Category Archive: ladang puisi

Liturgi Rindu

sepotong rindu terdampar di palung jiwa
mendadak, tanpa fatwa
pada sebuah wajah yang pernah mengobarkan nyawa
dan kupuja bagai dewa

lalu, kaki terbelit pada jejak-jejak tanpa suara
tergulung-gulung melintasi samsara
tempat dimana sembilu dan sakinah bermuara
berderai pada samudera lara

sepotong rindu ini berkisah tentangmu
tetapi ia meriwayatkanku
sepotong rindu ini mencerabih tiap sel mu
tetapi ia merawikan ritmisku

sepotong rindu purba ini sebuah ibadat pagi
mencantumkan namamu menuju aku yang hakiki

Bantul, Mei 2013

Pelukis Luka

Aku memindai lantunan lukamu, dari segores warna kanvas tanpa huruf. Kata-kata yang kau simpan. Telah jadi sekam dalam bilik hati. Kau, yang menangis saat melukis. Menjadikan air mata bagian dari catmu. Mata memerah dengan tangan bergerak cepat, di atas kanvas kosong tanpa dosa. Telah kucatat, ketika kau tertawa, kau tinggalkan kanvas sepi warna. Bahkan tak ada yang tercipta. Tawamu kadang tanpa peringatan, tiba-tiba pecah. Bisa di tengah malam, di pagi buta atau di siang yang panas. Tapi tak pernah lama. Kau lalu terkatup dan mengutuki tawa. Ketika seharusnya kau sudah bisa duduk di atas balai-balai tawamu, diselubung semilir angin yang menyejukkan. Kau ripuh dalam diam. Baca Selanjutnya...

Negeri 1001 Kelam

negeri ini adalah negeri 1001 kelam berkisah tentang banyak luka bertutur tentang banyak angkara bercak darah tak pernah kering masih harus ditambah kebisuan yang dipoles kepalsuan negeri ini adalah negeri 1001 kelam yang masih bertenang-tenang ketika puluhan, ratusan, bahkan jutaan rakyatnya dibebat, compang camping ketika anak-anak pertiwi dihilangkan di jalan suci direnggut dari pelukan ibunya disentak dari dekapan anak-anaknya negeri ini negeri 1001 kelam betul, ia punya karpet terbang tetapi karpet terbangnya dipakai untuk menjadi tak tersentuh hukum ada juga lampu ajaib dinyalakan untuk memanggil jin-jin neoliberalisme 3 permintaan dipenuhi 1000 harga diri Baca Selanjutnya...

Puisi Pagi


dan, telah aku titip kecup pada bulan
agar sampai pada semestamu
meski menua hari kita
tetapi bulan telah mengukir monumen tentang kita, aku dan kamu.
meski beratus kilometer jarak kita
hatiku dan hatimu adalah sejengkal satu kecupan saja.

Daun yang Menikmati Karma

Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi Bergerigi pada pinggirnya Warnanya masih hijau Melayang pelan diiring angin Ia berbisik pada angin “Inilah karmaku dan aku menerimanya sebagai takdirku.” Angin tak menjawab Ia hanya mengiringi Daun luruh Masih hijau Menyentuh bumi Ia menyapa bumi, “Izinkan aku melesak, memburai dan nadir.” Bumi tak menjawab Ia hanya menerima Daun meringkuk di tanah Ia tahu sebentar lagi kehidupan direnggut darinya Ia rela melewati karma lebih cepat Ia membaca dialektika pohonnya Ia menerima antithesisnya Ia tersedak dan melonggarkan renggutnya pada tangkai pohon Dalam detak kehidupannya yang tinggal sedikit Ia Baca Selanjutnya...

Ode untuk Rintik Hujan

Jika, Kesiur angin tak menerbangkan mega di bentang langit Apakah kau akan tetap datang? Kalau saja, matahari tak surut menjantang Sudikah kau menghujam bumi? Jika, dan hanya jika Aku adalah telaga tanpa tepi yang tak mengenal daratan Beranikah kau menitipkan satu rintikmu di telagaku? Nyatanya, Kau datang pada satu ruang sahara Meluruhkan segala ketidakmungkinan Dan aku bernyanyi diantara rintikmu Sebuah Ode untuk Rintik Hujan Baca Selanjutnya...

Kau dan Bulan

Ada bulan di sela rambutmu
Berpendar pada dongeng malam
Kirana bertumbuk pada harum helai rambutmu
Aroma malam yang selalu kurindukan

Ada bulan di sela rambutmu
Bulat jumawa di langit hitam
Mengayunkan getar mistis
Energi yang selalu ingin kudekap

Ada bulan di sela rambutmu
Memamerkan kilau
Mata hati menghakimi
Kau lebih indah dari bulan itu, duhai separuh jiwakuÂ….

(Catatan bulan yang menjantang di akhir Februari)

Loading...
X