<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ladangkata</title>
	<atom:link href="http://ladangkata.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jun 2010 11:15:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kau Matahari dan Aku Bumi</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/06/28/kau-matahari-dan-aku-bumi/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/06/28/kau-matahari-dan-aku-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 11:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (WS Rendra)


Kau adalah matahari. Pembongkar kesadaranku akan hidup. Sinarmu, terik memercik, menyilaukan, mampu membuatku buta pada banyak hal. Sekaligus, cahaya itu yang menjadi terang dalam gelapku. Solarmu adalah tenaga kehidupanku, pemberi energi abadi. Duhai, bintang pusat galaksi bima sakti, kau adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (WS Rendra)</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-medium wp-image-1195  aligncenter" title="sunshine_6" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/06/sunshine_6-300x225.jpg" alt="sunshine_6" width="300" height="225" /><br />
</em></p>
<p style="text-align: left;">Kau adalah matahari. Pembongkar kesadaranku akan hidup. Sinarmu, terik memercik, menyilaukan, mampu membuatku buta pada banyak hal. Sekaligus, cahaya itu yang menjadi terang dalam gelapku. Solarmu adalah tenaga kehidupanku, pemberi energi abadi. Duhai, bintang pusat galaksi bima sakti, kau adalah pusat mikrokosmosku.</p>
<p style="text-align: left;">Aku adalah bumi. Belajar bersabar menunggumu di tiap-tiap fajar. Dan ketika malam tiba, aku termangu pada bulan, menantikan pantul sinarmu di permukaan bulan. Ketika senja datang membawa resahku, aku percaya, kau tak pernah hilang ditelan ufuk.  Kau hanya berkitar pada realitas dan sejatimu yang lain. Dan aku rela menanti pada sejati yang aku percayai. Rotasiku mungkin tak sesempurna lingkaran. Ia adalah elips, mengambil jarak terdekat dan terjauhnya, bergantian, untuk memberimu ruang, untuk memberiku jarak. Tapi percayalah,  aku adalah bumi, berotasi padamu untuk keabadian.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu cakrawala. Di zona itu keberanian diuji. Berani melepasmu untuk menjumpaimu lagi. Akankah kau terlambat datang? Akankah ujian itu menghilangkan keberanianmu untuk datang lagi  esok? Matahari, tempuhlah ujianmu, bumimu memiliki ujian kesabaran untuk menunggu. Di sanalah letak arti penantian.</p>
<p style="text-align: left;">Kau matahari dan aku bumi. Kita berjarak 148 juta kilometer. Berapa jarak hati kita?</p>
<p style="text-align: left;">Kau matahari dan aku bumi. Membutuhkan waktu 8 menit sinarmu mencapaiku, tapi prominensa mu menjulur tak berkesudahan.</p>
<p style="text-align: left;">Kau matahari dan aku bumi. Perjuangan kehidupan yang lebih dari kata-kata. Semoga.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/06/28/kau-matahari-dan-aku-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Daun yang Menikmati Karma</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/06/25/daun-yang-menikmati-karma/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/06/25/daun-yang-menikmati-karma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 04:57:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1189</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi
Bergerigi pada pinggirnya
Warnanya masih hijau
Melayang pelan diiring angin
Ia berbisik pada angin
&#8220;Inilah karmaku dan aku menerimanya sebagai takdirku.&#8221;
Angin tak menjawab
Ia hanya mengiringi
Daun luruh
Masih hijau
Menyentuh bumi
Ia menyapa bumi,
&#8220;Izinkan aku melesak, memburai dan nadir.&#8221;
Bumi tak menjawab
Ia hanya menerima
Daun meringkuk di tanah
Ia tahu sebentar lagi kehidupan direnggut darinya
Ia rela melewati karma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi<br />
Bergerigi pada pinggirnya<br />
Warnanya masih hijau<br />
Melayang pelan diiring angin<br />
Ia berbisik pada angin<br />
&#8220;Inilah karmaku dan aku menerimanya sebagai takdirku.&#8221;<br />
Angin tak menjawab<br />
Ia hanya mengiringi</p>
<p>Daun luruh<br />
Masih hijau<br />
Menyentuh bumi<br />
Ia menyapa bumi,<br />
&#8220;Izinkan aku melesak, memburai dan nadir.&#8221;<br />
Bumi tak menjawab<br />
Ia hanya menerima</p>
<p>Daun meringkuk di tanah<br />
Ia tahu sebentar lagi kehidupan direnggut darinya<br />
Ia rela melewati karma lebih cepat<br />
Ia membaca  dialektika pohonnya<br />
Ia menerima antithesisnya<br />
Ia tersedak dan melonggarkan renggutnya pada tangkai pohon<br />
Dalam detak kehidupannya yang tinggal sedikit<br />
Ia hanya ingin tersenyum, menunggu samsaranya. </p>
<p>Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/06/25/daun-yang-menikmati-karma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Berapa Wajah dalam Dirimu?</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/06/24/ada-berapa-wajah-dalam-dirimu/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/06/24/ada-berapa-wajah-dalam-dirimu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 08:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1181</guid>
		<description><![CDATA[Ada berapa wajah dan jiwa yang kita punya? Apakah seseorang memiliki konsistensi untuk tetap menunjukkan satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya?

Kerap kali aku melihat kawan, sahabat yang aku rasa kenal betul tiba-tiba menjadi seseorang yang berbeda, dalam ruang yang berbeda. Aku kira sudah sepenuhnya kenal siapa diri mereka, tetapi dalam ruang yang berbeda, terjadi perubahan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ada berapa wajah dan jiwa yang kita punya? Apakah seseorang memiliki konsistensi untuk tetap menunjukkan satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya</em>?</p>
<p><img class="size-medium wp-image-1183 alignleft" title="topeng1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/06/topeng1-225x300.jpg" alt="topeng1" width="225" height="300" /></p>
<p>Kerap kali aku melihat kawan, sahabat yang aku rasa kenal betul tiba-tiba menjadi seseorang yang berbeda, dalam ruang yang berbeda. Aku kira sudah sepenuhnya kenal siapa diri mereka, tetapi dalam ruang yang berbeda, terjadi perubahan. Wajah mereka berbeda, seperti juga jiwanya. Layaknya, mereka seseorang yang baru aku kenal. Inikah adaptasi atau memang tak ada seorang pun yang memiliki satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya?</p>
<p>Lalu, aku melihat diriku sendiri. Apakah tanpa aku sadari, aku pun memiliki perubahan yang demikian? Lisa Febriyanti di satu tempat, berbeda dengan Lisa Febriyanti di tempat lainnya?</p>
<p>Pertanyaan yang lebih jauh lagi, aku, kami, kita, apakah hanya menggunakan topeng sosial, bertingkah sesuai kondisi atau adakah alasan pembenarannya yang lain?</p>
<p>Manusia. Makhluk digdaya yang kuat seperti topan, gemulai seperti angin dan mampu bergerak seperti air. Manusia selalu dalam dialektikanya. Bertumbuh secara fisik, bertumbuh secara intelektual, berkembang dengan pengamalannya dan belajar dari semua hal yang datang padanya. Inikah penyebab perubahan?</p>
<p>Manusia. Dilahirkan untuk hidup secara sosial. Terikat pada keberadaan orang lain. Menggantungkan dirinya pada fungsi orang lain. Yang satu ada untuk memberikan makna bagi yang lainnya, meskipun bukan pada kondisi yang sepenuhnya kita inginkan. Apakah ini yang membuat mereka memiliki banyak wajah. Wajah di tiap kondisi. Jiwa di setiap situasi.</p>
<p>Lalu, jika ada banyak wajah dalam diri, dimana letak kesejatian?</p>
<p>Apakah frasa &#8220;Tak ada yang sejati selain perubahan&#8221; juga berlaku bagi jiwa?</p>
<p><em>Catatan: tulisan ini  hanya sebuah latihan kecil untuk mengamati dan menulis lagi, setelah aku mengalami writer block belakangan ini. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/06/24/ada-berapa-wajah-dalam-dirimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ode untuk Rintik Hujan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/04/11/ode-untuk-rintik-hujan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/04/11/ode-untuk-rintik-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 21:07:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1170</guid>
		<description><![CDATA[
Jika,
Kesiur angin tak menerbangkan mega di bentang langit
Apakah kau akan tetap datang?
Kalau saja, matahari tak surut menjantang
Sudikah kau menghujam bumi?
Jika, dan hanya jika
Aku adalah telaga tanpa tepi yang tak mengenal daratan
Beranikah kau menitipkan satu rintikmu di telagaku?
Nyatanya,
Kau datang pada satu ruang sahara
Meluruhkan segala ketidakmungkinan
Dan aku bernyanyi diantara rintikmu
Sebuah Ode untuk Rintik Hujan
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1173" title="raining" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/04/raining1-208x300.jpg" alt="raining" width="208" height="300" /></p>
<p>Jika,<br />
Kesiur angin tak menerbangkan mega di bentang langit<br />
Apakah kau akan tetap datang?</p>
<p>Kalau saja, matahari tak surut menjantang<br />
Sudikah kau menghujam bumi?</p>
<p>Jika, dan hanya jika<br />
Aku adalah telaga tanpa tepi yang tak mengenal daratan<br />
Beranikah kau menitipkan satu rintikmu di telagaku?</p>
<p>Nyatanya,<br />
Kau datang pada satu ruang sahara<br />
Meluruhkan segala ketidakmungkinan<br />
Dan aku bernyanyi diantara rintikmu<br />
Sebuah Ode untuk Rintik Hujan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/04/11/ode-untuk-rintik-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ILUMINASI, the Grand Launching</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/03/03/iluminasi-the-grand-launching/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/03/03/iluminasi-the-grand-launching/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 02:36:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1166</guid>
		<description><![CDATA[
You&#8217;re all invited&#8230;lets meet there!
 GRAND LAUNCHING ILUMINASI dan 7 novel  spektakuler kawan-kawan seangkatan di Penerbit Kakilangit Kencana:  Minggu, 7 Maret 2010, Ruang Anggrek Lt. 2, Istora Senayan, pk  16.00-18.00 WIB&#8230;undangan bagi semua, diskusi bagi semua&#8230;.ditunggu  kehadirannya&#8230;
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-1165  aligncenter" title="undangan grand launching" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/03/undangan-grand-launching1.jpg" alt="undangan grand launching" width="448" height="298" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>You&#8217;re all invited&#8230;lets meet there!</em></p>
<h3 style="text-align: center;"><span> </span><span>GRAND LAUNCHING ILUMINASI dan 7 novel  spektakuler kawan-kawan seangkatan di Penerbit Kakilangit Kencana:  Minggu, 7 Maret 2010, Ruang Anggrek Lt. 2, Istora Senayan, pk  16.00-18.00 WIB&#8230;undangan bagi semua, diskusi bagi semua&#8230;.ditunggu  kehadirannya&#8230;</span></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/03/03/iluminasi-the-grand-launching/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kau dan Bulan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/02/25/kau-dan-bulan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/02/25/kau-dan-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 16:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2010/02/25/kau-dan-bulan/</guid>
		<description><![CDATA[Ada bulan di sela rambutmu
Berpendar pada dongeng malam
Kirana bertumbuk pada harum helai rambutmu
Aroma malam yang selalu kurindukan
Ada bulan di sela rambutmu
Bulat jumawa di langit hitam
Mengayunkan getar mistis
Energi yang selalu ingin kudekap
Ada bulan di sela rambutmu
Memamerkan kilau
Mata hati menghakimi
Kau lebih indah dari bulan itu, duhai separuh jiwaku&#8230;.
(Catatan bulan yang menjantang di akhir Februari)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada bulan di sela rambutmu<br />
Berpendar pada dongeng malam<br />
Kirana bertumbuk pada harum helai rambutmu<br />
Aroma malam yang selalu kurindukan</p>
<p>Ada bulan di sela rambutmu<br />
Bulat jumawa di langit hitam<br />
Mengayunkan getar mistis<br />
Energi yang selalu ingin kudekap</p>
<p>Ada bulan di sela rambutmu<br />
Memamerkan kilau<br />
Mata hati menghakimi<br />
Kau lebih indah dari bulan itu, duhai separuh jiwaku&#8230;.</p>
<p>(Catatan bulan yang menjantang di akhir Februari)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/02/25/kau-dan-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ra</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/02/18/ra/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/02/18/ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 13:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1151</guid>
		<description><![CDATA[
Percik membiak cepat
Merapahi ruang-ruang waktu
Menyibak selimut kelam malam
Membolehkan nur menerobos: matahari
Ra*
Sulur menyapa
Dalam temperatur pagi yang hangat
Dalam gelora siang yang menggiat
Dalam pendar senja yang meranum
Dalam perak sinar yang kau titipkan pada bulan
Dari belahan semesta yang berbeda
Ra
Kosong kantung tanpa bekal
Tanpa ragu kujejaki langkah
Untuk mendedah hari
Untuk mengoyak labirin
Untuk ayunan damai yang kita mainkan
Demi hakiki yang telah menjajah hati
Ra
Darimu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-1152 aligncenter" title="tribal-sun-tattoo" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/02/tribal-sun-tattoo-300x300.jpg" alt="tribal-sun-tattoo" width="300" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;">Percik membiak cepat<br />
Merapahi ruang-ruang waktu<br />
Menyibak selimut kelam malam<br />
Membolehkan nur menerobos: matahari</p>
<p style="text-align: center;">Ra*<br />
Sulur menyapa<br />
Dalam temperatur pagi yang hangat<br />
Dalam gelora siang yang menggiat<br />
Dalam pendar senja yang meranum<br />
Dalam perak sinar yang kau titipkan pada bulan<br />
Dari belahan semesta yang berbeda</p>
<p style="text-align: center;">Ra<br />
Kosong kantung tanpa bekal<br />
Tanpa ragu kujejaki langkah<br />
Untuk mendedah hari<br />
Untuk mengoyak labirin<br />
Untuk ayunan damai yang kita mainkan<br />
Demi hakiki yang telah menjajah hati</p>
<p style="text-align: center;">Ra<br />
Darimu, hidup telah dimulai&#8230;.</p>
<p style="text-align: center;"><em>*Ra adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ra_(mitologi)">Dewa Matahari</a>, Dewa Tertinggi dalam kepercayaan Mesir Kuno</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/02/18/ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Bahagia dari ILUMINASI Jakarta Gathering, 9 Februari 2010</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/02/10/catatan-bahagia-dari-iluminasi-jakarta-gathering-9-februari-2010/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/02/10/catatan-bahagia-dari-iluminasi-jakarta-gathering-9-februari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 14:48:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kerja]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1146</guid>
		<description><![CDATA[
Satu pertanyaan yang menggelitik dilontarkan Daniel Mahendra di malam ILUMINASI Jakarta Gathering selasa lalu, &#8220;Apakah engkau bahagia?&#8221;. Mulanya kupikir, pertanyaan apa ini? Bukankah ini diskusi buku? Tetapi jeda waktu yang ada sebelum menjawab pertanyaan itu memberiku kesempatan mengorek-orek isi hati. Tak terlalu dalam menembus endotel hati, ternyata tak ada rasa lain yang kurasakan selain BAHAGIA!
Banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-1145 aligncenter" title="nukilan" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/02/nukilan-300x199.jpg" alt="nukilan" width="300" height="199" /></p>
<p>Satu pertanyaan yang menggelitik dilontarkan Daniel Mahendra di malam ILUMINASI Jakarta Gathering selasa lalu, &#8220;Apakah engkau bahagia?&#8221;. Mulanya kupikir, pertanyaan apa ini? Bukankah ini diskusi buku? Tetapi jeda waktu yang ada sebelum menjawab pertanyaan itu memberiku kesempatan mengorek-orek isi hati. Tak terlalu dalam menembus endotel hati, ternyata tak ada rasa lain yang kurasakan selain BAHAGIA!</p>
<p>Banyak kejutan yang datang membuat hatiku melonjak. Di hari itu, bertepatan dengan tanggal kelahiranku dan memperkenalkan ILUMINASI, kawan-kawan dari berbagai komunitas berduyun datang. Tak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah: Surabaya, Semarang, Malang dan Bali. Sinkronitas telah memungkinkan mereka semua untuk menyambangi dan berbagi iluminasi di Newseum Cafe.</p>
<p>Untuk bahagiaku itu, aku haturkan banyak terima kasih pada:<br />
<span id="more-1146"></span><br />
- Mas Taufik Razen dan Mas Mujib atas kebaikan hati memberikan dukungan penuh pada acara dan digunakannya Newseum sebagai tempat acara.</p>
<p>- Syafruddin Azhar, Senior Editor Penerbit Kakilangit Kencana yang tak pernah lelah memberikan input bagi keseluruhan proses penerbitkan dan promosi buku. Dan juga tim Kakilangit Kencana atas dukungannya.</p>
<p>- FX Rudi Gunawan, yang jadi dewa penolong sebagai pembahas novel.</p>
<p>- Sekar Chamdi, atas kesediaannya menjadi MC dengan todongan waktu yang singkat. Putihmu mengabar malam itu, sahabat.</p>
<p>- Daniel Mahendra, yang telah jauh datang dari Bandung demi nukilan ILUMINASI. Mate, kau sahabat terbaik dalam kata dan langkah. Performancemu memukau, sangat ILUMINASI.</p>
<p>- Da&#8217;an Danang Setiawan, yang telah banyak memberikan support, pemikiran dan banyak waktu untuk menggarap seluruh ilustrasi musik ILUMINASI. You rock my day dengan biolamu. Demikian juga untuk Ricky yang membantu menyumbangkan petikan basnya.</p>
<p>- Kelompok Dansa: Nia, Linda, Punki, Rendro yang menyempatkan datang di sela kesibukan. Kalian telah memberikan makna dari frase: saduluran sampe matek!</p>
<p>- Kawan-kawan Javin: Fendry, Jemek, Rahung, Dhyta dan Adrian atas dukungan terhadap ILUMINASI dan solidaritas erat yang indah. Terutama pada Adi Mulyana yang telah mengorbankan banyak waktu untuk pembuatan video ILUMINASI. Thanks bro&#8230;</p>
<p>- Kawan-kawan komunitas komik yang berbondong datang dari berbagai daerah. Kelompok Pluz yang selalu kompak, Mas Aji yang datang dari Malang, Damuh Bening yang datang dari jauh, Bali. Bli, suksma atas semuanya. Tak terhitung budi yang kau tanam di genggam tangan ini, entah bagaimana aku membalasnya. Kejutan yang sangat menyenangkan kawan-kawan komunitas komik hadir di Newseum.</p>
<p>- Darminto M. Sudarmo, jauh dari Semarang datang untuk ILUMINASI. Terima kasih Kang atas kejutan hadirmu.</p>
<p>- Kang Mas Heru Sudjarwo, sahabat yang selalu mendukung dan memberi banyak masukan.</p>
<p>- FA Purawan dari komunitas penulis fiksi fantasi Indonesia yang telah memberikan resensi dan bersedia hadir dalam acara. Senang akhirnya bisa bertemu dengan Mas Pur.</p>
<p>- Nungki Prameswari dan Parisihni Kristanti atas kehadiran dan hadiahnya dari Surabaya.</p>
<p>- ES Noosabri atas semua diskusi, kehadiran dan foto-foto yang indah.</p>
<p>- Ibu Enny dan Bapak Dwi atas kehadiran dan apresiasnya untuk ILUMINASI. Pak Dwi telah memberiku satu sisi lain dari ILUMINASI. Makasih, Pak.</p>
<p>- Kawan-kawan dari Barisan Perempuan Indonesia: Ibeth dan Mbak Yuyud. Senang sekali bisa melihat kehadiran perempuan-perempuan di garda depan di tengah tetamu diskusi buku.</p>
<p>Dan semua kawan yang berkenan hadir dan memberi masukan serta tanggapannya: Olin Monteiro, Desiree Manumpil, Ali Zainal Abidin, Wayan Lessy, Wulansary Ichsan (makasih kadonya bu), Paramita Laksmiandita, Lilik HS dan Cecil (makasih bunganya), Mbak Ari dan Raharja Waluya Jati dari VHR, Sinnal, Anggi dan Jojo, Deasy Sutedja, Agoy Yoga, Nike Rifa Sofiana, Dion dan Mbak Yanti (Duh, Dion, kau tampil berbeda dan asyik sekali!), Mbak Anny Djati yang meskipun tak datang tetapi menyempatkan memberi hadiah, dan kawan-kawan lain yang telah berkenan datang. Kalian semua pemberi bahagia! Terima kasih.</p>
<p>Akhirnya, judul ILUMINASI Jakarta Gathering hanyalah sebuah penamaan tempat, di sana, dari berbagai komunitas dan penjuru telah hadir. Selaksa terima kasih atas dukungan dan apresiasinya terhadap ILUMINASI. Malam itu, kebahagiaan punya arti lain: &#8220;happiness is given&#8221;</p>
<p>Langkah baru menjejak, dunia baru menanti, semoga tak putus energi untuk memberi makna.</p>
<p>Salam ILUMINASI<br />
Lisa Febriyanti</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/02/10/catatan-bahagia-dari-iluminasi-jakarta-gathering-9-februari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laki-Laki Malaikat</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/01/27/laki-laki-malaikat/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/01/27/laki-laki-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 04:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/17/laki-laki-malaikat/</guid>
		<description><![CDATA[
Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku&#8230;.selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.
Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">
<p><a href="http://bobwama.files.wordpress.com/2009/03/dark-angel-21114.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1136 alignleft" title="dark-angel-21114" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/dark-angel-21114-300x225.jpg" alt="dark-angel-21114" width="300" height="225" /></a>Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku&#8230;.selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.</p>
<p>Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku berpijak, tentang bintang yang pernah disinggahinya. Sayap lebar mengepak bersamaan dengan kerling godanya. Lalu ia pun menyusur di jejak yang sama denganku kini.</p>
<p>Seperti tak ingin dia melepas, laki-laki malaikat menebar serbuk-serbuk kasih diselubungku. Menjeratku dengan indahnya. Tak terbantahkan. Aku tergagap dalam putaran rasa yang ia persembahkan. Indah sekaligus membuatku menggigil.</p>
<p>Seperti tak pernah lelap, laki-laki malaikat berkitar di telingaku, di kepalaku, di bibirku, di lentik jariku, di legam kulitku, di lebar langkahku, di pijar mataku. Dia  di sana, terus di sana. Tak tersiah sekejab pun dari  fragmen takdirku.</p>
<p>Laki-laki malaikat mendekap hidupku, menawarkan senampan harapan. Memperkokoh kepalan tanganku yang mengangkasa menantang kehidupan. Menghangatkan lewat pendar-pendar cahayanya.</p>
<p>Runtutan waktu yang terus berjalan, laki-laki malaikat tak lekang. Mengiring tak terpisahkan pada langkah, pada keputusan, melekat pada senyum, menghambur pada duka, mendekap kisi-kisi indah yang hanya dirasakan hati. Lalu mengingini menjadi tak tertangkis.</p>
<p>Gemetar tangan ini ingin menyentuhnya, memeluknya dan mendekap hingga jiwa ini luruh jadi debu, lalu terlahir kembali. Tapi dia laki-laki malaikat dengan selapis dimensi yang berbeda. Ketika dia melayang dengan indahnya, aku hanya menapak bumi. Ketika dia berkilau dengan cahaya, aku bergumul dengan debu. Ketika dia abadi, aku melalui reinkarnasi. Dia laki-laki Malaikat&#8230;..</p>
<p>Bisa kah kau turun sebentar dari dimensimu?</p>
<p><em>(untuk kesekian kali menonton film City of Angel tanpa pernah bosan)</em></p>
<p><em>&#8220;Aku lebih mem</em><em>ilih sekali saja menghirup rambutnya, sekali saja mengecup</em><em> bibirnya, sekali saja menyentuh tangannya, daripada menjalani keabadian tanpa pernah merasakannya. Sekali saja.&#8221;</em></p>
<p><em>(Nicolas Cage sebagai Seth dalam City of Angels) </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/01/27/laki-laki-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#1: Sandya</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 16:58:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[
Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.
Dari cermin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.smartloftstudio.com/images/art/graphic/identity/Mimi_yinyang.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1068 alignleft" title="mimi_yinyang" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/mimi_yinyang-300x297.jpg" alt="mimi_yinyang" width="300" height="297" /></a></p>
<p>Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.</p>
<p>Dari cermin yang sama, terpantul oleh mataku satu sosok, sumber kebahagiaanku. Ia bulan yang turun  dari langit, mempertaruhkan keabadian yang dimilikinya demi menyuntingku. Bulan yang datang tiba-tiba di malam-malamku yang dingin, memberi cahaya dari matanya, lalu semua hariku dipenuhi kata-kata darinya. Begitu saja. Tanpa bisa kutolak.</p>
<p>Aku masih memerhatikannya dari cermin. Berdiri di samping tempat tidur yang ditaburi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Plumeria" target="_blank">plumeria</a> putih.  Ia melepas satu persatu kancing baju putihnya, pelan dan matanya terfokus pada kancing yang ia dorong melalui selarik lubang. Resam tubuhnya elok, seakan tiap gerak yang ia lakukan tak ada yang sia-sia. Semuanya punya tujuan dan dalam komposisi yang sangat tepat, tak pernah berlebihan maupun kekurangan. Di  mataku, semua geraknya adalah tarian yang dipersembahkan dengan sangat indahnya. Bukan gemulai, tetapi begitu kokoh dan pasti. Seluruh tubuhnya menyanyikan aroma taksu yang mungkin hanya dipersembahkan bagi linga sariraku.</p>
<p>Laki-laki dalam cermin itu diperkenalkan padaku di sebuah senja berwarna merah. Tinggi dan kulitnya rata-rata milik <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ras_Mongoloid" target="_blank">Mongoloid</a>. Pada perjumpaan pertama, matanya begitu murung, mengalahkan muramnya senja. Aku tak tahu apa yang menggilas sinar kehidupannya dari sana, tetapi yang kutahu apapun itu adalah sebuah jurang yang mendorongnya terlalu dalam. Pada perjumpaan pertama, aku tak merasai pijar yang bergelora, hanya merasakan satu tarikan sulur dari taksunya.  Serasa dekat. Jiwanya serasa pernah kutemui di kehidupan lalu, entah kapan. Hanya itu saja.</p>
<p>Nyaris tiga tahun lalu, senja jadi saksi perkenalan kami. Hari-hari berikutnya, seperti semesta telah mengaturkan semuanya. Ada saja hal-hal yang bisa kami diskusikan bersama, ada saja hal-hal yang mencuatkan kata &#8220;Aha!&#8221;, lalu ketika hariku tak ada kata-kata darinya, aku terbungkus rasa yang kehilangan yang mendalam. Kemudian kutahu, itu dinamai rindu.</p>
<p><span id="more-1047"></span></p>
<p>Suatu pagi, setelah beberapa malam ia menghilang, ia menjumpaiku dan bertanya, &#8220;Apa kabar?&#8221;</p>
<p>Merah pipiku ketika kuucap kata, &#8220;Rindu..&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun memijak bumi, dari tempatnya di langit sana. Seperti Seth dalam film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/City_of_Angels" target="_blank">City of Angel</a> yang meminta kepada Tuhan agar menjadikannya manusia immortal demi mencintai seorang perempuan. Ah, itu memang analogiku. Laki-laki itu bukan malaikat. Ia hanya seseorang yang dunianya jauh dari duniaku. Ia menjalankan bisnis rumah produksi miliknya sendiri, sedangkan aku cuma pengelana yang menyukai dunia fotografi. Memang, ada garis merah yang mengikat jari-jari kami. Ada lingkaran kurva kecil yang diarsir untuk menunjukkan kesamaan gerakan. Dunia kreatif. Tetapi soal langkah kaki, hidungku lebih sering mencium aspal jalanan ketimbang ujung sepatunya.</p>
<p>Aku dan laki-laki itu, adalah penggalan terakhir <a href="http://www.imeem.com/elhafizzo/music/7sgibnbd/nicholas-saputra-puisi-cahaya-bulan/" target="_blank">Puisi Cahaya Bulan</a> yang sangat elok dibawakan oleh Nicholas Saputra. Penggalan itu berkata, <em>&#8220;Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.&#8221;</em></p>
<p>Tetapi, tiga tahun kebersamaan telah jadi ujian bagi kami. Tak ada beda yang terlalu sulit jika menjalaninya dengan cinta. Dan ketika kami bicara tentang penyatuan abadi, semua yang jadi penghalang tak lagi penting. Ketika komitmen sudah dibulatkan, maka kompromi dalam banyak hal pun sudah jadi kelanjutannya.</p>
<p>Waktu tiga tahun kugunakan untuk menyelami dunia wewangiannya. Ah ya. Aku lupa untuk mencatat di atas. Salah satu hal yang membuatku jatuh cinta padanya adalah, wangi parfumnya. Ia tak tampak seperti flamboyan dengan parfumnya. Justru di sana ada  keringat laki-lakinya, bercampur dengan aroma parfum yang baru pertama kali membiusku. Di kemudian hari aku tahu, itu wangi <a href="http://2.bp.blogspot.com/_efvowSlkxi0/SeSzrxsgULI/AAAAAAAAAIY/VZtXpdI4Rsc/s400/~acqua+di+gio+armani.bmp" target="_blank">Acqua di Gio</a>, <em>for men</em> tentunya.</p>
<p>Hingga hari ini, di malam pengantin kami, aku masih mencium aroma parfum yang sama. Kuharap ia masih akan menggunakannya setelah mandi nanti. Agar wangi plumeria yang bertemu aroma parfumnya, membuatku makin mabuk. Luruh dalam asmaradhana.</p>
<p>Ah ya, laki-laki yang hari ini telah resmi menjadi suamiku itu bernama:  Sandya.</p>
<p><em>bersambung</em> <em>#2: Bulan Penuh Madu</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
