Category: ladang puisi

Daun yang Menikmati Karma »

Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi
Bergerigi pada pinggirnya
Warnanya masih hijau
Melayang pelan diiring angin
Ia berbisik pada angin
“Inilah karmaku dan aku menerimanya sebagai takdirku.”
Angin tak menjawab
Ia hanya mengiringi
Daun luruh
Masih hijau
Menyentuh bumi
Ia menyapa bumi,
“Izinkan aku melesak, memburai dan nadir.”
Bumi tak menjawab
Ia hanya menerima
Daun meringkuk di tanah
Ia tahu sebentar lagi kehidupan direnggut darinya
Ia rela melewati karma [...]

Ode untuk Rintik Hujan »

Jika,
Kesiur angin tak menerbangkan mega di bentang langit
Apakah kau akan tetap datang?
Kalau saja, matahari tak surut menjantang
Sudikah kau menghujam bumi?
Jika, dan hanya jika
Aku adalah telaga tanpa tepi yang tak mengenal daratan
Beranikah kau menitipkan satu rintikmu di telagaku?
Nyatanya,
Kau datang pada satu ruang sahara
Meluruhkan segala ketidakmungkinan
Dan aku bernyanyi diantara rintikmu
Sebuah Ode untuk Rintik Hujan

Ra »

Percik membiak cepat
Merapahi ruang-ruang waktu
Menyibak selimut kelam malam
Membolehkan nur menerobos: matahari
Ra*
Sulur menyapa
Dalam temperatur pagi yang hangat
Dalam gelora siang yang menggiat
Dalam pendar senja yang meranum
Dalam perak sinar yang kau titipkan pada bulan
Dari belahan semesta yang berbeda
Ra
Kosong kantung tanpa bekal
Tanpa ragu kujejaki langkah
Untuk mendedah hari
Untuk mengoyak labirin
Untuk ayunan damai yang kita mainkan
Demi hakiki yang telah menjajah hati
Ra
Darimu, [...]

Laki-Laki Malaikat »

Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku….selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.
Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku [...]

Yan »

yan,
ada rekam jejak yang menggores tebal
pada sulur-sulur waktu lalu
labirin yang begitu saja terhampar
meliuk di jalan labuh
hitungan angka yang kau ungkit
terlalu lama buat resam tubuh
melenakan aku pada gumuk
membumbung tinggi
lepas sentuh
renjana tak lagi berbahasa
meretas kubu tanpa himpitan kurva
kau yang meredam beku
dalam dingin alaska minus sepuluh
aku yang tergugu pilu
diguyur gemuruh hujan tanpa sambut
kubuku bersinar saat bumimu melesak
tak ada [...]