Category Archive: ladang baca

Ibu Rumah Tangga, Sebuah Profesi Tanpa Henti

I have become a housewife and there is no better job. (Quote by - Celine Dion) Lepas kuliah, saya mulai berkenalan dengan dunia profesi. Di usia sedewasa itu, saya tak pernah menetapkan harus menggeluti profesi apa. Saya hanya merasakan dan membiarkan semuanya mengalir dengan mengambil kesempatan-kesempatan yang lewat di depan saya. Mungkin karena membiarkannnya mengalir sebegitu rupa, maka saya pun menyelami beberapa kali pergantian profesi dan pekerjaan. Pekerjaan pertama saya adalah seorang jurnalis tabloid gosip. Pekerjaan kedua adalah copywriter. Kesempatan selanjutnya membawa saya menjadi editor sebuah terbitan berbahasa Inggris. Langkah berikutnya, saya ‘tersesat’ Baca Selanjutnya...

#1 Selamat (Bag. Akhir)

lanjutan dari #1 Selamat (Bag. Tengah) MAKROKOSMOS DAN MIKROKOSMOS Anakku yang tak lama lagi akan lahir, Angka 7, usiamu di kandunganku saat ini, adalah angka yang istimewa. Tak hanya leluhurmu yang memberikan angka 7 pemaknaan baik. Bahkan di dunia, angka 7 juga mewakili keindahan. Pelangi, yang menurutku adalah fenomena terindah setelah senja, memiliki 7 warna. Lalu banyaklah juga kisah tentang angka 7 di semesta ini, jumlah benua, jumlah lubang di tubuh manusia, jumlah putaran dalam adat pernikahan di India, jumlah penjuru mata angin bagi bangsa Maya, jumlah tahun yang dibutuhkan Buddha untuk mencari pencerahan, jumlah titik subtil bagi para sufi, semuanya berangka 7. Baca Selanjutnya...

#1 Selamat (Bag. Tengah)

lanjutan dari #1 Selamat (Bag. Awal)  ANGKA DAN AKSARA Sebelum aku mengisahkan tentang angka 7 padamu, baiknya kau mengetahui bagaimana Jawa mengindahkan angka atau bilangan. Baiknya pula aku mulai berbicara dari aksara, karena dari aksara muncul bahasa dan budaya tulis, dimana bilangan termasuk di dalamnya. Atau bahkan bisa jadi bilangan sebenarnya lebih dahulu muncul. Tetapi keduanya bertalian erat dengan idiom yang menyatakan, literatur adalah sebuah simbol budaya suatu wilayah. Tengok literaturnya, maka kita bisa memaknai budayanya. Soal literatur, aku tak menemukan sumber data yang akurat tentang sejak kapan nenek moyang kita di Jawa mengenal aksara. Tetapi di Indonesia, Baca Selanjutnya...

#1 Selamat (Bag. Awal)

[seri Aku Daun yang Menantikan Embun Tiba, sebuah catatan untuk calon anakku]   Selamat, Nak. Kau sudah berusia 7 bulan dalam rahimku saat ini. Aku sengaja menunggu untuk memulai catatan ini saat usiamu 7 bulan. Secara medis, usia kandungan 7 bulan, awal dari semester terakhir kehamilan, dikatakan cukup tua. Pengalaman dari mereka yang telah melahirkan anak, dimulai dari usia ini, perkembangan janin menjadi jauh lebih pesat dari sebelumnya. Inilah saat dirimu melesat untuk bertumbuh dengan sempurna. Aku tak dapat melihatmu secara langsung, tetapi dari referensi yang aku baca, ukuran kepalamu mulai proposional dengan tubuhmu. Dahi dan alismu sudah bertumbuh sempurna. Baca Selanjutnya...

Selfie

Musuh terbesar adalah kacamata ego yang melihat hanya pada diri sendiri, melewatkan kepentingan bersama, lalu merasa berhak tak mengikutsertakan orang lain dalam frame berpikirnya. Ini adalah selfie akut (Status Facebook Lisa Febriyanti, 1 April 2014) Pagi tadi aku tepekur tentang selfie. Sebuah kata yang sedang trend, dilakukan mulai dari politisi, selebritis hingga anak-anak. Awalnya kata itu tak terlalu menarik bagiku, karena terus terang aku tak terlalu suka melakukannya, meskipun jujur pernah aku mengambil gambar diriku sendiri dalam jarak dekat karena ingin tahu bagaimana tampangku saat itu atau ikut orang yang sedang selfie, atas nama kemeriahan dan semua orang ingin tampil Baca Selanjutnya...

Bakti Hati

setiap hati adalah padang kurusetra
savana bagi dharma dan angkara
kebaikan dan keburukan
terpantul-pantul pada permukaan

setiap hati adalah jendela
memandang jeda
membentangkan asa
dan menengok jiwa

setiap hati adalah tabir
yang bertakbir pada kidung takdir
doa-doa ketika mimpi tersingkir
catatan hari yang terukir

setiap hati punya bakti
menyulam diri sejati

surabaya, agustus, 2013

Share

Selaksa Kisah dari Foto yang Menguning

print or not print. its not just a choice "Kita ini hidup di era yang paperless! Tak perlu terlalu banyak buang-buang kertas atau cetakan. Semua sudah kami simpan dalam file digital," tandas kami ketika ada anggota keluarga yang menanyakan bentuk cetak foto-foto pernikahan kami. Kecuali foto dengan keluarga inti dan foto berdua yang dirasa pas dengan tujuan dipajang di tembok rumah, kami memutuskan tidak mencetak keseluruhan momentum pernikahan yang diabadikan dalam foto. Jika rindu pada momentum itu, kami bisa segera memandanginya melalui file yang sudah di-back up di beberapa tempat. Malam ini, era paperless yang kupercayai itu sedikit goyah. Adalah kumpulan foto-foto tua yang Baca Selanjutnya...
Loading...
X