Janji Seribu Candi
Posted by Lisa Febriyanti on Jul 1, 2009 in ladang inspirasi, ladang kerja, ladang kreasi
Syahdan, Bandung Bondowoso yang telah gagal dalam percobaan pertamanya memikat Roro Jonggrang dengan 1000 candi, kini telah bereinkarnasi di tahun 2009. Ruh Bandung Bondowoso telah merasuk ke tubuh pemuda matang bernama Boni. Sosok pemuda yang sudah tak perlu memendam ingin lagi, karena semua inginnya sudah bisa terpenuhi dengan menjentikkan jari. Tapi ada satu inginnya yang masih terkekang, yaitu Roro Jonggrang.
Sejak kelahirannya kembali, Boni bertekad mencari Roro Jonggrang. Segala kelebihan dan kelimpahan materi yang dimiliki semakin membuatnya yakin, kali ini Roro Jonggrang pasti akan jadi miliknya. Perempuan mana yang tak tergiur dengan wajah simpatik Boni, dengan pijar intelegensinya yang benderang, dengan kata-katanya yang santun, dan yang paling menarik dari semua itu adalah kekayaannya yang luber tak terhitung. Roro Jonggrang pasti takluk.
Boni merasa sudah mengantisipasi semuanya, tapi ada satu hal yang tak bisa dikontrol oleh pemuda yang penuh percaya diri itu. Roro Jonggrang, yang penuh semangat perlawanan ternyata menitis di tubuh aktivis politik yang tak silau kekayaan. Vanessa. Meski namanya kebarat-baratan, tapi Vanessa sangat nasionalis. Dia pernah merasakan betul penderitaan rakyat yang sering dikangkangi hak-hak politiknya, merasakan sangat kesulitan ekonomi hidup akibat ideologi pasar bebas, menyemai dengan sangat sempurna kegelisahan anak-anak yang tak bisa sekolah. Sementara di seberang itu semua, manusia-manusia kapitalis seperti Boni hidup dengan tertawa.
Ketika pada suatu saat mereka bertatap mata, keduanya langsung tahu, bahwa reinkarnasi sudah berputar kembali ke titik awal kehidupan mereka. Mereka bukan lagi Boni dan Vanessa. Saat pertama berhadapan, jika saja kasat mata bisa melihat, saat itu Boni adalah Bandung Bondowoso dan Vanessa berubah menjadi Roro Jonggrang. Tapi kali ini Vanessa lebih tegar. Sangat lebih tegar ketimbang beberapa abad lalu ia meringkuk di depan Bandung Bondowoso, ketika mengetahui ayahnya telah terbunuh. Terbata-bata ia mengucap pinta. Satu-satunya kebebasan yang ia miliki saat itu untuk dibuatkan 1000 candi. Bandung Bondowoso yang tak mundur, berjanji menyanggupi. Namun, Roro Jonggrang bukan perempuan bodoh. Ia mampu membuat Bandung Bondowoso gagal memenuhi janji yang diobral penuh kesombongan.
Tahun ini, Bandung Bondowoso dihadapkan kembali pada proyek Roro Jonggrang. Vanessa sudah menyuarakan pinta, kali ini jelas lebih sulit, dalam lima tahun ke depan, Boni harus bisa benar-benar memenuhi Keadilan Sosial dan Kesejahteraan Rakyat. Hanya satu kalimat, tapi implikasinya sungguh luas karena harus dilakukan tanpa ada lagi yang tertinggal.
Sekali lagi, ini tak jauh beda dengan proyek Roro Jonggrang, sebuah proyek yang dirasa mustahil dilakukan dalam waktu yang singkat.Permintaan itu sangat tak masuk akal dalam dunia dengan genggaman sistem ekonomi pasar bebas, dimana keadilan bukan salah satu pengikutnya. Kekuatan pasar yang ada sekarang mengacu pada kebebasan dan minimnya campur tangan lembaga politik untuk penyelesainnya. Dunia ini sedang sibuk dengan privatisasi yang banyak menyingkirkan jauh nasionalisme yang menjadi basis kesejahteraan dan keadilan. Logika pasar sedang berjaya di ranah publik! Dimana keadilan harus diselipkan? Sungguh, ini memang proyek Roro Jonggrang lagi!
Boni terkatup ketika Vanessa berbisik padanya, “Kali ini, jangan hanya obral janji, sudah kehidupan kesekian kita bertemu, jika kau masih saja tak sanggup, putuskan saja rantai ruhmu”.
Layaknya sebuah perebutan, Boni punya tiga pilihan bantuan, nomer 1, nomer 2 atau nomer 3. Ia punya pilihan untuk memilih salah satunya. Bandung Bondowoso tak ingin gagal lagi. Berapa kali pergantian kehidupan yang harus ia lalui untuk saat-saat ini. Tapi sekarang, bantuan mana yang bisa melakukan proyek Roro Jonggrang ini? Dan dengan persyaratan baru dari permata hati, stop obral janji. Karena, Roro Jonggrang hanya punya satu pintu: keadilan, bukan lagi janji.
Ditulis untuk Creative Theme Day#2: Stop Obral Janji
catatan: foto senja di Prambanan oleh Lisa Febriyanti untuk Jogjaportrait

ndak ada pilihan bantuan no 4 ya. saya super yakin, Boni justru akan dibuat super bingung untuk memilih pilihan bantuan mana yang mau digunakan.
btw photo itu ingatkanku pada satu malam saat hampir ja kecemplung kali gara-gara kesengsem indah rupa malam prambanan. ihiks…..
onabunga´s last blog post..Creative Theme Day #2 : Obral Obrol Janji
onabunga | Jul 1, 2009 | Reply
saya mendukung Boni buat dapatin vanessa..
udah berabad-abad dia nungguin, walaupun proyeknya sangat sulit kalo pilihannya tepat pasti bisa.
semoga kali ini pilihannya tidak salah..hehehe
lilliperry´s last blog post..Kesan Pertama Begitu Menggoda
lilliperry | Jul 2, 2009 | Reply
Mudah2an Vanessa terpenuhi obsesinya, jangan lagi dijadikan arca yg ke 1000 (*sekuntum simbolis alegoris yg manis, Mbak Icha, maaf agak lama gak bersapaan*)
Ki Dhalang Sulang | Jul 2, 2009 | Reply
Menegakkan keadilan lebih sulit dari pada menegakkan seribu candi, setiap orang punya persepsi sendiri. Kalau Abu yang jadi Bandung Bandowoso pasti milih lari aja ah.
tengku puteh´s last blog post..RINDU YANG MALU-MALU
tengku puteh | Jul 6, 2009 | Reply
kelihatannya kang Boni ndak punya pilihan yang menjadi kekuatan dirinya.
eko magelang´s last blog post..Between Pendekar Tidar and Me
eko magelang | Jul 6, 2009 | Reply
jangan sembarangan lagi boni…tepati janjimu. jangan lagi aku jadi korban…mematung beribu tahun lamanya.
geRrilyawan´s last blog post..OBAMA’S FRIED CHICKEN VOL.1
geRrilyawan | Jul 13, 2009 | Reply
Berdua…
tancapkan bendera di ketinggian
kibarkan cinta dan kerinduan
Bersama…
sematkan bara di dada
panas menyakitkan
damba menggairahkan
Ya..
cinta kita bukan tali kekang yang mencederai perbedaan
cinta kita bukan petikan gitar yang mengharap syair biduan
cinta kita adalah cangkul di tangan petani
tetes keringat kuli
gemericik air di kali
Bersatu…
jiwa kita titisan Garuda
membubung tinggi mendobrak batasan cakrawala
hasrat adalah guntur
gelegar mengoyak tirani dogma
dekap erat mengerjap
bibirmu di bibirku memercik api
ledakkan gairahnya
satukan dalam warna
MERAH.. PUTIH..
..terbakar aku oleh merahmu
..kulebur kau dalam putihku
MERAH PUTIH
tomy | Jul 22, 2009 | Reply
Icha,
seneng pada tema “keabadian” yah?
pada sesuatu dan banyak hal..jangan jangan kamu Roro Jonggrang yah?
Arif Nofiyanto | Jul 23, 2009 | Reply
kemana aja jeng, sudah lama tidak aktif. Aku rindu
tengku puteh | Jul 26, 2009 | Reply
mana postingan yang baru mbak ?
eko magelang | Jul 27, 2009 | Reply