Category: ladang pelesir

Bandara Suatu Pagi »

Apakah saya pernah menulis bahwa salah satu tempat yang saya sukai adalah bandara? Yaks, bandara, yang sering saya analogikan sebagai sebuah hati, tempat perjumpaan, perpisahan dan penantian itu, adalah salah satu zona yang inspiratif bagi saya. Di sana, kerap kali petikan-petikan berpijar dari otak saya tentang apa saja.
Seperti biasa, selembar bukti pembayaran dari Mandala [...]

Kitab Pemoeas Dahaga dan Empat Pengembara »

Empat pengembara, datang dari empat penjuru mata angin. Berawal dari titik yang berbeda lalu bertatap pada noktah yang sama. Empat, seperti kaki meja yang seimbang. Empat, tak ada yang sama.
Sebuah perjalanan tanpa misi mempertemukan mereka pada sebuah bangunan kayu yang sederhana. Bangunan bertingkat dua yang membiaskan rona-rona hangat. Udaranya menebarkan aroma khas Jawa yang mistik [...]

Pelesir ke Papuma »

Pasir putih, semburat matahari terbit dari balik awan, kumpulan atol yang berdiri megah, birunya air laut, buaian ombak dan semilir angin dari pantai selatan, menunggal dalam satu sajian rupawan dari Papuma.
Pesona Jawa Timur menawarkan sebuah “surga” bagi pecinta pemandangan alam dan pantai. Sebuah pantai yang masih bersih dan indah, terletak di Selatan Kota Jember, tepatnya [...]

Surabaya dan Hal-hal Tak Terlupakan »

Surabaya, tanah kelahiran. Terlalu banyak cerita dan kenangan di kota yang panas ini. Semenjak mengenal udara bumi hingga lulus kuliah, saya banyak belajar dari Surabaya. Dari aromanya, dari panasnya, dari debunya, dan dari kerasnya kehidupan.
Hingga sekian tahun hidup di Jakarta, pulang ke Surabaya selalu ada rasa gembira yang mendesak-desak. Dan, setelah menginjakkan kaki di Surabaya, [...]

[kronik] rindu sepanjang jalan »

selamat pagi, embun.
aku bersiap menerjang pekat
kukantongi rindu kita tadi malam
agar menjaga jalan yang melelahkan
(serpong, 1702,05:00)

pagi menjeratku
perih matahari menyilau mata dan hati
dengan rindu yang sama
bayang wajahmu terus mengiring
(cileunyi, 1702, 07:30)
kelok jalan yang kutempuh
mendedah takdir, melawan peluh
tapi rindu buatmu telalu indah dinafikkan
membumbung atas atma yang samsara
(tasikmalaya, 1702, 10:00)
lalu, di sini kita pernah menyesap pagi
kau sibak kerudung coklatku [...]