Silet Cap Perih
Posted by Lisa Febriyanti on Nov 21, 2009 in ladang puisi

Ah, bulan yang segaris lengkung, jadilah saksi sebuah perih
Jangan lagi kau kerjab lentik bulu matamu, demi detik-detik yang melesakkan jantungku
Perhatikan dengan seksama darah yang merembes dari pori-pori
Lolos dari endothel begitu saja
Tanpa bendungan, tanpa balutan
Jangan, jangan mendung lagi kau jadikan tameng
Karena sedang kupertontonkan luka yang menganga
Usah lagi kau bilang kabut tak lagi bergerak membayangi
Karena sedang kuhidangkan perih dalam semangkuk porselen yang telah gupil
Tak ada lagi mata yang memicing, tak mau menatap
Lihat, bahkan dengan getirmu
Kau harus tahu,
Ia telah menghujam silet
Bukan di wajah, bukan di dada
Tetapi di punggung
Pada titik lenaku yang paling dalam
Ketika aku tak siaga
Dengan cepatnya ia bertindak
Menghujamkan silet cap perih
Ia berlalu, tetapi silet tetap menancap
sedih dan sadis!
mengerikan…
jacko | Nov 22, 2009 | Reply
aaah sebuah pedih yang sangat cantik penyajiannya mbak Lisa. tiptop!
oh ya, ada satu kata yang agak aneh menurut saya: gupil. apakah bukan gumpil? itu artinya pecah sedikit kan?
bening | Nov 22, 2009 | Reply
pinjem siletnya ya?
*mengambil silet yg menancap itu, membersihkan rambut liar didiatas bibir dan sekitar dagu, lalu menancapkan kembali*
trimaksih
*berkaca sebentar trus pergi ngeloyor*
(copas dr komen di fb)
koelit ketjil | Nov 22, 2009 | Reply
terkatup juga logikaku, menganga sudah imajinasiku…
parah kondisiku membaca rajaman kata-katamu Mbak..
apik sangat!
senoaji | Nov 23, 2009 | Reply
akhirnya… ’silet cap perih’ muncul dalam bentuknya.
goenoeng | Nov 23, 2009 | Reply