By Lisa Febriyanti on Nov 30, 2009 in ladang kisah, ladang puisi | 7 Comments
prolog: tolong putar lagu Rapuh-Padi, saat kau baca catatan ini…
Mungkin, kau salah membaca senyumku
Kau kurang cermat melihat garis bibir ini, karena ini bukan senyum
Tapi, bagaimana kau bisa lihat jika tak memandang?
Mungkin, kau lupa soal jantungku
Kau kurang menghitung detaknya yang melambat
Tapi, bagaimana bisa kau ingat jika tak merasakan?
Mungkin, kau eja dari hanya dari pikiranmu
Kau tak mengutip [...]
By Lisa Febriyanti on Nov 10, 2009 in ladang kisah | 4 Comments
Kalau bukan rindu, lalu kau namai apa semua ini?
Aku sering mendengar nyanyian tebu. Di siang hari, ketika kaki kuselonjorkan begitu saja di karpet berwarna coklat. Dengan sarung yang lipatannya tak lagi beraturan dan masai di sana-sini. Dengan bantal yang kadang lupa kuganti penutupnya hingga berminggu-minggu, hingga bau apak yang tetap kusukai, menggelitik hidung. Di saat [...]
By Lisa Febriyanti on Nov 4, 2009 in ladang kisah | 1 Comment
Ada banyak kata yang kusimpan dalam dompetku. Berlipat-lipat dengan kertas coretan sisa pijar pikiranku yang lalu-lalu. Kusimpan dengan rapat, tanpa ada yang terselip keluar. Sudah kujalin bersama waktu yang kujelang dalam sendiri. Semoga ini tak lagi menyakitkan. Semoga ini menjadi penerang di jalan buram yang telah dijejakkan. Semoga ini meretas kusutnya benang yang kita diamkan. [...]
By Lisa Febriyanti on Nov 2, 2009 in ladang kisah | 7 Comments
One travels more usefully when alone, because he reflects more (Thomas Jefferson)
Aku tulis catatan ini ketika aku sedang sakit. Sebenarnya aku sudah diingatkan untuk lebih banyak beristirahat saja di tempat tidur, menikmati waktu pulasku lebih banyak, setelah sekian lama terampas oleh banyak kletik-kletik yang kulakukan saat malam hingga dini hari. Namun, tak urung, aku seret [...]
By Lisa Febriyanti on Sep 27, 2009 in ladang gambar, ladang kisah | 11 Comments
Bagaimana jika aku jadi awan?
Tubuhku terdiri dari uap air yang mengapung di atmosfer. Lembut dan putih pada warna normalnya. Bergulung-gulung dan berpadu dengan birunya langit.
Menjadi awan berarti adalah kepasrahan. Aku gemulai saja ditiup angin. Mengawang dalam hembusannya. Ringan saja. Kadang aku biarkan saja lepas tak menentu arah. Hanya mengikuti angin yang membawa. Kadang aku bersikukuh [...]