Rapuh

prolog: tolong putar lagu Rapuh-Padi, saat kau baca catatan ini…

Mungkin, kau salah membaca senyumku
Kau kurang cermat melihat garis bibir ini, karena ini bukan senyum
Tapi, bagaimana kau bisa lihat jika tak memandang?

Mungkin, kau lupa soal jantungku
Kau kurang menghitung detaknya yang melambat
Tapi, bagaimana bisa kau ingat jika tak merasakan?

Mungkin, kau eja dari hanya dari pikiranmu
Kau tak mengutip percik-percik yang kusimpan
Tapi, bagaimana kau eja jika kau mendaraskan dengan geram?

Mungkin kau tak lagi bisa mengintip dari kacamatamu
Tapi, biarlah kusampaikan lewat puisiku
Aku di ujung rapuh…
Seperti hujan yang lesak ke tanah, menunggu sirna…

(merapuh di akhir november, 2009)

sebenarnya kutak ingin berada di sini, di tempat yang jauh dan sepi, memisahkan kita

7 Comment(s)

  1. ini ku bawakan tongkat,
    untuk menopang
    tubuhmu
    yang merapuh…

    emang udah tua ya mbak yu? hehehe… :D

    life: Uda, bukan tua usia, tapi rapuh hati tak mengenal angka usia…ketika itu tiba, raga yang bugar pun jadi lunglai..duhhhh :D

    vizon | Dec 1, 2009 | Reply

  2. Bolehkah kupinta sesuatu (yang mungkin) yang dapat kau lakukan… Kuingin membaca puisimu yang indah gemulai ini dengan diiringi sebuah lagu lama: “Begadang” (Rhoma Irama)…?

    Janganlah tertawa kawan, saya hanya ingin mengenang masa-masa indah kita, ketika kita berdarah-darah di Markas Kakilangit Kencana, untuk merampungkan novel kalian? Akankah masa-masa “kenthir” seperti itu akan terulang?

    Lagu “Begadang” rasanya indah nian tuk didendangkan… Proviciat ILUMINASI.

    life: thanks Mas Din atas bimbingannya. banyak yang ngira, nulis novel adalah cuma sekadar nulis lalu diserahkan ke editor, tetapi kerja sama diantara keduanya justru makin menunjang hasil karya itu sendiri. masa kenthir itu adalah masa produktif yang menyenangkan…banyak waktu yang terlewati dengan produktivitas yang menyertai…sekali lagi terima kasih buat editor bertangan dingin seperti Mas Din…tabik!

    Syafruddin Azhar | Dec 2, 2009 | Reply

  3. Wow…
    jangan bilang kau mengerti!
    Karena kau bukan aku!

    semangat mbak!
    December miracle..

    life: hmm..semoga bukan desember kelabu ya, Ivy..makasih..:)

    blueismycolour | Dec 7, 2009 | Reply

  4. dalem bgt mba puisinya… bergetar saat membacanya… tiga kali lebih kubaca puisi ini, tapi tetap menghasilkan rasa yang sama. oya, sukses y mba buat “anak perempuannya”nya…

    dewi | Jan 8, 2010 | Reply

  5. menunggu sirna..
    kering disesap panas di ujung daun kering rapuh
    dan hilang..

    Yessi | Feb 5, 2010 | Reply

  6. Mbak Lisa,
    Hiks…menangisku karena
    aku terkesima…
    aku terharu…
    apa karena saat ini aku sedang merasa di ujung rapuh????
    namun aku ingin tetap menyeruak mbak…tidak sirna

    Bagussss……boleh kubacakan saat farewell party-nya temenku ya mbak… :) (ijin tur mekso)

    Devi Yudhistira | Feb 10, 2010 | Reply

  7. sobat padi punya yaaa…:)

    venty | Jun 27, 2010 | Reply

Post a Comment