By Lisa Febriyanti on May 15, 2008 in bahasa, seni dan budaya | 3 Comments
Ah..Surabaya. Tak ada kota seperti Surabaya. Maksud saya bukan topologi kotanya atau juga keadaan geografisnya. Surabaya sih sama dengan kota-kota metropolitan lain, dengan segala permasalahannya, dengan segala kemajuannya. Tapi khas nya itu loh, yang membuat saya berani bilang there’s no city like Surabaya.
Salah satu yang khas dari Surabaya adalah dialeknya. Letak geografisnya di pesisir, membuat […]
By Lisa Febriyanti on Mar 30, 2008 in terpaku pada...., seni dan budaya | 7 Comments
Yang disebut dengan Bregada adalah para prajurit Kasultanan Jogjakarta yang hingga kini terbagi dalam berbagai kesatuan. Saat ini, terdapat 10 bregada prajurit yang pakemnya tampil berurutan pada saat defile grebeg. Saya coba persembahkan di sini secara berseri.
Di urutan pertama defile grebeg adalah bregada Wirobrojo. Mereka memang selalu diletakkan di garis depan pada setiap pertempuran. Karena […]
By Lisa Febriyanti on Feb 26, 2008 in terpaku pada...., seni dan budaya | 4 Comments
Jalan-jalan ke Solo, saya terpaku pada salah satu hidangan khas yang dapat ditemui di Solo dan sekitarnya. Namanya GUDANGAN. Bisa dinikmati dengan nasi juga atau digado, sama-sama menggiurkan.
Komposisinya terdiri dari kacang panjang, taoge, bayam, kenikir yang semuanya direbus, ditaburi bumbu urap-urap dan diperkaya sambal bawang serta timun. Yummmmmmmy….
By Lisa Febriyanti on Feb 26, 2008 in pelesir, seni dan budaya | 4 Comments
Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur ternyata memiliki peninggalan yang masih kokoh berdiri di daerah Jawa Tengah, tepatnya di lereng Gunung Lawu. Menariknya, candi ini dikatakan sebagai candi yang paling erotis di seluruh dunia. Mengapa?
Perjalanan ke Candi Sukuh saya tempuh dari arah Karanganyar. Naik ke lereng Lawu, mengambil arah yang sama dengan Tawangmangu. Lokasi […]
By Lisa Febriyanti on Feb 11, 2008 in seni dan budaya, dongeng | 3 Comments
Teh, minuman yang mendunia. Karena itu saya sebut memiliki bahasa universal. Meskipun diracik dengan cara yang berbeda, namun pucuk daun teh tetap sebagai bahan utama. Bahasa universal itu berbunyi: kehangatan.
Pada sebuah sore, dingin dan gerimis. Saya memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah. Ingin menuntaskan pekerjaan di temaram sore dengan suasana yang beda dengan meja […]