Loading...
X

Jiwa, Pilihan Hidup dan Samsaranya

kehidupanmu yang kini adalah sebuah rentang untuk memperbaiki kehidupanmu yang lalu

Selembar nyawa selalu baru dan satu, tetapi jiwa adalah energi yang telah hidup sejak masa lampau. Itu yang aku percaya. Terlepas dari institusi keyakinan (yang disebut agama) yang aku anut, aku percaya bahwa jiwa yang ada dalam diriku telah berkelindan pada masa-masa lampau. Jiwa yang kini menjadi penghuni tubuhku adalah percikan energi yang terus berdialektika mencapai moksanya, mencapai titik paling kulminasi lalu berpulang ke rumah abadi dan bercahaya gemilang di sana.

Bukan sebuah kebetulan jika pada orang-orang tertentu, jiwaku ini menjadi mudah erat, bahkan pada perjumpaan pertama sekalipun. Frekwensi energi kami kurasa pernah bertautan pada suatu masa. Tubuh dan nyawa adalah bungkus baru, tetapi energi dalam jiwa di dalamnya tetap saling mengenal. Keakraban bukan bentuk material yang bisa dihitung, manifestasi fisik bukan penarik utama kita mendekat pada seseorang, tetapi sarira yang memancar dari dalam jiwa adalah impetus paling pacak yang mendorong kita membuka diri terhadap seseorang.

Percikan jiwa kuno yang ada dalam tubuh kupercayai juga menjadi garis haluan dalam melakukan pilihan-pilihan hidup. Jalan yang ditempuh, cita-cita, juga keinginan yang mendasar. Namun, seringkali, dunia material yang kita hadapi menjadi benturan-benturan dalam mewujudkannnya. Menjadi kabut dalam melihat lebih jernih pilihan jiwa yang semestinya. Jika saja, tawaran materialis yang nampak bak kabut yang menyejukkan itu bisa dihalau, maka kejernihan jiwa akan berpijar di sana. Dan, dalam keyakinanku hakikat hidup sebagai manusia tercatat  oleh semesta jika bisa melakukannya.

Aku selalu salut pada orang-orang yang mampu melukiskan kejernihan jiwanya melalui pilihan hidup dengan mengesampingkan material yang menyalak-nyalak bak api, membara tetapi juga bisa menghanguskan. Orang-orang yang memilih dedikasi ketimbang menimbun harta, orang-orang yang percaya bahwa hidup adalah menciptakan karya dalam bentuk apapun, bukan menimpun pundi rupiah dengan cara apapun. Langkah menuju dedikasi adalah pengejawantahan jiwa kuno yang dulu pernah atau belum tuntas menyelesaikan misi. Di kehidupan yang kini,  jiwa itu, meski dibungkam sebagaimana kuatnya, ia tetap mendesak untuk dipenuhi. Karena itulah memang makna jiwa, pemenuhan yang hakiki. Setelah itu nilai kepuasan hanya bisa teruntai dari senyum yang terukir.

Nah, apa pilihan jiwa kunomu? Sudahkah terpenuhi?

Sebuah catatan untuk blog yang baru saja bereinkarnasi.

Serpong, di siang yang gerah dan jiwa yang memijar memanggil-manggil.

BerbagiTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on TumblrEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Facebook
4 observations on “Jiwa, Pilihan Hidup dan Samsaranya
  1. yudi suryawan

    ……Teringat kata kata imam besar Al-Ghazali….jika kau menghadap dunia maka kau akan membelakangi akhirat..dan jika engkau menghadap akhirat kau akan membelakangi dunia…….

     
    Reply

Leave Your Observation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>