Tunggal

Pada suatu hari kau merasa terasing. Seperti engkau tak lagi mengenali benda-benda di sekitarmu, dan makhluk-makhluk di dekatmu tak lagi berbahasa yang sama. Udara yang kau hirup terlalu sesak, bumi berlebihan panasnya dan langit selalu berwarna kelabu. Kau merasa tak kenal lagi pada rumahmu, pada tempat itu, pada ruang tempatmu bangun tadi. Kau mencari sesuatu yang kau kenali agar kau merasa ada. Tetapi tanpa kata, tanpa bahasa yang bisa kau mengerti. Dan kau gelisah bukan main. Kau yang menganggap dirimu sendiri manusia yang paling cepat beradaptasi menjadi gelisah dalam perubahan. Kakimu yang biasanya ringan melangkah bersama bayanganmu, sekarang terpaku, tersaruk dan ikut dirundung Baca Selanjutnya...

Road Warrior di Desa Tertinggi di Jawa

Waktu adalah abadi ketika kita menyimpannya di dalam hati Sebagai road warrior, disyaratkan memiliki kelenturan menghadapi segala ruang. Road warrior adalah orang-orang yang telah menetapkan dalam hati, bahwa jalanan juga rumah, tempat belajar dan menemukan arti diri. Di beberapa akun social media, aku menyertakan sebutan ini di profilku, karena dalam pemahamanku hanya road warrior yang paham dan mencatat dalam hati mereka, kenyamanan adalah dimana waktu berhenti berdetak, ketika semesta menyampaikan pesannya lewat angin, dimanapun kaki dijejakkan. Beberapa waktu lalu, bersama suami dan kawan-kawan road warrior lainnya, aku menyambangi Dieng. Niat awal hanya ingin mengintip Baca Selanjutnya...

The Truth of You

Kadang, bahkan diri sendiri, sulit menemukan definisi yang tepat atau menyatakan apa yang kita rasakan. Keriuhan pikiran, lalu lintas hal-hal yang terjadi di depan mata, kerap juga mengaburkan rasa yang sesungguhnya. Jujur terhadap diri sendiri kemudian lebih banyak diganggu oleh elemen-elemen pencitraan diri di mata orang lain. Lalu, dimana letak jati diri kita yang sesungguhnya? Yang tak tergoyahkan oleh simpang siurnya atmosfir? Jawaban sederhana yang makin kuyakini hari ini adalah: di nurani. Tetapi, dimana nurani sesungguhnya bersemayam? Beberapa waktu lalu, bersama tim Semut Creative, aku melakukan tugas dokumentasi untuk klien tetap kami, The Source of Body, Mind and Soul Baca Selanjutnya...

#TerSmurf

Bertubuh biru, kecil, hidup secara kolektif, memiliki panggilan sesuai karakter dan yang paling menarik adalah memiliki kode bahasa unik, dengan penggantian kata kerja atau kata benda menjadi 'smurf'. Kadang, aku pun ikut tersmurf oleh mereka.  Sudah lama aku jadi penggemar Smurf. Mengoleksi beberapa komiknya dan menyukai cara interaksi mereka. Mereka bekerja dan diberi nama sesuai kemampuan dan karakter. Dalam Bahasa Indonesia, ada Smurf Gembul, Smurf Ceroboh, Smurf Kacamata, Smurf Genit, Smurf Tukang Kayu, Smurf Tukang Roti, juga Papa Smurf. Tidak ada strata kelas dari kehidupan mereka. Semua sama dan saling mengisi. J.Marc Schmidt, seorang penulis kelahiran Australia pernah Baca Selanjutnya...

[Pecinan Indonesia] #1 Glodok, Kota Kecil di Metropolitan

Catatan tentang Pecinan Indonesia ini merupakan sebuah rangkuman pribadi dari sebuah project dokumenter yang kami buat dan ditayangkan di salah satu televisi lokal pada periode September 2011 hingga Februari 2012. Dari total 13 episode yang kami produksi secara tim, beberapa episode jatuh ke pangkuanku sebagai produser. Ini adalah kisah di balik jalan-jalanku dalam membuat Program China Town Indonesia. Dalam serial catatan tentang Pecinan Indonesia ini, aku tidak akan berkisah tentang wisata perjalanan dari kota-kota yang aku kunjungi, karena itu bisa kalian dapatkan dari blog-blog lain. Yang kubagikan di sini adalah rasa dan pengalamanku mendatangi tempat-tempat tersebut. Sebuah Baca Selanjutnya...

Lompatan Peradaban: Maju atau Mundur?

Di peradaban mana kita hidup sekarang? Sering dikatakan kita hidup di peradaban modern. Terminologi modern kemudian direferensikan pada penggunaan mesin sebagai 'budak' manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi didorong semaju-majunya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Pergerakan manusia berdampingan dengan mesin yang makin hari makin canggih saja. Dalam sehari saja, adakah kita pernah hidup tanpa mesin? Jujur harus aku akui, tanpa mesin, aku merasa hidup di zaman purba. Purba? Yah, purba secara normatif yang dikenal oleh banyak orang. Purba yang dikenal sebagai sebuah masa tanpa elektronik, tanpa mesin dan hanya mengandalkan manusia yang bekerja sama dengan alam semesta. Baca Selanjutnya...

Gua dan Gerakan Laten Semesta

Aku punya kesukaan baru. Menyusuri perut bumi melalui gua. Cave Tubing, demikian ia juga disebut. Belum mencandu, tetapi percobaan pertama membuatku ingin lagi. Percobaan kedua, dengan rute lebih panjang dan jeram di dalam gua, membuatku makin menyatakan suka. Awalnya aku belum bisa membedakan antara Caving dengan Cave Tubing. Setelah menyelisik lebih dalam, rupanya cave tubing adalah perpaduan antara caving (menyusuri gua) dengan rafting menggunakan rubber tube (ban). Nah, inilah yang kusuka, mengapung di atas ban, mengalir pelan, mengintip ‘kerja’ semesta di dalam bumi. Di dalam sana, ketakjuban bukan hanya pada stalagtit yang menjulur, ada yang runcing, ada yang tumpul dan Baca Selanjutnya...