Lompatan Peradaban: Maju atau Mundur?

Di peradaban mana kita hidup sekarang? Sering dikatakan kita hidup di peradaban modern. Terminologi modern kemudian direferensikan pada penggunaan mesin sebagai 'budak' manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi didorong semaju-majunya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Pergerakan manusia berdampingan dengan mesin yang makin hari makin canggih saja. Dalam sehari saja, adakah kita pernah hidup tanpa mesin? Jujur harus aku akui, tanpa mesin, aku merasa hidup di zaman purba. Purba? Yah, purba secara normatif yang dikenal oleh banyak orang. Purba yang dikenal sebagai sebuah masa tanpa elektronik, tanpa mesin dan hanya mengandalkan manusia yang bekerja sama dengan alam semesta. Baca Selanjutnya...
Share

Pelukis Luka

Aku memindai lantunan lukamu, dari segores warna kanvas tanpa huruf. Kata-kata yang kau simpan. Telah jadi sekam dalam bilik hati. Kau, yang menangis saat melukis. Menjadikan air mata bagian dari catmu. Mata memerah dengan tangan bergerak cepat, di atas kanvas kosong tanpa dosa. Telah kucatat, ketika kau tertawa, kau tinggalkan kanvas sepi warna. Bahkan tak ada yang tercipta. Tawamu kadang tanpa peringatan, tiba-tiba pecah. Bisa di tengah malam, di pagi buta atau di siang yang panas. Tapi tak pernah lama. Kau lalu terkatup dan mengutuki tawa. Ketika seharusnya kau sudah bisa duduk di atas balai-balai tawamu, diselubung semilir angin yang menyejukkan. Kau ripuh dalam diam. Baca Selanjutnya...
Share

Ode to Serenity

Apa yang membuatmu merasa hidup? Helaan napas, langkah kakimu, atau desau sejuk angin di jiwamu? Semua itu membuatku merasa hidup. Ketiganya membuatku merasa bahwa aku manusia yang masih mempunyai tugas di semesta ini untuk tetap ada. Ketiganya, bukan salah satunya. Jika satu direnggut, maka dimensi kehidupan kurasakan menciut. Sejak nada kematian berdenting di sampingku, persis di sampingku, gemanya bersiar di kedalaman jiwaku.  Kehilangan seseorang dengan sangat mendadak, tanpa basa-basi, jalan kehidupanku berbelok arah. Menelikung ke lorong di saat awal dan melihat cahaya yang terang di ujungnya. Tak urung, banyak perubahan yang harus aku amini, sebagai bagian dari dimensi Baca Selanjutnya...
Share

Sekali Niat, Semesta Mendengar

Pagi ini, sebuah niat terukir dalam pikiranku. Menyelesaikan kisah tentang Ai, perempuan dengan HIV positif untuk dikumpulkan bersama cerpen dari para perempuan lain dan dijadikan sebuah antalogi. Niat itu aku tuliskan di status BBM: Namaku Ai, Kisah Perempuan dengan HIV Positif. Begitu status itu terunggah, sebuah BBM langsung menyapa. Dari Fira, kawan semasa kuliah. Fira: "Itu buku, Mbak?" Icha: "Bukan, Fir. Cerpen." Fira: "Mau baca dong." Icha: "Ini lagi aku edit dulu." Fira: "Okay. Ini aku lagi bantu pelatihan Kespro IPPI*, Mbak. Duh, tidak ada satu pelatihan pun yang bebas acara nangis." Icha: "Di cerpenku aku justru mau lepaskan stigma itu. Perempuan itu Baca Selanjutnya...
Share

Jiwa, Pilihan Hidup dan Samsaranya

kehidupanmu yang kini adalah sebuah rentang untuk memperbaiki kehidupanmu yang lalu Selembar nyawa selalu baru dan satu, tetapi jiwa adalah energi yang telah hidup sejak masa lampau. Itu yang aku percaya. Terlepas dari institusi keyakinan (yang disebut agama) yang aku anut, aku percaya bahwa jiwa yang ada dalam diriku telah berkelindan pada masa-masa lampau. Jiwa yang kini menjadi penghuni tubuhku adalah percikan energi yang terus berdialektika mencapai moksanya, mencapai titik paling kulminasi lalu berpulang ke rumah abadi dan bercahaya gemilang di sana. Bukan sebuah kebetulan jika pada orang-orang tertentu, jiwaku ini menjadi mudah erat, bahkan pada perjumpaan pertama sekalipun. Baca Selanjutnya...
Share

Pohon Jambu yang Menyimpan Suara Kecil

Ketika kau masih kanak-kanak, kemana resah kau sembunyikan? art nouveau style tree Sejak kanak-kanak, banyak resah yang terangkum dalam hatiku. Resah a la kanak-kanak yang tersimpan sendiri dan tak bisa diungkapkan. Ringan saja, misalnya tentang kenapa perempuan banyak bermain dengan boneka? Kenapa papa dan mama harus bekerja?Kenapa aku harus mengaji? Hanya cuplik resah tentang banyak pertanyaan, ketika aku tak tahu bagaimana harus bertanya dan mencari jawabannya. Aku tumbuh dalam keluarga besar. Dua rumah yang disajikan satu. Ada 13 orang dan 3 generasi yang tinggal di dalamnya. Generasi nenek, generasi orang tua dan anak-anak. Dalam pertumbuhanku, aku tak banyak ingin tahu Baca Selanjutnya...
Share

Atas Nama Asmara

Pada suatu waktu yang disebut malam
Aku menebar kecemburuan pada bulan yang boleh mencapai kirana
Aku merepih pada embun yang boleh memeluk daun
Sesekali panas hatiku pada dua cicak yang bercumbu tanpa malu

Atmaku terburai, renik-renik dijumput waktu yang tak kupunyai
Ditingkahi siluet senyummu di tiap-tiap partikelnya
Jika ini memang samsaraku, atas nama asmara, aku ingin meminta maaf karena ingin memilikimu…tanpa batas waktu.

Share