Rapuh
Posted by Lisa Febriyanti on Nov 30, 2009 in ladang kisah, ladang puisi
prolog: tolong putar lagu Rapuh-Padi, saat kau baca catatan ini…
Mungkin, kau salah membaca senyumku
Kau kurang cermat melihat garis bibir ini, karena ini bukan senyum
Tapi, bagaimana kau bisa lihat jika tak memandang?
Mungkin, kau lupa soal jantungku
Kau kurang menghitung detaknya yang melambat
Tapi, bagaimana bisa kau ingat jika tak merasakan?
Mungkin, kau eja dari hanya dari pikiranmu
Kau tak mengutip percik-percik yang kusimpan
Tapi, bagaimana kau eja jika kau mendaraskan dengan geram?
Mungkin kau tak lagi bisa mengintip dari kacamatamu
Tapi, biarlah kusampaikan lewat puisiku
Aku di ujung rapuh…
Seperti hujan yang lesak ke tanah, menunggu sirna…
(merapuh di akhir november, 2009)
sebenarnya kutak ingin berada di sini, di tempat yang jauh dan sepi, memisahkan kita
ini ku bawakan tongkat,
untuk menopang
tubuhmu
yang merapuh…
emang udah tua ya mbak yu? hehehe…
vizon | Dec 1, 2009 | Reply
Bolehkah kupinta sesuatu (yang mungkin) yang dapat kau lakukan… Kuingin membaca puisimu yang indah gemulai ini dengan diiringi sebuah lagu lama: “Begadang” (Rhoma Irama)…?
Janganlah tertawa kawan, saya hanya ingin mengenang masa-masa indah kita, ketika kita berdarah-darah di Markas Kakilangit Kencana, untuk merampungkan novel kalian? Akankah masa-masa “kenthir” seperti itu akan terulang?
Lagu “Begadang” rasanya indah nian tuk didendangkan… Proviciat ILUMINASI.
Syafruddin Azhar | Dec 2, 2009 | Reply
Wow…
jangan bilang kau mengerti!
Karena kau bukan aku!
semangat mbak!
December miracle..
blueismycolour | Dec 7, 2009 | Reply
dalem bgt mba puisinya… bergetar saat membacanya… tiga kali lebih kubaca puisi ini, tapi tetap menghasilkan rasa yang sama. oya, sukses y mba buat “anak perempuannya”nya…
dewi | Jan 8, 2010 | Reply
menunggu sirna..
kering disesap panas di ujung daun kering rapuh
dan hilang..
Yessi | Feb 5, 2010 | Reply