Belajar Kehidupan dari Lapangan Bola

Bulan Mei, ada dua final pertandingan sepak bola penting yang menyita mata dan perhatian pecinta sepak bola di jagat ini, English Premier League  (EPL) dan Champion League. EPL merupakan pertandingan prestisius antar club di Inggris dan Champion League atau dalam bahasa kita disebut Liga Champion juga tak kalah prestisius, bahkan Liga ini mempertemukan klub-klub tersukses di Eropa. Aku tidak akan berbicara tentang taktik dan strategi para juara liga, karena selain bukan pengamat, aku masih awam di dunia sepak bola. Hanya menjadi penikmat olah raga yang melibatkan 22 orang di satu lapangan, memperebutkan satu bola dan ‘berperang’ untuk memasukkan bola itu ke gawang lawan. Aku hanya ingin berbagi pemikiran tentang pembelajaran yang bisa diambil dalam pertandingan tersebut. Sekali lagi bukan belajar bermain bola, tetapi tentang analogi kisah pertandingan final itu dengan kehidupan secara makro.

Baiklah, bagi yang belum tahu tentang pertandingan final ini, aku petikkan sarinya sedikit. Final EPL tahun ini berlangsung melalui dua pertandingan yang menentukan. Yang pertama antara Manchester City melawan Queens Park Rangers (QPR) dan pertandingan kedua antara Manchester United (MU) melawan Sunderland. Bagaimana bisa keduanya menentukan? Pada pertandingan-pertandingan sebelumnya, para klub sudah mengumpulkan point-point dari kemenangan mereka. Hingga pada posisi final war, pemenang ditentukan pada hasil kedua pertandingan di atas. Posisi ini meletakkan kedua tim dengan point terbesar, Manchester United dan Manchester City untuk saling mempertaruhkan nasibnya di dua pertandingan berbeda. Piala EPL akan berhasil digotong Manchester United jika Manchester City tak mampu menundukkan QPR.

Nah, di sinilah letak pembelajarannya. Jika Manchester United berhasil menang dari Sunderland, The Red Devils (sebutan untuk MU) masih harus menengok hasil pertandingan “adik” klub satu kota, Manchester City. Bagiku, ini sebuah analogi tentang kehidupan yang saling terkoneksi. Seperti jaring laba-laba. Kadang, kita merasa memiliki kontrol penuh terhadap kehidupan yang kita jalani. Pilihan-pilihan yang kita buat, sering digambarkan sebagai keputusan dan rencana utuh yang membawa pada pencapaian yang kita inginkan. Namun, kadang pencapaian itu tidak berjalan seperti yang diharapkan karena harus bermuara dengan jalan kehidupan orang lain, harus berbelok demi mencapai muara yang lain. Dari sini kemudian kita dihadapkan pada hal-hal tak terduga yang ajaib.

Di tengah-tengah pertandingan antara MU dengan Sunderland, terlihat para supporter Setan Merah tiba-tiba bersorak. Ini disebabkan mereka mendapatkan berita bahwa gawang Manchester City berhasil dijebol QPR dan menahan imbang skor.  Jadwal pertandingan memang bersamaan, dan ini sempat membuat para penggemar bingung memilih channel. Mereka bersorak pada harapan kemenangan. Hingga peluit dibunyikan, Manchester United memenangi pertandingan atas Sunderland dengan skor 1:0. Di titik itu, MU sudah berada satu jengkal saja pada piala. Tetapi, pertandingan Manchester City belum usai, masih tinggal lima menit lagi. Harapan Manchester City tinggal selembar.  Di tiga menit terakhir, gawang QPR dirobek oleh gol. Peluit panjang yang sebenarnya bertiup, City menang, dan MU langsung terjungkal. Kemenangan hanya dirasakan sepanjang dua menit oleh MU.

Dalam hidup, kadang kemenanganmu bukan hanya ditentukan oleh segala usahamu, tetapi juga disemai dari hasil geliat orang lain. Jadilah, hidup ini adalah soal kesiapan. Usaha bukan soal yang sia-sia, tetapi yang lebih penting adalah bersiap pada segala keajaiban yang bisa terjadi di luar kontrol kita. Berpahamlah bahwa hidup ini selalu terkoneksi pada banyak hal. Itulah pembelajaran dari EPL.

Pelajaran kedua, datang dari Liga Champion. Laga final mempertemukan Bayern Munchen dengan Chelsea. Dua klub papan atas ini berlaga sampai titik darah akhir untuk memenangi pertandingan. Pembelajaran dari laga ini adalah juga berkitar pada kesiapan dan perubahan. Nyaris tak berbeda dengan EPL, tak ada kata akhir hingga peluit panjang dibunyikan. Munchen sudah di atas angin ketika sampai menit ke 82, mereka masih unggul 1:0 dari Chelsea. Tapi di menit berikutnya, Drogba (pemain Chelsea) mendaratkan gol cantik di sisi kiri gawang Munchen dan mengubah segalanya. Kedudukan imbang kemudian harus dipertaruhkan lewat perpanjangan waktu dan pinalti. Dan di sinilah Chelsea berjaya. Kegagalan eksekutor Munchen di pinalti telah membawa klub Inggris ini memenangi Liga Champion. Chelsea tak dinyana melaju di akhir sesi dengan menggeser Barca, klub yang nyaris tanpa kekalahan dan melaju ke final, bahkan memenangi pertandingan-pertandingan selanjutnya. Sang underdog membuat kejutan-kejutan manis bagi timnya.

Dari sini, belajarlah bahwa, tak ada kata tamat sebelum kalimat akhir dimaklumatkan. Chelsea menguarkan pembelajaran, menyerah bukanlah sebuah kata di kamus mereka. Bahkan di menit-menit akhir, atau detik akhir, perubahan dan keajaiban masih bisa terjadi jika semangat terus terjaga. Peluit akhirmu masih belum ditiup, jangan berhenti melangkah meski harapan tinggal selembar rambut tipis. Itulah kira-kira pembejalaran dari lapangan bola yang baru saja aku bagi di sini.

Ah ya satu lagi, pembelajaran hidup bukan hanya didapat dari pengalaman kita, bukan hanya dari langkah yang terseok atau sejumput kisah di buku-buku. Di lapangan, di jalanan, di gang-gang sempit, di sana bertebar aroma pembelajaran. Memetiknya sama seperti memetik satu kelopak bunga abadi dan meletakkannya pada genggaman kita. Bagaimana dengan kalian, ada pembelajaran yang kalian dapatkan dari tempat tak terduga?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>