<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ladangkata &#187; ladang kisah</title>
	<atom:link href="http://ladangkata.com/category/story-telling/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jun 2010 11:15:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kau Matahari dan Aku Bumi</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/06/28/kau-matahari-dan-aku-bumi/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/06/28/kau-matahari-dan-aku-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 11:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (WS Rendra)


Kau adalah matahari. Pembongkar kesadaranku akan hidup. Sinarmu, terik memercik, menyilaukan, mampu membuatku buta pada banyak hal. Sekaligus, cahaya itu yang menjadi terang dalam gelapku. Solarmu adalah tenaga kehidupanku, pemberi energi abadi. Duhai, bintang pusat galaksi bima sakti, kau adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (WS Rendra)</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-medium wp-image-1195  aligncenter" title="sunshine_6" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/06/sunshine_6-300x225.jpg" alt="sunshine_6" width="300" height="225" /><br />
</em></p>
<p style="text-align: left;">Kau adalah matahari. Pembongkar kesadaranku akan hidup. Sinarmu, terik memercik, menyilaukan, mampu membuatku buta pada banyak hal. Sekaligus, cahaya itu yang menjadi terang dalam gelapku. Solarmu adalah tenaga kehidupanku, pemberi energi abadi. Duhai, bintang pusat galaksi bima sakti, kau adalah pusat mikrokosmosku.</p>
<p style="text-align: left;">Aku adalah bumi. Belajar bersabar menunggumu di tiap-tiap fajar. Dan ketika malam tiba, aku termangu pada bulan, menantikan pantul sinarmu di permukaan bulan. Ketika senja datang membawa resahku, aku percaya, kau tak pernah hilang ditelan ufuk.  Kau hanya berkitar pada realitas dan sejatimu yang lain. Dan aku rela menanti pada sejati yang aku percayai. Rotasiku mungkin tak sesempurna lingkaran. Ia adalah elips, mengambil jarak terdekat dan terjauhnya, bergantian, untuk memberimu ruang, untuk memberiku jarak. Tapi percayalah,  aku adalah bumi, berotasi padamu untuk keabadian.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu cakrawala. Di zona itu keberanian diuji. Berani melepasmu untuk menjumpaimu lagi. Akankah kau terlambat datang? Akankah ujian itu menghilangkan keberanianmu untuk datang lagi  esok? Matahari, tempuhlah ujianmu, bumimu memiliki ujian kesabaran untuk menunggu. Di sanalah letak arti penantian.</p>
<p style="text-align: left;">Kau matahari dan aku bumi. Kita berjarak 148 juta kilometer. Berapa jarak hati kita?</p>
<p style="text-align: left;">Kau matahari dan aku bumi. Membutuhkan waktu 8 menit sinarmu mencapaiku, tapi prominensa mu menjulur tak berkesudahan.</p>
<p style="text-align: left;">Kau matahari dan aku bumi. Perjuangan kehidupan yang lebih dari kata-kata. Semoga.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/06/28/kau-matahari-dan-aku-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Berapa Wajah dalam Dirimu?</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/06/24/ada-berapa-wajah-dalam-dirimu/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/06/24/ada-berapa-wajah-dalam-dirimu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 08:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1181</guid>
		<description><![CDATA[Ada berapa wajah dan jiwa yang kita punya? Apakah seseorang memiliki konsistensi untuk tetap menunjukkan satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya?

Kerap kali aku melihat kawan, sahabat yang aku rasa kenal betul tiba-tiba menjadi seseorang yang berbeda, dalam ruang yang berbeda. Aku kira sudah sepenuhnya kenal siapa diri mereka, tetapi dalam ruang yang berbeda, terjadi perubahan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ada berapa wajah dan jiwa yang kita punya? Apakah seseorang memiliki konsistensi untuk tetap menunjukkan satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya</em>?</p>
<p><img class="size-medium wp-image-1183 alignleft" title="topeng1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/06/topeng1-225x300.jpg" alt="topeng1" width="225" height="300" /></p>
<p>Kerap kali aku melihat kawan, sahabat yang aku rasa kenal betul tiba-tiba menjadi seseorang yang berbeda, dalam ruang yang berbeda. Aku kira sudah sepenuhnya kenal siapa diri mereka, tetapi dalam ruang yang berbeda, terjadi perubahan. Wajah mereka berbeda, seperti juga jiwanya. Layaknya, mereka seseorang yang baru aku kenal. Inikah adaptasi atau memang tak ada seorang pun yang memiliki satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya?</p>
<p>Lalu, aku melihat diriku sendiri. Apakah tanpa aku sadari, aku pun memiliki perubahan yang demikian? Lisa Febriyanti di satu tempat, berbeda dengan Lisa Febriyanti di tempat lainnya?</p>
<p>Pertanyaan yang lebih jauh lagi, aku, kami, kita, apakah hanya menggunakan topeng sosial, bertingkah sesuai kondisi atau adakah alasan pembenarannya yang lain?</p>
<p>Manusia. Makhluk digdaya yang kuat seperti topan, gemulai seperti angin dan mampu bergerak seperti air. Manusia selalu dalam dialektikanya. Bertumbuh secara fisik, bertumbuh secara intelektual, berkembang dengan pengamalannya dan belajar dari semua hal yang datang padanya. Inikah penyebab perubahan?</p>
<p>Manusia. Dilahirkan untuk hidup secara sosial. Terikat pada keberadaan orang lain. Menggantungkan dirinya pada fungsi orang lain. Yang satu ada untuk memberikan makna bagi yang lainnya, meskipun bukan pada kondisi yang sepenuhnya kita inginkan. Apakah ini yang membuat mereka memiliki banyak wajah. Wajah di tiap kondisi. Jiwa di setiap situasi.</p>
<p>Lalu, jika ada banyak wajah dalam diri, dimana letak kesejatian?</p>
<p>Apakah frasa &#8220;Tak ada yang sejati selain perubahan&#8221; juga berlaku bagi jiwa?</p>
<p><em>Catatan: tulisan ini  hanya sebuah latihan kecil untuk mengamati dan menulis lagi, setelah aku mengalami writer block belakangan ini. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/06/24/ada-berapa-wajah-dalam-dirimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Bahagia dari ILUMINASI Jakarta Gathering, 9 Februari 2010</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/02/10/catatan-bahagia-dari-iluminasi-jakarta-gathering-9-februari-2010/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/02/10/catatan-bahagia-dari-iluminasi-jakarta-gathering-9-februari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 14:48:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kerja]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1146</guid>
		<description><![CDATA[
Satu pertanyaan yang menggelitik dilontarkan Daniel Mahendra di malam ILUMINASI Jakarta Gathering selasa lalu, &#8220;Apakah engkau bahagia?&#8221;. Mulanya kupikir, pertanyaan apa ini? Bukankah ini diskusi buku? Tetapi jeda waktu yang ada sebelum menjawab pertanyaan itu memberiku kesempatan mengorek-orek isi hati. Tak terlalu dalam menembus endotel hati, ternyata tak ada rasa lain yang kurasakan selain BAHAGIA!
Banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-1145 aligncenter" title="nukilan" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/02/nukilan-300x199.jpg" alt="nukilan" width="300" height="199" /></p>
<p>Satu pertanyaan yang menggelitik dilontarkan Daniel Mahendra di malam ILUMINASI Jakarta Gathering selasa lalu, &#8220;Apakah engkau bahagia?&#8221;. Mulanya kupikir, pertanyaan apa ini? Bukankah ini diskusi buku? Tetapi jeda waktu yang ada sebelum menjawab pertanyaan itu memberiku kesempatan mengorek-orek isi hati. Tak terlalu dalam menembus endotel hati, ternyata tak ada rasa lain yang kurasakan selain BAHAGIA!</p>
<p>Banyak kejutan yang datang membuat hatiku melonjak. Di hari itu, bertepatan dengan tanggal kelahiranku dan memperkenalkan ILUMINASI, kawan-kawan dari berbagai komunitas berduyun datang. Tak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah: Surabaya, Semarang, Malang dan Bali. Sinkronitas telah memungkinkan mereka semua untuk menyambangi dan berbagi iluminasi di Newseum Cafe.</p>
<p>Untuk bahagiaku itu, aku haturkan banyak terima kasih pada:<br />
<span id="more-1146"></span><br />
- Mas Taufik Razen dan Mas Mujib atas kebaikan hati memberikan dukungan penuh pada acara dan digunakannya Newseum sebagai tempat acara.</p>
<p>- Syafruddin Azhar, Senior Editor Penerbit Kakilangit Kencana yang tak pernah lelah memberikan input bagi keseluruhan proses penerbitkan dan promosi buku. Dan juga tim Kakilangit Kencana atas dukungannya.</p>
<p>- FX Rudi Gunawan, yang jadi dewa penolong sebagai pembahas novel.</p>
<p>- Sekar Chamdi, atas kesediaannya menjadi MC dengan todongan waktu yang singkat. Putihmu mengabar malam itu, sahabat.</p>
<p>- Daniel Mahendra, yang telah jauh datang dari Bandung demi nukilan ILUMINASI. Mate, kau sahabat terbaik dalam kata dan langkah. Performancemu memukau, sangat ILUMINASI.</p>
<p>- Da&#8217;an Danang Setiawan, yang telah banyak memberikan support, pemikiran dan banyak waktu untuk menggarap seluruh ilustrasi musik ILUMINASI. You rock my day dengan biolamu. Demikian juga untuk Ricky yang membantu menyumbangkan petikan basnya.</p>
<p>- Kelompok Dansa: Nia, Linda, Punki, Rendro yang menyempatkan datang di sela kesibukan. Kalian telah memberikan makna dari frase: saduluran sampe matek!</p>
<p>- Kawan-kawan Javin: Fendry, Jemek, Rahung, Dhyta dan Adrian atas dukungan terhadap ILUMINASI dan solidaritas erat yang indah. Terutama pada Adi Mulyana yang telah mengorbankan banyak waktu untuk pembuatan video ILUMINASI. Thanks bro&#8230;</p>
<p>- Kawan-kawan komunitas komik yang berbondong datang dari berbagai daerah. Kelompok Pluz yang selalu kompak, Mas Aji yang datang dari Malang, Damuh Bening yang datang dari jauh, Bali. Bli, suksma atas semuanya. Tak terhitung budi yang kau tanam di genggam tangan ini, entah bagaimana aku membalasnya. Kejutan yang sangat menyenangkan kawan-kawan komunitas komik hadir di Newseum.</p>
<p>- Darminto M. Sudarmo, jauh dari Semarang datang untuk ILUMINASI. Terima kasih Kang atas kejutan hadirmu.</p>
<p>- Kang Mas Heru Sudjarwo, sahabat yang selalu mendukung dan memberi banyak masukan.</p>
<p>- FA Purawan dari komunitas penulis fiksi fantasi Indonesia yang telah memberikan resensi dan bersedia hadir dalam acara. Senang akhirnya bisa bertemu dengan Mas Pur.</p>
<p>- Nungki Prameswari dan Parisihni Kristanti atas kehadiran dan hadiahnya dari Surabaya.</p>
<p>- ES Noosabri atas semua diskusi, kehadiran dan foto-foto yang indah.</p>
<p>- Ibu Enny dan Bapak Dwi atas kehadiran dan apresiasnya untuk ILUMINASI. Pak Dwi telah memberiku satu sisi lain dari ILUMINASI. Makasih, Pak.</p>
<p>- Kawan-kawan dari Barisan Perempuan Indonesia: Ibeth dan Mbak Yuyud. Senang sekali bisa melihat kehadiran perempuan-perempuan di garda depan di tengah tetamu diskusi buku.</p>
<p>Dan semua kawan yang berkenan hadir dan memberi masukan serta tanggapannya: Olin Monteiro, Desiree Manumpil, Ali Zainal Abidin, Wayan Lessy, Wulansary Ichsan (makasih kadonya bu), Paramita Laksmiandita, Lilik HS dan Cecil (makasih bunganya), Mbak Ari dan Raharja Waluya Jati dari VHR, Sinnal, Anggi dan Jojo, Deasy Sutedja, Agoy Yoga, Nike Rifa Sofiana, Dion dan Mbak Yanti (Duh, Dion, kau tampil berbeda dan asyik sekali!), Mbak Anny Djati yang meskipun tak datang tetapi menyempatkan memberi hadiah, dan kawan-kawan lain yang telah berkenan datang. Kalian semua pemberi bahagia! Terima kasih.</p>
<p>Akhirnya, judul ILUMINASI Jakarta Gathering hanyalah sebuah penamaan tempat, di sana, dari berbagai komunitas dan penjuru telah hadir. Selaksa terima kasih atas dukungan dan apresiasinya terhadap ILUMINASI. Malam itu, kebahagiaan punya arti lain: &#8220;happiness is given&#8221;</p>
<p>Langkah baru menjejak, dunia baru menanti, semoga tak putus energi untuk memberi makna.</p>
<p>Salam ILUMINASI<br />
Lisa Febriyanti</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/02/10/catatan-bahagia-dari-iluminasi-jakarta-gathering-9-februari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#1: Sandya</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 16:58:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[
Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.
Dari cermin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.smartloftstudio.com/images/art/graphic/identity/Mimi_yinyang.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1068 alignleft" title="mimi_yinyang" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/mimi_yinyang-300x297.jpg" alt="mimi_yinyang" width="300" height="297" /></a></p>
<p>Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.</p>
<p>Dari cermin yang sama, terpantul oleh mataku satu sosok, sumber kebahagiaanku. Ia bulan yang turun  dari langit, mempertaruhkan keabadian yang dimilikinya demi menyuntingku. Bulan yang datang tiba-tiba di malam-malamku yang dingin, memberi cahaya dari matanya, lalu semua hariku dipenuhi kata-kata darinya. Begitu saja. Tanpa bisa kutolak.</p>
<p>Aku masih memerhatikannya dari cermin. Berdiri di samping tempat tidur yang ditaburi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Plumeria" target="_blank">plumeria</a> putih.  Ia melepas satu persatu kancing baju putihnya, pelan dan matanya terfokus pada kancing yang ia dorong melalui selarik lubang. Resam tubuhnya elok, seakan tiap gerak yang ia lakukan tak ada yang sia-sia. Semuanya punya tujuan dan dalam komposisi yang sangat tepat, tak pernah berlebihan maupun kekurangan. Di  mataku, semua geraknya adalah tarian yang dipersembahkan dengan sangat indahnya. Bukan gemulai, tetapi begitu kokoh dan pasti. Seluruh tubuhnya menyanyikan aroma taksu yang mungkin hanya dipersembahkan bagi linga sariraku.</p>
<p>Laki-laki dalam cermin itu diperkenalkan padaku di sebuah senja berwarna merah. Tinggi dan kulitnya rata-rata milik <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ras_Mongoloid" target="_blank">Mongoloid</a>. Pada perjumpaan pertama, matanya begitu murung, mengalahkan muramnya senja. Aku tak tahu apa yang menggilas sinar kehidupannya dari sana, tetapi yang kutahu apapun itu adalah sebuah jurang yang mendorongnya terlalu dalam. Pada perjumpaan pertama, aku tak merasai pijar yang bergelora, hanya merasakan satu tarikan sulur dari taksunya.  Serasa dekat. Jiwanya serasa pernah kutemui di kehidupan lalu, entah kapan. Hanya itu saja.</p>
<p>Nyaris tiga tahun lalu, senja jadi saksi perkenalan kami. Hari-hari berikutnya, seperti semesta telah mengaturkan semuanya. Ada saja hal-hal yang bisa kami diskusikan bersama, ada saja hal-hal yang mencuatkan kata &#8220;Aha!&#8221;, lalu ketika hariku tak ada kata-kata darinya, aku terbungkus rasa yang kehilangan yang mendalam. Kemudian kutahu, itu dinamai rindu.</p>
<p><span id="more-1047"></span></p>
<p>Suatu pagi, setelah beberapa malam ia menghilang, ia menjumpaiku dan bertanya, &#8220;Apa kabar?&#8221;</p>
<p>Merah pipiku ketika kuucap kata, &#8220;Rindu..&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun memijak bumi, dari tempatnya di langit sana. Seperti Seth dalam film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/City_of_Angels" target="_blank">City of Angel</a> yang meminta kepada Tuhan agar menjadikannya manusia immortal demi mencintai seorang perempuan. Ah, itu memang analogiku. Laki-laki itu bukan malaikat. Ia hanya seseorang yang dunianya jauh dari duniaku. Ia menjalankan bisnis rumah produksi miliknya sendiri, sedangkan aku cuma pengelana yang menyukai dunia fotografi. Memang, ada garis merah yang mengikat jari-jari kami. Ada lingkaran kurva kecil yang diarsir untuk menunjukkan kesamaan gerakan. Dunia kreatif. Tetapi soal langkah kaki, hidungku lebih sering mencium aspal jalanan ketimbang ujung sepatunya.</p>
<p>Aku dan laki-laki itu, adalah penggalan terakhir <a href="http://www.imeem.com/elhafizzo/music/7sgibnbd/nicholas-saputra-puisi-cahaya-bulan/" target="_blank">Puisi Cahaya Bulan</a> yang sangat elok dibawakan oleh Nicholas Saputra. Penggalan itu berkata, <em>&#8220;Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.&#8221;</em></p>
<p>Tetapi, tiga tahun kebersamaan telah jadi ujian bagi kami. Tak ada beda yang terlalu sulit jika menjalaninya dengan cinta. Dan ketika kami bicara tentang penyatuan abadi, semua yang jadi penghalang tak lagi penting. Ketika komitmen sudah dibulatkan, maka kompromi dalam banyak hal pun sudah jadi kelanjutannya.</p>
<p>Waktu tiga tahun kugunakan untuk menyelami dunia wewangiannya. Ah ya. Aku lupa untuk mencatat di atas. Salah satu hal yang membuatku jatuh cinta padanya adalah, wangi parfumnya. Ia tak tampak seperti flamboyan dengan parfumnya. Justru di sana ada  keringat laki-lakinya, bercampur dengan aroma parfum yang baru pertama kali membiusku. Di kemudian hari aku tahu, itu wangi <a href="http://2.bp.blogspot.com/_efvowSlkxi0/SeSzrxsgULI/AAAAAAAAAIY/VZtXpdI4Rsc/s400/~acqua+di+gio+armani.bmp" target="_blank">Acqua di Gio</a>, <em>for men</em> tentunya.</p>
<p>Hingga hari ini, di malam pengantin kami, aku masih mencium aroma parfum yang sama. Kuharap ia masih akan menggunakannya setelah mandi nanti. Agar wangi plumeria yang bertemu aroma parfumnya, membuatku makin mabuk. Luruh dalam asmaradhana.</p>
<p>Ah ya, laki-laki yang hari ini telah resmi menjadi suamiku itu bernama:  Sandya.</p>
<p><em>bersambung</em> <em>#2: Bulan Penuh Madu</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bangun dari Hilang</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/12/14/bangun-dari-hilang/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/12/14/bangun-dari-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 03:30:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1123</guid>
		<description><![CDATA[
Kemana perginya semua yang hilang dari diri kita? Apakah menguap begitu saja, tanpa sisa? Apakah ada satu ruang di otak kita yang masih bisa menyimpan itu semua?
Rasanya yang terakhir ini terasa benar. Seberapa penuh otak kita menampung, masih tetap ada ruang yang di sela-selanya, untuk menyimpan yang hilang. Tersimpan rapat dan akan muncul jika ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em></em></p>
<p><a href="http://fc06.deviantart.net/fs17/i/2007/158/e/4/__Rise_of_the_Planets___by_7UR.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1125 alignleft" title="__rise_of_the_planets___by_7ur" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/12/__rise_of_the_planets___by_7ur-300x225.jpg" alt="__rise_of_the_planets___by_7ur" width="283" height="212" /></a>Kemana perginya semua yang hilang dari diri kita? Apakah menguap begitu saja, tanpa sisa? Apakah ada satu ruang di otak kita yang masih bisa menyimpan itu semua?</p>
<p>Rasanya yang terakhir ini terasa benar. Seberapa penuh otak kita menampung, masih tetap ada ruang yang di sela-selanya, untuk menyimpan yang hilang. Tersimpan rapat dan akan muncul jika ada pemantiknya.</p>
<p>Aku sedang menekuri kembali banyak hal yang hilang dalam diriku. Tak hanya tentang segala kenangan, tetapi juga sikap-sikap diri yang hilang karena digerus hal-hal baru yang datang. Aku mencari identitas lama yang positif dan seperti lenyap oleh banyak perubahan. Hal yang hilang itu dan kurasai benar kehilangannya adalah kekuatan diri. Betapa seringnya kini aku mengeluh dan rapuh. Padahal banyak orang yang bilang, &#8220;kau lebih kuat dari yang kau kira. Kau sudah bisa sampai di titik ini.&#8221; Tetap saja, ketika benturan datang, aku seperti terhempas. Buruknya, selalu merasa jadi sendirian, sementara, masih ada orang-orang istimewa menanti dengan terbuka. Aku, yang selalu ripuh dengan anganku sendiri, mestinya tak lagi terseok karena masih ada pelangi berkah di balik mendung kelabu.</p>
<p>Kita, adalah manusia yang berkelindan mencari dirinya. Berkiblat dari pikirannya. Dan kadang pikiran-pikiran itu menyesatkan. Selalu, dibutuhkan pemantik untuk kembali ke jalannya (diambil dari <a href="http://ladangkata.com/2009/12/04/telah-lahir-iluminasi/" target="_blank">novel ILUMINASI)</a>. Aku temukan pemantik itu, pada percikan keajaiban yang datang, pada kata-kata yang dialamatkan dan pada ruang-ruang yang dibuka lebar. Terlebih pada kasih yang mestinya dari dulu kutahu pasti telah ada padaku dan tak pernah hilang.</p>
<p>Aku tahu, aku bisa. Aku tahu, aku tak pernah sendiri. Tak pernah ada manusia yang begitu kesepiannya hingga untuk bicara pun tak lagi bisa. Selalu ada kawan, selalu ada kasih, selalu ada jalan untuk kembali pada hal-hal yang mestinya terus tergenggam. Semoga.</p>
<p>Ini seperti energi, tak akan bisa mati, hanya bisa diganti dan diubah dalam bentuk yang berbeda&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><em>When the day is long and the night, the night is yours alone,<br />
When you&#8217;re sure you&#8217;ve had enough of this life, well hang on<br />
Don&#8217;t let yourself go, &#8217;cause everybody cries and everybody hurts sometimes<br />
(Everybody Hurts, R.E.M)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/12/14/bangun-dari-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rapuh</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/11/30/rapuh/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/30/rapuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 17:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[prolog: tolong putar lagu Rapuh-Padi, saat kau baca catatan ini&#8230;
Mungkin, kau salah membaca senyumku
Kau kurang cermat melihat garis bibir ini, karena ini bukan senyum
Tapi, bagaimana kau bisa lihat jika tak memandang?
Mungkin, kau lupa soal jantungku
Kau kurang menghitung detaknya yang melambat
Tapi, bagaimana bisa kau ingat jika tak merasakan?
Mungkin, kau eja dari hanya dari pikiranmu
Kau tak mengutip [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>prolog: tolong putar lagu Rapuh-Padi, saat kau baca catatan ini&#8230;</em></p>
<p>Mungkin, kau salah membaca senyumku<br />
Kau kurang cermat melihat garis bibir ini, karena ini bukan senyum<br />
Tapi, bagaimana kau bisa lihat jika tak memandang?</p>
<p>Mungkin, kau lupa soal jantungku<br />
Kau kurang menghitung detaknya yang melambat<br />
Tapi, bagaimana bisa kau ingat jika tak merasakan?</p>
<p>Mungkin, kau eja dari hanya dari pikiranmu<br />
Kau tak mengutip percik-percik yang kusimpan<br />
Tapi, bagaimana kau eja jika kau mendaraskan dengan geram?</p>
<p>Mungkin kau tak lagi bisa mengintip dari kacamatamu<br />
Tapi, biarlah kusampaikan lewat puisiku<br />
Aku di ujung rapuh&#8230;<br />
Seperti hujan yang lesak ke tanah, menunggu sirna&#8230;</p>
<p>(merapuh di akhir november, 2009)</p>
<p><em>sebenarnya kutak ingin berada di sini, di tempat yang jauh dan sepi, memisahkan kita</em></p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/2iCI-iUZ1_w&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/2iCI-iUZ1_w&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/30/rapuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyanyian Tebu</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/11/10/nyanyian-tebu/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/10/nyanyian-tebu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 22:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[Kalau bukan rindu, lalu kau namai apa semua ini?
Aku sering mendengar nyanyian tebu. Di siang hari, ketika kaki kuselonjorkan begitu saja di karpet berwarna coklat. Dengan sarung yang lipatannya tak lagi beraturan dan masai di sana-sini. Dengan bantal yang kadang lupa kuganti penutupnya hingga berminggu-minggu, hingga bau apak yang tetap kusukai, menggelitik hidung. Di saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Kalau bukan rindu, lalu kau namai apa semua ini?</em></p>
<p><img class="size-medium wp-image-1021 alignleft" title="tebu" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/tebu-300x239.jpg" alt="tebu" width="300" height="239" />Aku sering mendengar nyanyian tebu. Di siang hari, ketika kaki kuselonjorkan begitu saja di karpet berwarna coklat. Dengan sarung yang lipatannya tak lagi beraturan dan masai di sana-sini. Dengan bantal yang kadang lupa kuganti penutupnya hingga berminggu-minggu, hingga bau apak yang tetap kusukai, menggelitik hidung. Di saat begitu, tak ada yang lebih mendamaikan daripada nyanyian tebu yang mendayu dan dihantarkan angin.</p>
<p>Aku tak akan pernah lupa pada nyanyian tebu. Mengalun dalam frekuensi rendah dengan harmoni nada yang sederhana, namun di sana letak keindahannya. Beberapa kali mendengarnya, aku sudah hapal pada nada-nada itu. Seperti lagu yang langsung akrab di telingamu, lalu dengan mudah kau ulang untuk kau nyanyikan sendiri. Hmm, aku sedang mencari kalimat untuk mendeskripsikannya. Nyanyian tebu itu seperti <em>ensemble </em>dari kumpulan suara tubuh tebu yang bergelayutan satu sama lain. Telingaku seperti memindai saxophone yang ditiup penuh sensasi, lalu dawai harpa yang dipetik jemari lentik, biola yang digesek menyayat hati, dan perkusi yang pelan saja memberi ritme. Nyanyian tebu adalah seruan akustik dari tubuhnya sendiri.</p>
<p>Nyanyian tebu, langsung kudengar begitu aku menginjakkan kakiku di taman itu. Sebuah taman penuh kembang-kembang harapan yang langsung kupeluk dan kubawa masuk ke dalam rumahku. Awalnya sangat pelan. Hingga harus kupejamkan mata dan berkonsentrasi mendengarnya. Lalu nada-nada itu memasuki gendang telingaku. Meninggalkan jejaknya di sana, dan tak akan hilang kemanapun kaki melangkah.</p>
<p>Rumah itu memang dikelilingi kebun tebu. Daun tebu bahkan menggapai-gapai di tembok belakang. Di depan, hanya berkisar jarak 1,5 meter antara taman penuh harap itu dengan kebun tebu yang cepat sekali berbunga. Rumah itu senyap, tak banyak kata, tapi menguarkan senyum dan bahagia. Dari sana, aku pernah menjumpai pelangi paling indah yang pernah melengkung di langit. Lalu, nyanyian tebu adalah hiburan paling mendamaikan sepanjang hari.</p>
<p>Ada satu yang tentang nyanyian tebu yang membuatku mencatatnya di sini. Nyanyian tebu itu tak pernah hilang dari telingaku, bahkan ketika aku jauh dari kebunnya. Ia makin lincah terdengar, dari jarak ratusan kilometer aku menjejak. Ia memanggil-manggil dengan simponi paling memilukan yang pernah diperdengarkan. Nadanya mengoyak isi dada yang tak mampu lagi berkata karena tertutup semua ruang. Justru selalu lebih menyayat ketika aku jauh dari kebunnya. Tak ada yang bisa mengerti lagi bagaimana nyanyian tebu itu bisa mengalun begitu abadinya di telingaku.Tak ada yang bisa paham lagi, bahwa hanya nyanyian tebu itu begitu indah sekaligus pilu.</p>
<p>Nyanyian tebu, apakah ia sebuah gelar simponi yang masih menunggu <em>standing ovation</em> dariku di bibir panggungnya?</p>
<p><em>catatan: gambar diambil dari depan rumah penuh harap itu</em>. <em>dengan kebun tebu bersiram kabut pagi di bulan februari 2009</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/10/nyanyian-tebu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kata yang Tersimpan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/11/04/kata-yang-tersimpan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/04/kata-yang-tersimpan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 12:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1014</guid>
		<description><![CDATA[
Ada banyak kata yang kusimpan dalam dompetku. Berlipat-lipat dengan kertas coretan sisa pijar pikiranku yang lalu-lalu.  Kusimpan dengan rapat, tanpa ada yang terselip keluar.  Sudah kujalin bersama waktu yang kujelang dalam sendiri. Semoga ini tak lagi menyakitkan. Semoga ini menjadi penerang di jalan buram yang telah dijejakkan. Semoga ini meretas kusutnya benang yang kita diamkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2008/05/cerpen-nita-pertemuan-terak.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1018 aligncenter" title="cerpen-nita-pertemuan-terak" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/cerpen-nita-pertemuan-terak-300x247.jpg" alt="cerpen-nita-pertemuan-terak" width="300" height="247" /></a></p>
<p>Ada banyak kata yang kusimpan dalam dompetku. Berlipat-lipat dengan kertas coretan sisa pijar pikiranku yang lalu-lalu.  Kusimpan dengan rapat, tanpa ada yang terselip keluar.  Sudah kujalin bersama waktu yang kujelang dalam sendiri. Semoga ini tak lagi menyakitkan. Semoga ini menjadi penerang di jalan buram yang telah dijejakkan. Semoga ini meretas kusutnya benang yang kita diamkan. Semoga bisa kuurai semua, kata yang tersimpan dalam dompetku, pada pertemuan kita selanjutnya, ayah&#8230;(dan kuharap bukan pertemuan kita yang terakhir)</p>
<p>lalu lagu Ayah mengalun&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/04/kata-yang-tersimpan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alone</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/11/02/alone/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/02/alone/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 08:12:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[One travels more usefully when alone, because he reflects more (Thomas Jefferson)

Aku tulis catatan ini ketika aku sedang sakit. Sebenarnya aku sudah diingatkan untuk lebih banyak beristirahat saja di tempat tidur, menikmati waktu pulasku lebih banyak, setelah sekian lama terampas oleh banyak kletik-kletik yang kulakukan saat malam hingga dini hari. Namun, tak urung, aku seret [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span class="body"><em>One travels more usefully when alone, because he reflects more (Thomas Jefferson)</em><br />
</span></p>
<p><img class="size-medium wp-image-1010 alignleft" title="alone" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/alone-248x300.jpg" alt="alone" width="248" height="300" />Aku tulis catatan ini ketika aku sedang sakit. Sebenarnya aku sudah diingatkan untuk lebih banyak beristirahat saja di tempat tidur, menikmati waktu pulasku lebih banyak, setelah sekian lama terampas oleh banyak kletik-kletik yang kulakukan saat malam hingga dini hari. Namun, tak urung, aku seret juga tubuhku ke ladang yang nyaris terlupakan ini. Aku terlalu banyak bermain di jaringan yang mengasyikkan, sehingga lupa punya satu ladang yang harus aku tanami dan berbagi dengan yang lain.</p>
<p>Apa yang hendak aku tulis? aku sendiri tak punya ide. Hanya saat sakit begini, kata &#8220;sendiri&#8221; menjadi lebih mengemuka. Ketika sakit begini, dan tak banyak kegiatan yang bisa aku lakukan, banyak cermin yang muncul di hadapanku. Cermin yang menayangkan kehidupanku sendiri. Banyak waktu yang berwarna hitam dan kosong musti aku lewatkan. Berpikir dengan caraku sendiri, bertindak dengan cara yang aku pahami nilai baiknya, dan mengambil keputusan dengan berpegang pada tempatku berdiri sendirian. Kadang aku merasa terlalu egois untuk semua ini. Berpikir dengan caraku sendiri sering menempatkanku pada posisi yang konfrontatif dengan orang lain. Dan sering aku banyak kehilangan sesuatu ketika pikiranku itu mengubur keinginan orang lain. Kebiasaan buruk yang susah sekali aku bendung.</p>
<p><span id="more-1006"></span></p>
<p>Dari cermin yang muncul, rasanya, aku memang harus lebih banyak belajar berdamai dengan kenyataan. Tak melulu mengedepankan keinginan dan ego untuk bertarung menghadapi hidup. Belajar mengamini duka sebagai salah satu jalan untuk mencapai kesadaran spiritual yang tinggi. Belajar berserah pada banyak keadaan untuk memperkaya jiwa. Dan itu menuntutku untuk tidak berpikir a la aku sendiri. Toh, dalam hidup ini ada karma tentang sebab akibat dalam kehidupan.</p>
<p>Saat sakit begini, ketika lagi-lagi kata sendirian menyeruak, aku teringat sebuah kalimat tentang sebuah pesta. Ketika lampu pesta dinyalakan, semua orang bergembira, saling menyapa, saling memeluk, saling menebar hangat, namun ketika pesta telah usai, lampu-lampu padam, kita kembali ke kehidupan masing-masing. Bahkan mungkin sang pengundang sudah lupa pada siapa saja yang diundang dalam pestanya. Hanya sebuah kesenangan sesaat, kemudian kembali lagi sendiri. Yak, sendiri. Lagi-lagi sendiri.</p>
<p>Aku seperti baru saja datang ke pesta itu. Lalu kembali ke kesendirian yang menjadi hakikatku saat ini. Menekuri jalan panjang yang harus aku retas sendiri. Mencoba mengurai benang kusut yang terjalin, demi untuk mencapai kebahagiaanku di depan sana. Semoga sampai di alamat yang aku tuju di sana. Di nirwana yang jauh, yang saat ini hanya bisa aku lihat melalui teropong berlensa panjang. Semoga&#8230;.</p>
<p>Maaf, mungkin berloncatan saat aku menulis ini. Rasa sakit di kepala dan tenggorokanku yang merajalela merampas kelincahanku untuk berpikir dengan struktur yang baik. Aku hanya mencoba sebuah terapi menulis untuk meringankan semua kelindan pikiran yang berloncatan di kepalaku. Dan sekali lagi semoga ini menjadi bahan renungan buatku sendiri dalam menjalani hidup. Ketika tiba di titik nadir, aku semakin tercerahkan untuk mengarifi kehidupan. Dan ini hanya sebuah catatan tentang cermin yang muncul dalam kesendirian.</p>
<p>Terima kasih telah sudi membacanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/02/alone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gemulai Awan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/09/27/gemulai-awan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/09/27/gemulai-awan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 09:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=969</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana jika aku jadi awan?
Tubuhku terdiri dari uap air yang mengapung di atmosfer. Lembut dan putih pada warna normalnya. Bergulung-gulung dan berpadu dengan birunya langit.
Menjadi awan berarti adalah kepasrahan. Aku gemulai saja ditiup angin. Mengawang dalam hembusannya. Ringan saja. Kadang aku biarkan saja lepas tak menentu arah. Hanya mengikuti angin yang membawa. Kadang aku bersikukuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-973 alignleft" title="awan1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/09/awan1.jpg" alt="awan1" width="318" height="212" />Bagaimana jika aku jadi awan?</p>
<p>Tubuhku terdiri dari uap air yang mengapung di atmosfer. Lembut dan putih pada warna normalnya. Bergulung-gulung dan berpadu dengan birunya langit.</p>
<p>Menjadi awan berarti adalah kepasrahan. Aku gemulai saja ditiup angin. Mengawang dalam hembusannya. Ringan saja. Kadang aku biarkan saja lepas tak menentu arah. Hanya mengikuti angin yang membawa. Kadang aku bersikukuh dan memeluk pucuk gunung untuk bersandar. Membelenggu puncak yang dingin demi sebuah pemberhentian. Tak hirau pada gemuruh batu-batu gunung yang keras menggoncang. Aku tetap diam, sekali lagi demi sebuah menyandarkan lembutku.</p>
<p>Apa lagi yang bisa kulakukan sebagai awan?</p>
<p>Ah, ya,  menjadi awan adalah kemurahan hati. Uap air yang terbenam di tubuhku lambat laun menghitam dan penuh. Kelabunya mendung kutahan dengan pelukku. Tulus, tak hendak mengadu kata tentangnya. Kubiarkan saja panas matahari bekerja membentukku, hingga menghitam. Sesudah itu, di batas kemampuanku menampung kelabunya mendung, kusiram bumi dengan hujan yang menyegarkan.</p>
<p>Lalu selesailah tugasku. Aku murca. Digantikan awan-awan lebih muda dan lebih lincah. Aku ada, untuk tiada.</p>
<p><em>catatan: kita semua adalah awan-awan yang hidup untuk memberi. Meski setitik, awan kecil adalah satu butir hujan untuk bumi. </em></p>
<h3 class="UIIntentionalStory_Message"><span class="UIStory_Message"><br />
</span></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/09/27/gemulai-awan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
