Nyanyian Tebu

Kalau bukan rindu, lalu kau namai apa semua ini?

tebuAku sering mendengar nyanyian tebu. Di siang hari, ketika kaki kuselonjorkan begitu saja di karpet berwarna coklat. Dengan sarung yang lipatannya tak lagi beraturan dan masai di sana-sini. Dengan bantal yang kadang lupa kuganti penutupnya hingga berminggu-minggu, hingga bau apak yang tetap kusukai, menggelitik hidung. Di saat begitu, tak ada yang lebih mendamaikan daripada nyanyian tebu yang mendayu dan dihantarkan angin.

Aku tak akan pernah lupa pada nyanyian tebu. Mengalun dalam frekuensi rendah dengan harmoni nada yang sederhana, namun di sana letak keindahannya. Beberapa kali mendengarnya, aku sudah hapal pada nada-nada itu. Seperti lagu yang langsung akrab di telingamu, lalu dengan mudah kau ulang untuk kau nyanyikan sendiri. Hmm, aku sedang mencari kalimat untuk mendeskripsikannya. Nyanyian tebu itu seperti ensemble dari kumpulan suara tubuh tebu yang bergelayutan satu sama lain. Telingaku seperti memindai saxophone yang ditiup penuh sensasi, lalu dawai harpa yang dipetik jemari lentik, biola yang digesek menyayat hati, dan perkusi yang pelan saja memberi ritme. Nyanyian tebu adalah seruan akustik dari tubuhnya sendiri.

Nyanyian tebu, langsung kudengar begitu aku menginjakkan kakiku di taman itu. Sebuah taman penuh kembang-kembang harapan yang langsung kupeluk dan kubawa masuk ke dalam rumahku. Awalnya sangat pelan. Hingga harus kupejamkan mata dan berkonsentrasi mendengarnya. Lalu nada-nada itu memasuki gendang telingaku. Meninggalkan jejaknya di sana, dan tak akan hilang kemanapun kaki melangkah.

Rumah itu memang dikelilingi kebun tebu. Daun tebu bahkan menggapai-gapai di tembok belakang. Di depan, hanya berkisar jarak 1,5 meter antara taman penuh harap itu dengan kebun tebu yang cepat sekali berbunga. Rumah itu senyap, tak banyak kata, tapi menguarkan senyum dan bahagia. Dari sana, aku pernah menjumpai pelangi paling indah yang pernah melengkung di langit. Lalu, nyanyian tebu adalah hiburan paling mendamaikan sepanjang hari.

Ada satu yang tentang nyanyian tebu yang membuatku mencatatnya di sini. Nyanyian tebu itu tak pernah hilang dari telingaku, bahkan ketika aku jauh dari kebunnya. Ia makin lincah terdengar, dari jarak ratusan kilometer aku menjejak. Ia memanggil-manggil dengan simponi paling memilukan yang pernah diperdengarkan. Nadanya mengoyak isi dada yang tak mampu lagi berkata karena tertutup semua ruang. Justru selalu lebih menyayat ketika aku jauh dari kebunnya. Tak ada yang bisa mengerti lagi bagaimana nyanyian tebu itu bisa mengalun begitu abadinya di telingaku.Tak ada yang bisa paham lagi, bahwa hanya nyanyian tebu itu begitu indah sekaligus pilu.

Nyanyian tebu, apakah ia sebuah gelar simponi yang masih menunggu standing ovation dariku di bibir panggungnya?

catatan: gambar diambil dari depan rumah penuh harap itu. dengan kebun tebu bersiram kabut pagi di bulan februari 2009

4 Comment(s)

  1. Nyanyian tebu begitu mempesonakan mbak Lisa :D Dalam sejarah nyanyian tebu pula yang memanggil VOC untuk menduduki Jawa Dwipa, nyanyian tebu yang membuat cengkeh di Maluku tak lagi berharga. Manisnya gula hasil sari pati dari tebu sangat menggoda….

    Bersama nyanyian tebu hari ini, kita menikmati Kemerdekaan. Selamat Hari Pahlawan mabak Lisa…

    tengku puteh | Nov 12, 2009 | Reply

  2. nyanyian tebu itu memang indah dan melenakan…
    tapi, sekarang sedang tak ada, karena baru saja kupanen dan kuteguk manisnya… hanya remah saja yang tertinggal di ladang itu… tolong dibersihkan ya mbak yu :D

    vizon | Nov 20, 2009 | Reply

  3. Kamu membawaku ke sebuah ladang tebu yang amat kukenal, yang ketika siang hari gemerisik angin di sela dedaunannya sangat kurindu.

    Nice Cha. Thanks.

    life: aha! dimana itu Yog? Kampung halaman kah?

    Yoga | Dec 7, 2009 | Reply

  4. Dekat dengan ladng tebu yang dikunjungi Minke ;)

    Yoga | Dec 9, 2009 | Reply

Post a Comment