<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ladangkata &#187; ladang bahasa</title>
	<atom:link href="http://ladangkata.com/category/philology/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jun 2010 11:15:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Surabaya dalam Kata</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/06/01/surabaya-dalam-kata/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/01/surabaya-dalam-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 12:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=719</guid>
		<description><![CDATA[Dipersembahkan untuk Creative Theme Day#1 (Juni 2009)


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dipersembahkan untuk Creative Theme Day#1 (Juni 2009)</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-720" title="ctd01" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/ctd01.jpg" alt="ctd01" width="591" height="214" /></p>
<p align="right"><a href="http://creativethemeday.com"><img src="http://creativethemeday.com/images/banner_ctd125_03.gif" alt="Creative Theme Day" width="61" height="61" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/01/surabaya-dalam-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis untuk Hidup, Bisakah?</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/09/02/menulis-untuk-hidup-bisakah/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/09/02/menulis-untuk-hidup-bisakah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 07:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang baca]]></category>
		<category><![CDATA[ladang bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/09/02/menulis-untuk-hidup-bisakah/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, ada secuplik perbincangan yang masih menggema di telinga saya hingga sekarang. Saya bercakap dengan seorang kawan seperjuangan yang sama-sama berkutat di bidang tulis menulis. Pertanyaan yang terlontar adalah, bisakah hanya dengan menulis dipakai untuk sandaran hidup?
Hmm&#8230;pertanyaan ini tidak bisa dijawab  &#8220;YA&#8221; atau &#8220;TIDAK&#8221; dengan mudahnya. Ada standar dan faktor tertentu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Beberapa waktu yang lalu, ada secuplik perbincangan yang masih menggema di telinga saya hingga sekarang. Saya bercakap dengan seorang kawan seperjuangan yang sama-sama berkutat di bidang tulis menulis. Pertanyaan yang terlontar adalah, bisakah hanya dengan menulis dipakai untuk sandaran hidup?</em></p>
<p>Hmm&#8230;pertanyaan ini tidak bisa dijawab  &#8220;YA&#8221; atau &#8220;TIDAK&#8221; dengan mudahnya. Ada standar dan faktor tertentu yang mengikutinya. Seperti, standar hidup macam apa yang ada di kepala masing-masing? Dan menulis untuk apa/lembaga manakah?</p>
<p>Faktor yang lebih penting mungkin yang kedua. Faktor pertama, bisa jadi sangat relatif. Sedangkan faktor yang kedua bisa menjadi penentu. Jika Anda menulis untuk media massa besar, maka tentu saja jawabannya menjadi cenderung &#8220;IYA&#8221;. Tetapi jika pekerjaan menulis itu dilakukan oleh kami-kami yang berjuang di wilayah <em>freelance</em> ini, maka mesti rajin-rajin mengejar proyek untuk bisa bertahan hidup, apalagi bagi yang sudah berkeluarga.</p>
<p>Beruntung sekali jika mendapatkan proyek yang berharga tinggi. Bisa sekali tepuk, maka hajat hidup beberapa bulan terpenuhi. Namun, hidup kan tak selalu seperti  tokoh Untung di Donald Bebek. Kadang mesti bertahan juga dengan proyek kerja bakti tapi mampu membuat hidup terus berpendar.</p>
<p><span id="more-193"></span></p>
<p>Bagi saya sendiri, memang harus jujur diakui sebagian pundi-pundi didapatkan dari menulis. Mulai dari <em>script</em> hingga buku. Semuanya <em>alhamdulillah</em> pesanan. Tapi saya sadar, ke depan, tidaklah mudah untuk terus bertahan hanya dengan menulis. Pengembangan kemampuan lain yang seiring dengan dunia tulisan rasanya perlu dilakukan. Karena itu saya tidak ingin naif untuk jumawa bilang bahwa hanya dengan jualan tulisan bisa untuk sandaran hidup. Perlu serangkaian langkah-langkah pintar daripada sekadar jualan tulisan.</p>
<p>Bisa jadi yang dijadikan <em>basic</em> adalah aktivitas menulisnya. Tetapi soal kemasan, soal marketingnya, itu semua perlu terus dikembangkan dari sekadar duduk di belakang komputer. Bagaimana pengembangannya? Tentu tidak ada rumusan yang baku. Saya yakin, semua belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain.</p>
<p>Bagi pekerja <em>freelance</em>, kata <em>networking</em> menjadi teramat penting untuk bertahan dengan profesi sebagai penulis. <em>Networking</em> bagi saya artinya tidak hanya soal memarketkan diri kepada klien atau calon klien. <em>Networking</em> untuk<a href="http://ladangkata.com/portfolio/" target="_blank"> Lisa Febriyanti</a>, berarti menjalin hubungan baik juga dengan sesama penulis atau kawan-kawan yang mempunyai otak brilian sebagai narasumber. Buat apa? Tentu saja karena tugas penulis bukan hanya menyalurkan yang ada dalam otaknya sendiri. Penulis juga masih perlu banyak belajar, baik dari sesama penulis, maupun teman-temannya yang lain. Buka wawasan agar materi tulisan tak berhenti sampai batas pemikiran diri sendiri. Tak pernah berhenti belajar, dari siapa saja.</p>
<p>Ujung-ujungnya, jika tulisan kita mampu berkembang untuk ranah apa saja, tentu saja portfolio kita makin banyak dan pesanan mudah-mudahan jadi lancar.</p>
<p>Terlepas dari pertanyaan apakah menulis bisa untuk hidup, saya pribadi lebih suka membuat pernyataan bahwa saya hidup untuk menulis. Menyitir frase ngetop milik Descartes dengan sedikit modifikasi: <strong><em>&#8220;Aku menulis, maka aku ada&#8221;</em></strong></p>
<p align="center"><em> Selamat menulis dan terus mewarnai dunia dengan kata-kata</em></p>
<p>:<em>:ketika mulut tak lagi bisa bicara, maka tulisan yang telah kurangkai untukmu adalah monumen keabadian::</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/09/02/menulis-untuk-hidup-bisakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta Bukan Jawa (?)</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/05/23/jakarta-bukan-jawa/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/05/23/jakarta-bukan-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 08:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/23/jakarta-bukan-jawa/</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Cha, kapan pulang ke Jawa?&#8221;
Sudah beberapa kali saya mendengar pertanyaan ini. Dan itu seringkali diungkapkan oleh mereka yang sepanjang hidupnya tinggal di Jakarta, baik Betawi maupun bukan. Lah, emangnya Jakarta bukannya ada di Jawa ya? Saya yakin, banyak diantara Anda juga sering mendengar atau ditanya seperti itu. Hmmm, kenapa begitu ya?
Saya lalu iseng melakukan penelusuran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/menyala.jpg" alt="monas" height="450" width="303" /></p>
<p><em>&#8220;Cha, kapan pulang ke Jawa?&#8221;</em></p>
<p><em>Sudah beberapa kali saya mendengar pertanyaan ini. Dan itu seringkali diungkapkan oleh mereka yang sepanjang hidupnya tinggal di Jakarta, baik Betawi maupun bukan. Lah, emangnya Jakarta bukannya ada di Jawa ya? Saya yakin, banyak diantara Anda juga sering mendengar atau ditanya seperti itu. Hmmm, kenapa begitu ya?</em></p>
<p>Saya lalu iseng melakukan penelusuran di dunia maya tentang hal ini. Dan menemukan beberapa hal  berbau <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Primordialisme" target="_blank">primordialisme</a> yang masih terpelihara. Saya rangkum cuplikannya di sini:</p>
<p><span id="more-186"></span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>Menurut gue sebutan itu sudah ada sejak lama, paling tidak sejak kite mulai dijajah belanda. Karena di jakarta ada yang namanya kampung jawa tempat bermukim orang-orang yang berasal dari jawa tengah or timur, kampung makasar, tempat bermukimnya orang yang berasal dari makasar atau kampung arab, tempat bermukimnya keturunan arab.  Mungkin pada jaman belande tersebut, jawa kalo orang betawi ditanya ama orang belande tentang keberadaan pak Bagong, mereka akan menjawab pa Bagong sedang pulang ke jawa. Karena bagi orang betawi, jakarta berada di tanah betawi. (oleh Media, sumber: <a href="http://forum.detik.com/showthread.php?t=17509&amp;page=3" target="_blank">di sini</a>)</li>
<li>ginie yee bank&#8230;&#8230;.Jakarta itu merupakan satu propinsi tersendiri.<br />
dia ngak di jawa timur, jawa barat, jawa tengah atw jawa yang lainnya&#8230;&#8230;..<br />
makanya kalo mo ke jawa, ya dia bilang mo kejawa&#8230;.ok  			(oleh wayanbpkh, sumber: <a href="http://www.e-samarinda.com/forum/index.php?act=Print&amp;client=printer&amp;f=2&amp;t=3596" target="_blank">di sini)</a></li>
<li>Istilah Pulau Jawa itu baru ada di era modern. Dulu di pulau Jawa yang kita kenal saat ini ada Banten, Jakarta, JaBar, Jateng, Jogya dan Jatim itu dikenal dulunya tanah untuk orang Sunda, orang Jawa, orang Madura, dll. Orang Sunda, orang Banten, orang Betawi tidak mau disebut Jawa. Sampai kini mereka bilang kalau ke Jateng/Jatim nyebutnya ke Jawa (oleh Sanko, sumber: <a href="http://www.e-samarinda.com/forum/index.php?act=Print&amp;client=printer&amp;f=2&amp;t=3596" target="_blank">di sini</a>)</li>
<li>kalau ditinjau dari ilmu geografi, maka pulau yang di atasnya terletak jakarta, jawa barat, jawa tengah, jogya dan jawa timur&#8230; disebut pulau JAWA. kalau dilihat dari sisi kultural, maka sunda tidak bisa disebut jawa, jogya tidak bisa dibilang sunda, jakarta tidak bisa dikatakan jawa. (oleh: Lan Tung, sumber: <a href="http://forum.detik.com/showthread.php?t=17509&amp;page=8" target="_blank">di sini</a>)</li>
<li>Karena Jawa adalah nama suku, selain nama pulau. Di Pulau Jawa ada banyak suku, di antaranya Sunda, Jawa, Tionghoa, dll. Sedangkan Kalimantan adalah nama pulau, jika ditanya &#8220;Orang Kalimantan?&#8221; Sudah pasti maksudnya apakah berasal dari Pulau Kalimantan atau bukan, sedangkan pertanyaan &#8220;Orang Jawa?&#8221; dapat berarti apakah orang Suku Jawa atau tinggal di Pulau Jawa. Bagi penduduk Pulau Jawa, pertanyaan seperti itu cenderung ke arah suku. (oleh eddyg30, sumber: <a href="http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20071212052707AAwMTda" target="_blank">di sini</a>)</li>
</ul>
</blockquote>
<p>Dari beberapa komentar di atas, menunjukkan kesukuan hingga saat ini masih juga menjadi penanda identitas yang cukup kental. Sehingga, pertanyaan yang bersifat kesukuan itu yang seringkali muncul. Lucunya sih, kalau yang ditanya orang Medan, kebanyakan yang dilontarkan adalah kota Medan, bukan &#8220;Kapan pulang ke Batak?&#8221;.</p>
<p>Buat saya, pertanyaan salah kaprah itu mestinya sudah tidak lagi.  Ini juga menjadi persoalan bahasa yang mestinya diperbaiki. Pertanyaan yang mengandung kata &#8220;pulang ke&#8230;&#8221; mestinya dijawab secara geografis. Jika demikian, memang salah kaprah kalau Jakarta tidak dibilang Jawa. Jakarta adalah bagian Jawa. Meski budaya aseli Jakarta (baca: Betawi) berbeda dengan budaya Jawa, tapi pertanyaan di awal tulisan ini bukan dalam rangka membedakan budaya bukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/05/23/jakarta-bukan-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suroboyo, Cuk!</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 07:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/</guid>
		<description><![CDATA[
Ah..Surabaya. Tak ada kota seperti Surabaya. Maksud saya bukan topologi kotanya atau juga keadaan geografisnya. Surabaya sih sama dengan kota-kota metropolitan lain, dengan segala permasalahannya, dengan segala kemajuannya. Tapi khas nya itu loh, yang membuat saya berani bilang there&#8217;s no city like Surabaya.
Salah satu yang khas dari Surabaya adalah dialeknya. Letak geografisnya di pesisir, membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center" align="center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/bambu-runcing.jpg" alt="bambu runcing" height="467" width="350" /></p>
<p><em>Ah..Surabaya. Tak ada kota seperti Surabaya. Maksud saya bukan topologi kotanya atau juga keadaan geografisnya. Surabaya sih sama dengan kota-kota metropolitan lain, dengan segala permasalahannya, dengan segala kemajuannya. Tapi khas nya itu loh, yang membuat saya berani bilang there&#8217;s no city like Surabaya.</em></p>
<p>Salah satu yang khas dari Surabaya adalah dialeknya. Letak geografisnya di pesisir, membuat Surabaya menjadi tempat akulturasi budaya. Dan yang lebih mengedepan adalah kasarnya orang-orang di pesisiran. Dalam langgam bahasa Jawa, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek" target="_blank">dialek</a> Surabaya selalu diiringi dengan  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek" target="_blank"></a><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logat" target="_blank">logat</a> yang keras dan kasar. Letaknya pada penekanan kata saat pengucapannya.</p>
<p><span id="more-179"></span></p>
<p>Beberapa kata dalam bahasa Surabaya, tidak ditemukan dalam bahasa Jawa (baca: Jawa Tengah) yang lebih halus. Nah, karena saya adalah hasil kawah candradimuka Surabaya, saya sering merasa kesulitan jika dihadapkan dengan bahasa Jawa. Dalam hal mengerti dan memahami, sebagian besar bukan merupakan kesulitan.  Tapi dalam hal berbicara bahasa Jawa tiba-tiba percaya diri jadi luruh. Menyadari bahwa logat Surabaya adalah keras dan sedikit ngotot. Khawatir jika yang diajak bicara merasa punya perasaan bahwa saya marah, padahal ya memang begitu adanya <img src='http://ladangkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Karena pada dasarnya, arek-arek Suroboyo bukan berkiblat pada basa basi seperti yang banyak ditemui di kebudayaan Jawa. Tegas dan keras. Itulah Surabaya.</p>
<p>Hasil berkelana di jagad maya, saya menemukan beberapa kosa kata bahasa Surabaya yang khas dan tidak ditemui di bahasa Jawa Tengah-an.</p>
<blockquote>
<ul>
<li>&#8220;Pongor, Gibeng, Santap, Waso (istilah untuk Pukul atau Hantam);</li>
<li>&#8220;arek&#8221; berarti &#8220;anak&#8221; (bahasa Jawa standar: bocah);</li>
<li>&#8220;mari&#8221; berarti &#8220;selesai&#8221;;(bahasa Jawa standar: rampung); acapkali dituturkan sebagai kesatuan dalam pertanyaan &#8220;wis mari tah?&#8221; yang berarti &#8220;sudah selesai kah?&#8221; Pengertian ini sangat berbeda dengan &#8220;mari&#8221; dalam Bahasa Jawa Standar. Selain petutur Dialek Suroboyoan, &#8220;mari&#8221; berarti &#8220;sembuh&#8221;</li>
<li>&#8220;ladhing&#8221; berarti &#8220;pisau&#8221; (bahasa Jawa standar: peso);</li>
<li>&#8220;dhukur&#8221; berarti &#8220;tinggi&#8221; (bahasa Jawa standar: dhuwur);</li>
<li>&#8220;thithik&#8221; berarti &#8220;sedikit&#8221; (bahasa Jawa standar: sithik);</li>
<li>&#8220;temen&#8221; berarti &#8220;sangat&#8221; (bahasa Jawa standar: banget);</li>
<li>&#8220;pancet&#8221; berarti &#8220;tetap sama&#8221; ((bahasa Jawa standar: tetep);</li>
<li>&#8220;iwak&#8221; berarti &#8220;lauk&#8221; (bahasa Jawa standar: lawuh, &#8220;iwak&#8221; yang dimaksud disini adalah lauk-pauk pendamping nasi ketika makan, &#8220;mangan karo iwak tempe&#8221;, artinya Makan dengan lauk tempe, dan bukanlah ikan (iwak) yang berbentuk seperti tempe);</li>
<li>&#8220;mene&#8221; &lt;e pertama diucapkan pepet&gt; berarti &#8220;nanti&#8221; (bahasa Jawa standar: mengko);</li>
<li>&#8220;ndhek&#8221; berarti &#8220;di&#8221; (bahasa Jawa standar: &#8220;ing&#8221; atau &#8220;ning&#8221;; dalam bahasa Jawa standar, kata &#8220;ndhek&#8221; digunakan untuk makna &#8220;pada waktu tadi&#8221;, seperti dalam kata &#8220;ndhek esuk&#8221; (=tadi pagi),&#8221;ndhek wingi&#8221; (=kemarin));</li>
<li>&#8220;nontok&#8221; lebih banyak dipakai daripada &#8220;nonton&#8221;;</li>
<li>&#8220;yok opo&#8221; (diucapkan /y@?@p@/) berarti &#8220;bagaimana&#8221; (bahasa Jawa standar: &#8220;piye&#8221; atau *&#8221;kepiye&#8221;; sebenarnya kata &#8220;yok opo&#8221; berasal dari kata &#8220;kaya apa&#8221; yang dalam bahasa Jawa standar berarti &#8220;seperti apa&#8221;)</li>
<li>&#8220;peno&#8221;/sampeyan (diucapkan pe n@; samp[e]yan dengan huruf e seperti pengucapan kata meja) artinya kamu</li>
<li>&#8220;jancuk&#8221; ialah kata kurang ajar yang sering dipakai seperti &#8220;fuck&#8221; dalam bahasa Inggris; merupakan singkatan dari bentuk pasif &#8220;diancuk&#8221;; variasi yang lebih kasar ialah &#8220;mbokmu goblok&#8221;; oleh anak muda sering dipakai sebagai bumbu percakapan marah</li>
<li>&#8220;waras&#8221; ialah sembuh dari sakit (dlm bahasa jawa tengah sembuh dari penyakit jiwa)</li>
<li>&#8220;embong&#8221; ialah jalan besar / jalan raya</li>
<li>&#8220;nyelang&#8221; arinya pinjam sesuatu</li>
</ul>
</blockquote>
<p>(sumber: dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek_Surabaya" target="_blank">sini</a>)</p>
<p>Kosa kata dan dialeknya inilah yang membuat Surabaya menjadi berbeda dari yang lainnya. Ada di pulau Jawa, menggunakan bahasa Jawa, tapi dengan dialek dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aksen" target="_blank">aksen </a>yang berbeda. <em>Ngono loh Suroboyo, Cuk!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aturan Bahasa dalam Fisika</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/05/09/aturan-bahasa-dalam-fisika/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/05/09/aturan-bahasa-dalam-fisika/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 04:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/09/aturan-bahasa-dalam-fisika/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan untuk membuat script tayangan pendidikan untuk bidang studi fisika. Menarik sekali, karena saya bisa belajar lagi tentang fenomena di alam ini yang menggunakan prinsip-prinsip fisika.
Script yang sedang kami garap, bukan berbicara fisika yang sering membuat pusing para siswa. Namun, lebih kepada kejadian sehari-hari yang memiliki penjelasan ilmiah. Misalnya, telur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan untuk membuat script tayangan pendidikan untuk bidang studi fisika. Menarik sekali, karena saya bisa belajar lagi tentang fenomena di alam ini yang menggunakan prinsip-prinsip fisika.</p>
<p>Script yang sedang kami garap, bukan berbicara fisika yang sering membuat pusing para siswa. Namun, lebih kepada kejadian sehari-hari yang memiliki penjelasan ilmiah. Misalnya, telur yang diputar, gelas yang mengembun, terjadinya pelangi, prinsip benda melayang dan banyak lagi. Menarik dan memberikan pengetahuan,  bahkan bagi saya yang menulis, karena saya harus belajar metode percobaannya dan mencari tahu sebab ilmiahnya dari berbagai literatur. Saya juga sempat berpikir, seandainya waktu saya belajar fisika dulu sudah ada pendukung belajar seperti ini, tentu fisika tak lagi jadi momok yang paling ditakuti saat di sekolah.</p>
<p>Di balik percobaan dan pencarian literatur fisika, saya menemukan satu hal lain yang juga menarik. Bahwa ternyata fisika juga punya aturan bahasa. Aturan bahasa ini memaparkan bahwa fisika, yang dikenal sebagai ilmu pasti,  memiliki relativitas. Hal ini saya temui ketika membolak balik halaman tentang subyek mekanika gerak yang diilhami oleh hukum Newton</p>
<p>Begini cuplikan yang bisa saya bagi di sini:</p>
<blockquote><p><font face="trebuchet ms">Dalam ungkapan lisan maupun tulisan informal, kita kerap menemui kalimat-kalimat tentang sesuatu yang bergerak, misalnya:</font></p>
<p><strong><font face="trebuchet ms">Pinki berlari                   Tata berjalan kaki                Bus melaju</font></strong></p>
<p><font face="trebuchet ms">Dengan ungkapan yang demikian, secara lisan, kita sudah paham apa yang dimaksud dan masih memenuhi kriteria aturan tata bahasa yang baik meskipun tidak semua unsurnya ada (subyek, predikat,obyek, keterangan sifat dsb)</font></p>
<p><font face="trebuchet ms">Namun, tidak demikian dalam fisika. Kalimat-kalimat di atas belum memenuhi kaidah yang tepat. Bagi fisika, gerak bersifat relatif.  Utentang gerak haruslah dinyatakan terhadap suatu benda lain yang ditetapkan sebagai acuan. Nah&#8230;kalau begitu kalimat di atas oleh fisika dilengkapi menjadi:</font></p>
<p><strong><font face="trebuchet ms">pinki berlari terhadap garis start      </font></strong></p>
<p><strong><font face="trebuchet ms">tata berjalan kaki terhadap gedung sekolah</font></strong></p>
<p><strong><font face="trebuchet ms">bus melaju terhadap bangunan pinggir jalan</font></strong></p></blockquote>
<p>inilah fisika&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/05/09/aturan-bahasa-dalam-fisika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk, Nambah Kosa Kata</title>
		<link>http://ladangkata.com/2007/12/21/yuk-nambah-kosa-kata/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2007/12/21/yuk-nambah-kosa-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 04:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang baca]]></category>
		<category><![CDATA[ladang bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2007/12/21/yuk-nambah-kosa-kata/</guid>
		<description><![CDATA[Menulis, tidak hanya mencoretkan kata-kata. Bagi saya, menulis itu sama seperti sebuah kegiatan  berkesenian yang lain. Bisa jadi seperti pelukis yang menorehkan warna-warnanya di kanvas, seperti pematung yang memahat dengan sepenuh hatinya. Demikian pula dengan menulis, dibutuhkan goresan keindahan di dalamnya. Dalam hal menulis, keindahan itu tercipta dari rangkaian kata-kata yang dirajut.
Dan rasanya ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis, tidak hanya mencoretkan kata-kata. Bagi saya, menulis itu sama seperti sebuah kegiatan  berkesenian yang lain. Bisa jadi seperti pelukis yang menorehkan warna-warnanya di kanvas, seperti pematung yang memahat dengan sepenuh hatinya. Demikian pula dengan menulis, dibutuhkan goresan keindahan di dalamnya. Dalam hal menulis, keindahan itu tercipta dari rangkaian kata-kata yang dirajut.</p>
<p>Dan rasanya ini juga berlaku pada semua kegiatan yang berhubungan dengan tulis menulis. Dalam hal penulisan dokumen, kata-kata indah bisa jadi jarang digunakan, namun kelincahan kata bisa berpengaruh untuk mendapatkan pengertian yang sama dengan penerima informasi.  Apalagi jika yang berhubungan dengan informasi yang mengajak atau persuasif, tentu dibutuhkan kata-kata yang mampu meyakinkan.</p>
<p>Selain itu, yang membutuhkan kelincahan kata adalah penerjemah. Pengalihan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia bukanlah suatu hal yang gampang untuk dilakukan. Agar mendapatkan <em>sense</em> yang sama, maka tugas penerjemah bukan hanya menerjemahkan kata-kata, melainkan mengayunkan kata-kata itu, sehingga pembacanya juga ikut terbawa oleh arus yang memang diciptakan dari bahasa aselinya. Jika tidak, wah bisa cukup runyam juga. Naskah bisa kehilangan ruhnya, dan bahkan menjadi tidak menarik untuk dibaca, padahal bisa jadi naskah yang diterjemahkan adalah karya yang fenomenal atau mengasyikkan. Seperti yang dialami oleh sahabat saya <a href="http://ungguls.multiply.com/journal/item/195" target="_blank">di sini</a></p>
<p><span id="more-83"></span></p>
<p>Untuk dapat menciptakan rangkaian kata yang indah, salah satu komponen yang perlu dipenuhi adalah kekayaan kosa kata. Bagi penulis (juga penerjemah), ini hukumnya adalah wajib dan tak bisa ditawar lagi.</p>
<p>Terdapat berbagai macam cara memulung kosa kata. Bisa dengan membaca karya-karya sastra para pujangga atau penulis lain. Cara ini sudah sangat lazim dilakukan oleh penulis. Membaca adalah sebuah hakikat yang esensial bagi penghasil kata-kata. Di sana, dia bisa memungut berbagai kosa kata dan alur cerita. Di sana, dia bisa menajamkan daya imaginasi untuk digunakan pula dalam karya-karyanya sendiri.</p>
<p>Saya sendiri, selain membaca, ada satu metode yang saya gunakan untuk memperkaya kosa kata. Metode ini sebenarnya bukanlah sebuah metode baru dan membutuhkan latihan yang rumit. Kuncinya hanya satu, yaitu membaca. <strike>Ikra</strike> <em>Iqra</em>. Sekali lagi <strike>Ikra</strike> <em>Iqra</em>. Tapi kali ini bahan bacaan sengaja saya tambah satu lagi, yaitu <strong>Tesaurus Bahasa Indonesia</strong>.</p>
<p><a href="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2007/12/tesaurus.jpg" title="tesaurus"></a></p>
<p style="text-align: center"><a href="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2007/12/tesaurus.jpg" title="tesaurus"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2007/12/tesaurus.jpg" alt="tesaurus" height="202" width="296" /></a></p>
<p>Dari Tesaurus Bahasa Indonesia, saya menemukan puluhan ribu padan kata bahasa kita yang membuat saya bisa belajar bermain dengan kata-kata yang lebih indah. Saat ini yang menjadi pegangan saya adalah <strong>Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko terbitan Gramedia</strong>. Bersama tesaurus ini saya diberondong dengan lema atau entri berupa kelompok kata berikut padanannya dalam bahasa Indonesia. Jadilah banyak kata-kata baru yang masuk dalam tulisan-tulisan saya.</p>
<p>Sepanjang yang saya tahu, untuk tesaurus bahasa Indonesia saat ini hanya ada satu saja, yaitu tesaurus seperti yang saya punyai. Di toko buku diskon saya mendapatkannya dengan harga Rp126.000, sedangkan di jaringan toko buku ternama harganya dipatok Rp170.000.</p>
<p>Bagi saya, tesaurus ini seperti kitab wajib yang harus dilimiliki agar ladang saya makin menyemai dengan indahnya. (life)</p>
<p><em>foto by: icha (life)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2007/12/21/yuk-nambah-kosa-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
