#1: Sandya

mimi_yinyang

Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.

Dari cermin yang sama, terpantul oleh mataku satu sosok, sumber kebahagiaanku. Ia bulan yang turun  dari langit, mempertaruhkan keabadian yang dimilikinya demi menyuntingku. Bulan yang datang tiba-tiba di malam-malamku yang dingin, memberi cahaya dari matanya, lalu semua hariku dipenuhi kata-kata darinya. Begitu saja. Tanpa bisa kutolak.

Aku masih memerhatikannya dari cermin. Berdiri di samping tempat tidur yang ditaburi plumeria putih.  Ia melepas satu persatu kancing baju putihnya, pelan dan matanya terfokus pada kancing yang ia dorong melalui selarik lubang. Resam tubuhnya elok, seakan tiap gerak yang ia lakukan tak ada yang sia-sia. Semuanya punya tujuan dan dalam komposisi yang sangat tepat, tak pernah berlebihan maupun kekurangan. Di  mataku, semua geraknya adalah tarian yang dipersembahkan dengan sangat indahnya. Bukan gemulai, tetapi begitu kokoh dan pasti. Seluruh tubuhnya menyanyikan aroma taksu yang mungkin hanya dipersembahkan bagi linga sariraku.

Laki-laki dalam cermin itu diperkenalkan padaku di sebuah senja berwarna merah. Tinggi dan kulitnya rata-rata milik Mongoloid. Pada perjumpaan pertama, matanya begitu murung, mengalahkan muramnya senja. Aku tak tahu apa yang menggilas sinar kehidupannya dari sana, tetapi yang kutahu apapun itu adalah sebuah jurang yang mendorongnya terlalu dalam. Pada perjumpaan pertama, aku tak merasai pijar yang bergelora, hanya merasakan satu tarikan sulur dari taksunya.  Serasa dekat. Jiwanya serasa pernah kutemui di kehidupan lalu, entah kapan. Hanya itu saja.

Nyaris tiga tahun lalu, senja jadi saksi perkenalan kami. Hari-hari berikutnya, seperti semesta telah mengaturkan semuanya. Ada saja hal-hal yang bisa kami diskusikan bersama, ada saja hal-hal yang mencuatkan kata “Aha!”, lalu ketika hariku tak ada kata-kata darinya, aku terbungkus rasa yang kehilangan yang mendalam. Kemudian kutahu, itu dinamai rindu.

Suatu pagi, setelah beberapa malam ia menghilang, ia menjumpaiku dan bertanya, “Apa kabar?”

Merah pipiku ketika kuucap kata, “Rindu..”

Lalu ia pun memijak bumi, dari tempatnya di langit sana. Seperti Seth dalam film City of Angel yang meminta kepada Tuhan agar menjadikannya manusia immortal demi mencintai seorang perempuan. Ah, itu memang analogiku. Laki-laki itu bukan malaikat. Ia hanya seseorang yang dunianya jauh dari duniaku. Ia menjalankan bisnis rumah produksi miliknya sendiri, sedangkan aku cuma pengelana yang menyukai dunia fotografi. Memang, ada garis merah yang mengikat jari-jari kami. Ada lingkaran kurva kecil yang diarsir untuk menunjukkan kesamaan gerakan. Dunia kreatif. Tetapi soal langkah kaki, hidungku lebih sering mencium aspal jalanan ketimbang ujung sepatunya.

Aku dan laki-laki itu, adalah penggalan terakhir Puisi Cahaya Bulan yang sangat elok dibawakan oleh Nicholas Saputra. Penggalan itu berkata, “Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.”

Tetapi, tiga tahun kebersamaan telah jadi ujian bagi kami. Tak ada beda yang terlalu sulit jika menjalaninya dengan cinta. Dan ketika kami bicara tentang penyatuan abadi, semua yang jadi penghalang tak lagi penting. Ketika komitmen sudah dibulatkan, maka kompromi dalam banyak hal pun sudah jadi kelanjutannya.

Waktu tiga tahun kugunakan untuk menyelami dunia wewangiannya. Ah ya. Aku lupa untuk mencatat di atas. Salah satu hal yang membuatku jatuh cinta padanya adalah, wangi parfumnya. Ia tak tampak seperti flamboyan dengan parfumnya. Justru di sana ada  keringat laki-lakinya, bercampur dengan aroma parfum yang baru pertama kali membiusku. Di kemudian hari aku tahu, itu wangi Acqua di Gio, for men tentunya.

Hingga hari ini, di malam pengantin kami, aku masih mencium aroma parfum yang sama. Kuharap ia masih akan menggunakannya setelah mandi nanti. Agar wangi plumeria yang bertemu aroma parfumnya, membuatku makin mabuk. Luruh dalam asmaradhana.

Ah ya, laki-laki yang hari ini telah resmi menjadi suamiku itu bernama:  Sandya.

bersambung #2: Bulan Penuh Madu

4 Comment(s)

  1. sebuah catatan penting: aku takkan membeli acqua di gio, biar tak ada yang menyaingi sandya… :)

    semoga pasangan baru itu berbahagia dan berhasil melewati segala perbedaan dengan sebuah kata sakti: CINTA…

    vizon | Jan 22, 2010 | Reply

  2. Sungguh beruntungnya, laki-laki itu….

    Catra | Jan 26, 2010 | Reply

  3. aku miskin perspektif, manakah sesuatu yang indah yang selalu diceritakan dalam novel-novel cinta itu?

    tomy | Jan 28, 2010 | Reply

  4. Berbahagialah : Sandya…

    Jadi pingin beli parfum: Acqua di Gio…hehehe, siapa tahu jadi seberuntung Sandya.

    Hem, masih bersambung ya, menunggu…

    damuhbening | Jan 29, 2010 | Reply

Post a Comment