bermunculan di Serpong. Mereka adalah anak-anak muda yang memakai ruang-ruang publik untuk memperlihatkan kemampuan seni. Menurutku, akan lebih baik jika segala aktivitas ini ada yang mewadahi dan terpusat di satu tempat.

Menurutku hadirnya gedung kesenian ini akan menjadi penyeimbang kehidupan masyarakat. Di satu sisi, budaya konsumtif  dan komersialisme yang menjadi sahabat kota mandiri telah tertawa lebar, di sisi lain, asupan karsa dan rasa dengan berbagai acara seni dan budaya pun boleh menyungging senyum.

Di gedung kesenian inilah, aku bermimpi menikmati karya-karya sastra diperbincangkan, karya musik dipersembahkan, karya teater dipentaskan, perupa dan pematung mendapatkan ruang pamernya. Di gedung kesenian inilah seni dan budaya menjadi raja. Satu gedung saja, mungkin tak lebih besar dari mall paling besar itu, tetapi lengkaplah sudah tiwikrama kawasan ini.

Hmmm kapan ya?

Share
2 observations on “Kawasan Urban yang Bertiwikrama
  1. Maztrie

    Yayayaa…..
    Aku sepakat denganmu mBak…

    Teramat jauh kalau harus dikatakan sebagai masyarakat berbudaya. Lah mana gedung budayanee..?
    Sementara ada gerakan/komunitas superhebat tak jauh dari Serpong, yaitu di Tangerang dengan nama “anaklangit” saja masih harus berjuang mati2 an lhooo…

     
    Reply

Leave Your Observation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>