<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ladangkata &#187; ladang kreasi</title>
	<atom:link href="http://ladangkata.com/category/ladang-kreasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jun 2010 11:15:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>ILUMINASI, the Grand Launching</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/03/03/iluminasi-the-grand-launching/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/03/03/iluminasi-the-grand-launching/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 02:36:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1166</guid>
		<description><![CDATA[
You&#8217;re all invited&#8230;lets meet there!
 GRAND LAUNCHING ILUMINASI dan 7 novel  spektakuler kawan-kawan seangkatan di Penerbit Kakilangit Kencana:  Minggu, 7 Maret 2010, Ruang Anggrek Lt. 2, Istora Senayan, pk  16.00-18.00 WIB&#8230;undangan bagi semua, diskusi bagi semua&#8230;.ditunggu  kehadirannya&#8230;
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-1165  aligncenter" title="undangan grand launching" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/03/undangan-grand-launching1.jpg" alt="undangan grand launching" width="448" height="298" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>You&#8217;re all invited&#8230;lets meet there!</em></p>
<h3 style="text-align: center;"><span> </span><span>GRAND LAUNCHING ILUMINASI dan 7 novel  spektakuler kawan-kawan seangkatan di Penerbit Kakilangit Kencana:  Minggu, 7 Maret 2010, Ruang Anggrek Lt. 2, Istora Senayan, pk  16.00-18.00 WIB&#8230;undangan bagi semua, diskusi bagi semua&#8230;.ditunggu  kehadirannya&#8230;</span></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/03/03/iluminasi-the-grand-launching/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Bahagia dari ILUMINASI Jakarta Gathering, 9 Februari 2010</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/02/10/catatan-bahagia-dari-iluminasi-jakarta-gathering-9-februari-2010/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/02/10/catatan-bahagia-dari-iluminasi-jakarta-gathering-9-februari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 14:48:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kerja]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1146</guid>
		<description><![CDATA[
Satu pertanyaan yang menggelitik dilontarkan Daniel Mahendra di malam ILUMINASI Jakarta Gathering selasa lalu, &#8220;Apakah engkau bahagia?&#8221;. Mulanya kupikir, pertanyaan apa ini? Bukankah ini diskusi buku? Tetapi jeda waktu yang ada sebelum menjawab pertanyaan itu memberiku kesempatan mengorek-orek isi hati. Tak terlalu dalam menembus endotel hati, ternyata tak ada rasa lain yang kurasakan selain BAHAGIA!
Banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-1145 aligncenter" title="nukilan" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2010/02/nukilan-300x199.jpg" alt="nukilan" width="300" height="199" /></p>
<p>Satu pertanyaan yang menggelitik dilontarkan Daniel Mahendra di malam ILUMINASI Jakarta Gathering selasa lalu, &#8220;Apakah engkau bahagia?&#8221;. Mulanya kupikir, pertanyaan apa ini? Bukankah ini diskusi buku? Tetapi jeda waktu yang ada sebelum menjawab pertanyaan itu memberiku kesempatan mengorek-orek isi hati. Tak terlalu dalam menembus endotel hati, ternyata tak ada rasa lain yang kurasakan selain BAHAGIA!</p>
<p>Banyak kejutan yang datang membuat hatiku melonjak. Di hari itu, bertepatan dengan tanggal kelahiranku dan memperkenalkan ILUMINASI, kawan-kawan dari berbagai komunitas berduyun datang. Tak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah: Surabaya, Semarang, Malang dan Bali. Sinkronitas telah memungkinkan mereka semua untuk menyambangi dan berbagi iluminasi di Newseum Cafe.</p>
<p>Untuk bahagiaku itu, aku haturkan banyak terima kasih pada:<br />
<span id="more-1146"></span><br />
- Mas Taufik Razen dan Mas Mujib atas kebaikan hati memberikan dukungan penuh pada acara dan digunakannya Newseum sebagai tempat acara.</p>
<p>- Syafruddin Azhar, Senior Editor Penerbit Kakilangit Kencana yang tak pernah lelah memberikan input bagi keseluruhan proses penerbitkan dan promosi buku. Dan juga tim Kakilangit Kencana atas dukungannya.</p>
<p>- FX Rudi Gunawan, yang jadi dewa penolong sebagai pembahas novel.</p>
<p>- Sekar Chamdi, atas kesediaannya menjadi MC dengan todongan waktu yang singkat. Putihmu mengabar malam itu, sahabat.</p>
<p>- Daniel Mahendra, yang telah jauh datang dari Bandung demi nukilan ILUMINASI. Mate, kau sahabat terbaik dalam kata dan langkah. Performancemu memukau, sangat ILUMINASI.</p>
<p>- Da&#8217;an Danang Setiawan, yang telah banyak memberikan support, pemikiran dan banyak waktu untuk menggarap seluruh ilustrasi musik ILUMINASI. You rock my day dengan biolamu. Demikian juga untuk Ricky yang membantu menyumbangkan petikan basnya.</p>
<p>- Kelompok Dansa: Nia, Linda, Punki, Rendro yang menyempatkan datang di sela kesibukan. Kalian telah memberikan makna dari frase: saduluran sampe matek!</p>
<p>- Kawan-kawan Javin: Fendry, Jemek, Rahung, Dhyta dan Adrian atas dukungan terhadap ILUMINASI dan solidaritas erat yang indah. Terutama pada Adi Mulyana yang telah mengorbankan banyak waktu untuk pembuatan video ILUMINASI. Thanks bro&#8230;</p>
<p>- Kawan-kawan komunitas komik yang berbondong datang dari berbagai daerah. Kelompok Pluz yang selalu kompak, Mas Aji yang datang dari Malang, Damuh Bening yang datang dari jauh, Bali. Bli, suksma atas semuanya. Tak terhitung budi yang kau tanam di genggam tangan ini, entah bagaimana aku membalasnya. Kejutan yang sangat menyenangkan kawan-kawan komunitas komik hadir di Newseum.</p>
<p>- Darminto M. Sudarmo, jauh dari Semarang datang untuk ILUMINASI. Terima kasih Kang atas kejutan hadirmu.</p>
<p>- Kang Mas Heru Sudjarwo, sahabat yang selalu mendukung dan memberi banyak masukan.</p>
<p>- FA Purawan dari komunitas penulis fiksi fantasi Indonesia yang telah memberikan resensi dan bersedia hadir dalam acara. Senang akhirnya bisa bertemu dengan Mas Pur.</p>
<p>- Nungki Prameswari dan Parisihni Kristanti atas kehadiran dan hadiahnya dari Surabaya.</p>
<p>- ES Noosabri atas semua diskusi, kehadiran dan foto-foto yang indah.</p>
<p>- Ibu Enny dan Bapak Dwi atas kehadiran dan apresiasnya untuk ILUMINASI. Pak Dwi telah memberiku satu sisi lain dari ILUMINASI. Makasih, Pak.</p>
<p>- Kawan-kawan dari Barisan Perempuan Indonesia: Ibeth dan Mbak Yuyud. Senang sekali bisa melihat kehadiran perempuan-perempuan di garda depan di tengah tetamu diskusi buku.</p>
<p>Dan semua kawan yang berkenan hadir dan memberi masukan serta tanggapannya: Olin Monteiro, Desiree Manumpil, Ali Zainal Abidin, Wayan Lessy, Wulansary Ichsan (makasih kadonya bu), Paramita Laksmiandita, Lilik HS dan Cecil (makasih bunganya), Mbak Ari dan Raharja Waluya Jati dari VHR, Sinnal, Anggi dan Jojo, Deasy Sutedja, Agoy Yoga, Nike Rifa Sofiana, Dion dan Mbak Yanti (Duh, Dion, kau tampil berbeda dan asyik sekali!), Mbak Anny Djati yang meskipun tak datang tetapi menyempatkan memberi hadiah, dan kawan-kawan lain yang telah berkenan datang. Kalian semua pemberi bahagia! Terima kasih.</p>
<p>Akhirnya, judul ILUMINASI Jakarta Gathering hanyalah sebuah penamaan tempat, di sana, dari berbagai komunitas dan penjuru telah hadir. Selaksa terima kasih atas dukungan dan apresiasinya terhadap ILUMINASI. Malam itu, kebahagiaan punya arti lain: &#8220;happiness is given&#8221;</p>
<p>Langkah baru menjejak, dunia baru menanti, semoga tak putus energi untuk memberi makna.</p>
<p>Salam ILUMINASI<br />
Lisa Febriyanti</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/02/10/catatan-bahagia-dari-iluminasi-jakarta-gathering-9-februari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laki-Laki Malaikat</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/01/27/laki-laki-malaikat/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/01/27/laki-laki-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 04:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/17/laki-laki-malaikat/</guid>
		<description><![CDATA[
Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku&#8230;.selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.
Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">
<p><a href="http://bobwama.files.wordpress.com/2009/03/dark-angel-21114.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1136 alignleft" title="dark-angel-21114" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/dark-angel-21114-300x225.jpg" alt="dark-angel-21114" width="300" height="225" /></a>Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku&#8230;.selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.</p>
<p>Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku berpijak, tentang bintang yang pernah disinggahinya. Sayap lebar mengepak bersamaan dengan kerling godanya. Lalu ia pun menyusur di jejak yang sama denganku kini.</p>
<p>Seperti tak ingin dia melepas, laki-laki malaikat menebar serbuk-serbuk kasih diselubungku. Menjeratku dengan indahnya. Tak terbantahkan. Aku tergagap dalam putaran rasa yang ia persembahkan. Indah sekaligus membuatku menggigil.</p>
<p>Seperti tak pernah lelap, laki-laki malaikat berkitar di telingaku, di kepalaku, di bibirku, di lentik jariku, di legam kulitku, di lebar langkahku, di pijar mataku. Dia  di sana, terus di sana. Tak tersiah sekejab pun dari  fragmen takdirku.</p>
<p>Laki-laki malaikat mendekap hidupku, menawarkan senampan harapan. Memperkokoh kepalan tanganku yang mengangkasa menantang kehidupan. Menghangatkan lewat pendar-pendar cahayanya.</p>
<p>Runtutan waktu yang terus berjalan, laki-laki malaikat tak lekang. Mengiring tak terpisahkan pada langkah, pada keputusan, melekat pada senyum, menghambur pada duka, mendekap kisi-kisi indah yang hanya dirasakan hati. Lalu mengingini menjadi tak tertangkis.</p>
<p>Gemetar tangan ini ingin menyentuhnya, memeluknya dan mendekap hingga jiwa ini luruh jadi debu, lalu terlahir kembali. Tapi dia laki-laki malaikat dengan selapis dimensi yang berbeda. Ketika dia melayang dengan indahnya, aku hanya menapak bumi. Ketika dia berkilau dengan cahaya, aku bergumul dengan debu. Ketika dia abadi, aku melalui reinkarnasi. Dia laki-laki Malaikat&#8230;..</p>
<p>Bisa kah kau turun sebentar dari dimensimu?</p>
<p><em>(untuk kesekian kali menonton film City of Angel tanpa pernah bosan)</em></p>
<p><em>&#8220;Aku lebih mem</em><em>ilih sekali saja menghirup rambutnya, sekali saja mengecup</em><em> bibirnya, sekali saja menyentuh tangannya, daripada menjalani keabadian tanpa pernah merasakannya. Sekali saja.&#8221;</em></p>
<p><em>(Nicolas Cage sebagai Seth dalam City of Angels) </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/01/27/laki-laki-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#1: Sandya</title>
		<link>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 16:58:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[
Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.
Dari cermin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.smartloftstudio.com/images/art/graphic/identity/Mimi_yinyang.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-1068 alignleft" title="mimi_yinyang" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/mimi_yinyang-300x297.jpg" alt="mimi_yinyang" width="300" height="297" /></a></p>
<p>Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.</p>
<p>Dari cermin yang sama, terpantul oleh mataku satu sosok, sumber kebahagiaanku. Ia bulan yang turun  dari langit, mempertaruhkan keabadian yang dimilikinya demi menyuntingku. Bulan yang datang tiba-tiba di malam-malamku yang dingin, memberi cahaya dari matanya, lalu semua hariku dipenuhi kata-kata darinya. Begitu saja. Tanpa bisa kutolak.</p>
<p>Aku masih memerhatikannya dari cermin. Berdiri di samping tempat tidur yang ditaburi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Plumeria" target="_blank">plumeria</a> putih.  Ia melepas satu persatu kancing baju putihnya, pelan dan matanya terfokus pada kancing yang ia dorong melalui selarik lubang. Resam tubuhnya elok, seakan tiap gerak yang ia lakukan tak ada yang sia-sia. Semuanya punya tujuan dan dalam komposisi yang sangat tepat, tak pernah berlebihan maupun kekurangan. Di  mataku, semua geraknya adalah tarian yang dipersembahkan dengan sangat indahnya. Bukan gemulai, tetapi begitu kokoh dan pasti. Seluruh tubuhnya menyanyikan aroma taksu yang mungkin hanya dipersembahkan bagi linga sariraku.</p>
<p>Laki-laki dalam cermin itu diperkenalkan padaku di sebuah senja berwarna merah. Tinggi dan kulitnya rata-rata milik <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ras_Mongoloid" target="_blank">Mongoloid</a>. Pada perjumpaan pertama, matanya begitu murung, mengalahkan muramnya senja. Aku tak tahu apa yang menggilas sinar kehidupannya dari sana, tetapi yang kutahu apapun itu adalah sebuah jurang yang mendorongnya terlalu dalam. Pada perjumpaan pertama, aku tak merasai pijar yang bergelora, hanya merasakan satu tarikan sulur dari taksunya.  Serasa dekat. Jiwanya serasa pernah kutemui di kehidupan lalu, entah kapan. Hanya itu saja.</p>
<p>Nyaris tiga tahun lalu, senja jadi saksi perkenalan kami. Hari-hari berikutnya, seperti semesta telah mengaturkan semuanya. Ada saja hal-hal yang bisa kami diskusikan bersama, ada saja hal-hal yang mencuatkan kata &#8220;Aha!&#8221;, lalu ketika hariku tak ada kata-kata darinya, aku terbungkus rasa yang kehilangan yang mendalam. Kemudian kutahu, itu dinamai rindu.</p>
<p><span id="more-1047"></span></p>
<p>Suatu pagi, setelah beberapa malam ia menghilang, ia menjumpaiku dan bertanya, &#8220;Apa kabar?&#8221;</p>
<p>Merah pipiku ketika kuucap kata, &#8220;Rindu..&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun memijak bumi, dari tempatnya di langit sana. Seperti Seth dalam film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/City_of_Angels" target="_blank">City of Angel</a> yang meminta kepada Tuhan agar menjadikannya manusia immortal demi mencintai seorang perempuan. Ah, itu memang analogiku. Laki-laki itu bukan malaikat. Ia hanya seseorang yang dunianya jauh dari duniaku. Ia menjalankan bisnis rumah produksi miliknya sendiri, sedangkan aku cuma pengelana yang menyukai dunia fotografi. Memang, ada garis merah yang mengikat jari-jari kami. Ada lingkaran kurva kecil yang diarsir untuk menunjukkan kesamaan gerakan. Dunia kreatif. Tetapi soal langkah kaki, hidungku lebih sering mencium aspal jalanan ketimbang ujung sepatunya.</p>
<p>Aku dan laki-laki itu, adalah penggalan terakhir <a href="http://www.imeem.com/elhafizzo/music/7sgibnbd/nicholas-saputra-puisi-cahaya-bulan/" target="_blank">Puisi Cahaya Bulan</a> yang sangat elok dibawakan oleh Nicholas Saputra. Penggalan itu berkata, <em>&#8220;Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.&#8221;</em></p>
<p>Tetapi, tiga tahun kebersamaan telah jadi ujian bagi kami. Tak ada beda yang terlalu sulit jika menjalaninya dengan cinta. Dan ketika kami bicara tentang penyatuan abadi, semua yang jadi penghalang tak lagi penting. Ketika komitmen sudah dibulatkan, maka kompromi dalam banyak hal pun sudah jadi kelanjutannya.</p>
<p>Waktu tiga tahun kugunakan untuk menyelami dunia wewangiannya. Ah ya. Aku lupa untuk mencatat di atas. Salah satu hal yang membuatku jatuh cinta padanya adalah, wangi parfumnya. Ia tak tampak seperti flamboyan dengan parfumnya. Justru di sana ada  keringat laki-lakinya, bercampur dengan aroma parfum yang baru pertama kali membiusku. Di kemudian hari aku tahu, itu wangi <a href="http://2.bp.blogspot.com/_efvowSlkxi0/SeSzrxsgULI/AAAAAAAAAIY/VZtXpdI4Rsc/s400/~acqua+di+gio+armani.bmp" target="_blank">Acqua di Gio</a>, <em>for men</em> tentunya.</p>
<p>Hingga hari ini, di malam pengantin kami, aku masih mencium aroma parfum yang sama. Kuharap ia masih akan menggunakannya setelah mandi nanti. Agar wangi plumeria yang bertemu aroma parfumnya, membuatku makin mabuk. Luruh dalam asmaradhana.</p>
<p>Ah ya, laki-laki yang hari ini telah resmi menjadi suamiku itu bernama:  Sandya.</p>
<p><em>bersambung</em> <em>#2: Bulan Penuh Madu</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2010/01/21/1-pertemuan-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ILUMINASI-The Cover</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/09/12/iluminasi-the-cover/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/09/12/iluminasi-the-cover/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 05:41:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kerja]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=959</guid>
		<description><![CDATA[Setelah melalui diskusi panjang dan ide-ide yang berlompatan, perjalanan novel saya, ILUMINASI sudah masuk ke tahap penyelesaian cover. Sebagai penulis, penerbit Kakilangit Kencana telah memberikan keleluasaan penuh bagi saya untuk menentukan dan memilih sendiri cover yang sesuai dengan ruh dan filosofi novel. Dan inilah dia&#8230;..


ILUMINASI adalah sebuah novel tentang pencerahan dan manusia-manusia berkekuatan super yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah melalui diskusi panjang dan ide-ide yang berlompatan, perjalanan novel saya, ILUMINASI sudah masuk ke tahap penyelesaian cover. Sebagai penulis, penerbit Kakilangit Kencana telah memberikan keleluasaan penuh bagi saya untuk menentukan dan memilih sendiri cover yang sesuai dengan ruh dan filosofi novel. Dan inilah dia&#8230;..</p>
<p style="text-align: center;">
<p><img class="size-full wp-image-960 aligncenter" title="sampul-depan-iluminasi-alternatif-10" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/09/sampul-depan-iluminasi-alternatif-10.jpg" alt="sampul-depan-iluminasi-alternatif-10" width="378" height="604" /></p>
<p>ILUMINASI adalah sebuah novel tentang pencerahan dan manusia-manusia berkekuatan super yang bertanya tentang makna kehadirannya bagi semesta.<br />
Harap sabar (heheheeh..saya sendiri sudah tidak sabar kok), karena baru direncanakan terbit pada pertengahan Oktober 2009.</p>
<p>Dan soal cover novel, saya tunggu kritik bagi karya seni kecil yang satu ini&#8230;..terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/09/12/iluminasi-the-cover/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Jogja Fashion Week 2009] Boedaja in Motion</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/08/15/jogja-fashion-week-2009-boedaja-in-motion/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/08/15/jogja-fashion-week-2009-boedaja-in-motion/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 06:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ladang cinta indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[Budaya, kecantikan dan keceriaan, semua tumbuh jadi satu dalam Jogja Fashion Carnival, 5 Agustus 2009 lalu. Jogja Fashion Carnival adalah salah satu rangkaian kegiatan Jogja Fashion Week 2009.  Arak-arakan yang memadukan fashion dan budaya ini meninggalkan berkas gambar di kamera saya, beberapa diantaranya di bawah ini:

Judul: Sang Putri dan Matahari
Salah seorang peserta Jogja Fashion Carnival [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Budaya, kecantikan dan keceriaan</strong>, semua tumbuh jadi satu dalam Jogja Fashion Carnival, 5 Agustus 2009 lalu. Jogja Fashion Carnival adalah salah satu rangkaian kegiatan Jogja Fashion Week 2009.  Arak-arakan yang memadukan fashion dan budaya ini meninggalkan berkas gambar di kamera saya, beberapa diantaranya di bawah ini:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-large wp-image-926 aligncenter" title="picture12" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture12-1024x803.jpg" alt="picture12" width="476" height="371" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Sang Putri dan Matahari</strong><br />
<em>Salah seorang peserta Jogja Fashion Carnival yang duduk di kereta ditempa matahari sore, beriringan persis di depan Kraton Jogja, menunggu tiba waktunya diarak.</em></p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-911"></span></p>
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-921" title="picture22" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture22-692x1024.jpg" alt="picture22" width="399" height="590" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Sepasang Penari</strong><br />
<em>Atraksi tari di tengah karnaval</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter size-large wp-image-917" title="picture3" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture3-690x1024.jpg" alt="picture3" width="400" height="590" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul:Indian Batik</strong><em><br />
Peserta Carnaval, meski dengan aksi Indian tetap tak melupakan batik.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-929" title="picture5" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture5-1024x675.jpg" alt="picture5" width="554" height="364" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Panggung Batik</strong><br />
<em>Modifikasi desain batik di panggung Jogja Fahion Week 2009</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-930" title="picture4" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture4-745x1024.jpg" alt="picture4" width="400" height="547" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Hura-Hura Hitam Putih</strong><br />
<em>Semburat ceria salah satu peserta karnaval.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Semua gambar di atas ini diikutsertakan dalam <a href="http://www.xl.co.id/tabid/174/language/id-ID/newsId/10378/Default.aspx." target="_blank"><strong>XL JFW 2009 – PHOTOBLOG  COMPETITION</strong></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>-icha/Nikon D40x-<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/08/15/jogja-fashion-week-2009-boedaja-in-motion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janji Seribu Candi</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/07/01/janji-seribu-candi/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/07/01/janji-seribu-candi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 14:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kerja]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan, Bandung Bondowoso yang telah gagal dalam percobaan pertamanya memikat Roro Jonggrang dengan 1000 candi, kini telah bereinkarnasi di tahun 2009. Ruh Bandung Bondowoso telah merasuk ke tubuh pemuda matang bernama Boni. Sosok pemuda yang sudah tak perlu memendam ingin lagi, karena semua inginnya sudah bisa terpenuhi dengan menjentikkan jari. Tapi ada satu inginnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-874 alignleft" title="senja3" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/07/senja3-201x300.jpg" alt="senja3" width="201" height="300" />Syahdan, Bandung Bondowoso yang telah gagal dalam percobaan pertamanya memikat Roro Jonggrang dengan 1000 candi, kini telah bereinkarnasi di tahun 2009. Ruh Bandung Bondowoso telah merasuk ke tubuh pemuda matang bernama Boni. Sosok pemuda yang sudah tak perlu memendam ingin lagi, karena semua inginnya sudah bisa terpenuhi dengan menjentikkan jari. Tapi ada satu inginnya yang masih terkekang,  yaitu Roro Jonggrang.</p>
<p>Sejak kelahirannya kembali, Boni bertekad mencari Roro Jonggrang. Segala kelebihan dan kelimpahan materi yang dimiliki semakin membuatnya yakin, kali ini Roro Jonggrang pasti akan jadi miliknya. Perempuan mana yang tak tergiur dengan wajah simpatik Boni, dengan pijar intelegensinya yang benderang, dengan kata-katanya yang santun, dan yang paling menarik dari semua itu adalah kekayaannya yang luber tak terhitung. Roro Jonggrang pasti takluk.</p>
<p>Boni merasa sudah mengantisipasi semuanya, tapi ada satu hal yang tak bisa dikontrol oleh pemuda yang penuh percaya diri itu. Roro Jonggrang, yang penuh semangat perlawanan ternyata menitis di tubuh aktivis politik yang tak silau kekayaan. Vanessa. Meski namanya kebarat-baratan, tapi Vanessa sangat nasionalis. Dia pernah merasakan betul penderitaan rakyat  yang sering dikangkangi hak-hak politiknya, merasakan sangat kesulitan ekonomi hidup akibat ideologi pasar bebas, menyemai dengan sangat sempurna kegelisahan anak-anak yang tak bisa sekolah. Sementara di seberang itu semua, manusia-manusia kapitalis seperti Boni hidup dengan tertawa.</p>
<p><span id="more-867"></span></p>
<p>Ketika pada suatu saat mereka bertatap mata, keduanya langsung tahu, bahwa reinkarnasi sudah berputar kembali ke titik awal kehidupan mereka. Mereka bukan lagi Boni dan Vanessa. Saat pertama berhadapan, jika saja kasat mata bisa melihat, saat itu  Boni adalah Bandung Bondowoso dan Vanessa berubah menjadi Roro Jonggrang. Tapi kali ini Vanessa lebih tegar. Sangat lebih tegar ketimbang beberapa abad lalu ia meringkuk di depan Bandung Bondowoso, ketika mengetahui ayahnya telah terbunuh. Terbata-bata ia mengucap pinta. Satu-satunya kebebasan yang ia miliki saat itu untuk dibuatkan 1000 candi. Bandung Bondowoso yang tak mundur, berjanji menyanggupi. Namun, Roro Jonggrang bukan perempuan bodoh. Ia mampu membuat Bandung Bondowoso gagal memenuhi janji yang diobral penuh kesombongan.</p>
<p>Tahun ini, Bandung Bondowoso dihadapkan kembali pada proyek Roro Jonggrang. Vanessa sudah menyuarakan pinta, kali ini jelas lebih sulit, dalam lima tahun ke depan, Boni harus bisa benar-benar memenuhi Keadilan Sosial dan Kesejahteraan Rakyat. Hanya satu kalimat, tapi implikasinya sungguh luas karena harus dilakukan tanpa ada lagi yang tertinggal.</p>
<p>Sekali lagi, ini tak jauh beda dengan proyek Roro Jonggrang, sebuah proyek yang dirasa mustahil dilakukan dalam waktu yang singkat.Permintaan itu sangat tak masuk akal dalam dunia dengan genggaman sistem ekonomi pasar bebas, dimana keadilan bukan salah satu pengikutnya. Kekuatan pasar yang ada sekarang mengacu pada kebebasan dan minimnya campur tangan lembaga politik untuk penyelesainnya. Dunia ini sedang sibuk dengan privatisasi yang banyak menyingkirkan jauh nasionalisme yang menjadi basis kesejahteraan dan keadilan. Logika pasar sedang berjaya di ranah publik! Dimana keadilan harus diselipkan? Sungguh, ini memang proyek Roro Jonggrang lagi!</p>
<p>Boni terkatup ketika Vanessa berbisik padanya, &#8220;Kali ini, jangan hanya obral janji, sudah kehidupan kesekian kita bertemu, jika kau masih saja tak sanggup, putuskan saja rantai ruhmu&#8221;.</p>
<p>Layaknya sebuah perebutan, Boni punya tiga pilihan bantuan, nomer 1, nomer 2 atau nomer 3. Ia punya pilihan untuk memilih salah satunya. Bandung Bondowoso tak ingin gagal lagi.  Berapa kali pergantian kehidupan yang harus ia lalui untuk saat-saat ini. Tapi sekarang, bantuan mana yang bisa melakukan proyek Roro Jonggrang ini? Dan dengan persyaratan baru dari permata hati, <em>stop</em> obral janji. Karena, Roro Jonggrang hanya punya satu pintu: keadilan, bukan lagi janji.</p>
<p><em>Ditulis untuk Creative Theme Day#2: Stop Obral Janji</em></p>
<p><a href="http://creativethemeday.com" target="_blank"><img class="size-full wp-image-876 alignnone" title="banner_ctd125_04" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/07/banner_ctd125_04.gif" alt="banner_ctd125_04" width="125" height="125" /></a></p>
<p><em>catatan: foto senja di Prambanan oleh Lisa Febriyanti untuk <a href="http://jogjaportrait.com" target="_blank">Jogjaportrait</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/07/01/janji-seribu-candi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keabadian dan Tukang Kebun (habis)</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/06/26/keabadian-dan-tukang-kebun-habis/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/26/keabadian-dan-tukang-kebun-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 17:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Keabadian dan Tukang Kebun (1)
Keabadian dan Tukang Kebun (2)
Pertanyaanku tak terjawab. Aku membiarkannya begitu, hingga aku rangkai pengertian-pengertian baru dalam pertemuan kami kali ini.
Setelah Perjanjian Versailles ditandatangani dan Perang Dunia meredup, aku mencoba menemukan kembali kaumku yang berkeliaran. Aku tak menyangka akan menjadi salah satu yang tertua saat itu. Vampir-vampir lainnya mengelukanku untuk membangun kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://ladangkata.com/2009/06/21/keabadian-dan-tukang-kebun-1/" target="_blank">Keabadian dan Tukang Kebun (1)</a><br />
<a href="http://ladangkata.com/2009/06/22/keabadian-dan-tukang-kebun-2/" target="_blank">Keabadian dan Tukang Kebun (2)</a></em></p>
<p><img class="size-medium wp-image-840 alignleft" title="plant-a-tree" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/plant-a-tree-300x291.jpg" alt="plant-a-tree" width="238" height="231" />Pertanyaanku tak terjawab. Aku membiarkannya begitu, hingga aku rangkai pengertian-pengertian baru dalam pertemuan kami kali ini.</p>
<p>Setelah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Versailles" target="_blank">Perjanjian Versailles</a> ditandatangani dan Perang Dunia meredup, aku mencoba menemukan kembali kaumku yang berkeliaran. Aku tak menyangka akan menjadi salah satu yang tertua saat itu. Vampir-vampir lainnya mengelukanku untuk membangun kembali perkumpulan yang porak  poranda. Aku ingat, vampir-vampir perempuan melekat padaku, vampir lain yang lebih muda terus meminta perhatian, tak mempedulikan Zen yang mengkerut di sampingku.</p>
<p>Dengan taktis aku mengumpulkan kembali kelompok-kelompok vampir yang bersembunyi. Membangkitkan dan meminta mereka bertahan pada komunitas masing-masing, sembari terus berhubungan. Namaku terus menanjak di kalangan vampir. Oktagon, Sang Tetua. Begitu aku disebut. Aku jumawa dalam keadaan itu. Tapi itu tak lama, aku segera melempem lagi karena Zen meninggalkanku.</p>
<p>Baru terpetik di pikiranku sekarang, meskipun dia pergi, Zen tak pernah mengkhianatiku dengan berpindah ke pelukan vampir lain. Tak pernah sekalipun. Bagi kami, tindakan itu adalah khianat yang paling menyakitkan. Hampir setiap kami memiliki pasangan abadi. Di kalangan vampir, cinta berbanding lurus dengan panjang hidup kami. Jika salah satu terbunuh, maka dendam kesumat dipastikan akan memenuhi rongga hati. Karena, itu sama saja membunuh diri kita sendiri. Zen tak pernah menyakitiku begitu. Ia selalu pergi sendirian. Bahkan, tak pernah lari ke komunitas vampir lainnya. Dalam pertemuan-pertemuanku dengannya kembali, dia tak pernah terlihat terikat dengan vampir manapun. Kadang, jika keadaan memungkinkan, dia lebih suka berbaur dengan manusia. Mungkin itu menjadikannya lengkap. Menjadikannya seperti manusia dengan sesuatu yang tak dipunyainya. Napas dan degup jantung.</p>
<p><span id="more-819"></span></p>
<p>Perenungan kembali ini membuatku mulai paham apa yang dilakukan Zen. Dia merasa tersisihkan. Dia merasa tak lagi dibutuhkan saat aku asyik dengan diriku sendiri. Dia membaca tiap kelebat dalam pikiranku, tentang jumawaku, tentang hasratku, tentang hal-hal yang aku cari sepanjang aku menjadi vampir. Kuakui, aku sering lupa diri. Sering meninggalkannya termenung sendiri, tanpa aku hendak cari tahu apa yang merisaukannya. Sering pula tak mengajaknya serta dalam langkahku. Ah, betapa tololnya aku mengira apa yang kuinginkan akan mudah diterimanya begitu saja.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau tak pernah mengatakan apa-apa?&#8221; aku bertanya.</p>
<p>&#8220;Aku ingin kau menyadarinya sendiri, Oktagon.&#8221;</p>
<p>Kami terdiam cukup lama. Matanya jernih. Bibir mungilnya terkatup rapat. Tubuhnya bergetar dalam frekuensi yang sangat rendah. Tapi aku masih bisa merasainya. Di saat seperti ini, aku justru ingin segera memeluknya, melumat bibirnya, menghimpit tubuhnya dan menyesap aromanya. Tapi aku tahu, Zen sedang tidak ingin aku melakukannya sekarang. Ini saatnya dia berbicara. Setelah beberapa abad dia tak bicara tentang sejuta alasannya meninggalkan aku.</p>
<p>&#8220;Kau ingat terakhir kita bersama?&#8221; Zen menggugah keheningan diantara kami.</p>
<p>Tentu saja aku  ingat, &#8220;1 September 1939, persis saat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adolf_Hitler" target="_blank">Hitler</a> menginvasi Polandia, membakar api <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II" target="_blank">Perang Dunia II</a> di dataran Eropa&#8221;.</p>
<p>Saat itu aku terperangah dengan taktik  <em><a title="Blitzkrieg" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Blitzkrieg" target="_blank">Blitzkrieg</a></em>, perang cepat a la Hitler. Hanya iblis yang pada masa itu bisa bergerak secepat Hitler. Untung saja perkumpulan sudah pernah ada dalam situasi perang. Kami sudah siaga dan tetap tak ingin ikut campur urusan manusia itu. Meskipun bagi kami, Hitler tak ubahnya melakukan perburuan mangsa seperti yang kami lakukan. Tetap saja, di situasi perang semacam itu, aku tergugu dan kembali berpindah-pindah tempat. Zen muncul kembali di suatu kelokan jalan sehabis aku menghisap habis darah buruanku. Aku langsung meraih tangannya dan kami melesat ke tepi hutan. Kami bercinta dengan suara pelan, menggugurkan rindu yang sudah di ujung taringku. Dan kami terus bersama sejak saat itu.</p>
<p>&#8220;Aku selalu ada untukmu, Oktagon. Hanya kau yang tidak menyadarinya&#8221;.</p>
<p>Aku mengaduk-aduk pikiranku. Bagaimana mungkin dia berkata selalu ada untuk aku? Cukup lama aku terbungkam, mencari pola pertemuan kami dan kepergiannya. Lalu serangkum pengertian itu menerangi kepalaku, dia datang tiap kali resahku sudah meluber, saat aku merasa sangat sendirian, saat aku merasa porak poranda di hampir kepingan terakhir. Aha! Jadi begitu?</p>
<p>&#8220;Iya, tepat begitu. Di saat itulah kau merasa membutuhkan aku, bukan yang lain. Bukan komunitasmu, bukan perkumpulanmu atau teman-teman vampir lainnya&#8221;.</p>
<p>Hey, dia memang selalu pergi saat aku mampu berdiri tegak dan jumawa. Dan aku mengakui, di saat itu, Zen hanyalah sebuah bagian kecil dari hidupku. Ambisi, ego, kesenanganku dan pengakuan atas diriku menjadi lebih penting. Toh, Zen sudah di sana. Kebutuhan yung meluap-luap atas dirinya terkalahkan oleh semua itu.  Zen mampu membaca itu dengan persis di kepalaku. Sedangkan aku, tak mampu mendengarkan itu semua.</p>
<p>Perang berakhir, dunia mengalami kemajuan dimana-mana. Zen pun pergi lagi. Hingga sekarang, 2009, aku menjumpainya di saat aku merasa komunitas mulai meninggalkanku. Oktagon, Sang Tetua harus mau mundur bersaing dengan vampir-vampir muda lain dengan pemikiran yang lebih cemerlang.</p>
<p>&#8220;Kau gila, Zen. Kalau yang kau rasakan buatku itu cinta, itu cinta yang aneh!&#8221; aku masih tak ingin mengakui egoku.</p>
<p>&#8220;Kau yang tak paham, Oktagon. Karena itu kau bilang aneh&#8221;.</p>
<p>&#8220;Apa yang harus aku pahami? Apa belum cukup rindu yang selalu berdenting itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Seorang pecinta ibarat tukang kebun,&#8221; Zen menyentuh tanganku.</p>
<p>Tukang kebun? Hah?</p>
<p>&#8220;Tukang kebun bukan hanya menanam. Agar tumbuhan itu bisa bertumbuh dengan indah, dia perlu memupuk, dia perlu merawat, dia perlu menyirami, dia bahkan perlu berbicara dengan tanamannya, melakukan pertukaran energi dengannya. Dan itu tidak dilakukan di awal saja. Tapi di setiap kebutuhan, bahkan di setiap langkahmu.&#8221;</p>
<p>Aku mencerna kata-katanya.</p>
<p>Zen melanjutkan, &#8220;Dan kau biarkan tanaman ini mengkerut, menghilangkan kebiasaanmu menyirami dan merawatnya, sehingga ia mengering bahkan tanpa kau ketahui&#8221;.</p>
<p>Aku menggenggam tangannya dalam diamku. Aku tak hendak mengingkari kata-katanya lagi. Aku memang bukan tukang kebun yang baik. Membiarkannya mengkerut begitu rupa di saat vampir-vampir lain menginginkanku dan membiarkannya kering ketika aku berkelindan memenuhi hasratku sendiri. Aku paham kini, betapa berartinya Zen ketika dia sedang meninggalkanku. Saat dia di sampingku, aku tak lagi mengindahkannya. Melupakan hal berharga yang sebenarnya aku miliki dengan mencari penghargaan yang lain. Pantas saja, denting gelas itu makin nyaring ketika dia pergi. Lalu memudar pelan ketika nada-nada lain dalam hatiku berbicara.</p>
<p>&#8220;Yang paling tolol dari semua ini, butuh waktu tiga abad untuk kau menyadarinya!&#8221; katanya sembari mengukir senyum yang miris di bibir.</p>
<p>Reaksi itu justru membuat aku tertawa. Menertawakan diriku sendiri.</p>
<p>Bagiku, vampir perempuan di hadapanku ini adalah vampir paling cantik yang aku temui selama tiga abad terakhir dan seharusnya menjadi yang paling cantik selama usia imortalku. Aku tahu aku sangat mencintainya, dan mestinya tak cukup hanya dengan mengucap dan merasakan rindu. Seperti tukang kebun itu, tak cukup menanam, cinta yang ini harus terus dipupuk dalam waktu yang memang diperlukan. Keabadian yang kumiliki memang tak hanya diisi dengan cinta, tapi selain usia, hanya cinta yang bisa mengiringi keabadianku, bukan hal-hal mortal lainnya. Untuk yang satu itu, tugas &#8220;tukang kebun&#8221; memang membuat segalanya tetap terjaga dan indah.</p>
<p>&#8220;Dan&#8230;,&#8221; ia menggantungkan kalimatnya.</p>
<p>Apa lagi?</p>
<p>&#8220;Aku juga masih perlu belajar menjadi tukang kebun,&#8221; lalu terburai lah tawanya.</p>
<p>Vampir pasangan abadiku ini sungguh gila. Berdiam diri sebentar, berharap dimengerti tanpa berkata apa-apa, dan jika tak ada yang aku lakukan, dia pun pergi. Dia belajar dengan caranya sendiri dan membiarkan aku belajar dengan caraku sendiri. Hmm..cara yang hebat untuk menjalani keabadian.</p>
<p><em>:tabik untuk tukang kebun, yang bekerja untuk keabadian.</em></p>
<p><em>thanks to Stephani Meyer di Twilight, atas inspirasi, dialog yang menggugah, serta petikan pelajaran bahwa cinta dan kasih sayang tak hanya bekerja dalam keseragaman, tapi juga menjadi indah dalam keberagaman.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/26/keabadian-dan-tukang-kebun-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keabadian dan Tukang Kebun (2)</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/06/22/keabadian-dan-tukang-kebun-2/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/22/keabadian-dan-tukang-kebun-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 16:10:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=817</guid>
		<description><![CDATA[Keabadian dan Tukang Kebun sebelumnya


Rasanya baru kemarin ketika aku pertama kali melihatnya. 14 Juli 1789, penyerbuan ke Penjara De Bastille. Sebuah momentum yang mengawali Revolusi Perancis. Aku melihat sosoknya diantara kerumunan orang-orang yang marah pada monarki. Kulitnya yang pucat, matanya yang kelam serta geraknya yang sangat gesit untuk ukuran manusia biasa, langsung bisa kukenali sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ladangkata.com/2009/06/21/keabadian-dan-tukang-kebun-1/" target="_blank"><em>Keabadian dan Tukang Kebun sebelumnya</em></a></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><a href="http://goodbadandunread.com/wp-content/uploads/2008/02/long-distance-relationship.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-831 alignleft" title="long-distance-relationship" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/long-distance-relationship-300x222.jpg" alt="long-distance-relationship" width="300" height="222" /></a>Rasanya baru kemarin ketika aku pertama kali melihatnya. 14 Juli 1789, penyerbuan ke <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bastille" target="_blank">Penjara De Bastille</a>. Sebuah momentum yang mengawali <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Perancis" target="_blank">Revolusi Perancis</a>. Aku melihat sosoknya diantara kerumunan orang-orang yang marah pada monarki. Kulitnya yang pucat, matanya yang kelam serta geraknya yang sangat gesit untuk ukuran manusia biasa, langsung bisa kukenali sebagai salah satu ciri kaumku. Di tengah gemuruh massa yang berseru &#8220;<em>Vox Populi, Vox Dei</em>!&#8221;, aku masih bisa mendengar desis dan geram dari bibirnya. Tahu aku perhatikan, dia menoleh ke tempatku berdiri. Terpana beberapa saat, mungkin tak mengira ada juga yang seperti dia. Bahkan dekat dengannya.</p>
<p>Sebuah pedang hendak menyambar dari belakangnya. Aku melesat, meraih tubuhnya. Menganyunkan tubuhnya dalam pelukanku, menghindari kilat pedang yang bercampur darah menyentuh tubuhnya. Saat itulah mata kami bertaut.</p>
<p>&#8220;Kau pasti tahu, aku tidak akan mati hanya dengan goresan pedang saat itu,&#8221;  dia membaca pikiranku. Mengetahui bahwa aku mengenangkan pertemuan pertamaku dengannya.</p>
<p>&#8220;Tapi, kau yang akan membuat banyak orang mati. Kau pasti akan marah jika sedikit saja terluka. Bukan engkau yang aku selamatkan. Para revolusioner itu. Mereka sudah cukup menderita dengan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Louis_XVI_dari_Perancis" target="_blank">Louis XVI</a>,&#8221; aku tahu,  pikiran Zen langsung meloncat pada kilat pedang yang hampir menggores bahunya dan masa hidup di bawah dua tekanan sekaligus. Monarki dan Gereja.</p>
<p>&#8220;Lebih dari 10 tahun kebersamaan kita, Zen. Lalu kau pergi begitu saja,&#8221; aku memutus ingatannya.</p>
<p>&#8220;Aku tidak pergi. Aku hanya menyingkir. Ambisimu dengan ekspansi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Napoleon_Bonaparte" target="_blank">Bonaparte</a> itu membuatku lelah. Matamu tidak lagi coklat, tapi menjadi lebih keruh dan kau makin kerap mendesis. Aku ada di dekatmu, tapi kau seperti jauh,&#8221; gantian dia yang menatapku lekat.</p>
<p><span id="more-817"></span></p>
<p>Aku terdiam. Sebelumnya Zen tak pernah bicara tentang itu. Aku kira dia memang sudah bosan denganku. Dia pergi untuk ambisiku?</p>
<p>Pernyataannya itu membangkitkan pengertian baru di kepalaku, &#8220;Tapi sesungguhnya kau tak pernah jauh kan? Jujur padaku, kau sengaja meninggalkan aromamu pada tempat-tempat yang kau pikir akan aku datangi? Betul begitu?&#8221;  aku mulai membaca pikirannya.</p>
<p>Zen tak segera menjawab pertanyaanku. Lima belas detik kemudian dia bergumam,  &#8220;Seandainya kau tahu dari dulu.&#8221;</p>
<p>Aku terkesiap. Aku memutar lagi pertemuan-pertemuanku dengannya. Setelah Perancis, kami bertemu kembali di Inggris, tepat ketika Belanda harus menyerahkan seluruh negara jajahannya kepada Inggris. Itu kebersamaan kami yang singkat. Di tahun 1811, hampir saja aku menyusul perjalanan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stamford_Raffles" target="_blank">Raffles</a> ke Pulau Jawa, jika saja Zen tak kemudian menghilang. Aku yakin, jika aku ke Jawa, menyusul Raffles menjadi Letnan Gubernur Jawa pada waktu itu, aku akan kehilangan Zen untuk selamanya.</p>
<p>Bagi kami, kaum vampir, hidup berpindah-pindah sudah menjadi keharusan. Jika tidak, kemudaan kami akan menjadi pertanyaan banyak orang. Drama kematian yang berulang-ulang harus kami ciptakan agar manusia di sekeliling kami tak pernah curiga.</p>
<p>Demi Zen, aku memilih bertahan di Inggris, sambil mencarinya, meskipun gejolakku untuk melihat Jawa tak tertahankan. Bagiku, tanah itu sungguh eksotik. Aku sudah banyak mendengar keelokannya. Negeri dengan peradaban kuno yang luas namun menjadi jajahan Belanda yang jauh lebih kecil darinya. Untung saja, sekembalinya Raffles dari Jawa, dia segera membuat sebuah buku mengenai Jawa, History of Java. Aku membacanya, sembari mencari tahu dimana Zen ku.</p>
<p>Aku bertemu kembali dengannya lebih dari tiga puluh tahun kemudian, pada 1845, ketika Texas resmi menjadi negara bagian Amerika Serikat. Aku sudah hampir seperti gelandangan saat itu. Tak ada komunitas yang menyertaiku. Aku bersorak ketika hidungku menangkap aromanya. Dan dia di sana. Aku baru menyadari, dia sepertinya sudah menungguku. Girang yang kurasakan menutup kemungkinan itu. Ya betul, dia berdiri di sana.  Dengan sengaja, memperlihatkan dirinya di tempat sepi, bukan di tengah kerumunan. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?</p>
<p>Hampir 20 tahun kami bersama lagi. Zen, masih dengan kejutan-kejutannya. Di suatu waktu ia begitu tenang dengan senyumnya, di waktu yang lain dia begitu murung. Tapi tetap tak banyak kata yang keluar. Sepanjang yang aku kenal, kebiasaannya ini membuat Zen nampak menganggap semua persoalan bukan himpitan baginya. Seperti angin saja yang bertiup, sekencang apapun, dalam beberapa saat pasti akan menghilang. Ah, dan itu sangat mirip dirinya. Angin.</p>
<p>Aku mengiringi Jenderal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ulysses_S._Grant" target="_blank">Ullyses Grant</a> berperang di Sungai Mississippi ketika Civil War Amerika meruyak dan menggerogoti pemerintahan baru Presiden Lincoln, ketika aku tak lagi menemukan Zen di rumah. Dia sudah pergi lagi. Tanpa pesan.</p>
<p>&#8220;Kau terlalu besar buatku saat itu,&#8221;  dia selalu tahu apa yang aku pikirkan.</p>
<p>Aku terhenyak. Kaget dan bingung. Alasan apa lagi itu?</p>
<p>&#8220;Semua orang mengelukanmu. Orang kepercayaan Ullyses Grant yang tak pernah kalah dalam setiap pertempuran. Kau yang membuat Sang Jenderal dipercaya sebagai Jenderal Terbaik oleh Lincoln.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, sekarang kau yang menggampangkan,&#8221; Zen membalasku dengan telak.</p>
<p>&#8220;Pernah merasa tak dipandang sebelah mata? Ketika kau menikmati semua itu, pernah berpikir tentang aku? Ah, mungkin kau jawab iya. Tapi, seberapa besar? Sebesar inginmu saat mengendusi dimana aku berada? <em>I dont think so</em>,&#8221; dia berkobar dan menggeram, tanpa jeda. Tangannya sudah mengepal. Mungkin tinggal menunggu aku bergerak, satu inchi saja, dia sudah pasti akan menubrukku.</p>
<p>Aku diam tak bergerak.</p>
<p>Zen melanjutkan, &#8220;Kau tak lagi memikirkan aku, toh aku sudah di sampingmu. Dan itu kesalahan terbesarmu!&#8221;</p>
<p>Kenapa jadi aku yang salah? Aku mengingat saat-saat dia menghilang. Aku memang begitu menggebu menemukannya. Mencari jejaknya dan mengendusi baunya. Dulu kukira ia begitu bodoh membiarkan baunya mudah aku telusuri. Tapi sekarang aku menyadari, Zen sengaja melakukan permainan ini. Dia justru hewan buruan yang sangat pintar. Di saat naluri berburuku menggelegak, di saat aku begitu menginginkannya, dia justru sangat senang. Dia meninggalkan jejak dimana-mana untuk aku telusuri.</p>
<p>Di Jerman, 1867, ketika dia tiba-tiba aku jumpai tengah duduk di sebuah ladang dengan membaca buku <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Das_Kapital" target="_blank">Das Kapital</a>, karya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx" target="_blank">Karl Marx</a>.  Kami bercinta tanpa lelah, mulai malam hingga pagi di ladang itu. Keesokan harinya, dia pergi, meninggalkan buku Das Kapital cetakan pertama itu dalam pelukanku.</p>
<p>Sebelum itu, aku merasa sempat melihatnya di 1833, tapi aku tak beruntung mendapatinya tersenyum untukku. Letusan Krakatau pada 26 dan 27 Agustus itu membuat dunia kelam. Debu vulkanik menghalangi penciumanku. Aku seperti melihat bayangannya berkelebat, tapi aku tidak yakin.</p>
<p>&#8220;Itu memang aku. Sengaja mengulang jejakku, untukmu,&#8221;  dia membenarkan pikiranku.</p>
<p>Perang Dunia I di tahun 1914 hingga 1918 memiliki arti yang sangat mendalam bagi kami. Perang besar dengan melibatkan banyak sekali pasukan itu, membuat kami justru lebih merapat dan bersatu. Kami hidup berpindah-pindah lebih kerap, baik di Eropa maupun Asia, tak ada yang luput dari imbas perang ini. Tapi kami justru menikmatinya. Kami jelas tidak takut mati oleh perang, tapi kami tak ingin makin membuat para prajurit itu panik mengetahui diri kami yang sebenarnya. Sepasang vampir yang sedang kasmaran dan bisa menghabiskan satu peleton prajurit dengan sekali kibas jika sedang marah. Di saat begitu, kami lebih baik bersembunyi jika tidak ingin menjadi incaran negara-negara yang ingin memenangkan perang.</p>
<p>Kebersamaanku dengannya kini terngiang, seperti sebuah film yang terhampar dengan layar di depanku. Aku memang bersamanya, tapi agenda-agendaku  menjadi vampir yang tak sekadar menjalani keabadian juga tak pernah aku lewatkan sedikitpun. Aku ingin berjaya atas diriku sendiri. Apakah itu salah? Apakah itu yang membuatnya pergi?</p>
<p><em>bersambung di:</em></p>
<p><em><a href="http://ladangkata.com/2009/06/26/keabadian-dan-tukang-kebun-habis/" target="_blank">Keabadian dan Tukang Kebun (habis)</a><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/22/keabadian-dan-tukang-kebun-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keabadian dan Tukang Kebun (1)</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/06/21/keabadian-dan-tukang-kebun-1/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/21/keabadian-dan-tukang-kebun-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 12:55:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=813</guid>
		<description><![CDATA[Kau tentu tahu bagaimana bunyi denting gelas, bukan?&#8221; aku menatap lekat matanya.
Sedetik dia tahu bahwa aku sedang menghujamnya dengan pandangan yang menuntut. Dia sadar itu, kemudian mengalihkan matanya ke cangkir bulat yang sedang dipegangnya. Dia menjentikkan jarinya ke cangkir dan terdengarlah bunyi &#8216;tek!&#8217;, pelan saja, karena cangkir separuh penuh dan lebih tebal dari gelas yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://vibizlife.com/UserFiles/Image/numpangsenyum-29oct07/dining%20stuff/dining.gelas.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-821 alignleft" title="dininggelas" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/dininggelas-216x300.jpg" alt="dininggelas" width="216" height="300" /></a>Kau tentu tahu bagaimana bunyi denting gelas, bukan?&#8221; aku menatap lekat matanya.</p>
<p>Sedetik dia tahu bahwa aku sedang menghujamnya dengan pandangan yang menuntut. Dia sadar itu, kemudian mengalihkan matanya ke cangkir bulat yang sedang dipegangnya. Dia menjentikkan jarinya ke cangkir dan terdengarlah bunyi<em> &#8216;tek!&#8217;</em>, pelan saja, karena cangkir separuh penuh dan lebih tebal dari gelas yang kumaksud.</p>
<p>&#8220;Seperti ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan. Seharusnya lebih nyaring,&#8221; aku mencari-cari matanya lagi.</p>
<p>&#8220;Lalu kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bayangkan jika dentingnya itu bisa kau dengar sepanjang kau membuka mata. Terus berdenting, tanpa henti. Suaranya indah sekaligus menyakitkan. Bisa terbayang?&#8221; aku terus memandanginya, berharap bisa melihat bagaimana reaksi perempuan itu.</p>
<p>Bola matanya naik ke atas. Jari telunjuknya mengetuk bibir berkali-kali. Dia benar-benar membayangkan bagaimana bunyi denting gelas yang tak pernah berhenti itu.</p>
<p>&#8220;Ya, aku sudah dapat bayangannya. Lalu?&#8221; Aku mendesah. Perempuan ini suka bertingkah memang. Aku memang bilang untuk membayangkannya, tapi aku tak berharap  dia sungguh-sungguh membayangkan seperti itu. Seharusnya dia sudah langsung paham. Ah, tapi dia bukan aku. Dia tetap dia. Sepanjang tiga abad yang kukenal,  dia tidak berubah.</p>
<p>&#8220;Seperti itu rindu buatmu,&#8221; aku memutuskan tak mengomentari tingkahnya.</p>
<p><span id="more-813"></span></p>
<p>Dia terdiam. Mungkin tak mengira aku menganalogikan denting gelas itu dengan rinduku. Tak mengira aku punya rasa sekuat itu, hingga tiga abad kehidupanku. Jika memang ini boleh dibilang kehidupan.</p>
<p>&#8220;Kemana saja kau?&#8221; aku melanjutkan.</p>
<p>&#8220;Berkeliaran, berburu, sekaligus bersembunyi jika memang aku harus sembunyi,&#8221; dia menjawab ringan.</p>
<p>Aku mendesah lagi. Sepertinya dia tak pernah menganggap rasaku penting baginya, meskipun sudah ribuan kali aku mengatakan padanya. Perempuan ini datang dan pergi sekehendaknya sendiri. Bodohnya, aku selalu tak bisa mencegahnya. Bagiku, alasan terpenting aku mencintainya adalah melihatnya bahagia. Walau aku tahu, dalam daftar bahagianya, seringkali aku tak masuk hitungan. Tapi setiap kali dia tersenyum dengan mata berbinar-binar, aku luluh. Kubiarkan diriku didera rasa sakit, asal jangan dia.</p>
<p>&#8220;Zen, apakah kau akan pergi lagi?&#8221; aku menyerukan pertanyaan yang aku sudah tahu pasti jawabannya.</p>
<p>&#8220;Belum tahu&#8221;.</p>
<p>Persis seperti yang aku kira. Pertemuan ini pun, bukan karena dia yang ingin. Aku yang selalu mencoba mencegatnya di berbagai tempat. Mengendusi baunya dimanapun aku berada. Beberapa kali aku beruntung, tapi dia terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Kadang memang benar-benar sendirian. Kadang yang lain, bergerombol dengan teman-temannya. Berganti masa, teman-temannya pun berganti. Dan dia selalu bisa mengumpulkan temam-temannya yang baru.</p>
<p><em>bersambung di:<br />
</em></p>
<p><em><a href="http://ladangkata.com/2009/06/22/keabadian-dan-tukang-kebun-2/" target="_blank">Keabadian dan Tukang Kebun (2)</a><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/21/keabadian-dan-tukang-kebun-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
