In Cafe We Trust

Sebagai remote worker, bekerja dimanapun adalah hal yang sangat galib. Aku pernah menulis di lapangan terbuka, pernah membuat proposal di dalam mobil, pernah tiba-tiba harus membuka Ipad dan menyusun konsep yang diminta segera dikirimkan saat menikmati debur ombak di pantai Sundak, atau yang paling sederhana, di rumah yang hangat dan berjam-jam menulis di taman belakang ditemani gemericik air dari pancuran kecil, ah tak berbatas tempat.

Diantara segala tempat itu, satu tempat yang nyaman untuk bekerja dan atau menulis buatku adalah cafe. Menikmati fusion tea yang segar, kudapan dan berombongan ide yang datang berteguk-teguk. Jika sendirian, aku seperti menakhlikkan semestaku sendiri. Volume keramaian dari meja-meja sebelahku seperti bisa kuatur menjadi rendah, bak backsound yang mengalun-alun saja.

Meskipun begitu, aku lebih suka bekerja di cafe pada jam-jam kantor. Dipastikan jam itu cafe sedang sepi pengunjung. Kesenyapan dan music lounge yang mengalun pelan melengkapi kesahihan semesta kecil yang kuciptakan di sana. Ini keistimewaan pekerja lepas, bisa memilih jam berapapun untuk menduduki sebuah kursi di cafe.

Masih soal cafe, tempat satu ini memang sudah memiliki satu fungsi tambahan, selain menikmati sajian di sana. Pekerja kantor atau pekerja lepas, mahasiswa atau pensiunan, memilih cafe sebagai meeting point. Secangkir kopi bahkan bisa menjadi saksi deal penting bernilai besar. Jalinan persahabatan baru pun bisa bermula dari cafe.

Pernah suatu saat aku memboyong tim ku bekerja di cafe. Itu adalah minggu berat bagi kami. Pekerjaan seperti detik-detik jam yang memburu, tidak kenal berhenti. Awalnya kami akan meeting di kantor yang mempekerjakan kami sebagai tenaga lepas, tetapi kebekuan di kepala membuatku memutuskan untuk mengajak mereka bekerja di salah satu cafe dekat rumahku, tempat biasa aku bercanda dengan kata hingga larut.

Dan, di sanalah kemudian kami mengatur pekerjaan. Menghubungi banyak stakeholder, merancang acara, menyusun detail kebutuhan, juga membuat rencana-rencana berlapis sebagai cadangan aksi jika rencana pertama gagal. Sangat dimaklumi, karena jenis pekerjaan yang sedang kami tangani menuntut perubahan dan keluwesan tingkat tinggi. Agak riuh juga mengatur sebuah pekerjaan di tempat umum. Meja kami penuh dengan gadget masing-masing. Kabel roll yang sengaja kami bawa, penuh tercolok. Ide-ide yang berhamburan memecah udara. Menjelang akhir malam, bisa dibilang rancangan telah selesai, fix untuk dilaksanakan.

Hal yang kami alami bukan sesuatu yang baru. Banyak pekerja melakukan hal ini. Cafe menjadi tempat bersetubuh dengan ide, menjadi orgasme ketika ide itu direspon oleh teman-teman dan berbuah rencana aksi untuk mewujudkannya. Bukan hal baru pula jika waktu yang berlalu di cafe menjadi kelebat-kelebat yang tak dirasa. Tiba-tiba sudah hampir tutup akibat nyamannya semesta yang diciptakan oleh penghuni meja.

Nah, yang ingin aku hamparkan berikutnya adalah, pernahkah terpikir oleh kalian, jika cafe sudah bisa memenuhi aspek penyelesaian pekerjaan, untuk apa sebuah kantor? Aku kemudian membayangkan, kantor hanyalah sebuah gedung perwakilan yang diisi oleh segelintir pekerja penerima tamu, semacam concierge atau liason officer yang menjadi penghubung seluruh pekerja lainnya yang bekerja bisa dari rumah maupun darimana mereka berada.

Aku kemudian membayangkan, berapa banyak bahan bakar yang bisa dihemat jika mereka semua tak perlu rutin datang ke kantor. Dan aku membayangkan berapa banyak ide yang berhamburan lepas di udara bisa ditangkap tanpa perlu dibatasi oleh kubik-kubik kantor. Yang pasti, aku membayangkan jika bekerja tak harus berhubungan dengan aktivitas mandi terlebih dahulu, berdandan atau menyemir sepatu. Semua orang adalah remote worker, eh maksudku tidak termasuk mereka yang menjadi liason officer.

Pertukaran nilai yang terjadi adalah antara uang dengan kesediaan untuk menyediakan waktu pada jam-jam yang disepakati. Komitmen yang tinggi menjadi penjaga utama keberlangsungan kerja, tanpa harus mengikat diri pada dasi dan rutinitas absensi. Bukankah cafe adalah tempat yang lebih nyaman untuk pertemuan?

Aku berkhayal? Ah, aku dan kuyakin barisan pekerja lepas di sampingku akan berkata, “Instead of office, in cafe we trust!”

One thought on “In Cafe We Trust

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>