Bangun dari Hilang
Posted by Lisa Febriyanti on Dec 14, 2009 in ladang kisah
Kemana perginya semua yang hilang dari diri kita? Apakah menguap begitu saja, tanpa sisa? Apakah ada satu ruang di otak kita yang masih bisa menyimpan itu semua?
Rasanya yang terakhir ini terasa benar. Seberapa penuh otak kita menampung, masih tetap ada ruang yang di sela-selanya, untuk menyimpan yang hilang. Tersimpan rapat dan akan muncul jika ada pemantiknya.
Aku sedang menekuri kembali banyak hal yang hilang dalam diriku. Tak hanya tentang segala kenangan, tetapi juga sikap-sikap diri yang hilang karena digerus hal-hal baru yang datang. Aku mencari identitas lama yang positif dan seperti lenyap oleh banyak perubahan. Hal yang hilang itu dan kurasai benar kehilangannya adalah kekuatan diri. Betapa seringnya kini aku mengeluh dan rapuh. Padahal banyak orang yang bilang, “kau lebih kuat dari yang kau kira. Kau sudah bisa sampai di titik ini.” Tetap saja, ketika benturan datang, aku seperti terhempas. Buruknya, selalu merasa jadi sendirian, sementara, masih ada orang-orang istimewa menanti dengan terbuka. Aku, yang selalu ripuh dengan anganku sendiri, mestinya tak lagi terseok karena masih ada pelangi berkah di balik mendung kelabu.
Kita, adalah manusia yang berkelindan mencari dirinya. Berkiblat dari pikirannya. Dan kadang pikiran-pikiran itu menyesatkan. Selalu, dibutuhkan pemantik untuk kembali ke jalannya (diambil dari novel ILUMINASI). Aku temukan pemantik itu, pada percikan keajaiban yang datang, pada kata-kata yang dialamatkan dan pada ruang-ruang yang dibuka lebar. Terlebih pada kasih yang mestinya dari dulu kutahu pasti telah ada padaku dan tak pernah hilang.
Aku tahu, aku bisa. Aku tahu, aku tak pernah sendiri. Tak pernah ada manusia yang begitu kesepiannya hingga untuk bicara pun tak lagi bisa. Selalu ada kawan, selalu ada kasih, selalu ada jalan untuk kembali pada hal-hal yang mestinya terus tergenggam. Semoga.
Ini seperti energi, tak akan bisa mati, hanya bisa diganti dan diubah dalam bentuk yang berbeda…
When the day is long and the night, the night is yours alone,
When you’re sure you’ve had enough of this life, well hang on
Don’t let yourself go, ’cause everybody cries and everybody hurts sometimes
(Everybody Hurts, R.E.M)
Jika sudah sepi biasanya terkadang akan muncul hal-hal seperti itu, dan kalau sudah demikian maka akan selalu membadingkan antara dulu dan sekarang, dan kadang pula kita merasakan kita mengeluh dan rapuh, padahal sebenarnya kita telah banyak melewati semuanya dengan baik dan benar…. masih ada orang-orang istimewa diantara kita.
eko magelang | Dec 14, 2009 | Reply
Karena tiada yang sia-sia
dalam perjalanan kita
hingga akhirnya diri kita
meninggalkan segalanya
tengku puteh | Dec 15, 2009 | Reply
selamat mbak, atas peluncuran bukunya, saya tahu malah dari postingan / notulennya bu Edratna, jadi gambar sampul dan judulnya berubah dari yang direncanakan dulu ya mbak ?
salam…
eko magelang | Dec 16, 2009 | Reply
Kemana perginya semua yang hilang dari diri kita? Apakah menguap begitu saja, tanpa sisa? Apakah ada satu ruang di otak kita yang masih bisa menyimpan itu semua?
Tentu ruang itu masih ada..
Rasanya yang terakhir ini terasa benar. Seberapa penuh otak kita menampung, masih tetap ada ruang yang di sela-selanya, untuk menyimpan yang hilang. Tersimpan rapat dan akan muncul jika ada pemantiknya.
Setuju Mbak..
Aku sedang menekuri kembali banyak hal yang hilang dalam diriku. Tak hanya tentang segala kenangan, tetapi juga sikap-sikap diri yang hilang karena digerus hal-hal baru yang datang. Aku mencari identitas lama yang positif dan seperti lenyap oleh banyak perubahan. Hal yang hilang itu dan kurasai benar kehilangannya adalah kekuatan diri. Betapa seringnya kini aku mengeluh dan rapuh. Padahal banyak orang yang bilang, “kau lebih kuat dari yang kau kira. Kau sudah bisa sampai di titik ini.” Tetap saja, ketika benturan datang, aku seperti terhempas. Buruknya, selalu merasa jadi sendirian, sementara, masih ada orang-orang istimewa menanti dengan terbuka. Aku, yang selalu ripuh dengan anganku sendiri, mestinya tak lagi terseok karena masih ada pelangi berkah di balik mendung kelabu.
” Aku adalah aku..berjalan dengan langakah kaki ku..
Aku adalah aku..tajam menatap awan mendung ku..
Aku adalah aku..sebagaimana adanya aku..”
Kita, adalah manusia yang berkelindan mencari dirinya. Berkiblat dari pikirannya. Dan kadang pikiran-pikiran itu menyesatkan. Selalu, dibutuhkan pemantik untuk kembali ke jalannya (diambil dari novel ILUMINASI). Aku temukan pemantik itu, pada percikan keajaiban yang datang, pada kata-kata yang dialamatkan dan pada ruang-ruang yang dibuka lebar. Terlebih pada kasih yang mestinya dari dulu kutahu pasti telah ada padaku dan tak pernah hilang.
…dan kasih itu berkata ” Jika kau tak lagi ada, bagaimana harus bernafas lagi..(melly guslow)
Aku tahu, aku bisa. Aku tahu, aku tak pernah sendiri. Tak pernah ada manusia yang begitu kesepiannya hingga untuk bicara pun tak lagi bisa. Selalu ada kawan, selalu ada kasih, selalu ada jalan untuk kembali pada hal-hal yang mestinya terus tergenggam. Semoga.
yup.. benaer mbak,
” take my hand and let me lead the way..” (White Lion)
Ini seperti energi, tak akan bisa mati, hanya bisa diganti dan diubah dalam bentuk yang berbeda…
yaitu dalam bentuk ILUMINASI…iya kan? hehehe.
When the day is long and the night, the night is yours alone,
When you’re sure you’ve had enough of this life, well hang on
Don’t let yourself go, ’cause everybody cries and everybody hurts sometimes
(Everybody Hurts, R.E.M)
lagu ini bagus banget, pernah saya gunakan buat backsound video Tsunami 2004.
Selamt atas peluncuran novel nya mbak,sukses.. dan salam kenal.
CokiCika | Dec 19, 2009 | Reply
Ternyata guliran kosakata yang lugas dan menggetarkan hati juga fikiran. Bukan saja buat Mba’ Icha tapi untuk semua, termasuk saya. Terima kasih, sahabat. Semoga kita saling bangkit-berbangkit. Salam.
Ki Dhalang Sulang | Dec 20, 2009 | Reply
Ini bicara ILUMINASI ya…
Syafruddin Azhar | Dec 24, 2009 | Reply
Selalu ada kawan, selalu ada kasih, selalu ada jalan untuk kembali pada hal-hal yang mestinya terus tergenggam
Maka kusapa engkau kawan, apa kabar dirimu? Kehadiran sangat berarti dalam setiap relasi, meski hanya lewat sebait puisi
tomy | Jan 28, 2010 | Reply
selalu ada, percayalah, tak akan ada kata akhir, sampai nanti…sampai batas hidup
damuhbening | Jan 29, 2010 | Reply