<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ladangkata &#187; ladang puisi</title>
	<atom:link href="http://ladangkata.com/category/poems/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jun 2010 11:15:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Daun yang Menikmati Karma</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/06/25/daun-yang-menikmati-karma/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/06/25/daun-yang-menikmati-karma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 04:57:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1189</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi
Bergerigi pada pinggirnya
Warnanya masih hijau
Melayang pelan diiring angin
Ia berbisik pada angin
&#8220;Inilah karmaku dan aku menerimanya sebagai takdirku.&#8221;
Angin tak menjawab
Ia hanya mengiringi
Daun luruh
Masih hijau
Menyentuh bumi
Ia menyapa bumi,
&#8220;Izinkan aku melesak, memburai dan nadir.&#8221;
Bumi tak menjawab
Ia hanya menerima
Daun meringkuk di tanah
Ia tahu sebentar lagi kehidupan direnggut darinya
Ia rela melewati karma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi<br />
Bergerigi pada pinggirnya<br />
Warnanya masih hijau<br />
Melayang pelan diiring angin<br />
Ia berbisik pada angin<br />
&#8220;Inilah karmaku dan aku menerimanya sebagai takdirku.&#8221;<br />
Angin tak menjawab<br />
Ia hanya mengiringi</p>
<p>Daun luruh<br />
Masih hijau<br />
Menyentuh bumi<br />
Ia menyapa bumi,<br />
&#8220;Izinkan aku melesak, memburai dan nadir.&#8221;<br />
Bumi tak menjawab<br />
Ia hanya menerima</p>
<p>Daun meringkuk di tanah<br />
Ia tahu sebentar lagi kehidupan direnggut darinya<br />
Ia rela melewati karma lebih cepat<br />
Ia membaca  dialektika pohonnya<br />
Ia menerima antithesisnya<br />
Ia tersedak dan melonggarkan renggutnya pada tangkai pohon<br />
Dalam detak kehidupannya yang tinggal sedikit<br />
Ia hanya ingin tersenyum, menunggu samsaranya. </p>
<p>Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/06/25/daun-yang-menikmati-karma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ode untuk Rintik Hujan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/04/11/ode-untuk-rintik-hujan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/04/11/ode-untuk-rintik-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 21:07:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1170</guid>
		<description><![CDATA[
Jika,
Kesiur angin tak menerbangkan mega di bentang langit
Apakah kau akan tetap datang?
Kalau saja, matahari tak surut menjantang
Sudikah kau menghujam bumi?
Jika, dan hanya jika
Aku adalah telaga tanpa tepi yang tak mengenal daratan
Beranikah kau menitipkan satu rintikmu di telagaku?
Nyatanya,
Kau datang pada satu ruang sahara
Meluruhkan segala ketidakmungkinan
Dan aku bernyanyi diantara rintikmu
Sebuah Ode untuk Rintik Hujan
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1173" title="raining" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/04/raining1-208x300.jpg" alt="raining" width="208" height="300" /></p>
<p>Jika,<br />
Kesiur angin tak menerbangkan mega di bentang langit<br />
Apakah kau akan tetap datang?</p>
<p>Kalau saja, matahari tak surut menjantang<br />
Sudikah kau menghujam bumi?</p>
<p>Jika, dan hanya jika<br />
Aku adalah telaga tanpa tepi yang tak mengenal daratan<br />
Beranikah kau menitipkan satu rintikmu di telagaku?</p>
<p>Nyatanya,<br />
Kau datang pada satu ruang sahara<br />
Meluruhkan segala ketidakmungkinan<br />
Dan aku bernyanyi diantara rintikmu<br />
Sebuah Ode untuk Rintik Hujan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/04/11/ode-untuk-rintik-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ra</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/02/18/ra/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/02/18/ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 13:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1151</guid>
		<description><![CDATA[
Percik membiak cepat
Merapahi ruang-ruang waktu
Menyibak selimut kelam malam
Membolehkan nur menerobos: matahari
Ra*
Sulur menyapa
Dalam temperatur pagi yang hangat
Dalam gelora siang yang menggiat
Dalam pendar senja yang meranum
Dalam perak sinar yang kau titipkan pada bulan
Dari belahan semesta yang berbeda
Ra
Kosong kantung tanpa bekal
Tanpa ragu kujejaki langkah
Untuk mendedah hari
Untuk mengoyak labirin
Untuk ayunan damai yang kita mainkan
Demi hakiki yang telah menjajah hati
Ra
Darimu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-1152 aligncenter" title="tribal-sun-tattoo" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/02/tribal-sun-tattoo-300x300.jpg" alt="tribal-sun-tattoo" width="300" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;">Percik membiak cepat<br />
Merapahi ruang-ruang waktu<br />
Menyibak selimut kelam malam<br />
Membolehkan nur menerobos: matahari</p>
<p style="text-align: center;">Ra*<br />
Sulur menyapa<br />
Dalam temperatur pagi yang hangat<br />
Dalam gelora siang yang menggiat<br />
Dalam pendar senja yang meranum<br />
Dalam perak sinar yang kau titipkan pada bulan<br />
Dari belahan semesta yang berbeda</p>
<p style="text-align: center;">Ra<br />
Kosong kantung tanpa bekal<br />
Tanpa ragu kujejaki langkah<br />
Untuk mendedah hari<br />
Untuk mengoyak labirin<br />
Untuk ayunan damai yang kita mainkan<br />
Demi hakiki yang telah menjajah hati</p>
<p style="text-align: center;">Ra<br />
Darimu, hidup telah dimulai&#8230;.</p>
<p style="text-align: center;"><em>*Ra adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ra_(mitologi)">Dewa Matahari</a>, Dewa Tertinggi dalam kepercayaan Mesir Kuno</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/02/18/ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laki-Laki Malaikat</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/01/27/laki-laki-malaikat/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/01/27/laki-laki-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 04:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/17/laki-laki-malaikat/</guid>
		<description><![CDATA[
Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku&#8230;.selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.
Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">
<p><a href="http://bobwama.files.wordpress.com/2009/03/dark-angel-21114.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1136 alignleft" title="dark-angel-21114" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/dark-angel-21114-300x225.jpg" alt="dark-angel-21114" width="300" height="225" /></a>Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku&#8230;.selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.</p>
<p>Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku berpijak, tentang bintang yang pernah disinggahinya. Sayap lebar mengepak bersamaan dengan kerling godanya. Lalu ia pun menyusur di jejak yang sama denganku kini.</p>
<p>Seperti tak ingin dia melepas, laki-laki malaikat menebar serbuk-serbuk kasih diselubungku. Menjeratku dengan indahnya. Tak terbantahkan. Aku tergagap dalam putaran rasa yang ia persembahkan. Indah sekaligus membuatku menggigil.</p>
<p>Seperti tak pernah lelap, laki-laki malaikat berkitar di telingaku, di kepalaku, di bibirku, di lentik jariku, di legam kulitku, di lebar langkahku, di pijar mataku. Dia  di sana, terus di sana. Tak tersiah sekejab pun dari  fragmen takdirku.</p>
<p>Laki-laki malaikat mendekap hidupku, menawarkan senampan harapan. Memperkokoh kepalan tanganku yang mengangkasa menantang kehidupan. Menghangatkan lewat pendar-pendar cahayanya.</p>
<p>Runtutan waktu yang terus berjalan, laki-laki malaikat tak lekang. Mengiring tak terpisahkan pada langkah, pada keputusan, melekat pada senyum, menghambur pada duka, mendekap kisi-kisi indah yang hanya dirasakan hati. Lalu mengingini menjadi tak tertangkis.</p>
<p>Gemetar tangan ini ingin menyentuhnya, memeluknya dan mendekap hingga jiwa ini luruh jadi debu, lalu terlahir kembali. Tapi dia laki-laki malaikat dengan selapis dimensi yang berbeda. Ketika dia melayang dengan indahnya, aku hanya menapak bumi. Ketika dia berkilau dengan cahaya, aku bergumul dengan debu. Ketika dia abadi, aku melalui reinkarnasi. Dia laki-laki Malaikat&#8230;..</p>
<p>Bisa kah kau turun sebentar dari dimensimu?</p>
<p><em>(untuk kesekian kali menonton film City of Angel tanpa pernah bosan)</em></p>
<p><em>&#8220;Aku lebih mem</em><em>ilih sekali saja menghirup rambutnya, sekali saja mengecup</em><em> bibirnya, sekali saja menyentuh tangannya, daripada menjalani keabadian tanpa pernah merasakannya. Sekali saja.&#8221;</em></p>
<p><em>(Nicolas Cage sebagai Seth dalam City of Angels) </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/01/27/laki-laki-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/12/08/yan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/12/08/yan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 13:53:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1115</guid>
		<description><![CDATA[
yan,
ada rekam jejak yang menggores tebal
pada sulur-sulur waktu lalu
labirin yang begitu saja terhampar
meliuk di jalan labuh
hitungan angka yang kau ungkit
terlalu lama buat resam tubuh
melenakan aku pada gumuk
membumbung tinggi
lepas sentuh
renjana tak lagi berbahasa
meretas kubu tanpa himpitan kurva
kau yang meredam beku
dalam dingin alaska minus sepuluh
aku yang tergugu pilu
diguyur gemuruh hujan tanpa sambut
kubuku bersinar saat bumimu melesak
tak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1116" title="kotak_pandora" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/12/kotak_pandora.jpg" alt="kotak_pandora" width="305" height="242" /></p>
<p>yan,<br />
ada rekam jejak yang menggores tebal<br />
pada sulur-sulur waktu lalu<br />
labirin yang begitu saja terhampar<br />
meliuk di jalan labuh<br />
hitungan angka yang kau ungkit<br />
terlalu lama buat resam tubuh<br />
melenakan aku pada gumuk<br />
membumbung tinggi<br />
lepas sentuh</p>
<p>renjana tak lagi berbahasa<br />
meretas kubu tanpa himpitan kurva<br />
kau yang meredam beku<br />
dalam dingin alaska minus sepuluh<br />
aku yang tergugu pilu<br />
diguyur gemuruh hujan tanpa sambut<br />
kubuku bersinar saat bumimu melesak<br />
tak ada lagi fusi<br />
tlatah bersuara beda<br />
dalam harap rasa yang tak jadi sampah</p>
<p>bisakah kotak pandora ini kita kemasi?</p>
<p>yan,<br />
suara membahana di depan<br />
kita semua berhak bahagia, bukan?<br />
<em><br />
(desember ketika hati kau tampar beku alaskamu)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/12/08/yan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rapuh</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/11/30/rapuh/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/30/rapuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 17:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[prolog: tolong putar lagu Rapuh-Padi, saat kau baca catatan ini&#8230;
Mungkin, kau salah membaca senyumku
Kau kurang cermat melihat garis bibir ini, karena ini bukan senyum
Tapi, bagaimana kau bisa lihat jika tak memandang?
Mungkin, kau lupa soal jantungku
Kau kurang menghitung detaknya yang melambat
Tapi, bagaimana bisa kau ingat jika tak merasakan?
Mungkin, kau eja dari hanya dari pikiranmu
Kau tak mengutip [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>prolog: tolong putar lagu Rapuh-Padi, saat kau baca catatan ini&#8230;</em></p>
<p>Mungkin, kau salah membaca senyumku<br />
Kau kurang cermat melihat garis bibir ini, karena ini bukan senyum<br />
Tapi, bagaimana kau bisa lihat jika tak memandang?</p>
<p>Mungkin, kau lupa soal jantungku<br />
Kau kurang menghitung detaknya yang melambat<br />
Tapi, bagaimana bisa kau ingat jika tak merasakan?</p>
<p>Mungkin, kau eja dari hanya dari pikiranmu<br />
Kau tak mengutip percik-percik yang kusimpan<br />
Tapi, bagaimana kau eja jika kau mendaraskan dengan geram?</p>
<p>Mungkin kau tak lagi bisa mengintip dari kacamatamu<br />
Tapi, biarlah kusampaikan lewat puisiku<br />
Aku di ujung rapuh&#8230;<br />
Seperti hujan yang lesak ke tanah, menunggu sirna&#8230;</p>
<p>(merapuh di akhir november, 2009)</p>
<p><em>sebenarnya kutak ingin berada di sini, di tempat yang jauh dan sepi, memisahkan kita</em></p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/2iCI-iUZ1_w&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/2iCI-iUZ1_w&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/30/rapuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyenyat Hujan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/11/29/nyenyat-hujan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/29/nyenyat-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 10:57:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1083</guid>
		<description><![CDATA[
Hujan paling sepi runtuh di depan rumahku
Aku tak lagi mendengar suara-suara
Tak lagi diganggui gemuruh
Dan tak perlu menutup telinga
Rinainya menjantang
Dinginnya mengabar
Bahana tak ada
Dalam mata terkatup
Bahkan hujan pun tak lagi bersuara, tanpamu&#8230;.
(kisah sedih hari minggu di november rain, 2009)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://halawatuliman.files.wordpress.com/2009/01/1280788-1-rain-day.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1090" title="1280788-1-rain-day" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/1280788-1-rain-day-196x300.jpg" alt="1280788-1-rain-day" width="196" height="300" /></a></p>
<p>Hujan paling sepi runtuh di depan rumahku<br />
Aku tak lagi mendengar suara-suara<br />
Tak lagi diganggui gemuruh<br />
Dan tak perlu menutup telinga<br />
Rinainya menjantang<br />
Dinginnya mengabar<br />
Bahana tak ada<br />
Dalam mata terkatup<br />
Bahkan hujan pun tak lagi bersuara, tanpamu&#8230;.</p>
<p><em>(kisah sedih hari minggu di november rain, 2009)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/29/nyenyat-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bangun</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/11/28/bangun/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/28/bangun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 06:29:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1074</guid>
		<description><![CDATA[
Dari tidur panjang berbulan-bulan
Dalam rengkuh pelangi
Menggantungkan diri pada lengkungnya
Berharap terus dipeluk
Tanpa lelah
Tapi bahkan tidur pun membuat resah
Meski lambar kepala belum lagi melesak
Dan dipan terus hangat di antara rintik hujan di luar sana
Rupanya ini bukan dipan
Bukan soal lembut bantal
Ini tentang resam tubuh yang ingin terbangun
Mendapati angin baru
Lalu beranjak
Terbangun
Kapan aku bisa terbangun?
Bagaimana rasa mentari dan kopi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1075" title="wake-up-smell" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/wake-up-smell-262x300.jpg" alt="wake-up-smell" width="215" height="247" /></p>
<p>Dari tidur panjang berbulan-bulan<br />
Dalam rengkuh pelangi<br />
Menggantungkan diri pada lengkungnya<br />
Berharap terus dipeluk<br />
Tanpa lelah<br />
Tapi bahkan tidur pun membuat resah<br />
Meski lambar kepala belum lagi melesak<br />
Dan dipan terus hangat di antara rintik hujan di luar sana<br />
Rupanya ini bukan dipan<br />
Bukan soal lembut bantal<br />
Ini tentang resam tubuh yang ingin terbangun<br />
Mendapati angin baru<br />
Lalu beranjak<br />
Terbangun<br />
Kapan aku bisa terbangun?<br />
Bagaimana rasa mentari dan kopi di pagi hari?</p>
<p style="text-align: left;"><em>(saniscara dalam langut langit, November 2009)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/28/bangun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesumba</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/11/27/kesumba/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/27/kesumba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 17:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1050</guid>
		<description><![CDATA[All endings are also beginnings. We just don&#8217;t know it at the time — Mitch Albom


lalu, akan kukabarkan pada merpati
yang setia menunggu janji
bahwa hati telah mati
tak perlu lagi kembali
luruh, tak lagi gemuruh
air pasang yang sudah surut
tak perlu lagi merangkak agar mengerucut
ditebas sudah rasa dalam silang sengkarut
pada perempuan berbaju merah
mengaku kalah
telah ia torehkan takdir yang memerah
di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>All endings are also beginnings. We just don&#8217;t know it at the time — Mitch Albom</em></p>
<p style="text-align: left;"><em><br />
</em></p>
<p><a href="http://imagecache5.art.com/p/LRG/10/1064/N8TL000Z/alfred-gockel-romance-in-red-ii.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1051 alignleft" title="alfred-gockel-romance-in-red-ii" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/alfred-gockel-romance-in-red-ii-300x299.jpg" alt="alfred-gockel-romance-in-red-ii" width="258" height="257" /></a>lalu, akan kukabarkan pada merpati<br />
yang setia menunggu janji<br />
bahwa hati telah mati<br />
tak perlu lagi kembali</p>
<p>luruh, tak lagi gemuruh<br />
air pasang yang sudah surut<br />
tak perlu lagi merangkak agar mengerucut<br />
ditebas sudah rasa dalam silang sengkarut</p>
<p>pada perempuan berbaju merah<br />
mengaku kalah<br />
telah ia torehkan takdir yang memerah<br />
di lubang hati yang masih lelah</p>
<p>kesumba kini, adalah awal karena telah berakhir.  sampai nanti, bertemu di akhir yang menjadi awal. lingkaran ini tak akan berakhir&#8230;kau tahu itu!</p>
<p><em>(dini hari Idul Adha 2009)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/27/kesumba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/11/25/temu/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/25/temu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 17:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[Kita bertemu tanpa temu
Kita berpisah tanpa temu
Siapa yang pergi
Siapa yang tinggal
Tak ada yang tahu pasti
Waktu pun bercerita
Yang sendiri adalah yang tertinggal
Kita bertemu tanpa temu
Kita berpisah tanpa temu
Masih saja tak ada pertemuan di antaranya
Temu, apakah itu?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><a href="http://imagecache5.art.com/p/LRG/20/2040/WIJ4D00Z/alfred-gockel-time-to-say-goodbye.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1040 alignright" title="alfred-gockel-time-to-say-goodbye" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/alfred-gockel-time-to-say-goodbye-300x300.jpg" alt="alfred-gockel-time-to-say-goodbye" width="199" height="199" /></a>Kita bertemu tanpa temu<br />
Kita berpisah tanpa temu<br />
Siapa yang pergi<br />
Siapa yang tinggal<br />
Tak ada yang tahu pasti<br />
Waktu pun bercerita<br />
Yang sendiri adalah yang tertinggal</p>
<p style="text-align: right;">Kita bertemu tanpa temu<br />
Kita berpisah tanpa temu<br />
Masih saja tak ada pertemuan di antaranya<br />
Temu, apakah itu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/25/temu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
