<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.2.2" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ladangkata</title>
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 14:17:29 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Berita oh Berita</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/07/28/berita-oh-berita/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/07/28/berita-oh-berita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 05:54:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/07/28/berita-oh-berita/</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya selepas Subuh saya kembali terlelap, tapi tidak pagi ini. Mungkin karena  semalam tidur lebih awal. Lalu, televisi pun jadi kawan menanti matahari benderang. Sebuah acara berita saya pilih. Yah menurut saya,  itu pilihan terbaik sebelum memulai hari.
Dan, dari satu segmen ke segmen lainnya, dari satu berita ke berita lainnya, yang tertangkap indera saya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Biasanya selepas Subuh saya kembali terlelap, tapi tidak pagi ini. Mungkin karena  semalam tidur lebih awal. Lalu, televisi pun jadi kawan menanti matahari benderang. Sebuah acara berita saya pilih. Yah menurut saya,  itu pilihan terbaik sebelum memulai hari.</p>
<p>Dan, dari satu segmen ke segmen lainnya, dari satu berita ke berita lainnya, yang tertangkap indera saya adalah berita pembunuhan berantai, kasus incest dimana sang anak menghamili ibunya sendiri, razia miras oleh salah satu ormas Islam radikal, tawuran warga dengan mahasiswa yang berawal dari kasus kriminal menjadi rasial, dan serentetan berita yang berkaitan dengan politik, kasus suap anggota DPR dan Jaksa.</p>
<p> <a href="http://ladangkata.com/2008/07/28/berita-oh-berita/#more-197" class="more-link" >(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/07/28/berita-oh-berita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Di Sela WAKTU</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/07/25/di-sela-sela-waktu/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/07/25/di-sela-sela-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 09:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/07/25/di-sela-sela-waktu/</guid>
		<description><![CDATA[Pada WAKTU, saya seperti tak berdaya. Keegoisannya yang membumbung, menyurut langkah saya. Di beberapa jeda, saya berhasil mengunggulinya. Dapat dihitung dengan jari. Itupun dengan terengah-tengah.
Selebihnya, dia terus melaju dan melaju. Tak terhenti, meski saya menjegalnya. Tak menoleh, meski saya berteriak kelelahan. Tak ambil peduli, meski saya tak ingin disentuh pusarannya. Karena ada satu saat, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada WAKTU, saya seperti tak berdaya. Keegoisannya yang membumbung, menyurut langkah saya. Di beberapa jeda, saya berhasil mengunggulinya. Dapat dihitung dengan jari. Itupun dengan terengah-tengah.</p>
<p>Selebihnya, dia terus melaju dan melaju. Tak terhenti, meski saya menjegalnya. Tak menoleh, meski saya berteriak kelelahan. Tak ambil peduli, meski saya tak ingin disentuh pusarannya. Karena ada satu saat, saya ingin berhenti. Ada suatu titik, saya ingin melompat, entah berapa jengkal ke depan. Membuka cakrawala baru bagi peluh yang menebal.</p>
<p>Tapi WAKTU tetap dalam pusarannya yang berirama sama. Dengan nada-nada yang berdentang memekik telinga. Memaksa saya menikmatinya. Mengekor pada juntaiannya. Tangan saya yang terikat pada satu titiknya, terus terseret. Di sela-selanya saya coba mengeja.</p>
<blockquote><p>WAKTU, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia</p>
<p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in"> <strong>wak·tu</strong> <strong>1</strong> <em>n</em> seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung: <em>tidak seorang pun tahu apa yg akan terjadi pd &#8212; yg akan datang;</em> <strong>2</strong> <em>n</em> lamanya (saat yg tertentu): <em>pekerjaan itu harus selesai dl &#8212; lima hari;</em> <strong>3</strong> <em>n</em> saat yg tertentu untuk melakukan sesuatu: &#8211;<em> makan;</em> <strong>4</strong> <em>n</em> kesempatan; tempo; peluang: <em>sayang sekali &#8212; yg baik untuk mencetak gol tidak dipergunakannya;</em> <strong>5</strong> <em>p</em> ketika, saat: &#8211;<em> engkau datang, saya sedang mandi;</em> <strong>6</strong> <em>n</em> hari (keadaan hari): &#8211;<em> terang bulan;</em> <strong>7</strong> <em>n</em> saat yg ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia: &#8211;<em> Indonesia Barat</em>;</p>
</blockquote>
<p>Ia adalah seluruh rangkaian proses yang mesti saya lalui. Tak terbantahkan. Ia adalah sebuah momentum yang tak pernah ada yang tahu kapan sebuah ketepatan,  kecuali sang waktu itu sendiri.</p>
<p>WAKTU, bisakah kau tunggu sebentar, tali sepatuku belum terikat&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><em>(tak ada jawaban, hanya desing langkahnya&#8230;terus mengalir..terus berjalan&#8230;kemana?)</em></p>
<blockquote></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/07/25/di-sela-sela-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Kabar Anak Indonesia?</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/07/23/apa-kabar-anak-indonesia/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/07/23/apa-kabar-anak-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 06:31:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/07/23/apa-kabar-anak-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Surat untuk anak-anak Indonesia di penjuru Nusantara&#8230;

Apa kabar anak Indonesia?
Sudah cas cis cus berbahasa Inggris? Masih siap berdiskusi a la orang dewasa dengan orang tuamu? Masihkah kau simpan ceria dari taman bermain modern yang baru saja dibuka bulan lalu di kotamu? Atau sudahkah kau simpan baik-baik permainan mutakhir yang dibelikan orang tuamu?  Jagalah semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Surat untuk anak-anak Indonesia di penjuru Nusantara&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/07/anak2.jpg" alt="anak2" height="296" width="406" /></p>
<p>Apa kabar anak Indonesia?</p>
<p>Sudah cas cis cus berbahasa Inggris? Masih siap berdiskusi a la orang dewasa dengan orang tuamu? Masihkah kau simpan ceria dari taman bermain modern yang baru saja dibuka bulan lalu di kotamu? Atau sudahkah kau simpan baik-baik permainan mutakhir yang dibelikan orang tuamu?  Jagalah semua itu dengan baik. Itu bagian dari tanggung jawabmu.</p>
<p>Bagaimana prestasimu? medali emas dari olimpiade pendidikan apa lagi yang kali ini berhasil engkau gondol atas nama Indonesia? Betapa bangganya kami semua di sini. Di saat para dewasa banyak yang sibuk berkutat dengan menghimpun pundi-pundi rupiah, dolar, euro dengan berpaling dari moralitas, engkau melaju dengan prestasi brilianmu. Hebat kau, Nak&#8230; <a href="http://ladangkata.com/2008/07/23/apa-kabar-anak-indonesia/#more-194" class="more-link" >(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/07/23/apa-kabar-anak-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Para Perempuan Itu&#8230;.</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/07/17/para-perempuan-itu/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/07/17/para-perempuan-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 10:38:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/07/17/para-perempuan-itu/</guid>
		<description><![CDATA[
Di era perang pra kemerdekaan, tentu kita mendengar tentang Cut Nyak Dien, Christinan Martha Tiahahu. Lalu, di era kebangkitan nasional, Indonesia mengenal R.A. Kartini, Dewi Sartika yang memiliki semangat membahana memajukan bangsanya. Lebih maju ke depan, ada S.K. Trimurti, veteran pejuang tahun 1945 dan banyak mendedikasikan hidupnya di dunia perburuhan. Ah..para perempuan itu&#8230;
Beberapa waktu terakhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/07/cover4.jpg" alt="srikandi" height="331" width="331" /></p>
<p><em>Di era perang pra kemerdekaan, tentu kita mendengar tentang <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Dhien" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">Cut Nyak Dien</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Martha_Christina_Tiahahu" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">Christinan Martha Tiahahu</a>. Lalu, di era kebangkitan nasional, Indonesia mengenal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">R.A. Kartini</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Sartika" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">Dewi Sartika</a> yang memiliki semangat membahana memajukan bangsanya. Lebih maju ke depan, ada <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/SK_Trimurti" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">S.K. Trimurti</a>, veteran pejuang tahun 1945 dan banyak mendedikasikan hidupnya di dunia perburuhan. Ah..para perempuan itu&#8230;</em></p>
<p>Beberapa waktu terakhir ini, saya banyak menandaskan waktu dengan membaca buku-buku epik dan sejarah (fiksi maupun non fiksi), terutama sejarah Jawa dan kehidupan Keraton di Jawa. Ada sepenggal kisah perempuan yang mencuat di sana dan cukup menarik bagi saya.</p>
<p>Pada awal tulisan, saya menyebutkan tokoh-tokoh perempuan di medan laga pertempuran, baik secara fisik maupun psikologis, dan kemudian menorehkan nama mereka sebagai pejuang Indonesia pada masanya. Kisah perempuan yang saya catat baru-baru ini ibarat nota tak berjudul dan masih sepenggal-penggal.</p>
<p> <a href="http://ladangkata.com/2008/07/17/para-perempuan-itu/#more-191" class="more-link" >(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/07/17/para-perempuan-itu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dongeng Bintang</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/07/03/dongeng-bintang/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/07/03/dongeng-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 12:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[terpaku pada....]]></category>

		<category><![CDATA[dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/07/03/dongeng-bintang/</guid>
		<description><![CDATA[
Para penggemar Harry Potter mungkin tak asing lagi dengan nama Sirius. Beberapa kali Sirius Black muncul pada serial paling laris ini sebagai ayah angkat Harry. Tapi Sirius yang akan saya ceritakan di bawah ini bukan tentang sang ayah angkat. Dia adalah sebuah bintang. 
Pada malam-malam tertentu, saya senang sekali memandang langit malam. Sedikit menghangat ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/07/sirius.jpg" alt="sirius" height="375" width="293" /></p>
<p><em>Para penggemar Harry Potter mungkin tak asing lagi dengan nama Sirius. Beberapa kali <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sirius_Black" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">Sirius Black</a> muncul pada serial paling laris ini sebagai ayah angkat Harry. Tapi Sirius yang akan saya ceritakan di bawah ini bukan tentang sang ayah angkat. Dia adalah sebuah bintang. </em></p>
<p>Pada malam-malam tertentu, saya senang sekali memandang langit malam. Sedikit menghangat ketika mata saya bertumbuk pada kelip kelip cahaya di sana. Renik, namun putih benderang. Bintang. Entah kenapa, saya senang sekali menyapa bintang. Dengan segenap imajinasi, pikiran saya terbang, sejauh jarak bintang itu dengan diri saya. Menyelami jalannya kehidupan, hanya melalui seberkas cahaya bintang. Dan saya sering terpaku dan mencari satu kelip paling terang di langit malam, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sirius" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">Sirius</a>.</p>
<p> <a href="http://ladangkata.com/2008/07/03/dongeng-bintang/#more-87" class="more-link" >(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/07/03/dongeng-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta Bukan Jawa (?)</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/05/23/jakarta-bukan-jawa/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/05/23/jakarta-bukan-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 08:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>

		<category><![CDATA[dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/23/jakarta-bukan-jawa/</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Cha, kapan pulang ke Jawa?&#8221;
Sudah beberapa kali saya mendengar pertanyaan ini. Dan itu seringkali diungkapkan oleh mereka yang sepanjang hidupnya tinggal di Jakarta, baik Betawi maupun bukan. Lah, emangnya Jakarta bukannya ada di Jawa ya? Saya yakin, banyak diantara Anda juga sering mendengar atau ditanya seperti itu. Hmmm, kenapa begitu ya?
Saya lalu iseng melakukan penelusuran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/menyala.jpg" alt="monas" height="450" width="303" /></p>
<p><em>&#8220;Cha, kapan pulang ke Jawa?&#8221;</em></p>
<p><em>Sudah beberapa kali saya mendengar pertanyaan ini. Dan itu seringkali diungkapkan oleh mereka yang sepanjang hidupnya tinggal di Jakarta, baik Betawi maupun bukan. Lah, emangnya Jakarta bukannya ada di Jawa ya? Saya yakin, banyak diantara Anda juga sering mendengar atau ditanya seperti itu. Hmmm, kenapa begitu ya?</em></p>
<p>Saya lalu iseng melakukan penelusuran di dunia maya tentang hal ini. Dan menemukan beberapa hal  berbau <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Primordialisme" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">primordialisme</a> yang masih terpelihara. Saya rangkum cuplikannya di sini:</p>
<p> <a href="http://ladangkata.com/2008/05/23/jakarta-bukan-jawa/#more-186" class="more-link" >(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/05/23/jakarta-bukan-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Bung, Rebut Kembali!</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/05/20/ayo-bung-rebut-kembali/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/05/20/ayo-bung-rebut-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 16:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[pelesir]]></category>

		<category><![CDATA[dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/20/ayo-bung-rebut-kembali/</guid>
		<description><![CDATA[100 Tahun Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia

20 Mei, Kebangkitan Nasional. Saya bergabung bersama Komunitas Historia Indonesia, menjelajahi Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta di waktu malam.  Merunut waktu perjuangan Indonesia menjelang kemerdekaannya. Jelajah malam ini menyimpulkan beberapa petikan dalam memaknai kebangkitan Indonesia.
Kebangkitan Indonesia ditandai dengan kebangkitan kaum intelektual di awal abad 20. Imbas dari politik etik pemerintah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">100 Tahun Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/mkn1.jpg" alt="mkn1" height="305" width="456" /></p>
<p><em>20 Mei, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kebangkitan_nasional" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">Kebangkitan Nasional</a>. Saya bergabung bersama <a href="http://kpsbi-historia.blogdrive.com/" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/kpsbi-historia.blogdrive.com');">Komunitas Historia Indonesia</a>, menjelajahi <a href="http://www.museumkebangkitannasional.go.id/" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/www.museumkebangkitannasional.go.id');">Museum Kebangkitan Nasional</a>, Jakarta di waktu malam.  Merunut waktu perjuangan Indonesia menjelang kemerdekaannya. Jelajah malam ini menyimpulkan beberapa petikan dalam memaknai kebangkitan Indonesia.</em></p>
<p>Kebangkitan Indonesia ditandai dengan kebangkitan kaum intelektual di awal abad 20. Imbas dari politik etik pemerintah Hindia Belanda di bidang irigasi, edukasi dan transmigrasi, lahirlah intelektual-intelektual Indonesia yang menjadi tercerahkan atas nasib bangsanya.</p>
<p> <a href="http://ladangkata.com/2008/05/20/ayo-bung-rebut-kembali/#more-183" class="more-link" >(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/05/20/ayo-bung-rebut-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Suroboyo, Cuk!</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 07:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>

		<category><![CDATA[seni dan budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/</guid>
		<description><![CDATA[
Ah..Surabaya. Tak ada kota seperti Surabaya. Maksud saya bukan topologi kotanya atau juga keadaan geografisnya. Surabaya sih sama dengan kota-kota metropolitan lain, dengan segala permasalahannya, dengan segala kemajuannya. Tapi khas nya itu loh, yang membuat saya berani bilang there&#8217;s no city like Surabaya.
Salah satu yang khas dari Surabaya adalah dialeknya. Letak geografisnya di pesisir, membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center" align="center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/bambu-runcing.jpg" alt="bambu runcing" height="467" width="350" /></p>
<p><em>Ah..Surabaya. Tak ada kota seperti Surabaya. Maksud saya bukan topologi kotanya atau juga keadaan geografisnya. Surabaya sih sama dengan kota-kota metropolitan lain, dengan segala permasalahannya, dengan segala kemajuannya. Tapi khas nya itu loh, yang membuat saya berani bilang there&#8217;s no city like Surabaya.</em></p>
<p>Salah satu yang khas dari Surabaya adalah dialeknya. Letak geografisnya di pesisir, membuat Surabaya menjadi tempat akulturasi budaya. Dan yang lebih mengedepan adalah kasarnya orang-orang di pesisiran. Dalam langgam bahasa Jawa, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">dialek</a> Surabaya selalu diiringi dengan  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');"></a><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logat" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">logat</a> yang keras dan kasar. Letaknya pada penekanan kata saat pengucapannya.</p>
<p> <a href="http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/#more-179" class="more-link" >(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Patung Buddha Empat Muka, Surabaya</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/05/14/patung-budha-empat-muka-surabaya/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/05/14/patung-budha-empat-muka-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 03:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[terpaku pada....]]></category>

		<category><![CDATA[pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/14/patung-budha-empat-muka-surabaya/</guid>
		<description><![CDATA[
Melihat patung Buddha empat muka ini berdiri dengan megahnya di salah satu sudut Pantai Ria Kenjeran Surabaya, mengingatkan pada patung yang sama di Thailand, yang menjadi salah satu obyek wisata paling banyak dikunjungi, Erawan Shrine. Tapi ternyata patung di Surabaya ini lebih tinggi daripada di Thailand. Mengagumkan!
Patung setinggi sembilan meter ini menempati area seluas 225 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center" align="center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/view1.jpg" alt="4muka1" height="555" width="374" /></p>
<p align="left"><em>Melihat patung <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddha" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">Buddha</a> empat muka ini berdiri dengan megahnya di salah satu sudut Pantai Ria Kenjeran Surabaya, mengingatkan pada patung yang sama di Thailand, yang menjadi salah satu obyek wisata paling banyak dikunjungi, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Erawan_Shrine" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/en.wikipedia.org');">Erawan Shrine.</a> Tapi ternyata patung di Surabaya ini lebih tinggi daripada di Thailand. Mengagumkan!</em></p>
<p align="left">Patung setinggi sembilan meter ini menempati area seluas 225 meter. Begitu menjulang dan makin megah karena bahannya dilapis dengan emas murni. Pelapisnya sendiri langsung didatangkan dari Thailand. Hmm..pantas saja, informasi yang saya dapat biaya pembuatan patung ini mencapai lebih dari 4 milyar rupiah.</p>
<p>Patung menempati sebuah bangunan semacam stupa, dimana Sang Buddha duduk di singgasananya. Jika dihitung, tinggi patung dan stupa mencapai 36 M. Karena ada empat muka, mungkin Anda bingung, mana yang disebut sebagai bagian depan. Gampang kok ternyata.Wajah yang menghadap depan adalah yang tangannya memegang tasbih.</p>
<p> <a href="http://ladangkata.com/2008/05/14/patung-budha-empat-muka-surabaya/#more-174" class="more-link" >(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/05/14/patung-budha-empat-muka-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Giyanti: Momentum Perpecahan Kekuasaan Jawa</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/05/11/giyanti-momentum-perpecahan-kekuasaan-jawa/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/05/11/giyanti-momentum-perpecahan-kekuasaan-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 18:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[terpaku pada....]]></category>

		<category><![CDATA[pelesir]]></category>

		<category><![CDATA[dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/11/giyanti-momentum-perpecahan-kekuasaan-jawa/</guid>
		<description><![CDATA[
Hingga abad 17, Jawa ada dalam kekuasaan Kasultanan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah. Wilayahnya sendiri sebenarnya merambah hingga ke Pulau Madura. Dan, seperti juga sejarah yang terus berulang, perebutan kekuasaan dan intrik politik dalam Kasultanan Mataram, membuka peluang perpecahan. Apalagi saat itu VOC (baca: penjajah), sudah mencengkeramkan kakinya di tanah Jawa. Tentu saja perpecahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/di-tengah-sawah.jpg" alt="giyanti" height="293" width="437" /></p>
<p><em>Hingga abad 17, Jawa ada dalam kekuasaan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">Kasultanan Mataram</a> yang berpusat di Jawa Tengah. Wilayahnya sendiri sebenarnya merambah hingga ke Pulau Madura. Dan, seperti juga sejarah yang terus berulang, perebutan kekuasaan dan intrik politik dalam Kasultanan Mataram, membuka peluang perpecahan. Apalagi saat itu <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Vereenigde_Oostindische_Compagnie" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/id.wikipedia.org');">VOC </a>(baca: penjajah), sudah mencengkeramkan kakinya di tanah Jawa. Tentu saja perpecahan ini bagai terbukanya pintu lebar-lebar setelah lama mengetuk.</em></p>
<p>Kita mengenal Giyanti sebagai salah satu lipatan sejarah Nusantara. Tapi mungkin tak banyak yang tahu letak persisnya dimana atau mungkin nilai sejarah apa yang ada di Giyanti. Dalam sebuah perjalanan ke Jawa Tengah, saya sempat mampir ke tempat  bersejarah itu dan mengulik sedikit kisah sejarah di baliknya.</p>
<p> <a href="http://ladangkata.com/2008/05/11/giyanti-momentum-perpecahan-kekuasaan-jawa/#more-169" class="more-link" >(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/05/11/giyanti-momentum-perpecahan-kekuasaan-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
