<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ladangkata &#187; ladang pelesir</title>
	<atom:link href="http://ladangkata.com/category/pelesir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jun 2010 11:15:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>#1: Sandya</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 16:58:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[
Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.
Dari cermin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.smartloftstudio.com/images/art/graphic/identity/Mimi_yinyang.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1068 alignleft" title="mimi_yinyang" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/mimi_yinyang-300x297.jpg" alt="mimi_yinyang" width="300" height="297" /></a></p>
<p>Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.</p>
<p>Dari cermin yang sama, terpantul oleh mataku satu sosok, sumber kebahagiaanku. Ia bulan yang turun  dari langit, mempertaruhkan keabadian yang dimilikinya demi menyuntingku. Bulan yang datang tiba-tiba di malam-malamku yang dingin, memberi cahaya dari matanya, lalu semua hariku dipenuhi kata-kata darinya. Begitu saja. Tanpa bisa kutolak.</p>
<p>Aku masih memerhatikannya dari cermin. Berdiri di samping tempat tidur yang ditaburi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Plumeria" target="_blank">plumeria</a> putih.  Ia melepas satu persatu kancing baju putihnya, pelan dan matanya terfokus pada kancing yang ia dorong melalui selarik lubang. Resam tubuhnya elok, seakan tiap gerak yang ia lakukan tak ada yang sia-sia. Semuanya punya tujuan dan dalam komposisi yang sangat tepat, tak pernah berlebihan maupun kekurangan. Di  mataku, semua geraknya adalah tarian yang dipersembahkan dengan sangat indahnya. Bukan gemulai, tetapi begitu kokoh dan pasti. Seluruh tubuhnya menyanyikan aroma taksu yang mungkin hanya dipersembahkan bagi linga sariraku.</p>
<p>Laki-laki dalam cermin itu diperkenalkan padaku di sebuah senja berwarna merah. Tinggi dan kulitnya rata-rata milik <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ras_Mongoloid" target="_blank">Mongoloid</a>. Pada perjumpaan pertama, matanya begitu murung, mengalahkan muramnya senja. Aku tak tahu apa yang menggilas sinar kehidupannya dari sana, tetapi yang kutahu apapun itu adalah sebuah jurang yang mendorongnya terlalu dalam. Pada perjumpaan pertama, aku tak merasai pijar yang bergelora, hanya merasakan satu tarikan sulur dari taksunya.  Serasa dekat. Jiwanya serasa pernah kutemui di kehidupan lalu, entah kapan. Hanya itu saja.</p>
<p>Nyaris tiga tahun lalu, senja jadi saksi perkenalan kami. Hari-hari berikutnya, seperti semesta telah mengaturkan semuanya. Ada saja hal-hal yang bisa kami diskusikan bersama, ada saja hal-hal yang mencuatkan kata &#8220;Aha!&#8221;, lalu ketika hariku tak ada kata-kata darinya, aku terbungkus rasa yang kehilangan yang mendalam. Kemudian kutahu, itu dinamai rindu.</p>
<p><span id="more-1047"></span></p>
<p>Suatu pagi, setelah beberapa malam ia menghilang, ia menjumpaiku dan bertanya, &#8220;Apa kabar?&#8221;</p>
<p>Merah pipiku ketika kuucap kata, &#8220;Rindu..&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun memijak bumi, dari tempatnya di langit sana. Seperti Seth dalam film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/City_of_Angels" target="_blank">City of Angel</a> yang meminta kepada Tuhan agar menjadikannya manusia immortal demi mencintai seorang perempuan. Ah, itu memang analogiku. Laki-laki itu bukan malaikat. Ia hanya seseorang yang dunianya jauh dari duniaku. Ia menjalankan bisnis rumah produksi miliknya sendiri, sedangkan aku cuma pengelana yang menyukai dunia fotografi. Memang, ada garis merah yang mengikat jari-jari kami. Ada lingkaran kurva kecil yang diarsir untuk menunjukkan kesamaan gerakan. Dunia kreatif. Tetapi soal langkah kaki, hidungku lebih sering mencium aspal jalanan ketimbang ujung sepatunya.</p>
<p>Aku dan laki-laki itu, adalah penggalan terakhir <a href="http://www.imeem.com/elhafizzo/music/7sgibnbd/nicholas-saputra-puisi-cahaya-bulan/" target="_blank">Puisi Cahaya Bulan</a> yang sangat elok dibawakan oleh Nicholas Saputra. Penggalan itu berkata, <em>&#8220;Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.&#8221;</em></p>
<p>Tetapi, tiga tahun kebersamaan telah jadi ujian bagi kami. Tak ada beda yang terlalu sulit jika menjalaninya dengan cinta. Dan ketika kami bicara tentang penyatuan abadi, semua yang jadi penghalang tak lagi penting. Ketika komitmen sudah dibulatkan, maka kompromi dalam banyak hal pun sudah jadi kelanjutannya.</p>
<p>Waktu tiga tahun kugunakan untuk menyelami dunia wewangiannya. Ah ya. Aku lupa untuk mencatat di atas. Salah satu hal yang membuatku jatuh cinta padanya adalah, wangi parfumnya. Ia tak tampak seperti flamboyan dengan parfumnya. Justru di sana ada  keringat laki-lakinya, bercampur dengan aroma parfum yang baru pertama kali membiusku. Di kemudian hari aku tahu, itu wangi <a href="http://2.bp.blogspot.com/_efvowSlkxi0/SeSzrxsgULI/AAAAAAAAAIY/VZtXpdI4Rsc/s400/~acqua+di+gio+armani.bmp" target="_blank">Acqua di Gio</a>, <em>for men</em> tentunya.</p>
<p>Hingga hari ini, di malam pengantin kami, aku masih mencium aroma parfum yang sama. Kuharap ia masih akan menggunakannya setelah mandi nanti. Agar wangi plumeria yang bertemu aroma parfumnya, membuatku makin mabuk. Luruh dalam asmaradhana.</p>
<p>Ah ya, laki-laki yang hari ini telah resmi menjadi suamiku itu bernama:  Sandya.</p>
<p><em>bersambung</em> <em>#2: Bulan Penuh Madu</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Jogja Fashion Week 2009] Boedaja in Motion</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/08/15/jogja-fashion-week-2009-boedaja-in-motion/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/08/15/jogja-fashion-week-2009-boedaja-in-motion/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 06:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ladang cinta indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[Budaya, kecantikan dan keceriaan, semua tumbuh jadi satu dalam Jogja Fashion Carnival, 5 Agustus 2009 lalu. Jogja Fashion Carnival adalah salah satu rangkaian kegiatan Jogja Fashion Week 2009.  Arak-arakan yang memadukan fashion dan budaya ini meninggalkan berkas gambar di kamera saya, beberapa diantaranya di bawah ini:

Judul: Sang Putri dan Matahari
Salah seorang peserta Jogja Fashion Carnival [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Budaya, kecantikan dan keceriaan</strong>, semua tumbuh jadi satu dalam Jogja Fashion Carnival, 5 Agustus 2009 lalu. Jogja Fashion Carnival adalah salah satu rangkaian kegiatan Jogja Fashion Week 2009.  Arak-arakan yang memadukan fashion dan budaya ini meninggalkan berkas gambar di kamera saya, beberapa diantaranya di bawah ini:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-large wp-image-926 aligncenter" title="picture12" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture12-1024x803.jpg" alt="picture12" width="476" height="371" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Sang Putri dan Matahari</strong><br />
<em>Salah seorang peserta Jogja Fashion Carnival yang duduk di kereta ditempa matahari sore, beriringan persis di depan Kraton Jogja, menunggu tiba waktunya diarak.</em></p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-911"></span></p>
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-921" title="picture22" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture22-692x1024.jpg" alt="picture22" width="399" height="590" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Sepasang Penari</strong><br />
<em>Atraksi tari di tengah karnaval</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter size-large wp-image-917" title="picture3" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture3-690x1024.jpg" alt="picture3" width="400" height="590" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul:Indian Batik</strong><em><br />
Peserta Carnaval, meski dengan aksi Indian tetap tak melupakan batik.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-929" title="picture5" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture5-1024x675.jpg" alt="picture5" width="554" height="364" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Panggung Batik</strong><br />
<em>Modifikasi desain batik di panggung Jogja Fahion Week 2009</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-930" title="picture4" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture4-745x1024.jpg" alt="picture4" width="400" height="547" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Hura-Hura Hitam Putih</strong><br />
<em>Semburat ceria salah satu peserta karnaval.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Semua gambar di atas ini diikutsertakan dalam <a href="http://www.xl.co.id/tabid/174/language/id-ID/newsId/10378/Default.aspx." target="_blank"><strong>XL JFW 2009 – PHOTOBLOG  COMPETITION</strong></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>-icha/Nikon D40x-<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/08/15/jogja-fashion-week-2009-boedaja-in-motion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahar, Bintang dan Senja</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/08/08/mahar-bintang-dan-senja/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/08/08/mahar-bintang-dan-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 08:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[
Satu perempuan.
Satu laki-laki.
Dan berdua mereka memperjuangkan cinta yang terkebiri. Dalam selingkup tabir yang panjang membentang.
&#8220;Aku tahu, kita bukan pemilik Madukara,&#8221; perempuan berkata.
&#8220;Dan kau juga tahu, kita juga bukan pemilik Indraprasta,&#8221; laki-laki juga berkata.
Hanya sebuah istana kecil dengan tanah coklat sebagai halamannya. Ditemani sebatang plumeria berbunga putih yang harum.
&#8220;Maukah kau terima maharku?&#8221; laki-laki meminta.
&#8220;Apa maharmu?&#8221; perempuan menantang.
&#8220;Bintang,&#8221; singkat laki-laki menjawab.
Lalu kedua tangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-large wp-image-904" title="senja1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/senja1-1024x517.jpg" alt="senja1" width="585" height="286" /></p>
<p>Satu perempuan.</p>
<p>Satu laki-laki.</p>
<p><em>Dan berdua mereka memperjuangkan cinta yang terkebiri. Dalam selingkup tabir yang panjang membentang.</em></p>
<p>&#8220;Aku tahu, kita bukan pemilik Madukara,&#8221; perempuan berkata.</p>
<p>&#8220;Dan kau juga tahu, kita juga bukan pemilik Indraprasta,&#8221; laki-laki juga berkata.</p>
<p><em>Hanya sebuah istana kecil dengan tanah coklat sebagai halamannya. Ditemani sebatang plumeria berbunga putih yang harum.</em></p>
<p>&#8220;Maukah kau terima maharku?&#8221; laki-laki meminta.</p>
<p>&#8220;Apa maharmu?&#8221; perempuan menantang.</p>
<p>&#8220;Bintang,&#8221; singkat laki-laki menjawab.</p>
<p><em>Lalu kedua tangan laki-laki terbuka. Beralaskan tangkup telapak tangannya, ada sinar putih di sana.</em></p>
<p>&#8220;Kau curi bintang sebelum ia bangun?&#8221; terbeliak mata perempuan.</p>
<p>&#8220;Bintang ini bertulis namamu. Sering kupandangi jika aku rindu, di tiap malam aku tak bisa menyentuhmu.&#8221;</p>
<p><em>Ada yang telah tertulis dengan pasti di sana. Sebuah nama dan hanya mata laki-laki yang bisa melihatnya.</em></p>
<p>&#8220;Biar senja jadi saksi,&#8221; perempuan berbunga-bunga. Harapnya membuncah pada laki-laki yang bisa melihat namanya dalam kerlip bintang.</p>
<p>Di pelataran gerbang itu, janji terucap, mahar diserahkan. Baju putih mereka berdua mengombak ditiup angin. Mengibarkan anak rambut dan menguarkan kasih hingga ke langit. Satu momentum, untuk selamanya. Tak ada saksi, tak ada sorak, tak ada tepuk tangan, tak ada jabat tangan. Ini panggung mereka sendiri, dunia tak perlu tahu. Toh, dunia tak akan mengangguk.</p>
<p>Hanya senja, bintang dan sepasang mataku yang mengabadikan.</p>
<p> </p>
<p><em>*kenangan senja di pelataran gerbang Kraton Ratu Boko</em></p>
<p><em>gambar diambil oleh icha pada pukul 17:38 bersenjatakan nikon D40x</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/08/08/mahar-bintang-dan-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Madakaripura: The Hidden Legend</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/05/27/madakaripura-the-hidden-legend/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/05/27/madakaripura-the-hidden-legend/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 21:29:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang hikayat]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=689</guid>
		<description><![CDATA[Sudah cukup lama nama Madakaripura membahana dalam kepala saya. Sejak saya mulai tertarik untuk menelusuri apapun yang berbau Kerajaan Majapahit. Sejak saya mulai mengumpulkan serpihan-serpihan literatur tentang Kerajaan yang seringkali menjadi inspirasi kebesaran Nusantara ini. Sejak itu pula, Madakaripura saya catat diam-diam sembari memendam harap: suatu saat saya harus ke sana!

Harap saya terpenuhi ketika dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sudah cukup lama nama Madakaripura membahana dalam kepala saya. Sejak saya mulai tertarik untuk menelusuri apapun yang berbau Kerajaan Majapahit. Sejak saya mulai mengumpulkan serpihan-serpihan literatur tentang Kerajaan yang seringkali menjadi inspirasi kebesaran Nusantara ini. Sejak itu pula, Madakaripura saya catat diam-diam sembari memendam harap: suatu saat saya harus ke sana!</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-690 aligncenter" title="madakaripura1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/05/madakaripura1.jpg" alt="madakaripura1" width="332" height="507" /></p>
<p>Harap saya terpenuhi ketika dalam sebuah pelesir ke Gunung Bromo, Madakaripura ternyata tinggal selangkah lagi dituju. Meski lelah setelah menuntaskan malam di Penanjakan, tak menyurutkan niat untuk tetap menjenguk air terjun itu. Menurut riwayat sejarah, inilah ladang peristirahatan Sang Gadjah Mada sehabis peristiwa paling fenomenal dalam sejarah Nusantara, yang membentangkan apriori tak berujung antara Jawa dengan Sunda, di medan Perang Bubat.</p>
<p>Mahapatih yang sering digambarkan bertubuh gempal dengan gelung rambut membulat itu, merasa gagal pada sumpahnya,  menjadi tertuduh utama dan penanggungjawab lara Bubat, lalu meluruh dan menyepi ke tempat yang sudah ia idamkan, Tongas, di Madakaripura. Riwayat sejarah yang ini, rupanya tak semua orang tahu, karena seingat saya, dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, tak ada lagi kisah tentang Gadjah Mada usia Perang Bubat.</p>
<p>Madakaripura adalah air terjun dengan bentuk yang unik dan eksotik. Gemuruhnya memang tidak spektakuler, tetapi lokasi air terjunnya yang membentuk ceruk di tebing, di kelokan yang buntu, membuat saya pada titik itu sangat memaklumi pilihan Sang Mahapatih untuk menyepi di sini. Letaknya tersembunyi, namun dahsyatnya kekuatan alam jelas terpampang di sana. <span id="more-689"></span></p>
<p>Sesungguhnya, ada lima air terjun di Madakaripura. Tiga terlihat dengan jelas, sedangkan dua yang lainnya, tersembunyi di balik air terjun yang lain. Yang paling besar, tingginya 200 meter. Di tengah tebing, di balik air terjun besar itu menganga lubang yang melintang secara horisontal. Penduduk sekitar percaya, di lubang itulah Gadjah Mada pernah duduk tepekur dan bersemedi.</p>
<p>Menuju lokasi Madakaripura dari Bromo ataupun dari Surabaya,  jalanan mulus bisa dilalui. Namun, makin dekat ke pintu gerbang Madakaripura, jalanan makin menyempit. Bahkan kesulitan jika ada dua mobil berpapasan.Di pintu gerbang, petugas sigap menghitung jumlah pengunjung di kendaraan. Untuk satu orang dikenai biaya Rp2.500.</p>
<p>Setelah memarkir mobil, pengunjung akan langsung didatangi oleh penduduk setempat yang menawarkan jasa sebagai <em>guide</em> untuk membantu meniti jalan menuju air terjun. Madakaripura rupanya pernah dihantam longsor, sehingga pedestrian  terputus dan mengharuskan penikmat air terjun  turun menyeberang ke sungai berbatu-batu untuk mencapainya. Mereka menawarkan harga Rp30.000 untuk sekali antar.</p>
<p>Bersama rombongan, saya harus berjalan kurang lebih satu kilo dua ratus meter sebelum cipratan air terjun mulai menetes di baju kami. Kadang kami harus naik ke jalan setapak, tak berapa lama turun lagi meloncati batu-batu kali yang airnya cukup deras. Para <em>guide</em> itu memang benar-benar menjalankan tugasnya, menuntun serta menunjukkan jalan terbaik dan tidak membahayakan.</p>
<p>Di tengah lenggang langkah sepanjang jalan serupa lorong panjang, saya terpesona dengan jajaran pohon di tebing kiri dan kanan. Pohon-pohon itu seperti memiliki jari jemari yang bergandeng tangan antara satu dengan yang lain. Tanaman rambat yang melingkunginya, ikut membuat semburat hijau makin tebal di permukaan tebing.</p>
<p><img class="size-full wp-image-693 alignleft" title="madakaripura5" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/05/madakaripura5.jpg" alt="madakaripura5" width="253" height="377" />Situasi seperti itu membuat saya jadi membayangkan diri seperti rombongan penjelajah yang ingin menguak dan mengeksplorasi peradaban kuno yang hilang. Bayangkan saja, langkah-langkah kaki bersamaan dengan lengangnya jumlah pengunjung di hari Minggu, ditambah dengan gemerisik pohon-pohon, tebing hijau yang ditumbuhi tanaman rambat ditingkahi suara air dari sungai yang mengalir. Dan yang mengherankan, meskipun penat berjalan di tengah rintik gerimis, tak sekalipun keluhan capek keluar dari mulut kami. Rasa yang ada justru semangat yang membuncah untuk segera sampai ke air terjun.</p>
<p>Mendekati air terjun, <em>guide</em> mengingatkan bahwa semburat air terjun bisa membuat kami kuyup. Kami langsung cepat-cepat menyimpan barang berharga yang mudah rusak kena air di sebuah tas plastik (jika tidak membawa, di sana sudah ada yang menjual), serta menyelimuti tas-tas kamera juga dengan tas plastik. Agar tak benar-benar basah, kami memutuskan menyewa payung seharga Rp2.000 untuk dipakai mendekati air terjun.</p>
<p>Semakin dekat air terjun, lorong semakin menyempit, batu-batu makin terjal ditapaki dan hawa makin dingin. Di ujung lorong, tidak tepat di tengahnya, namun menjorok ke bagian kiri,  air dengan kekuatan besar melimpah dari atas. Sayang sekali derasnya cipratan air di air terjun besar itu membuat kami ragu untuk membuka kamera terlalu lama. Jadi, tak banyak gambar-gambar yang dilakukan sepenuh hati disimpan di memori kamera.</p>
<p>Hampir kuyup ketika kami memutuskan untuk meninggalkan air terjun besar itu dan menyusur arah balik. Tak jauh dari situ, kami menghirup bau gorengan. Hmmm, nikmat sepertinya untuk istirahat sejenak di sebuah kedai kecil yang ternyata sudah menyiapkan penganan kecil dan minuman hangat. Sembari meneguk minuman hangat, kami  berbincang ringan tentang aktivitas keseharian dengan ibu pemilik kedai dan <em>guide. </em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-full wp-image-696 aligncenter" title="madakaripura4" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/05/madakaripura4.jpg" alt="madakaripura4" width="457" height="306" /><br />
</em></p>
<p>Dari situ kami tahu bahwa, Madakaripura juga sering menjadi tempat semedi orang-orang yang hendak mencari ilmu batin. Tamu semacam itu banyak datang dari berbagai tempat, terutama dari Bali. Soal <em>guide</em>, ada kisah juga dibalik keseharian mereka. Untuk mendapatkan klien, mereka harus mengantri sesuai giliran. Saat itu ada 34 guide yang harus rela menunggu giliran. Kadang dalam satu minggu tak ada satu tamu pun yang mereka antar. Karena tak semua pengunjung menggunakan jasa <em>guide. </em>Dengan panjangnya jarak tempuh serta lumayan sulitnya medan, saya kira harga penawaran awal <em>guide </em>tadi sangat <em>worthed</em>, apalagi mengingat mereka bisa jadi dua minggu sekali baru mendapatkan pelanggan.</p>
<p>Kedai kecil tempat kami menikmati jeda itu smemang engaja dibentangkan di sana. Ibu pemiliknya bahkan memasak air dan menyiapkan gorengan langsung dari dekat air terjun itu dengan kayu bakar.  Saya melirik teko tempat menjerang air panas yang sudah tak keruan bentuknya. Jelaga hitam memenuhi hampir seluruh tubuh teko, ditambah lagi penyok di beberapa tempat. Jika saya menyebut teko, ibu itu menyebutnya ketel. Sudah lama tak mendengar kata itu. Tapi dari ketel tua itulah segelas teh hangat yang menurut saya sangat nikmat, menggelincir masuk ke kerongkongan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-700 aligncenter" title="madakaripura2" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/05/madakaripura2.jpg" alt="madakaripura2" width="461" height="302" /></p>
<p>Saya sempat menanyakan jenis teh yang dibenamkam di air panas itu. Ibu pemilik warung yang rupanya senang diajak  berbincang, berbegas mengambil bungkusan dan mengangsurkan satu <em>sachet</em> dauh teh kering bermerk Wayang. Ketika saya teliti, sayang sekali tak ada tulisan Made in Indonesia (hehehhe)&#8230;ketika, hendak saya kembalikan ibu berkata, &#8220;Buat oleh-olehnya Mbak-nya saja.&#8221; Aduh, tentu saja saya girang, karena satu <em>sachet</em> itu cukup untuk satu ketel besar!</p>
<p>Madakaripura, dengan patung Gadjah Mada yang menyambut di depan gerbangnya menjadi penutup yang manis pelesir saya ke Bromo.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-705 aligncenter" title="madakaripura6" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/05/madakaripura6.jpg" alt="madakaripura6" width="460" height="330" /></p>
<p>Madakaripura, dengan pesona kekuatan alamnya, adalah sebuah legenda  yang masih tersembunyi dan lebih banyak dieksplorasi sisi pariwisatanya ketimbang sejarahnya. Tapi, di akhir hari itu, satu lagi agenda tentang Majapahit saya centang, pertanda sudah terpenuhi. Masih banyak serakan lain yang belum saya datangi. Nanti, suatu hari nanti, agenda ini akan semua saya centang!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/05/27/madakaripura-the-hidden-legend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jogjaportrait.com: Mengintip Jogja Melalui Lensa</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/05/13/jogjaportraitcom-mengintip-jogja-melalui-lensa/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/05/13/jogjaportraitcom-mengintip-jogja-melalui-lensa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 03:35:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=679</guid>
		<description><![CDATA[Jogja, tak pernah habis cerita tentang kota yang satu ini. Yang paling menyenangkan adalah jika melihat kota Jogja dari kacamata pendatang. Karena dari situ Jogja bisa kelihatan lebih cantik dan menawarkan banyak hal. Andong, toko buku, angkringan, Merapi, alun-alun, Kraton, Pantai Selatan, bagi pemukim di Jogja mungkin sudah dianggap hal yang biasa. Tapi bagi pendatang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jogja, tak pernah habis cerita tentang kota yang satu ini. Yang paling menyenangkan adalah jika melihat kota Jogja dari kacamata pendatang. Karena dari situ Jogja bisa kelihatan lebih cantik dan menawarkan banyak hal. Andong, toko buku, angkringan, Merapi, alun-alun, Kraton, Pantai Selatan, bagi pemukim di Jogja mungkin sudah dianggap hal yang biasa. Tapi bagi pendatang, hal-hal tersebut  masih menjadi sesuatu yang berbeda.</p>
<p>Paling tidak itulah yang coba kami lihat dengan lensa kamera. Melalui <a href="http://jogjaportrait.com" target="_blank">jogjaportrait.com</a>, kami mengabadikan geliat dan napas kota Jogja dari sisi keunikannya. Agar menjadi sajian yang membuat Jogja menjadi tempat yang selalu dirindu.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-682" title="jp1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/05/jp1.jpg" alt="jp1" width="512" height="310" /><span id="more-679"></span></p>
<p>Sebenarnya usaha ini telah kami mulai sejak awal 2008 lalu. Kami mengundang beberapa kontributor untuk ikut mengisi ruangnya. Karena kami yakin masih banyak ceruk-ceruk di kota Jogja yang belum kami jelajahi sendirian.Tak hanya itu, kami juga menautkan diri (bergabung) dengan jaringan <a href="http://citydailyphoto.com/portal/" target="_blank">City Daily Photo Internasional</a>, sebuah komunitas berbasis blog yang terdiri dari daily photo blog seluruh dunia. Saat itu, jogjaportrait merupakan blog photo pertama yang menyajikan gambar-gambar kota Jogja.  Kami menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantarnya, karena dengan bergabung di City Daily Internasional, akses yang kami dapat adalah dari segala penjuru.</p>
<p>Gerak langkah jogjaportrait sempat terhenti selama beberapa bulan, karena kesibukan. Dan sekarang, masih berbekal kamera yang sama, jogjaportrait kami bangunkan dari koma panjangnya. Silakan berkunjung dan mengintip Jogja dalam langkah sehari-harinya melalui lensa.</p>
<p>catatan: gambar courtesy of jogjaportrait</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/05/13/jogjaportraitcom-mengintip-jogja-melalui-lensa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandara Suatu Pagi</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/04/30/bandara-suatu-pagi/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/04/30/bandara-suatu-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 06:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[
Apakah saya pernah menulis bahwa salah satu tempat yang saya sukai adalah bandara? Yaks, bandara, yang sering saya analogikan sebagai sebuah hati, tempat perjumpaan, perpisahan dan penantian itu, adalah salah satu zona yang inspiratif bagi saya. Di sana, kerap kali petikan-petikan berpijar dari otak saya tentang apa saja. 
Seperti biasa, selembar bukti pembayaran dari Mandala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-669" title="boarding" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/04/boarding.jpg" alt="boarding" width="471" height="181" /></p>
<p><em>Apakah saya pernah menulis bahwa salah satu tempat yang saya sukai adalah bandara? Yaks, bandara, yang sering saya analogikan sebagai sebuah hati, tempat perjumpaan, perpisahan dan penantian itu, adalah salah satu zona yang inspiratif bagi saya. Di sana, kerap kali petikan-petikan berpijar dari otak saya tentang apa saja. </em></p>
<p>Seperti biasa, selembar bukti pembayaran dari Mandala Airlines menjadi bekal saya untuk memulai perjalanan. Kebanyakan memang perjalanan yang berhubungan dengan pekerjaan di Otak Indonesia, sebuah lembaga yang menaungi saya beberapa tahun belakangan ini. Dengan base di Jogja dan kebanyakan beroperasi di daerah, tak pelak membuat saya kerap menyangklong ransel untuk melakukan perjalanan.</p>
<p>Kali ini saya yakin akan menemui hal baru di Bandara. <a href="http://mandalaair.com" target="_blank">Mandala Airlines </a>sudah berpindah ke Terminal 3 di Bandara Soekarno-Hatta. Kabar yang saya dengar, terminal satu ini merupakan pengembangan baru dari yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai terminal haji dan TKI. Terminal &#8220;baru&#8221; ini sudah disulap lebih modern dari sebelumnya.</p>
<p><span id="more-668"></span></p>
<p>Benar saja, bau cat dan kilap modern langsung nampak begitu menjejakkan kaki di Terminal 3. Di lobi depan, berjajar<em> counter airlines</em> yang &#8220;bermukim&#8221; di sana dan <em>counter</em> makanan. Jajaran ucapan selamat berupa rangkaian bunga masih juga terpajang di sana. Menandakan belum lama Terminal ini dibuka dengan warna barunya.</p>
<p>Kaki yang melangkah menuju <em>counter check in </em>Mandala langsung disambut awak Mandala yang sigap memberikan informasi dimana counter yang seharusnya saya datangi. Ruangan <em>counter </em>ini sangat berbeda dengan terminal yang lama. Dengan elemen-elemen design modern minimalis, membuat ruang<em> counter</em> menjadi lebih elegan.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-670" title="t31" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/04/t31.jpg" alt="t31" width="470" height="419" /></p>
<p>Kepada awak yang bertugas saya mengutarakan keinginan  untuk memilih tempat duduk <em>window seat</em> sebelah kanan. Sudah hapal dengan rutenya, <em>window seat</em> sebelah kanan nantinya akan menyajikan pemandangan pantai selatan dengan awan-awan putih yang menakjubkan. Jika cuaca cerah, saya beruntung bisa mendapatkan gambar-gambar pemandangan yang indah untuk ditangkap kamera.</p>
<p>Awak yang bertugas di <em>counter</em> menginformasikan ruang tunggu saya ada di zona lima. Zona? Hmm, ini istilah baru. Biasanya di terminal lama, disebut sebagai ruang tunggu saja. Apa kira-kira yang berbeda?</p>
<p>Menjawab rasa penasaran, saya pun bergegas melintas ruang <em>check in </em>menuju ke zona yang diinformasikan. Sebelum memasuki zona, cukup panjang juga langkah kaki yang mesti ditempuh. Tapi pemandangan baru yang tersaji di sana menguarkan satu komentar di kepala saya: <em>nice! </em></p>
<p>Langkah kaki saya menjejak ke sebuah hall yang luas dengan pilar-pilar besi, lantai yang licin dan mengkilap dan sejuknya air conditioner. Warna baru ini sedikit mengingatkan pada bandara Changi si Singapore. Di beberapa sisinya, nampak beberapa kafe dengan napas modern menampung dahaga dan lapar penumpang.</p>
<p>Memasuki ruang tunggu, saya baru mendapatkan jawaban dari penasaran  atas zona itu. Di sana tak ada lagi ruang-ruang bersekat seperti ruang tunggu di terminal yang lain. Di Terminal 3, ruang tunggunya luas, tak bersekat. Hanya <em>sign</em> zona yang menandakan tempat menunggu penumpang dengan tujuan yang sama.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-671" title="t32" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/04/t32.jpg" alt="t32" width="470" height="355" /></p>
<p>Dengan enam zona yang ada, ruang tunggu ini dilambari karpet lembut dengan motif horisontal dan vertikal. Pilar-pilar dengan hiasan ukiran batu dan di beberapa titiknya dibenamkan lampu spot menjadi salah satu <em>focal point</em> bagi design yang modern. Di masing-masing zona ditempatkan <em>vending machine </em>yang siap menyajikan kopi berbagai rasa, baik hangat maupun dingin. Hanya tinggal memasukkan uang 5000 rupiah, lalu pilih kopi yang Anda inginkan, tunggu sebentar, maka kopi pun siap ditenteng.</p>
<p>Selain itu, memang belum banyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan di ruang tunggu ini. Sepanjang pengamatan saya, belum ada koneksi wi-fi di sini. Karena itu saya putuskan untuk menunggu waktu keberangkatan dengan membaca. Sebuah buku terbitan lama yang belum sempat saya baca karya <a href="http://www.nicholassparks.com" target="_blank">Nicholas Spark</a>, <em>Message in a Bottle</em> menjadi kawan saya.</p>
<p>Ah ya, bagi perokok, agak sulit menemukan <em>smoking room</em>. Karena memang ternyata belum tersedia atau memang sengaja tidak ada? Entahlah, yang pasti Terminal 3 sudah menancapkan stiker motto mereka di beberapa kotak sampah,<em> T3: eco and modern terminal</em>. Penumpang yang sudah tak tahan untuk mengasap akhirnya memanfaatkan sebuah ruang kecil berbatas kaca yang tertutup di ujung ruang tunggu untuk menghabiskan sebatang rokok. Jika sudah banyak yang merokok di sana, dari tempat saya duduk, sekira berjarak 10 meter nampak asap mengebul memenuhi ruangan itu.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-672" title="t33" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/04/t33.jpg" alt="t33" width="470" height="391" /></p>
<p>20 menit sebelum waktu mengudara yang tertera di tiket, sudah tersiar panggilan untuk segera menaiki pesawat. Inilah salah satu yang saya suka dari penerbangan yang kini sedang naik daun itu dan baru saja mendapatkan penghargaan sebagai Airlines Terbaik tahun 2008 dari<span style="padding: 5px; margin-right: 5px;">PT (Persero) Angkasa Pura I Cabang Utama Bandar Udara Ngurah Rai untuk</span>penerbangan domestik. Waktu pemberangkatan yang tertera di tiket diupayakan memang sebagai waktu untuk <em>take off </em>pesawat. Bagi saya yang kadang berkejaran dengan waktu, hal ini bisa jadi pilihan terbaik mengingat nanti di bandara tujuan masih harus  menunggu bagasi lagi.</p>
<p>Memasuki pesawat, sehabis mengucap doa, saya merasa bersyukur, perjalanan pagi ini rasanya nyaman sekali. Terminal baru yang nyaman, pesawat yang berangkat tepat waktu dan membayangkan senyum kawan-kawan saya nanti di tempat tujuan. Bukankah ada idiom yang bilang,  kondisi Anda hari itu ditentukan dengan bagaimana Anda memulai hari?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/04/30/bandara-suatu-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Pemoeas Dahaga dan Empat Pengembara</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/03/16/kitab-pemoeas-dahaga-dan-empat-pengembara/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/03/16/kitab-pemoeas-dahaga-dan-empat-pengembara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 03:31:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=571</guid>
		<description><![CDATA[Empat pengembara, datang dari empat penjuru mata angin. Berawal dari titik yang berbeda lalu bertatap pada noktah yang sama. Empat, seperti kaki meja yang seimbang. Empat, tak ada yang sama.
Sebuah perjalanan tanpa misi mempertemukan mereka pada sebuah bangunan kayu yang sederhana. Bangunan bertingkat dua yang membiaskan rona-rona hangat. Udaranya menebarkan aroma khas Jawa yang mistik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Empat pengembara, datang dari empat penjuru mata angin. Berawal dari titik yang berbeda lalu bertatap pada noktah yang sama. Empat, seperti kaki meja yang seimbang. Empat, tak ada yang sama.</p>
<p>Sebuah perjalanan tanpa misi mempertemukan mereka pada sebuah bangunan kayu yang sederhana. Bangunan bertingkat dua yang membiaskan rona-rona hangat. Udaranya menebarkan aroma khas Jawa yang mistik sekaligus menenangkan.</p>
<p>Seorang lelaki berdestar batik dan berbaju hitam menyambut mereka dengan senyum ramah.</p>
<p>&#8220;Selamat datang para pengembara. Silakan masuk dan beristirahat di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bangunan apa ini, Kisanak?&#8221; pengembara, satu-satunya perempuan bertanya.</p>
<p>&#8220;Ini adalah Istana Djendela. Kami menamakannya demikian karena di sini lah tempat untuk memandang segala sesuatu, di sini lah kami menawarkan dunia yang berbeda, tanpa harus kalian masuki, cukup memandang dari sebuah jendela yang lebar. Di sini adalah sebuah jeda untuk memutuskan apakah kalian akan tetap di dalam atau kembali berjalan.&#8221;</p>
<p><span id="more-571"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-592 aligncenter" title="kitab22" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/kitab22.jpg" alt="kitab22" width="481" height="200" /></p>
<p>Empat pengembara bertatapan. Masih bergeming.</p>
<p>&#8220;Di tempat ini para pengembara akan mendapatkan Kitab Pemoeas Dahaga,&#8221; lelaki itu melanjutkan.</p>
<p>&#8220;Kitab apa?&#8221; pengembara, lelaki berbaju hitam memanggul bekal yang cukup padat mengeluarkan suara.</p>
<p>&#8220;Singgahlah sejenak, kalian akan tahu nanti,&#8221; lelaki berdestar itu menjawab sembari melenggang masuk, meninggalkan empat pengembara yang kembali saling bertatap.</p>
<p>Entah siapa yang memulai, tapi yang kulihat kemudian mereka sudah duduk di ujung ruangan. Istana Djendela sedang ramai dengan para pengembara yang menikmati jeda dan menyesap Kitab Pemoeas Dahaga. Mereka rupanya memilih tetap berdekatan. Mungkin di kepala mereka terus memendam tanya tentang Istana Djendela dan Kitab Pemoeas Dahaga. Aku terus mencuri pandang, mengamati apa yang mereka lakukan selanjutnya.</p>
<p>Lelaki berdestar itu menghampiri mereka, menyerahkan empat buah kitab. Aku tersenyum, melihat dengan tak sabarnya mereka meraih kitab itu. Aku yakin, sesudah ini mereka akan membulatkan mata membaca isi kitab itu. Ya, seperti saat aku pertama datang dulu.</p>
<p>Benar saja, lelaki pengembara berbaju hitam itu terkesiap dengan isi kitab. Dibolak baliknya kitab itu, diteliti pelan isinya. Sementara pengembara perempuan seperti sudah tahu apa yang ia cari di kitab itu. Pengembara berbaju putih, dengan perawakan paling kecil di antara mereka, membaca dalam isi kitab itu. Pengembara satu lagi, dengan rambut berjela-jela di pundaknya, tenang bersandar membacai kitab itu.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-593 aligncenter" title="kitab11" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/kitab11.jpg" alt="kitab11" width="481" height="322" /></p>
<p>&#8220;Silakan kalian pilih satu saja dulu diantara yang disebutkan di kitab itu. Begitulah peraturannya di sini. Satu pilihan hanya untuk satu waktu,&#8221; lelaki berdestar menjelaskan.</p>
<p>Lama tak ada suara. Mereka masih sibuk bertanya dan memilih dalam hati.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, bolehkah aku memilih <strong>Kho Ping Ho Lihai</strong>? Aku selalu menyukai Kho Ping Ho,&#8221; perempuan pengembara meminta.</p>
<p>Lelaki berdestar menggangguk dan mencatat.</p>
<p>&#8220;Hmm..biar aku pilih <strong>Koeminoem Air Kata-kata</strong>,&#8221; lelaki pengembara dengan rambut berjela mengambil giliran selanjutnya.</p>
<p>Lelaki berdestar mengganguk dan mencatat.</p>
<p>Lalu giliran pengembara kecil berbaju putih yang bersuara, &#8220;Aku..<strong>Wisanggeni Toembas AC</strong>. Menarik sekali sepertinya yang ini.&#8221;</p>
<p>Lelaki berdestar menggangguk dan mencatat.</p>
<p>&#8220;Kalian sudah memilih rupanya. Entah apa itu semua, tapi jika aku diminta memilih, aku akan berkata <strong>Mangoen Wijaya Loear Biasa</strong>,&#8221; terakhir laki-laki berbaju hitam meminta sembari menutup kitab.</p>
<p>Lelaki berdestar menggangguk dan mencatat, lalu pergi meninggalkan mereka.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-595 aligncenter" title="kitab4" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/kitab4.jpg" alt="kitab4" width="345" height="430" /></p>
<p>Aku masih memandangi mereka. Mencoba mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Tapi Istana Djendela terlalu ramai. Tak banyak kata yang bisa masuk ke telingaku.  Aku hanya bisa melihat mereka bertukar kata, sesekali tertawa, menyalakan tembakau, mencatat sesuatu, tertawa lagi. Renyah.</p>
<p>Lelaki berdestar datang, membawa empat pilihan mereka. Cepat mereka sesap dan aku bisa melihat  betapa kelegaan merambati wajah mereka. Persis seperti judul kitab itu. Pendar-pendar aura mereka bisa kulihat dari sini. Yang semula buram, kini merekah berkat kitab itu. Aku tersenyum, mengingat pertama kali aku diperkenalkan pada Kitab Pemoeas Dahaga.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-594 aligncenter" title="kitab3" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/kitab3.jpg" alt="kitab3" width="344" height="507" /></p>
<p>Cahaya dari balik jendela besar mulai lindap. Tinggal sedikit yang menerobos. Lelaki berbaju hitam berdiri dan meraih bekalnya. &#8220;Aku harus melanjutkan perjalanan. Ini pertemuan yang menyenangkan, kawan. Dan tentang Kitab Pemoeas Dahaga, tolong ingatkan padaku jika aku melupakannya. Ini kitab luar biasa. Maaf, aku tak bisa tinggal.&#8221;</p>
<p>Ketiga pengembara tersenyum, maklum bahwa jeda sudah habis. Waktunya bagi mereka untuk kembali ke jalur yang sudah mereka tempuh masing-masing. Menuntaskan perjalanan mereka. Waktu yang telah menyeret langkah mereka bertemu di Istana Djendela dan kini waktu yang menarik kaki-kaki mereka untuk segera beranjak.</p>
<p>Aku terus memandang. Mengikuti gerak ketiga pengembara yang masih tinggal melanjutkan kata-kata. Kali ini mereka tampak lebih serius dari sebelumnya. Bergantian berbicara. Sejenak aku melihat aura mereka makin benderang, sepertinya mereka menemukan pertemuan kata yang menarik. Cukup lama mereka berpijar, tapi kemudian mereka pun pergi mengambil arah yang berbeda, seperti arah mereka datang tadi.</p>
<p>Istana Djendela masih hiruk pikuk ketika aku mendengar alunan lagu mengalun. Entah dari dunia mana lagu itu datang&#8230;.</p>
<p><em>if you&#8217;re lost you can look<br />
and you will find me<br />
time after time<br />
if you fall I will catch you<br />
&#8216;ll be waiting<br />
time after time<br />
after my picture fades and darkness has<br />
turned to gray<br />
watching through windows</em></p>
<p>Pertemuan, perjalanan&#8230;semua dilingkupi waktu.</p>
<p>Aku sesap ramuan terakhirku dari Kitab Pemoeas Dahaga, lalu beranjak juga ke jalanku sendiri. Jedaku pun sudah berakhir.</p>
<p>Istana Djendela masih berdiri di sana. Terus ada untuk para  pengembara yang datang dan pergi, <em>time after time.</em></p>
<p><em>jogja, sebuah petang</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/03/16/kitab-pemoeas-dahaga-dan-empat-pengembara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelesir ke Papuma</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/03/03/pelesir-ke-papuma/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/03/03/pelesir-ke-papuma/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 04:43:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[
Pasir putih, semburat matahari terbit dari balik awan, kumpulan atol yang berdiri megah, birunya air laut, buaian ombak dan semilir angin dari pantai selatan, menunggal dalam satu sajian rupawan dari Papuma.
Pesona Jawa Timur menawarkan sebuah &#8220;surga&#8221; bagi pecinta pemandangan alam dan pantai. Sebuah pantai yang masih bersih dan indah, terletak di Selatan Kota Jember, tepatnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-554 aligncenter" title="atol1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/atol1.jpg" alt="atol1" width="499" height="334" /></p>
<p><em>Pasir putih, semburat matahari terbit dari balik awan, kumpulan atol yang berdiri megah, birunya air laut, buaian ombak dan semilir angin dari pantai selatan, menunggal dalam satu sajian rupawan dari Papuma.</em></p>
<p>Pesona Jawa Timur menawarkan sebuah &#8220;surga&#8221; bagi pecinta pemandangan alam dan pantai. Sebuah pantai yang masih bersih dan indah, terletak di Selatan Kota Jember, tepatnya di Kecamatan Wuluhan.</p>
<p>Papuma, sebuah nama yang cukup unik kedengarannya. Terbentuk dari akronim, Pantai Putih Malikan. Unik yang lain, di sebelah Pantai Papuma ada juga wisata pantai yang sudah kesohor, Watu Ulo, memiliki pasir berwarna hitam, sedangkan Papuma yang letaknya bersebelahan, dipenuhi pasir putih yang halus.</p>
<p>Dari Surabaya, Papuma dicapai setelah empat sampai lima jam perjalanan. Saya dan rombongan sengaja berangkat dini hari agar sepagi mungkin bisa sampai di Papuma. Maklum, bukan pemandangan indah saja yang ingin kami sesap, tapi juga semburat sinar matahari pagi yang sangat elok jika tertangkap kamera.</p>
<p><span id="more-553"></span></p>
<p>Perjalanan dini hari lancar ditempuh. Porong yang biasanya macet, lengang terbuka. Memasuki kota Jember, kami makin bersemangat. Itu  berarti sudah dekat di tempat tujuan, sekira satu jam lagi. Petunjuk arah lengkap tersedia. Tinggal mengikuti jalan. Mendekati Papuma, jalan mulai menanjak dan meliuk.</p>
<p>Beruntung pos penjagaan di Papuma buka 24 jam, sehingga kami tak perlu menunggu benderang untuk bisa masuk. Untuk masuk ke Papuma, saat ini jalan yang dibuka adalah melalui area Pantai Watu Ulo terlebih dahulu. Ini yang membuat tiket harus bayar dua kali. Pertama di Watu Ulo tiketnya Rp3000/orang di<em> weekdays</em> atau Rp5000/orang untuk <em>weekend</em> dan hari libur. Ada tambahan Rp7000 untuk satu mobil. Yang kedua, masuk ke Papuma, juga bayar dengan harga tiket yang sama, tapi tanpa tambahan<em> charge</em> untuk mobil.  Jangan khawatir, sangat sepadan dengan pemandangan yang akan diperoleh di sana.</p>
<p>Senyap menyergap, tapi gemuruh ombak sudah menyapa. Masih remang pagi yang menguar di angkasa. Kami memutuskan untuk menyewa sebuah <em>cottage</em> untuk meletakkan barang-barang dan menunggu matahari memulai hari.</p>
<p>Ada dua jenis <em>cottage</em> yang bisa dipilih. Rp150.000 dengan satu tempat tidur dan Rp250.000 untuk dua tempat tidur yang punya kelebihan letaknya di pinggir pantai.</p>
<p>Ketika matahari sudah mengintip, kami bergegas ke pinggir pantai. Beruntung tak ada hujan di pagi itu. Tapi awan masih menggayut di ujung Timur.Remang mulai benderang.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-558 aligncenter" title="terbit" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/terbit.jpg" alt="terbit" width="426" height="285" /></p>
<p>Matahari bergerak cepat, menebar sinar. Dan segera saja, benderang menyapu pantai. Ini pertama kalinya saya ke sini, dan langsung takjub dengan beberapa atol yang tersebar di dekat pantai. Karang-karang berwarna gelap itu kokoh menantang, kontras dengan birunya laut yang bersinar ditimpa sinar matahari.</p>
<p>Fajar pagi tak lama kami nikmati, karena mata yang semalaman begadang agak perih diajak bertentangan dengan matahari. Kami kembali ke cottage dan merebahkan tubuh.</p>
<p>Satu jam saya tertidur. Ketika saya terbangun, yang lain masih asyik dengan tidurnya. Saya memutuskan untuk jalan sendiri menyusur pantai. Menenteng kamera, saya melenggang langkah. Satu tempat yang ingin saya tuju, Siti Hinggil. Sebuah tempat di bukit kecil yang memang sengaja disiapkan untuk menyesap pemandangan Papuma dari ketinggian.</p>
<p>Garis pantai rupanya berbelok, membentuk huruf L, bukan lurus semata.  Siti Hinggil persis terletak di sudut belokan. Tak payah untuk naik ke sana, karena sudah disediakan tangga beton dan tak terlalu tajam ketinggiannya. Sampai di Siti Hinggil, sebuah atol yang menurut saya paling eksotik baru terlihat. Sebelumnya atol ini tak nampak dari pantai kami bersiram fajar.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-560 aligncenter" title="atol2" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/atol2.jpg" alt="atol2" width="499" height="359" /></p>
<p>Ada yang unik di sekitar atol itu, arusnya bertumbukan dan bertemu di sebuah sudut, seperti garis horisontal dan vertikal yang bertemu secara bersamaan. Dan dari Siti Hinggil, pandangan bisa luas menebar. Memandang Papuma dari ketinggian, mata disuguhi pemandangan pagi yang elok. Inilah Indonesia, sedikit menyurut dari perkotaan yang sumpek dengan gempuran globalisme.</p>
<p>Papuma, bisa dibilang masih belum tersentuh modernisme. Tak seperti Anyer atau Pangandaran yang sudah dibombardir hotel-hotel mewah ataupun restoran besar. Di sana hanya sebuah<em> cottage </em>sederhana namun bersih berjumlah tak lebih dari sepuluh, warung-warung sederhana dengan duduk di atas balai-balai dan menu makanan laut segar yang ditawarkan. Justru itu menambah eksotisnya.</p>
<p>Dari pengelola <em>cottage</em> saya mendapatkan informasi, Papuma tak hanya menawarkan wisata pantai, bisa juga wanawisata. Di sekitar Papuma memang masih terbentang hutan lebat. <em>Trekking</em> dan mengunjungi beberapa gua misterius juga ditawarkan di sana. Didampingi dengan pemandu yang minta bayaran Rp75.000-Rp100.000, kita bisa <em>trekking</em> menembus hutan.</p>
<p>Dan tentang atol-atol yang bertebaran itu, informasi yang saya dapat terbentuk dari batu Malikan dan diberi nama seperti nama-nama dewa dalam khasanah Hindu, seperti Krisna, Batara Guru, Narada. Ada pula yang diberi nama Nusa Barong dan Kodok, karena bentuknya mirik kodok.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-563 alignnone" title="pantai-dr-atas" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/pantai-dr-atas.jpg" alt="pantai-dr-atas" width="499" height="334" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-564" title="pantai-dr-atas3" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/pantai-dr-atas3.jpg" alt="pantai-dr-atas3" width="499" height="333" /></p>
<p>Menjelang siang, saya pun turun dari Siti Hinggil. Perut sudah berontak, sedari pagi belum terisi. Saya pun kembali ke cottage dan membangunkan rombongan untuk segera makan siang. Kami pun memilih satu dari deretan warung di sana. Menu yang kami minta adalah ikan bawal dan kerapu bakar, lalap sambal dan es teh manis.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-565 aligncenter" title="makan" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/makan.jpg" alt="makan" width="499" height="362" /></p>
<p>Selepas siang, mulailah aksi foto-foto. Tak hirau matahari siang yang memanggang kulit, jepretan kamera terus bertambah, hingga jam tiga sore tak terasa, kami sudah dijilat ombak. Kepalang basah, kami pun turun menerjang ombak. Wah, harus hati-hati, karena selain landai, ombak pantai selatan kerap menyeret dengan cepat.</p>
<p>Sore yang temaram kami lalui dengan menghampar tikar di sisi Siti Hinggil untuk menanti senja. Di situlah memang tempat yang tepat menikmati matahari menggelincir. Sayang, mendung terlalu tebal dan menghalangi matahari. Kami memutuskan untuk kembali ke Surabaya, setelah gelap mulai menggenang hari. Meninggalkan Papuma, saya berkata dalam hati, &#8220;Terima kasih Papuma untuk sajianmu, saya akan kembali untuk bertemu senja&#8221;.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-566 aligncenter" title="pantai" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/03/pantai.jpg" alt="pantai" width="385" height="575" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/03/03/pelesir-ke-papuma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surabaya dan Hal-hal Tak Terlupakan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/02/27/surabaya-dan-hal-hal-tak-terlupakan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/02/27/surabaya-dan-hal-hal-tak-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 06:36:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[
Surabaya, tanah kelahiran. Terlalu banyak cerita dan kenangan di kota yang panas ini. Semenjak mengenal udara bumi hingga lulus kuliah, saya banyak belajar dari Surabaya. Dari aromanya, dari panasnya, dari debunya, dan dari kerasnya kehidupan.
Hingga sekian tahun hidup di Jakarta, pulang ke Surabaya selalu ada rasa gembira yang mendesak-desak. Dan, setelah menginjakkan kaki di Surabaya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><img class="size-thumbnail wp-image-528 alignleft" title="logo-sby" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/02/logo-sby-150x150.jpg" alt="logo-sby" width="162" height="162" /></p>
<p style="text-align: right;">Surabaya, tanah kelahiran. Terlalu banyak cerita dan kenangan di kota yang panas ini. Semenjak mengenal udara bumi hingga lulus kuliah, saya banyak belajar dari Surabaya. Dari aromanya, dari panasnya, dari debunya, dan dari kerasnya kehidupan.</p>
<p style="text-align: right;">Hingga sekian tahun hidup di Jakarta, pulang ke Surabaya selalu ada rasa gembira yang mendesak-desak. Dan, setelah menginjakkan kaki di Surabaya, selalu ada hal-hal rutin yang ingin saya nikmati.</p>
<p style="text-align: left;">
<p>Inilah yang tak terlupakan dari Surabaya bagi saya:</p>
<p><strong>1. Sego Sambel Iwak Pe (Nasi Sambal Ikan Pari)</strong><br />
Ini yang paling khas dari Surabaya. Sambal pedas, nasi hangat yang makin sedap dengan paduan ikan pari, lalapan timun dan kemangi. Biasanya, penjual akan memberi bonus tempe goreng. Jika mau, bisa juga ditambah dengan telur dadar.</p>
<p>Saat ini, menu sego sambel bertebaran di Surabaya, tapi menurut lidah saya, yang paling enak adalah di Pasar Jagir Wonokromo dan warung Sego Sambel Ho Ha (ekspresi rasa pedas) di Jalan Dharmawangsa.</p>
<p>Jika Sego Sambel Ho Ha bisa dinikmati mulai menjelang gelap, sedangkan di Pasar Jagir Wonokromo, penjualnya mulai buka jam sebelas malam. Dan jangan kaget, kalau datang jam sebelas pun akan dapat jatah dilayani satu jam sesudahnya. Memang pesona sego sambel di Jagir Wonokromo menyebabkan antrian panjang. Tapi mengantri di sana layak dilakukan, karena rasa sego sambelnya, sungguh tak terlupakan.<br />
<span id="more-513"></span> <strong><br />
2. Sarapan Nasi Pecel</strong><br />
Tiap kali ke Surabaya, menu tetap sarapan saya adalah nasi pecel. Entah kenapa, nasi pecel bungkus seharga Rp3000 itu selalu beda dengan nasi pecel di Jakarta. Rempeyek yang sudah tak utuh lagi, sayuran, petai cina, orek tempe dan bumbu pecel nikmat.</p>
<p><strong>3. Kaus CakCuk Surabaya</strong><br />
Saya punya kebiasaan baru sekarang jika pulang ke Surabaya. Mampir di outlet CakCuk Surabaya. Kaus dengan design khas Suroboyo itu layak jadi oleh-oleh dan koleksi. Cerita lengkap tentang CakCuk bisa dilihat <a href="http://republikkreatif.com/berita-dan-informasi/cerita-surabaya-dalam-sebuah-kaus/" target="_blank">di sini</a></p>
<p><strong>4. TP 5</strong><br />
Jika menyebut TP, yang sudah akrab dengan Surabaya, pasti mengasosiasikannya dengan Tunjungan Plaza, salah satu mall ternama di Surabaya. Tapi, saya tak lagi punya niat untuk main-main ke sana, jika memang tak dibutuhkan harus ke sana. TP 5 yang saya maksud di sini adalah sebuah gelaran pasar kaget di seputar Tugu Pahlawan Surabaya.</p>
<p>Di sana, tiap hari Minggu bertebaran penjual kaki lima yang menjajakan berbagai barang, mulai dari yang baru hingga bekas, mulai dari alat masak, akik, parfum, kaset-kaset lama hingga peralatan bengkel.</p>
<p>Saya biasanya ngubek-ngubek di area jaket dan sweater yang ditumpuk menggunung begitu saja. Yah, jaket dan sweater bekas. Tapi jika beruntung bisa mendapatkan barang bagus dengan harga yang murah sekali. Berkisar Rp10.000 sampai Rp30.000, tergantung kondisinya.</p>
<p>Tak jarang saya menemukan juga kemeja yang masih bagus dan masih sangat layak pakai. Yang pasti, setelah sampai di rumah, langsung masuk ke laundry.</p>
<p>Tips belanja di sana, jika bisa menawar pakai bahasa Madura, bisa lebih murah. Maklum, para penjualnya kebanyakan orang Madura.</p>
<p>Hmmm apa lagi ya? Ah ya&#8230;ngumpul keluarga dan pergi bareng dengan adik saya untuk hunting foto, itu juga tak terlupakan di Surabaya. Karena itu yang mungkin jarang bisa saya lakukan.</p>
<p><em>catatan: logo Old Soerabaja diambil dari koleksi CakCuk Surabaya</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/02/27/surabaya-dan-hal-hal-tak-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[kronik] rindu sepanjang jalan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/02/17/kronik-rindu-sepanjang-jalan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/02/17/kronik-rindu-sepanjang-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 01:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[selamat pagi, embun.
aku bersiap menerjang pekat
kukantongi rindu kita tadi malam
agar menjaga jalan yang melelahkan
(serpong, 1702,05:00)

pagi menjeratku
perih matahari menyilau mata dan hati
dengan rindu yang sama
bayang wajahmu terus mengiring
(cileunyi, 1702, 07:30)
kelok jalan yang kutempuh
mendedah takdir, melawan peluh
tapi rindu buatmu telalu indah dinafikkan
membumbung atas atma yang samsara
(tasikmalaya, 1702, 10:00)
lalu, di sini kita pernah menyesap pagi
kau sibak kerudung coklatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>selamat pagi, embun.<br />
aku bersiap menerjang pekat<br />
kukantongi rindu kita tadi malam<br />
agar menjaga jalan yang melelahkan<br />
<em>(serpong, 1702,05:00)<br />
</em><br />
pagi menjeratku<br />
perih matahari menyilau mata dan hati<br />
dengan rindu yang sama<br />
bayang wajahmu terus mengiring<br />
<em>(cileunyi, 1702, 07:30)</em></p>
<p>kelok jalan yang kutempuh<br />
mendedah takdir, melawan peluh<br />
tapi rindu buatmu telalu indah dinafikkan<br />
membumbung atas atma yang samsara<br />
<em>(tasikmalaya, 1702, 10:00)</em></p>
<p>lalu, di sini kita pernah menyesap pagi<br />
kau sibak kerudung coklatku dengan bulir tatapmu<br />
aromamu menguar di berkas cahaya<br />
dan kian menebal rindu yang kugenggam, kini<br />
<em>(jembatan serayu, 1702, 14:45)</em></p>
<p>senja muram menggantang mendung<br />
lerai air hujan memupus rinduku<br />
sepotong senyum kulabuhi<br />
di sini, semua tentang kau, kamu, dirimu duhai pamong hati<br />
tunggu, rindu ini belum lagi tuntas untukmu<br />
<em>(jogja, 1702, 17:15)</em></p>
<p>dingin dan gigil membusai hati<br />
batas demi batas telah aku lewati<br />
tapi rindu masih juga menggumpal<br />
hendak kemana kualamatkan<br />
jika suaraku saja tak mampu lampaui jarak<br />
<em>(mantingan, 1702, 22:00)</em></p>
<p>di tanah leluhur aku berpijak<br />
menggenggam rindu yang semakin menggelegak<br />
meski batas hari telah menepi<br />
perkenankan aku terus menunggu<br />
di gerbang bajang ratu<br />
<em>(trowulan, 1802, 01:00)</em></p>
<p>ini akhir perjalanan<br />
menjejak sudah di tumpah darah<br />
mereka bilang, akhirnya sampai juga<br />
tapi tidak diri yang terlunta asmaradhana<br />
kau tak di sini&#8230;ini bukan akhir&#8230;tapi awal<br />
setelah ini, kau tetap kujelang<br />
<em>(surabaya, 1802, 02:00)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/02/17/kronik-rindu-sepanjang-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
