Silet Cap Perih

bloody-razor-blade-on-edge

Ah, bulan yang segaris lengkung, jadilah saksi sebuah perih
Jangan lagi kau kerjab lentik bulu matamu, demi detik-detik yang melesakkan jantungku
Perhatikan dengan seksama darah yang merembes dari pori-pori
Lolos dari endothel begitu saja
Tanpa bendungan, tanpa balutan

Jangan, jangan mendung lagi kau jadikan tameng
Karena sedang kupertontonkan luka yang menganga
Usah lagi kau bilang kabut tak lagi bergerak membayangi
Karena sedang kuhidangkan perih dalam semangkuk porselen yang telah gupil
Tak ada lagi mata yang memicing, tak mau menatap
Lihat, bahkan dengan getirmu

Kau harus tahu,
Ia telah menghujam silet
Bukan di wajah, bukan di dada
Tetapi di punggung
Pada titik lenaku yang paling dalam
Ketika aku tak siaga
Dengan cepatnya ia bertindak
Menghujamkan silet cap perih

Ia berlalu, tetapi silet tetap menancap

5 Comment(s)

  1. sedih dan sadis!
    mengerikan…

    jacko | Nov 22, 2009 | Reply

  2. aaah sebuah pedih yang sangat cantik penyajiannya mbak Lisa. tiptop!
    oh ya, ada satu kata yang agak aneh menurut saya: gupil. apakah bukan gumpil? itu artinya pecah sedikit kan?

    bening | Nov 22, 2009 | Reply

  3. pinjem siletnya ya?

    *mengambil silet yg menancap itu, membersihkan rambut liar didiatas bibir dan sekitar dagu, lalu menancapkan kembali*

    trimaksih

    *berkaca sebentar trus pergi ngeloyor*

    :)

    (copas dr komen di fb)

    koelit ketjil | Nov 22, 2009 | Reply

  4. terkatup juga logikaku, menganga sudah imajinasiku…

    parah kondisiku membaca rajaman kata-katamu Mbak..

    apik sangat!

    life: ngiknguk, ndak kena sabet silet kan? :D

    senoaji | Nov 23, 2009 | Reply

  5. akhirnya… ’silet cap perih’ muncul dalam bentuknya. :)

    life: ini goresan paling dalam, Mas Goen…makanya baru keliatan hehehe

    goenoeng | Nov 23, 2009 | Reply

Post a Comment