Laki-Laki Malaikat
Posted by Lisa Febriyanti on Jan 27, 2010 in ladang inspirasi, ladang kreasi, ladang puisi
Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku….selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.
Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku berpijak, tentang bintang yang pernah disinggahinya. Sayap lebar mengepak bersamaan dengan kerling godanya. Lalu ia pun menyusur di jejak yang sama denganku kini.
Seperti tak ingin dia melepas, laki-laki malaikat menebar serbuk-serbuk kasih diselubungku. Menjeratku dengan indahnya. Tak terbantahkan. Aku tergagap dalam putaran rasa yang ia persembahkan. Indah sekaligus membuatku menggigil.
Seperti tak pernah lelap, laki-laki malaikat berkitar di telingaku, di kepalaku, di bibirku, di lentik jariku, di legam kulitku, di lebar langkahku, di pijar mataku. Dia di sana, terus di sana. Tak tersiah sekejab pun dari fragmen takdirku.
Laki-laki malaikat mendekap hidupku, menawarkan senampan harapan. Memperkokoh kepalan tanganku yang mengangkasa menantang kehidupan. Menghangatkan lewat pendar-pendar cahayanya.
Runtutan waktu yang terus berjalan, laki-laki malaikat tak lekang. Mengiring tak terpisahkan pada langkah, pada keputusan, melekat pada senyum, menghambur pada duka, mendekap kisi-kisi indah yang hanya dirasakan hati. Lalu mengingini menjadi tak tertangkis.
Gemetar tangan ini ingin menyentuhnya, memeluknya dan mendekap hingga jiwa ini luruh jadi debu, lalu terlahir kembali. Tapi dia laki-laki malaikat dengan selapis dimensi yang berbeda. Ketika dia melayang dengan indahnya, aku hanya menapak bumi. Ketika dia berkilau dengan cahaya, aku bergumul dengan debu. Ketika dia abadi, aku melalui reinkarnasi. Dia laki-laki Malaikat…..
Bisa kah kau turun sebentar dari dimensimu?
(untuk kesekian kali menonton film City of Angel tanpa pernah bosan)
“Aku lebih memilih sekali saja menghirup rambutnya, sekali saja mengecup bibirnya, sekali saja menyentuh tangannya, daripada menjalani keabadian tanpa pernah merasakannya. Sekali saja.”
(Nicolas Cage sebagai Seth dalam City of Angels)
hmmmm…iyakah ??? dia begitu dekat dengan kita.., karena setiap insan di dunia ini punyai Malaikat yg setia menemani,…hanya kepekaan kita yang bisa rasakan-nya.. Have a nice day
Nrifa | Jan 27, 2010 | Reply
Seandainya aku sang malaikat itu, maka akan buru-buru turun menemui perempuan itu, bila perlu menjadi manusia meninggalkan takdir ke-immortal-annya
(jadi inget Lord of the Ring-juga nih….)
damuhbening | Jan 28, 2010 | Reply
Seorang tukang pos mengambil jalan pintas melalui rerumputan dengan naik
sepedanya. Sampai di tengah, seekor sapi jantan melihatnya dan mengejarnya.
Orang yang malang itu hampir saja kena tanduk.
“Nyaris kena, ya?” kataku yang menyaksikan peristiwa itu.
“Ya,” kata orang tua itu terengah-engah. “selalu begitulah selama ini.”
——————
Manusia tidak ingin membuang segala rasanya karena emosi memberikan kepada mereka sensasi, perasaan sungguh-sungguh HIDUP. & Malaikatpun menjadi iri
tomy | Jan 28, 2010 | Reply
malaikat adalah alam ruh, dan manusia adalah alam jasad. sulit untuk menyatukan keduanya, karena dimensi yang berbeda itu. bila ingin memaksakan diri, maka harus ada yang ditanggalkan dari masing-masing, sehingga keduanya memiliki sebuah dimensi yang sama…
vizon | Feb 2, 2010 | Reply
stay on earth babe… cuz we never know anytime anyhow the angel could be turned into deal with the devil……
karla homolka | Feb 8, 2010 | Reply