Tunggal

Pada suatu hari kau merasa terasing. Seperti engkau tak lagi mengenali benda-benda di sekitarmu, dan makhluk-makhluk di dekatmu tak lagi berbahasa yang sama. Udara yang kau hirup terlalu sesak, bumi berlebihan panasnya dan langit selalu berwarna kelabu. Kau merasa tak kenal lagi pada rumahmu, pada tempat itu, pada ruang tempatmu bangun tadi. Kau mencari sesuatu yang kau kenali agar kau merasa ada. Tetapi tanpa kata, tanpa bahasa yang bisa kau mengerti. Dan kau gelisah bukan main. Kau yang menganggap dirimu sendiri manusia yang paling cepat beradaptasi menjadi gelisah dalam perubahan. Kakimu yang biasanya ringan melangkah bersama bayanganmu, sekarang terpaku, tersaruk dan ikut dirundung Baca Selanjutnya...

Road Warrior di Desa Tertinggi di Jawa

Waktu adalah abadi ketika kita menyimpannya di dalam hati Sebagai road warrior, disyaratkan memiliki kelenturan menghadapi segala ruang. Road warrior adalah orang-orang yang telah menetapkan dalam hati, bahwa jalanan juga rumah, tempat belajar dan menemukan arti diri. Di beberapa akun social media, aku menyertakan sebutan ini di profilku, karena dalam pemahamanku hanya road warrior yang paham dan mencatat dalam hati mereka, kenyamanan adalah dimana waktu berhenti berdetak, ketika semesta menyampaikan pesannya lewat angin, dimanapun kaki dijejakkan. Beberapa waktu lalu, bersama suami dan kawan-kawan road warrior lainnya, aku menyambangi Dieng. Niat awal hanya ingin mengintip Baca Selanjutnya...

Tertawa Kala Susah, Menangis Waktu Bahagia

A short thought. Kita mungkin tak bisa menghitung berapa kali tertawa atau beberapa kali menangis. Tawa dan tangis adalah bagian dari kemelekatan kita pada emosi, pada hal-hal yang terjadi di luar kita dan sudah menjadi galibnya manusia. Banyak diantara kita yang telah hapal dengan segala alasan untuk menangis dan tertawa. Menangis saat sedih dan tertawa saat bahagia. Kita membiarkan definisi umum itu hidup dalam diri kita. Jika sedih, maka menangislah dan tanda bahagia kemudian didedahkan dengan tertawa. Tetapi, pernahkah kita berpikir, di luar dari definisi umum itu, kita punya pilihan sendiri untuk menunjukkan kapan kita harus tertawa atau menangis? Atau bahkan memilih untuk Baca Selanjutnya...

Lompatan Peradaban: Maju atau Mundur?

Di peradaban mana kita hidup sekarang? Sering dikatakan kita hidup di peradaban modern. Terminologi modern kemudian direferensikan pada penggunaan mesin sebagai 'budak' manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi didorong semaju-majunya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Pergerakan manusia berdampingan dengan mesin yang makin hari makin canggih saja. Dalam sehari saja, adakah kita pernah hidup tanpa mesin? Jujur harus aku akui, tanpa mesin, aku merasa hidup di zaman purba. Purba? Yah, purba secara normatif yang dikenal oleh banyak orang. Purba yang dikenal sebagai sebuah masa tanpa elektronik, tanpa mesin dan hanya mengandalkan manusia yang bekerja sama dengan alam semesta. Baca Selanjutnya...

Pelukis Luka

Aku memindai lantunan lukamu, dari segores warna kanvas tanpa huruf. Kata-kata yang kau simpan. Telah jadi sekam dalam bilik hati. Kau, yang menangis saat melukis. Menjadikan air mata bagian dari catmu. Mata memerah dengan tangan bergerak cepat, di atas kanvas kosong tanpa dosa. Telah kucatat, ketika kau tertawa, kau tinggalkan kanvas sepi warna. Bahkan tak ada yang tercipta. Tawamu kadang tanpa peringatan, tiba-tiba pecah. Bisa di tengah malam, di pagi buta atau di siang yang panas. Tapi tak pernah lama. Kau lalu terkatup dan mengutuki tawa. Ketika seharusnya kau sudah bisa duduk di atas balai-balai tawamu, diselubung semilir angin yang menyejukkan. Kau ripuh dalam diam. Baca Selanjutnya...

Ode to Serenity

Apa yang membuatmu merasa hidup? Helaan napas, langkah kakimu, atau desau sejuk angin di jiwamu? Semua itu membuatku merasa hidup. Ketiganya membuatku merasa bahwa aku manusia yang masih mempunyai tugas di semesta ini untuk tetap ada. Ketiganya, bukan salah satunya. Jika satu direnggut, maka dimensi kehidupan kurasakan menciut. Sejak nada kematian berdenting di sampingku, persis di sampingku, gemanya bersiar di kedalaman jiwaku.  Kehilangan seseorang dengan sangat mendadak, tanpa basa-basi, jalan kehidupanku berbelok arah. Menelikung ke lorong di saat awal dan melihat cahaya yang terang di ujungnya. Tak urung, banyak perubahan yang harus aku amini, sebagai bagian dari dimensi Baca Selanjutnya...

Sekali Niat, Semesta Mendengar

Pagi ini, sebuah niat terukir dalam pikiranku. Menyelesaikan kisah tentang Ai, perempuan dengan HIV positif untuk dikumpulkan bersama cerpen dari para perempuan lain dan dijadikan sebuah antalogi. Niat itu aku tuliskan di status BBM: Namaku Ai, Kisah Perempuan dengan HIV Positif. Begitu status itu terunggah, sebuah BBM langsung menyapa. Dari Fira, kawan semasa kuliah. Fira: "Itu buku, Mbak?" Icha: "Bukan, Fir. Cerpen." Fira: "Mau baca dong." Icha: "Ini lagi aku edit dulu." Fira: "Okay. Ini aku lagi bantu pelatihan Kespro IPPI*, Mbak. Duh, tidak ada satu pelatihan pun yang bebas acara nangis." Icha: "Di cerpenku aku justru mau lepaskan stigma itu. Perempuan Baca Selanjutnya...