By Lisa Febriyanti on Nov 30, 2009 in ladang kisah, ladang puisi | 7 Comments
prolog: tolong putar lagu Rapuh-Padi, saat kau baca catatan ini…
Mungkin, kau salah membaca senyumku
Kau kurang cermat melihat garis bibir ini, karena ini bukan senyum
Tapi, bagaimana kau bisa lihat jika tak memandang?
Mungkin, kau lupa soal jantungku
Kau kurang menghitung detaknya yang melambat
Tapi, bagaimana bisa kau ingat jika tak merasakan?
Mungkin, kau eja dari hanya dari pikiranmu
Kau tak mengutip [...]
By Lisa Febriyanti on Nov 29, 2009 in ladang puisi | 2 Comments
Hujan paling sepi runtuh di depan rumahku
Aku tak lagi mendengar suara-suara
Tak lagi diganggui gemuruh
Dan tak perlu menutup telinga
Rinainya menjantang
Dinginnya mengabar
Bahana tak ada
Dalam mata terkatup
Bahkan hujan pun tak lagi bersuara, tanpamu….
(kisah sedih hari minggu di november rain, 2009)
By Lisa Febriyanti on Nov 28, 2009 in ladang puisi | 2 Comments
Dari tidur panjang berbulan-bulan
Dalam rengkuh pelangi
Menggantungkan diri pada lengkungnya
Berharap terus dipeluk
Tanpa lelah
Tapi bahkan tidur pun membuat resah
Meski lambar kepala belum lagi melesak
Dan dipan terus hangat di antara rintik hujan di luar sana
Rupanya ini bukan dipan
Bukan soal lembut bantal
Ini tentang resam tubuh yang ingin terbangun
Mendapati angin baru
Lalu beranjak
Terbangun
Kapan aku bisa terbangun?
Bagaimana rasa mentari dan kopi di [...]
By Lisa Febriyanti on Nov 27, 2009 in ladang puisi | 0 Comments
All endings are also beginnings. We just don’t know it at the time — Mitch Albom
lalu, akan kukabarkan pada merpati
yang setia menunggu janji
bahwa hati telah mati
tak perlu lagi kembali
luruh, tak lagi gemuruh
air pasang yang sudah surut
tak perlu lagi merangkak agar mengerucut
ditebas sudah rasa dalam silang sengkarut
pada perempuan berbaju merah
mengaku kalah
telah ia torehkan takdir yang memerah
di [...]
By Lisa Febriyanti on Nov 25, 2009 in ladang puisi | 0 Comments
Kita bertemu tanpa temu
Kita berpisah tanpa temu
Siapa yang pergi
Siapa yang tinggal
Tak ada yang tahu pasti
Waktu pun bercerita
Yang sendiri adalah yang tertinggal
Kita bertemu tanpa temu
Kita berpisah tanpa temu
Masih saja tak ada pertemuan di antaranya
Temu, apakah itu?