<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ladangkata &#187; ladang budaya</title>
	<atom:link href="http://ladangkata.com/category/art-and-culture/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jun 2010 11:15:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengenang Sukasman: Keteguhan adalah Nama Tengahnya</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/10/29/mengenang-sukasman-keteguhan-adalah-nama-tengahnya/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/10/29/mengenang-sukasman-keteguhan-adalah-nama-tengahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 02:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku mendapatkan berita duka yang cukup menghenyakkan. Sukasman, atau lebih dikenal sebagai Mbah Kasman telah berpulang ke rumah abadinya pukul tujuh pagi di rumah sakit Pantirapih, Jogja. Indonesia kehilangan satu lagi sosok budayawan tangguh yang teguh pada karyanya. Berani dijauhi ketenaran untuk mempertahankan prinsipnya. Mbah Kasman adalah legenda di dunia wayang dan perdalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-1003 alignleft" title="sukasman" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/10/sukasman.jpg" alt="sukasman" width="202" height="300" />Hari ini aku mendapatkan berita duka yang cukup menghenyakkan. Sukasman, atau lebih dikenal sebagai Mbah Kasman telah berpulang ke rumah abadinya pukul tujuh pagi di rumah sakit Pantirapih, Jogja. Indonesia kehilangan satu lagi sosok budayawan tangguh yang teguh pada karyanya. Berani dijauhi ketenaran untuk mempertahankan prinsipnya. Mbah Kasman adalah legenda di dunia wayang dan perdalangan yang telah memberikan nuansa dan warna indah pada bentuk-bentuk wayang. Ia menamai pemikirannya sebagai wayang ukur, sebuah hasil pemikiran terhadap filosofi wayang dan realitas-realitas yang terjadi pada manusia. Ia menyatukan das sollen dan das sein dengan begitu indahnya.</p>
<p>Aku pernah menjumpainya suatu waktu. Sosoknya yang unik membuatku memutuskan mengangkat profil Mbah Kasman di majalahku di Jogja dulu, Andong. Perjumpaan dengannya adalah ruang unik yang tak bisa kulupa. Mbah Kasman menjelaskan kerumitan-kerumitan wayang pada kepalaku yang awam ini, berbekal kapur yang ditorehkan di atas mejanya. Semua kalimatnya tegas dan susah untuk ditelikung begitu saja. Aku lebih banyak mendengarkan penjelasannya, sembari ia menunjukkan koleksi-koleksi wayang yang ia miliki.</p>
<p>Dari tubuhnya sudah jelas terlihat ia menguarkan aura magis yang membuat orang akan menekuk di hadapannya. Begitu pula aku yang semula mematok waktu hanya dua jam wawancara, menjadi empat jam duduk di hadapannya. Meski hanya sekali berjumpa, Mbah Kasman bukan orang yang mudah dilupakan, terlebih dengan segala apa yang dilakukannya untuk pengembangan budaya Indonesia.</p>
<p>Di bawah ini adalah petikan wawancaraku dengannya, yang sudah dimuat juga di Majalah Andong. Hari ini aku tertunduk, mengenang laki-laki tua dengan rambut penuh uban yang telah banyak mewarnai khasanah budaya Indonesia ini pergi menuju tempat barunya. Semoga damai di sana, Mbah Kasman.</p>
<p><span id="more-1000"></span></p>
<p><strong>Budaya Klasik yang Mendunia</strong></p>
<p>Sukasman, dikenal sebagai seniman yang idealis dan teteg pada pendirian. Ciptaannya yang membahana adalah <strong>wayang ukur</strong>, hasil penjelajahannya pada bentuk wayang, yang menurutnya telah mengalami evolusi sangat panjang.</p>
<p><strong>Kenapa Anda memilih wayang?</strong><br />
Bapak saya dulu suka menggambar wayang. Sejak kecil saya sering utak atik hasil gambar wayang milik Bapak. Karena itu saya jadi sangat menyukai wayang. Yang unik dari wayang bagi saya adalah bentuk wajahnya yang oval, berbeda dengan ukuran simetris wajah manusia. Dari situ kemudian saya mempelajari tentang wayang. Dan yang saya dapatkan, wayang yang paling kuno ternyata berasal dari Kedu. Bentuknya diambil dari relief-relief candi yang kemudian dipentaskan melalui pertunjukkan wayang beber. Kemudian dalam perjalanannya, dibawa ke Surakarta hingga Jogja. Wayang, sebagai salah satu kesenian Jawa, menurut saya merupakan gambaran bentuk nenek moyang kita dahulu. Dan dalam ceritanya selalu ada pelajaran-pelajaran lisan yang tersembunyi dan tidak dikatakan terang-terangan. Ini kan sesuai dengan budaya Jawa.</p>
<p><strong>Bagaimana proses terciptanya wayang ukur?</strong><br />
Begitu lulus dari ASRI tahun 1962, saya ke Jakarta dan bertemu dengan pemborong yang akhirnya bisa membawa saya menginjakkan kaki di Amerika. Di sana, saya malah dibuat malu karena ternyata budaya klasik wayang itu sangat dihargai di negeri orang. Di negeri sendiri kok malah tidak banyak peminatnya.</p>
<p>Kemudian saya pindah ke Belanda, dan meneruskan eksperimen saya di sana. Saya sering memadukan unsur-unsur Barat di wayang eksperimen saya itu.</p>
<p>Kembali ke Indonesia tahun 1974, saya langsung menghubungi penatah wayang untuk mengerjakan wayang eksperimen saya itu. Eksperimen ini ternyata langsung dipamerkan di Pekan Wayang Indonesia.</p>
<p>Pada saat Museum Wayang dibuka di tahun yang sama, pimpinan museum saat itu Bapak Budiharjo meminta saya memberikan nama untuk wayang eksperimen tersebut. Karena saya bukan orang sastra yang pandai memilih nama yang indah, maka saya sebut saja wayang itu sebagai Wayang Ukur. Ini sesuai dengan cara kerja dan proses pembuatannya, yaitu tidak menurutkan ukuran baku namun terus mencari ukuran-ukuran baru. Karena, dari pengalaman dan buku yang saya baca, tiap benda selalu memiliki ukuran sendiri sesuai maksudnya.</p>
<p><strong>Hal-hal apa saja yang dipunyai Wayang Ukur?</strong><br />
Banyak orang yang mengatakan bahwa segala hal tentang wayang sudah ada pakemnya, dan tidak mungkin diperbarui lagi. Tapi itu tidak selalu benar menurut saya. Makanya saya sering dipinggirkan karena mempunyai pendapat yang berbeda.</p>
<p>Wayang ukur, saya buat dalam keterbatasan bentuk wayang purwa yang sudah jadi, memiliki keunikan tersendiri dari segi bentuk dan warna. Namun semua itu dilandasi dengan filosofi seni rupa dan masih tetap mengandung nilai-nilai agung di dalamnya. Semua “penyimpangan” itu sudah diukur secara cermat. Selain bentuk, Wayang Ukur juga memiliki keunikan dalam hal cerita dan teknik pertunjukkan.</p>
<p>Bentuk Wayang Ukur lebih disesuaikan dengan kondisi realis manusia, namun tetap memiliki simbol. Seperti tokoh Sumba, yang saya buat bentuk dagunya yang agak ke atas, seperti orang sombong. Karena dalam cerita saya Sumba itu wataknya sombong. Atau untuk penggambaran dewa, saya beri warna ungu muda. Warna yang menggambarkan dunia atas yang berbeda dengan dunia bawah.</p>
<p>Dalam bentuk cerita, pertunjukkan Wayang Ukur gubahan saya hanya memiliki durasi sekitar dua jam, namun tidak mengurangi esensi ceritanya.</p>
<p><strong>Bisakah digambarkan bagaimana pementasan Wayang Ukur?</strong><br />
Wayang Ukur dipentaskan dalam bahasa Indonesia. Ceritanya masih banyak yang mengambil lakon kisah Mahabarata, namun saya imbuhi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang up to date. Karena itu, sampai sekarang saya membuat kliping koran tentang berbagai hal yang menarik.</p>
<p>Agar semakin menarik, karena kebetulan keponakan saya bekerja di sebuah perusahaan jasa lighting dan sound system, pementasannya kemudian menggunakan ratusan lampu yang disesuaikan dengan alur cerita. Bahkan saya sendiri sering jadi operator lampunya. Ada pula tokoh wayang yang diperankan oleh manusia hadir dalam kisahnya sehingga pementasan bisa terkesan hidup. Saya juga menambahkan dekoratif panggung dari fiberglas rancangan saya sendiri.</p>
<p><strong>Dalam petualangan Anda di dunia wayang, hal apa yang paling berkesan?</strong><br />
Saat melakukan pementasan di luar negeri memberikan kesan mendalam bagi saya. Terutama saat di Vancouver, Kanada. Di sana hampir semua seniman besar seluruh dunia berkumpul untuk berbagi ilmu. Dan setelah itu saya bisa memborong satu set gamelan yang saya idamkan.</p>
<p>Tanggal Lahir: Jogjakarta, 10 April 1937<br />
Nama orang tua: Bapak: Zainal (pengusaha batik), Ibu: Sudilah (masih keturunan Hamengkubuwono I)<br />
Penghargaan untuk Wayang Ukur:</p>
<p>1986: Diundang ke Festival Kesenian Dunia di Vancouver, Kanada<br />
2000: Diundang ke Union Internationale de la Marrionetter-UNIMA di Magdeburg, Jerman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/10/29/mengenang-sukasman-keteguhan-adalah-nama-tengahnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Jogja Fashion Week 2009] Boedaja in Motion</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/08/15/jogja-fashion-week-2009-boedaja-in-motion/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/08/15/jogja-fashion-week-2009-boedaja-in-motion/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 06:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ladang cinta indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[Budaya, kecantikan dan keceriaan, semua tumbuh jadi satu dalam Jogja Fashion Carnival, 5 Agustus 2009 lalu. Jogja Fashion Carnival adalah salah satu rangkaian kegiatan Jogja Fashion Week 2009.  Arak-arakan yang memadukan fashion dan budaya ini meninggalkan berkas gambar di kamera saya, beberapa diantaranya di bawah ini:

Judul: Sang Putri dan Matahari
Salah seorang peserta Jogja Fashion Carnival [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Budaya, kecantikan dan keceriaan</strong>, semua tumbuh jadi satu dalam Jogja Fashion Carnival, 5 Agustus 2009 lalu. Jogja Fashion Carnival adalah salah satu rangkaian kegiatan Jogja Fashion Week 2009.  Arak-arakan yang memadukan fashion dan budaya ini meninggalkan berkas gambar di kamera saya, beberapa diantaranya di bawah ini:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-large wp-image-926 aligncenter" title="picture12" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture12-1024x803.jpg" alt="picture12" width="476" height="371" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Sang Putri dan Matahari</strong><br />
<em>Salah seorang peserta Jogja Fashion Carnival yang duduk di kereta ditempa matahari sore, beriringan persis di depan Kraton Jogja, menunggu tiba waktunya diarak.</em></p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-911"></span></p>
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-921" title="picture22" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture22-692x1024.jpg" alt="picture22" width="399" height="590" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Sepasang Penari</strong><br />
<em>Atraksi tari di tengah karnaval</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter size-large wp-image-917" title="picture3" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture3-690x1024.jpg" alt="picture3" width="400" height="590" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul:Indian Batik</strong><em><br />
Peserta Carnaval, meski dengan aksi Indian tetap tak melupakan batik.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-929" title="picture5" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture5-1024x675.jpg" alt="picture5" width="554" height="364" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Panggung Batik</strong><br />
<em>Modifikasi desain batik di panggung Jogja Fahion Week 2009</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-930" title="picture4" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/picture4-745x1024.jpg" alt="picture4" width="400" height="547" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Judul: Hura-Hura Hitam Putih</strong><br />
<em>Semburat ceria salah satu peserta karnaval.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Semua gambar di atas ini diikutsertakan dalam <a href="http://www.xl.co.id/tabid/174/language/id-ID/newsId/10378/Default.aspx." target="_blank"><strong>XL JFW 2009 – PHOTOBLOG  COMPETITION</strong></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>-icha/Nikon D40x-<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/08/15/jogja-fashion-week-2009-boedaja-in-motion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Perih Fitri Nganthi Wani</title>
		<link>http://ladangkata.com/2009/06/17/inspirasi-perih-fitri-nganthi-wani/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/17/inspirasi-perih-fitri-nganthi-wani/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 03:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=794</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak perih, ketika terus berada dalam situasi gamang, ketidaktahuan dan diberangus kebersamaanya dengan seseorang yang begitu dikasihi? Fitri Nganthi Wani, baru berusia 11 tahun ketika ayahnya, Wiji Thukul dihilangkan paksa oleh Orde Baru. Hingga sekarang, Wiji Thukul belum pula kembali ke keluarganya, belum kembali bercanda dan berpelukan dengan kawan-kawannya, dan belum pula kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Siapa yang tidak perih, ketika terus berada dalam situasi gamang, ketidaktahuan dan diberangus kebersamaanya dengan seseorang yang begitu dikasihi? Fitri Nganthi Wani, baru berusia 11 tahun ketika ayahnya, Wiji Thukul dihilangkan paksa oleh Orde Baru. Hingga sekarang, Wiji Thukul belum pula kembali ke keluarganya, belum kembali bercanda dan berpelukan dengan kawan-kawannya, dan belum pula kembali ke puisi-puisinya yang sederhana, realistis sekaligus indah, meski kerap menyuarakan ketertindasan. Dan perih gadis itu, bergema ke telinga, menyodok relung hati, lewat puisi-puisinya.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-full wp-image-797 aligncenter" title="picture1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/picture1.jpg" alt="picture1" width="573" height="381" />Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah<br />
</em></p>
<p>Peluncuran buku puisi &#8220;Selepas Bapakku Hilang&#8221; karya Fitri Nganthi Wani di Graha Bhakti Budaya semalam, sungguh menjadi sebuah pesan bahwa perih itu bukan milik Wani seorang. Kawan-kawan, simpatisan dan semua yang pernah mengenal Wiji Thukul ikut terguncang dan tak ingin berhenti berteriak, &#8220;kembalikan kawan kami!&#8221;.  Warna ini yang membuat acara peluncurannya menjadi spektakuler. Adalah Iwan Fals, Oppie Andaresta, Sitok Srengenge dan PM Toh, sederet nama besar yang ikut membacakan dan melagukan puisi Wani pada malam itu. Kemasannya bukan hanya sekadar peluncuran buku, tapi merupakan paduan hiburan sekaligus pesan pengingat. Lewat beberapa aliran lagu, mulai balada, rock, acapella, R&amp;B, kumpulan kata-kata tentang HAM, diperkaya tata lampu dan tata suara a la konser musik, mengalun begitu menawan dan membuat badan saya ikut bergoyang. Eits, bukan saya saja kok, sebelah saya Nia Damayanti ikut menaikkan tangan ke atas dan di sebelah saya yang lain, Daniel Mahendra, saya yakin juga ikut menggoyangkan kepala dan mengetukkan kakinya mengikuti irama, meskipun ringan saja, tak seheboh kami.</p>
<p><span id="more-794"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-798 aligncenter" title="picture21" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/picture21.jpg" alt="picture21" width="529" height="353" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>seluruh pendukung acara</em></p>
<p>Oke, itu satu hal yang membuat acara peluncuran begitu semarak. Hal penting lainnya adalah bagaimana Wani menggarap puisinya? Nama Wiji Thukul jelas memberikan semburat tebal bagi perjalanan Wani. Baik sebagai ayah maupun sebagai inspirator. Puisi-puisi Wani memiliki gaya yang hampir tak beda dengan ayahnya. Membumi dan menggunakan bahasa yang tidak ambigu. Tapi, dari membaca kumpulan puisinya, saya menilai, Wani berani menambahkan warna tersendiri, warna pemikiran gadis seusianya yang mencari makna cinta tanpa harus dramatis dan mendayu-dayu, memendam amarah pada rezim yang membuat keluarganya hingga kini kehilangan sosok ayah, anak yang rindu ayahnya, serta kekaguman pada ibunya. Wani berani berbicara atas namanya sendiri di panggung puisi. Bolehlah kita tengok satu puisinya yang dibacakan dengan sangat melangut di atas panggung semalam,</p>
<p><em><strong>RINDU ADIK PADA AYAH</strong><br />
Adikku sayang,<br />
Menangislah sejadimu<br />
Luapkan segala emosimu<br />
Tapi jangan kau tanya<br />
Di mana ayah kita<br />
Karena kakak tak tahu<br />
Di mana ia berada</em></p>
<p><em>Adikku sayang,<br />
Inilah nasib kita<br />
Janganlah putus asa</em></p>
<p><em>Apa yang kau inginkan dari anak lain?<br />
Mereka bisa sekolah<br />
Kau pun juga bisa<br />
Mereka bisa mainkan drum dan gitar<br />
Kau pun juga bisa</em></p>
<p><em>Apa yang kau inginkan dari mereka<br />
Kaupun bisa miliki semuanya<br />
Namun jangan kau tanya<br />
Mengapa kita tidak punya ayah<br />
Karena ibu pernah berkata<br />
Ayah kita bukan hanya ayah kita<br />
Ia kini milik banyak orang<br />
Karena ia putuskan menjadi pejuang</em></p>
<p><em>Dari itu semua, adikku<br />
Janganlah lemah walau ayah tak ada<br />
Jadikanlah semua ini awal<br />
Dari perjalanan hidupmu<br />
Untuk menjadi lelaki sejati dan pemberani</em></p>
<p><em>(7 Desember 2005)</em></p>
<p>Bisa dibayangkan emosi yang meruyak dalam diri gadis kelahiran 6 Mei 1989 itu. Sebagai kakak, yang hatinya remuk, ia berusaha mendorong adiknya, Fajar Merah, yang juga marah. Mendulangi adiknya dengan serpih kekuatan  agar sebagai satu-satunya laki-laki yang masih bertahan dan menunggu tetap tegar. Semalam, diiringi gitar Fajar Merah, Wani membacakan puisi di atas dengan sangat sangat sangat menyentuh. Bibir saya terkatup, merinding dengan lengking suara dan intonasinya yang pas. Ah Wani!</p>
<p>Di tengah marahnya, Wani tetap gadis biasa yang merasakan cinta. Di buku kumpulan puisinya bertebaran puisi-puisi tentang cinta, yang lagi-lagi sederhana namun indah. Mari, saya cuplik satu diantaranya:</p>
<p><em><strong>KIRA-KIRA</strong><br />
Kira-kira 3 taun yang lalu<br />
Kita berdekatan</em></p>
<p><em>Kira-kira 2 tahun yang lalu<br />
Kita jadian</em></p>
<p><em>Kira-kira 1 tahun yang lalu<br />
Kita bertengkar</em></p>
<p><em>Kira-kira 11 bulan yang lalu<br />
Kita bermaafan</em></p>
<p><em>Kira-kira 1 bulan yang lalu<br />
Kau kurindukan</em></p>
<p><em>Kira-kira 9 jam yang lalu<br />
Kita berpelukan</em></p>
<p><em>Kira-kira 3 jam yang lalu<br />
Pada saat mendung kelabu<br />
Ku ingin lagi bertemu</em></p>
<p><em>Kira-kira 5 menit yang lalu<br />
Ku bertanya padamu</em></p>
<p><em>Kira-kira&#8230;<br />
Maukah kau hidup bersamaku?</em></p>
<p><em>(7 Februari 1005)</em></p>
<p>Tak banyak kata mendayu,<em> melow</em> dan <em>lebay</em> dalam kletik-kletik puisi cintanya. Wani menuturkan keberaniannya dalam cinta justru dengan cara yang sederhana, namun penuh penekanan dan kepastian. Puisi cinta tak nampak romantis di tangannya, tapi menunjukkan pemahamannya yang mendalam, bahkan untuk gadis seusianya. Wani menyoal cinta dengan logika, seperti satu bait puisinya yang berjudul Sesaat Tentang Cinta,</p>
<p><em>Sekarang gadis ini menyimpulkan<br />
Cinta bagai pelajaran matematika yang membingungkan<br />
Namun dengan logika<br />
Cinta akan ada jawabannya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-full wp-image-799 aligncenter" title="picture31" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/picture31.jpg" alt="picture31" width="550" height="367" />Opening Act<br />
</em></p>
<p>Baru 20 tahun usianya, tapi inspirasi perihnya membawa kematangan berpikir dan mencipta kata dengan berani, mendalam namun tetap sederhana. Beberapa panggung budaya dan kemanusiaan pernah menjadi saksi lantang puisinya, diantaranya Malam Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2003. Wani sudah menetapkan garisnya. Tetaplah berani, Wani!</p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/17/inspirasi-perih-fitri-nganthi-wani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dia Yang Tetap Setia</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/11/05/dia-yang-tetap-setia/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/11/05/dia-yang-tetap-setia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 15:21:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/11/05/dia-yang-tetap-setia/</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore, di kampung halaman, ditemani gerimis di luar sana, samar-samar saya mendengar sebuah kidung khas Suroboyo. Mungkin dari sebuah radio antik milik tetangga saya. Yang terdengar adalah suara khas seorang laki-laki sedang menyenandungkan parikan. Segera saya hapal pemilik suara itu: CAK KARTOLO. 
Bagi kawan-kawan yang pernah tinggal di Surabaya pada era 80-90an, pasti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pada suatu sore, di kampung halaman, ditemani gerimis di luar sana, samar-samar saya mendengar sebuah kidung khas Suroboyo. Mungkin dari sebuah radio antik milik tetangga saya. Yang terdengar adalah suara khas seorang laki-laki sedang menyenandungkan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Parikan" target="_blank">parikan</a><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Parikan" target="_blank">.</a> Segera saya hapal pemilik suara itu: <a href="http://profiles.friendster.com/kartolocs" target="_blank">CAK KARTOLO. </a></em></p>
<p><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/11/kartolo.jpg" alt="kartolo" align="right" height="405" width="270" />Bagi kawan-kawan yang pernah tinggal di Surabaya pada era 80-90an, pasti mengenal Kartolo cs. Bersama dengan kawan-kawannya: Basman, Blonthang, Sapari, Sokran dan isterinya sendiri, Tini, mereka menyatu dalam grup <a href="http://sawunggaling.wordpress.com/" target="_blank">kesenian karawitan Sawunggaling</a>. Mereka dengan lincahnya menghibur dengan guyonan khas Suroboyo, baik melalui pertunjukan seni visual seperti <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ludruk" target="_blank">ludruk</a>, maupun lewat siaran-siaran radio.</p>
<p>Saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan dengan begadang semalaman di kamar saat membuat tugas kuliah maupun skripsi. Di saat radio lain hanya berbunyi sssssssssttttttttttttttttttttttttt, saya mencari gelombang yang menyiarkan guyonan Kartolo cs itu. Sembari mengerjakan tugas, saya bisa tertawa terpingkal-pingkal sendiri mendengarkan guyonan itu. Jadi kawan yang meriah sembari bergelut dengan diktat kuliah. Langgamnya mengalun dalam irama yang gemulai sekaligus tegas, memberikan ciri khas pada budaya Jawa Timuran.</p>
<p><span id="more-309"></span></p>
<p>Kartolo, bisa dibilang salah satu tokoh kesenian yang hingga saat ini tetap teguh pada jalurnya. Coba tanya sama masyarakat Surabaya, jika bicara Jula Juli Suroboyo, pasti langsung tersebut nama Kartolo. Tak heran, ini karena ia mulai berkiprah sejak tahun 60an dan hingga saat ini, sebuah stasiun televisi lokal di Surabaya masih menyelipkan slotnya untuk ruang bagi Kartolo cs.</p>
<p>Dialah salah satu legenda masyarakat Jawa Timur. Namun, jangan dikira setelah terbaiat menjadi sang legenda dia pun membumbung tinggi. Sepanjang pengetahuan saya, Kartolo masih terus berpijak di gaya tradisional parikan dan ludruk. Dan tak pernah berpaling dari situ. Namun, ia lincah dalam mengangkat<em> local content</em> menjadi sebuah lawakan yang segar dan tak pernah lekang oleh jaman.</p>
<p>Saat ini, grup kesenian karawitan Sawunggaling hanya tinggal Kartolo, Tini dan Sapari. Sedangkan Basman, Bonthang dan Sokran sudah berpulang ke Rahmatullah. Meskipun demikian, Kartolo sebagai motor grup, masih terus berkiprah. Seperti yang saya kutip di friendsternya: &#8220;<em>setia melestarikan lawakan gaya ludrukan&#8221;.</em><span style="text-decoration: underline"></span></p>
<p><span style="font-style: italic"> yu painten ketiban klopo</span><br style="font-style: italic" /><span style="font-style: italic"> cekap semanten kidungan kulo<br />
(kartolo)</span></p>
<p>gambar diambil dari <a href="http://www.friendster.com/photos/15360112/0/103634834" target="_blank">sini</a></p>
<p>*sambil dengerin kartolo <a href="http://sawunggaling.wordpress.com/" target="_blank">di sini</a></p>
<p>tautan:</p>
<p><a href="http://www.suarapembaruan.com/News/2006/07/10/Personal/per01.htm" target="_blank">Profil Kartolo di media </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/11/05/dia-yang-tetap-setia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suroboyo, Cuk!</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 07:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/</guid>
		<description><![CDATA[
Ah..Surabaya. Tak ada kota seperti Surabaya. Maksud saya bukan topologi kotanya atau juga keadaan geografisnya. Surabaya sih sama dengan kota-kota metropolitan lain, dengan segala permasalahannya, dengan segala kemajuannya. Tapi khas nya itu loh, yang membuat saya berani bilang there&#8217;s no city like Surabaya.
Salah satu yang khas dari Surabaya adalah dialeknya. Letak geografisnya di pesisir, membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center" align="center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/05/bambu-runcing.jpg" alt="bambu runcing" height="467" width="350" /></p>
<p><em>Ah..Surabaya. Tak ada kota seperti Surabaya. Maksud saya bukan topologi kotanya atau juga keadaan geografisnya. Surabaya sih sama dengan kota-kota metropolitan lain, dengan segala permasalahannya, dengan segala kemajuannya. Tapi khas nya itu loh, yang membuat saya berani bilang there&#8217;s no city like Surabaya.</em></p>
<p>Salah satu yang khas dari Surabaya adalah dialeknya. Letak geografisnya di pesisir, membuat Surabaya menjadi tempat akulturasi budaya. Dan yang lebih mengedepan adalah kasarnya orang-orang di pesisiran. Dalam langgam bahasa Jawa, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek" target="_blank">dialek</a> Surabaya selalu diiringi dengan  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek" target="_blank"></a><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logat" target="_blank">logat</a> yang keras dan kasar. Letaknya pada penekanan kata saat pengucapannya.</p>
<p><span id="more-179"></span></p>
<p>Beberapa kata dalam bahasa Surabaya, tidak ditemukan dalam bahasa Jawa (baca: Jawa Tengah) yang lebih halus. Nah, karena saya adalah hasil kawah candradimuka Surabaya, saya sering merasa kesulitan jika dihadapkan dengan bahasa Jawa. Dalam hal mengerti dan memahami, sebagian besar bukan merupakan kesulitan.  Tapi dalam hal berbicara bahasa Jawa tiba-tiba percaya diri jadi luruh. Menyadari bahwa logat Surabaya adalah keras dan sedikit ngotot. Khawatir jika yang diajak bicara merasa punya perasaan bahwa saya marah, padahal ya memang begitu adanya <img src='http://ladangkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Karena pada dasarnya, arek-arek Suroboyo bukan berkiblat pada basa basi seperti yang banyak ditemui di kebudayaan Jawa. Tegas dan keras. Itulah Surabaya.</p>
<p>Hasil berkelana di jagad maya, saya menemukan beberapa kosa kata bahasa Surabaya yang khas dan tidak ditemui di bahasa Jawa Tengah-an.</p>
<blockquote>
<ul>
<li>&#8220;Pongor, Gibeng, Santap, Waso (istilah untuk Pukul atau Hantam);</li>
<li>&#8220;arek&#8221; berarti &#8220;anak&#8221; (bahasa Jawa standar: bocah);</li>
<li>&#8220;mari&#8221; berarti &#8220;selesai&#8221;;(bahasa Jawa standar: rampung); acapkali dituturkan sebagai kesatuan dalam pertanyaan &#8220;wis mari tah?&#8221; yang berarti &#8220;sudah selesai kah?&#8221; Pengertian ini sangat berbeda dengan &#8220;mari&#8221; dalam Bahasa Jawa Standar. Selain petutur Dialek Suroboyoan, &#8220;mari&#8221; berarti &#8220;sembuh&#8221;</li>
<li>&#8220;ladhing&#8221; berarti &#8220;pisau&#8221; (bahasa Jawa standar: peso);</li>
<li>&#8220;dhukur&#8221; berarti &#8220;tinggi&#8221; (bahasa Jawa standar: dhuwur);</li>
<li>&#8220;thithik&#8221; berarti &#8220;sedikit&#8221; (bahasa Jawa standar: sithik);</li>
<li>&#8220;temen&#8221; berarti &#8220;sangat&#8221; (bahasa Jawa standar: banget);</li>
<li>&#8220;pancet&#8221; berarti &#8220;tetap sama&#8221; ((bahasa Jawa standar: tetep);</li>
<li>&#8220;iwak&#8221; berarti &#8220;lauk&#8221; (bahasa Jawa standar: lawuh, &#8220;iwak&#8221; yang dimaksud disini adalah lauk-pauk pendamping nasi ketika makan, &#8220;mangan karo iwak tempe&#8221;, artinya Makan dengan lauk tempe, dan bukanlah ikan (iwak) yang berbentuk seperti tempe);</li>
<li>&#8220;mene&#8221; &lt;e pertama diucapkan pepet&gt; berarti &#8220;nanti&#8221; (bahasa Jawa standar: mengko);</li>
<li>&#8220;ndhek&#8221; berarti &#8220;di&#8221; (bahasa Jawa standar: &#8220;ing&#8221; atau &#8220;ning&#8221;; dalam bahasa Jawa standar, kata &#8220;ndhek&#8221; digunakan untuk makna &#8220;pada waktu tadi&#8221;, seperti dalam kata &#8220;ndhek esuk&#8221; (=tadi pagi),&#8221;ndhek wingi&#8221; (=kemarin));</li>
<li>&#8220;nontok&#8221; lebih banyak dipakai daripada &#8220;nonton&#8221;;</li>
<li>&#8220;yok opo&#8221; (diucapkan /y@?@p@/) berarti &#8220;bagaimana&#8221; (bahasa Jawa standar: &#8220;piye&#8221; atau *&#8221;kepiye&#8221;; sebenarnya kata &#8220;yok opo&#8221; berasal dari kata &#8220;kaya apa&#8221; yang dalam bahasa Jawa standar berarti &#8220;seperti apa&#8221;)</li>
<li>&#8220;peno&#8221;/sampeyan (diucapkan pe n@; samp[e]yan dengan huruf e seperti pengucapan kata meja) artinya kamu</li>
<li>&#8220;jancuk&#8221; ialah kata kurang ajar yang sering dipakai seperti &#8220;fuck&#8221; dalam bahasa Inggris; merupakan singkatan dari bentuk pasif &#8220;diancuk&#8221;; variasi yang lebih kasar ialah &#8220;mbokmu goblok&#8221;; oleh anak muda sering dipakai sebagai bumbu percakapan marah</li>
<li>&#8220;waras&#8221; ialah sembuh dari sakit (dlm bahasa jawa tengah sembuh dari penyakit jiwa)</li>
<li>&#8220;embong&#8221; ialah jalan besar / jalan raya</li>
<li>&#8220;nyelang&#8221; arinya pinjam sesuatu</li>
</ul>
</blockquote>
<p>(sumber: dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek_Surabaya" target="_blank">sini</a>)</p>
<p>Kosa kata dan dialeknya inilah yang membuat Surabaya menjadi berbeda dari yang lainnya. Ada di pulau Jawa, menggunakan bahasa Jawa, tapi dengan dialek dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aksen" target="_blank">aksen </a>yang berbeda. <em>Ngono loh Suroboyo, Cuk!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/05/15/suroboyo-cuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Barisan Bregada] Wirobrojo, si &#8220;Lombok Abang&#8221;</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/03/30/barisan-bregada-wirobrajan-si-lombok-abang/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/03/30/barisan-bregada-wirobrajan-si-lombok-abang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 07:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/03/30/barisan-bregada-wirobrajan-si-lombok-abang/</guid>
		<description><![CDATA[
Yang disebut dengan Bregada adalah para prajurit Kasultanan Jogjakarta yang hingga kini terbagi dalam berbagai kesatuan. Saat ini, terdapat 10 bregada prajurit yang pakemnya tampil berurutan pada saat defile grebeg. Saya coba persembahkan di sini secara berseri.
Di urutan pertama defile grebeg adalah bregada Wirobrojo. Mereka memang selalu diletakkan di garis depan pada setiap pertempuran. Karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/03/lombok-abang.jpg" alt="LB1" height="462" width="450" /></p>
<p><em>Yang disebut dengan Bregada adalah para prajurit Kasultanan Jogjakarta yang hingga kini terbagi dalam berbagai kesatuan. Saat ini, terdapat 10 bregada prajurit yang pakemnya tampil berurutan pada saat defile grebeg. Saya coba persembahkan di sini secara berseri.</em></p>
<p>Di urutan pertama <em>defile grebeg</em> adalah bregada <strong>Wirobrojo</strong>. Mereka memang selalu diletakkan di garis depan pada setiap pertempuran. Karena itulah dalam <em>defile</em>, prajurit yang menggunakan seragam berwarna merah ini diletakkan di depan. Selain setelan berwarna merah, bregada Wirobrojo juga dilengkapi dengan kaos kaki putih, sepatu hitam serta topi berbentuk lombok yang diberi nama khudup turi.</p>
<p><span id="more-151"></span></p>
<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/03/lombok-abang2.jpg" alt="LB2" height="512" width="346" /></p>
<p>Dalam <em>defile</em> mereka mengibarkan panji-panji gula klapa, bendera berwarna dasar putih dan gambar berwarna merah. Mereka dipersenjatai dengan senapan api dan tombak. Inilah pasukan garis depan, si &#8220;Lombok Abang&#8221;. (life/dari berbagai sumber)</p>
<p><em>Catatan:</em></p>
<p>Nama jalan-jalan di Jogja banyak juga yang mengambil dari nama para bregada ini. Dulunya disitulah para prajurit ini tinggal, sesuai dengan kesatuan mereka. Di Jogja juga ada jalan Wirobrajan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/03/30/barisan-bregada-wirobrajan-si-lombok-abang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Kuliner Solo] Tergoda Gudangan</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/02/26/kuliner-solo-tergoda-gudangan/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/02/26/kuliner-solo-tergoda-gudangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 06:42:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/02/26/kuliner-solo-tergoda-gudangan/</guid>
		<description><![CDATA[
Jalan-jalan ke Solo, saya terpaku pada salah satu hidangan khas yang dapat ditemui di Solo dan sekitarnya. Namanya GUDANGAN. Bisa dinikmati dengan nasi juga atau digado, sama-sama menggiurkan.
Komposisinya terdiri dari kacang panjang, taoge, bayam, kenikir yang semuanya direbus, ditaburi bumbu urap-urap dan diperkaya sambal bawang serta timun. Yummmmmmmy&#8230;.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/02/gudangan.jpg" alt="gudangan" height="336" width="446" /></p>
<p>Jalan-jalan ke Solo, saya terpaku pada salah satu hidangan khas yang dapat ditemui di Solo dan sekitarnya. Namanya GUDANGAN. Bisa dinikmati dengan nasi juga atau digado, sama-sama menggiurkan.</p>
<p>Komposisinya terdiri dari kacang panjang, taoge, bayam, kenikir yang semuanya direbus, ditaburi bumbu urap-urap dan diperkaya sambal bawang serta timun. Yummmmmmmy&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/02/26/kuliner-solo-tergoda-gudangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Candi Sukuh] Erotisme Pada Candi</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/02/26/candi-sukuh-erotisme-pada-candi/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/02/26/candi-sukuh-erotisme-pada-candi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 01:05:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ladang pelesir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/02/26/candi-sukuh-erotisme-pada-candi/</guid>
		<description><![CDATA[
Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur ternyata memiliki peninggalan yang masih kokoh berdiri di daerah Jawa Tengah, tepatnya di lereng Gunung Lawu. Menariknya, candi ini dikatakan sebagai candi yang paling erotis di seluruh dunia. Mengapa?
Perjalanan ke Candi Sukuh saya tempuh dari arah Karanganyar. Naik ke lereng Lawu, mengambil arah yang sama dengan Tawangmangu. Lokasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/02/1.jpg" alt="gerbang" height="298" width="456" /></p>
<p><em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit" target="_blank">Kerajaan Majapahit</a> yang berpusat di Jawa Timur ternyata memiliki peninggalan yang masih kokoh berdiri di daerah Jawa Tengah, tepatnya di lereng <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Lawu" target="_blank">Gunung Lawu</a>. Menariknya, candi ini dikatakan sebagai candi yang paling erotis di seluruh dunia. Mengapa?</em></p>
<p>Perjalanan ke Candi Sukuh saya tempuh dari arah Karanganyar. Naik ke lereng Lawu, mengambil arah yang sama dengan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tawangmangu" target="_blank">Tawangmangu</a>. Lokasi tepatnya di Kecamatan Sukuh. Cukup mudah mencarinya, karena candi ini sudah menjadi identitas bagi warga <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Karanganyar" target="_blank">Kabupaten Karanganyar.</a></p>
<p>Karena berdiri di tempat ketinggian, udara segar segera menyapa saya ketika menjejakkan kaki di situs Sukuh ini. Sebuah bangunan candi berbentuk punden gapura menyambut saya pertama kali. Sebuah tangga menuju ke atas tertahan oleh pagar selebar dua orang berhimpitan. Saya yakin dulunya ini adalah pintu masuk menuju ke bangunan atasnya. Saat saya ke sana, pagar itu terkunci. Tapi yang menarik adalah di lantai persis pada gapura itu terdapat lingga dan yoni yang berhadapan. Lingga dan yoni adalah representasi dari alat kelamin laki-laki dan perempuan. Sering pula disepakati sebagai lambang kesuburan.</p>
<p><span id="more-135"></span></p>
<p>Letaknya persis di pintu masuk ini dan begitu nyatanya membuat masyarakat sering menyebutnya sebagai candi tabu. Padahal, bisa jadi menurut budaya Jawa yang sarat akan lambang, penempatan lingga dan yoni itu sebagai pengusir bala bagi yang ingin masuk ke dalam candi.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/02/2.jpg" alt="ly" height="350" width="236" /></p>
<p>Menurut kepercayaan masyarakat setempat, lingga dan yoni di gapura dulunya sering dijadikan sarana untuk menguji kesucian perempuan dengan melangkahi simbol itu. Jika kain kebaya yang digunakannya robek berarti  perempuan itu menjaga kesuciannya, namun jika kain kebayanya terlepas, maka perempuan itu dipercayai telah kehilangan kesuciannya. Ah patriarki&#8230;</p>
<p>Gapura ini ternyata hanyalah sebuah pengantar menuju ke bangunan candi yang letaknya lebih tinggi. Karena pagar tertutup, maka saya mengambil jalan naik ke tangga di sebelah gapura tersebut. Terbentang sebuah teras yang cukup lapang. Membalikkan badan, maka akan terlihat panorama kabupaten Karanganyar dari ketinggian. Beruntung cuaca cerah saat itu. Tanpa halangan kabut yang biasanya sudah turun di siang hari, saya bisa memandang lepas ke lembah yang hijau dan rumah-rumah a la pedesaan.</p>
<p>Sebuah gerbang nampak lagi beberapa meter di depan. Gerbang ini hanya seperti pagar setinggi pinggang, dijaga oleh dua dwarapala yang sudah compang camping bentuknya. Dan di depan sana lagi nampaklah bangunan candi yang bentuknya hampir sama seperti gapura di bawah tadi namun lebih besar dan lebih tinggi. Rupanya inilah bangunan intinya.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/02/3.jpg" alt="inti" height="291" width="435" /></p>
<p>Sebelum mendekati bangunan inti, bertebaran obelisk dan relief-relief yang beberapa di antaranya juga sudah tidak utuh lagi. Menurut cerita, di sinilah upacara ruwatan yang merupakan tradisi Hindu konon diadakan.</p>
<p>Saya berbegas memasuki bangunan inti dan naik ke puncak yang paling atas. Lorong tangga sempit hanya cukup untuk satu  badan orang dewasa itu terasa begitu dingin. Dan di atas, bertebaran sesaji dengan bunga setaman yang masih segar. Masyarakat Karanganyar memang hingga kini masih banyak yang percaya dengan aliran Kejawen dan mistis. Tak heran, candi ini pun masih digunakan untuk ritual-ritual tertentu.</p>
<p>Mengenai julukan erotis, selain perlambangan lingga dan yoni di pagar, juga nampak pada relief-relief yang tersisa. Tapi sepertinya sudah tak banyak lagi. Mungkin karena terlalu vulgar, makanya relief itu tak ada lagi. Ah sayang sekali. Mestinya itu dipandang sebagai sebuah budaya dan bisa menceritakan tentang kondisi dan pesan yang ingin dibuat saat candi dibangun. Menurut kawan yang mengantar saya ke Candi Sukuh, dulu ada sebuah patung berbentuk laki-laki sedang memegangi alat kelaminnya yang sedang ereksi di kawasan candi ini. Patung itu juga sudah tak ada lagi.</p>
<p>Candi Sukuh ini melihat tahun  pembuatannya, yaitu 1437 M, merupakan candi Hindu termuda di Indonesia. Dibangun pada era kejatuhan Majapahit yang didesak oleh bala tentara Islam <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak" target="_blank">Kesultanan Demak.</a></p>
<p>Sebenarnya ada satu candi lagi yang juga merupakan peninggalan Majapahit, tak jauh dari lokasi Candi Sukuh. Dikenal dengan nama <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Cetho" target="_blank">Candi Cetho</a>. Sayang sekali, waktu pelesir saya di lereng Lawu ini terbatas. Sehingga harus melewatkan candi itu.</p>
<p>Meski hanya beberapa jenak, namun Gunung Lawu telah memberikan saya sebuah hadiah panorama indahnya. Turun dari situs Candi Sukuh, saya melewati hamparan kebuh teh yang hijau bergunung-gunung di daerah Kemuning. Pemda Karanganyar rupanya belum mengeksplorasi panorama kebun teh ini seperti layaknya di Puncak yang sudah begitu ramai oleh kegiatan <em>tea walk</em>. Hanya terlihat beberapa rombongan saja yang mampir menikmatinya.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/02/4.jpg" alt="teh" height="253" width="377" /></p>
<p>Tapi bagi saya, Lawu sudah banyak bercerita, tentang panorama, tentang aura mistisnya yang hingga sekarang tetap menjadi pusat kegiatan spiritual di Pulau Jawa dan tentu saja tentang sejarahnya.</p>
<p>Tautan:</p>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sukuh" target="_blank">1. Candi Sukuh di Wikipedia</a></p>
<p><a href="http://www.kabaresolo.com/KabareSoloSekitar02.htm" target="_blank">2. Candi Sukuh di Kabare Solo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/02/26/candi-sukuh-erotisme-pada-candi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Tea on The Table] Bahasa Universal Teh</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/02/11/bahasa-universal-teh/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/02/11/bahasa-universal-teh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 01:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/02/11/bahasa-universal-teh/</guid>
		<description><![CDATA[
Teh, minuman yang mendunia. Karena itu saya sebut memiliki bahasa universal. Meskipun  diracik dengan cara yang berbeda, namun pucuk daun teh tetap sebagai bahan utama. Bahasa universal itu berbunyi: kehangatan.
Pada sebuah sore, dingin dan gerimis. Saya memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah. Ingin menuntaskan pekerjaan di temaram sore dengan suasana yang beda dengan meja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/02/chinesse-tea.jpg" alt="teh cina" height="342" width="230" /></p>
<p>Teh, minuman yang mendunia. Karena itu saya sebut memiliki bahasa universal. Meskipun  diracik dengan cara yang berbeda, namun pucuk daun teh tetap sebagai bahan utama. Bahasa universal itu berbunyi: kehangatan.</p>
<p>Pada sebuah sore, dingin dan gerimis. Saya memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah. Ingin menuntaskan pekerjaan di temaram sore dengan suasana yang beda dengan meja kerja saya di rumah. Saya memutuskan untuk menyesap <em>green tea</em> hangat di sebuah kafe sembari menekuri pekerjaan saya di desktop.</p>
<p>Begitu air hangat yang bercampur rebusan daun-daun teh meluncur di tenggorokan, selarik rasa yang menenangkan membuat saya merasa sangat nyaman. Apalagi di tengah rintik hujan saat itu. Bisa jadi ini sebuah sugesti, karena tujuan awal saya sebelumnya memang hanya ingin keluar dari area yang sama dalam bekerja. Tapi setelah segelas <em>green tea</em> tandas  saya reguk , terpetiklah sebuah pemikiran untuk menelusuri minuman ini helai demi helainya. Dan waktu senggang pun saya gunakan untuk mencuplik data mengenai teh, minuman favorit saya. Bukan tentang proses pembuatannya, namun pada sebuah budaya global yang dibumbui kekayaan lokal.</p>
<p><span id="more-98"></span></p>
<p>Mari saya mulai dengan arti teh bagi masyarakat dunia.</p>
<p>Pernah saya dengar ungkapan, saat ini teh adalah minuman yang paling diminati di dunia setelah air putih. Ini berarti teh mampu mengalahkan pesona kopi yang juga jadi favorit banyak orang.</p>
<p>Di Indonesia, mulai dari warung kecil, restaurant, kafe hingga rumah tangga, minuman ini tetap menjadi populer. Teh sudah menjadi keseharian bagi masyarakat kita. Baik untuk diri sendiri maupun sebagai jamuan tamu.</p>
<p>Di negeri asalnya, China. Sepertinya tak ada hari tanpa teh. Begitu pula dengan Jepang. Bahkan di kedua negara ini upacara minum teh memiliki filosofi tertentu untuk menghasilkan rasa teh yang mantap.</p>
<p>Di negara Eropa, Inggris lah yang paling mengagungkan teh. Keseharian mereka dimulai dengan teh hangat di tiap paginya. Selain, Inggris, Amerika dan Rusia pun hingga saat ini menganggap teh sebagai salah satu komoditi yang menguntungkan.</p>
<p>Lalu, negeri jiran kita, Malaysia. Teh di tanah Melayu ini, memiliki kekhasan yang sering dicari banyak orang ketika menjejakkan kaki negara Siti Nurhaliza ini.</p>
<p>Ah, satu lagi negara Asia yang mampu meracik teh dan menjadikan teh salah satu menu sehari-hari, India. Racikan teh India memang sedikit berbeda dengan teh dari berbagai belahan dunia lainnya.</p>
<p>Kisah tentang budaya minum teh dari berbagai negara akan saya sajikan kemudian dalam sebuah seri artikel. Namun, sebelumnya saya ingin memaparkan terlebih dahulu tentang sejarah singkat penemuan teh.</p>
<p>Tunggu di tulisan saya selanjutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/02/11/bahasa-universal-teh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leburnya Dua Budaya [Pesta Imlek 2559 di Jogja]</title>
		<link>http://ladangkata.com/2008/02/10/leburnya-dua-budaya-pesta-imlek-2559-di-jogja/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2008/02/10/leburnya-dua-budaya-pesta-imlek-2559-di-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 06:52:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/2008/02/10/leburnya-dua-budaya-pesta-imlek-2559-di-jogja/</guid>
		<description><![CDATA[
Pekan Budaya Tionghoa (PBT) 2008 di Jogja yang dibuka pada 7 Februari lalu, bertepatan dengan Tahun Baru Imlek, menjadi peneguh kemesraan yang telah terjalin antara masyarakat etnis Cina dengan penduduk lokal Jawa. Tak dipungkiri memang, kota Jogja yang sangat multikultural ini memiliki karakter unik. Di satu sisi, hembusan budaya Jawa kental dengan renik-renik tata krama. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/02/barongsai.jpg" alt="barongsai" height="218" width="326" /></p>
<p>Pekan Budaya Tionghoa (PBT) 2008 di Jogja yang dibuka pada 7 Februari lalu, bertepatan dengan Tahun Baru Imlek, menjadi peneguh kemesraan yang telah terjalin antara masyarakat etnis Cina dengan penduduk lokal Jawa. Tak dipungkiri memang, kota Jogja yang sangat multikultural ini memiliki karakter unik. Di satu sisi, hembusan budaya Jawa kental dengan renik-renik tata krama. Namun di sisi lain, Jogja menawarkan keterbukaan bagi berbagai budaya. Tak heran, akulturasi pun mulus terjalin.</p>
<p>Tema yang diusung di PBT tahun ini adalah &#8220;Budaya Rakyat&#8221;. Ini merupakan satu cetusan yang memberikan ketegasan kembali bahwa budaya Tionghoa  masuk dalam kategori budaya lokal. Dalam sejarahnya, sejak kedatangan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cheng_Ho" target="_blank">Laksmana Cheng Hoo</a> berkisar pada abad 13 silam, sudah terjadi pencampuran kebudayaan antara masyarakat pribumi dan pendatang dari Timur Jauh ini. Namun, perjalanan politik huru hara Indonesia, kemudian menciptakan jurang pemisah antara masyarakat Tionghoa yang memiliki kekuatan ekonomi besar dengan penduduk lokal. Padahal, budaya kita sendiri banyak yang dipengaruhi oleh renik-renik kebudayaan Cina.</p>
<p><span id="more-122"></span></p>
<p>Perubahan besar terjadi saat pemerintah Gus Dur yang membuka lebar ceruk-ceruk budaya Tionghoa untuk ikut tampil sebagai bagian dari budaya Indonesia. Salah satunya adalah dengan mengkategorikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Dan, di antara beberapa kota yang saya pernah kunjungi, rasanya di Jogja inilah peleburan dua etnis bisa terjalin mesra. Beberapa lokasi kampung pecinan,  dari dulu hingga kini, masih tetap terjaga kelestariannya. Tak terusik oleh budaya lokal yang juga  memiliki kekuatan dan pengaruh besar bagi masyarakat. Dua diantara yang paling besar komunitasnya adalah di Ketandan dan Pajeksan. Dari beberapa literatur yang saya baca, dua wilayah ini merupakan hadiah dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwono_I" target="_blank">Sultan Hamengkubuwono I</a> kepada masyarakat etnis Tionghoa yang bermukim di Jogja.</p>
<p>Salah bukti paling akurat kemesraan etnis Tionghoa dengan penguasa  setempat adalah adanya prasasti Jawa Cina yang dibuat pada abad 20 (sekitar tahun 1940an). Prasasti ini didatangkan dari Cina dan berisi sebuah ungkapan terima kasih warga Tionghoa di Jogjakarta kepada keluarga <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kraton_Ngayogyakarta_Hadiningrat" target="_blank">Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat</a> yang telah memberikan perlindungan bagi mereka. Diserahkan kepada Keraton pada saat hari penobatan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwono_IX" target="_blank">Sultan Hamengkubuwono IX </a>yang ke 12, pada tahun 1952.</p>
<p>Awalnya, prasasti hanya bertuliskan huruf-huruf Cina dan Jawa. Namun, baru-baru ini terdapat <em>caption</em> baru di Prasasti tersebut, yaitu tambahan arti dalam bahasa Indonesia. Penambahan ini digawangi oleh Bernie Liem, menantu salah seorang pemrakarsa dibuatnya Prasasti Jawa-Cina, Liem Ing Hwie. Saat ini bukti sejarah itu bisa dikunjungi oleh masyarakat umum di Tepas Hapitopuro, belakang Bangsal Traju Mas, persis di tengah-tengah Keraton.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2008/02/action.jpg" alt="kirab" height="240" width="354" /></p>
<p>Dan, Imlek 2559 ini pun masih terus mendengungkan semangat yang sama. Tak heran pada malam pembukaannya pun paduan kesenian Jawa dan Cina menjadi suguhannya. Bahkan pada kirabnya pun, paduan dua budaya ini kental terasa.</p>
<p>Tautan:</p>
<p><a href="http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-article/prasasti-jawa-cina/" target="_blank">1. Prasasti Jawa-Cina </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2008/02/10/leburnya-dua-budaya-pesta-imlek-2559-di-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
