Keabadian dan Tukang Kebun (habis)
Posted by Lisa Febriyanti on Jun 26, 2009 in ladang kreasi
Keabadian dan Tukang Kebun (1)
Keabadian dan Tukang Kebun (2)
Pertanyaanku tak terjawab. Aku membiarkannya begitu, hingga aku rangkai pengertian-pengertian baru dalam pertemuan kami kali ini.
Setelah Perjanjian Versailles ditandatangani dan Perang Dunia meredup, aku mencoba menemukan kembali kaumku yang berkeliaran. Aku tak menyangka akan menjadi salah satu yang tertua saat itu. Vampir-vampir lainnya mengelukanku untuk membangun kembali perkumpulan yang porak poranda. Aku ingat, vampir-vampir perempuan melekat padaku, vampir lain yang lebih muda terus meminta perhatian, tak mempedulikan Zen yang mengkerut di sampingku.
Dengan taktis aku mengumpulkan kembali kelompok-kelompok vampir yang bersembunyi. Membangkitkan dan meminta mereka bertahan pada komunitas masing-masing, sembari terus berhubungan. Namaku terus menanjak di kalangan vampir. Oktagon, Sang Tetua. Begitu aku disebut. Aku jumawa dalam keadaan itu. Tapi itu tak lama, aku segera melempem lagi karena Zen meninggalkanku.
Baru terpetik di pikiranku sekarang, meskipun dia pergi, Zen tak pernah mengkhianatiku dengan berpindah ke pelukan vampir lain. Tak pernah sekalipun. Bagi kami, tindakan itu adalah khianat yang paling menyakitkan. Hampir setiap kami memiliki pasangan abadi. Di kalangan vampir, cinta berbanding lurus dengan panjang hidup kami. Jika salah satu terbunuh, maka dendam kesumat dipastikan akan memenuhi rongga hati. Karena, itu sama saja membunuh diri kita sendiri. Zen tak pernah menyakitiku begitu. Ia selalu pergi sendirian. Bahkan, tak pernah lari ke komunitas vampir lainnya. Dalam pertemuan-pertemuanku dengannya kembali, dia tak pernah terlihat terikat dengan vampir manapun. Kadang, jika keadaan memungkinkan, dia lebih suka berbaur dengan manusia. Mungkin itu menjadikannya lengkap. Menjadikannya seperti manusia dengan sesuatu yang tak dipunyainya. Napas dan degup jantung.
Perenungan kembali ini membuatku mulai paham apa yang dilakukan Zen. Dia merasa tersisihkan. Dia merasa tak lagi dibutuhkan saat aku asyik dengan diriku sendiri. Dia membaca tiap kelebat dalam pikiranku, tentang jumawaku, tentang hasratku, tentang hal-hal yang aku cari sepanjang aku menjadi vampir. Kuakui, aku sering lupa diri. Sering meninggalkannya termenung sendiri, tanpa aku hendak cari tahu apa yang merisaukannya. Sering pula tak mengajaknya serta dalam langkahku. Ah, betapa tololnya aku mengira apa yang kuinginkan akan mudah diterimanya begitu saja.
“Kenapa kau tak pernah mengatakan apa-apa?” aku bertanya.
“Aku ingin kau menyadarinya sendiri, Oktagon.”
Kami terdiam cukup lama. Matanya jernih. Bibir mungilnya terkatup rapat. Tubuhnya bergetar dalam frekuensi yang sangat rendah. Tapi aku masih bisa merasainya. Di saat seperti ini, aku justru ingin segera memeluknya, melumat bibirnya, menghimpit tubuhnya dan menyesap aromanya. Tapi aku tahu, Zen sedang tidak ingin aku melakukannya sekarang. Ini saatnya dia berbicara. Setelah beberapa abad dia tak bicara tentang sejuta alasannya meninggalkan aku.
“Kau ingat terakhir kita bersama?” Zen menggugah keheningan diantara kami.
Tentu saja aku ingat, “1 September 1939, persis saat Hitler menginvasi Polandia, membakar api Perang Dunia II di dataran Eropa”.
Saat itu aku terperangah dengan taktik Blitzkrieg, perang cepat a la Hitler. Hanya iblis yang pada masa itu bisa bergerak secepat Hitler. Untung saja perkumpulan sudah pernah ada dalam situasi perang. Kami sudah siaga dan tetap tak ingin ikut campur urusan manusia itu. Meskipun bagi kami, Hitler tak ubahnya melakukan perburuan mangsa seperti yang kami lakukan. Tetap saja, di situasi perang semacam itu, aku tergugu dan kembali berpindah-pindah tempat. Zen muncul kembali di suatu kelokan jalan sehabis aku menghisap habis darah buruanku. Aku langsung meraih tangannya dan kami melesat ke tepi hutan. Kami bercinta dengan suara pelan, menggugurkan rindu yang sudah di ujung taringku. Dan kami terus bersama sejak saat itu.
“Aku selalu ada untukmu, Oktagon. Hanya kau yang tidak menyadarinya”.
Aku mengaduk-aduk pikiranku. Bagaimana mungkin dia berkata selalu ada untuk aku? Cukup lama aku terbungkam, mencari pola pertemuan kami dan kepergiannya. Lalu serangkum pengertian itu menerangi kepalaku, dia datang tiap kali resahku sudah meluber, saat aku merasa sangat sendirian, saat aku merasa porak poranda di hampir kepingan terakhir. Aha! Jadi begitu?
“Iya, tepat begitu. Di saat itulah kau merasa membutuhkan aku, bukan yang lain. Bukan komunitasmu, bukan perkumpulanmu atau teman-teman vampir lainnya”.
Hey, dia memang selalu pergi saat aku mampu berdiri tegak dan jumawa. Dan aku mengakui, di saat itu, Zen hanyalah sebuah bagian kecil dari hidupku. Ambisi, ego, kesenanganku dan pengakuan atas diriku menjadi lebih penting. Toh, Zen sudah di sana. Kebutuhan yung meluap-luap atas dirinya terkalahkan oleh semua itu. Zen mampu membaca itu dengan persis di kepalaku. Sedangkan aku, tak mampu mendengarkan itu semua.
Perang berakhir, dunia mengalami kemajuan dimana-mana. Zen pun pergi lagi. Hingga sekarang, 2009, aku menjumpainya di saat aku merasa komunitas mulai meninggalkanku. Oktagon, Sang Tetua harus mau mundur bersaing dengan vampir-vampir muda lain dengan pemikiran yang lebih cemerlang.
“Kau gila, Zen. Kalau yang kau rasakan buatku itu cinta, itu cinta yang aneh!” aku masih tak ingin mengakui egoku.
“Kau yang tak paham, Oktagon. Karena itu kau bilang aneh”.
“Apa yang harus aku pahami? Apa belum cukup rindu yang selalu berdenting itu?”
“Seorang pecinta ibarat tukang kebun,” Zen menyentuh tanganku.
Tukang kebun? Hah?
“Tukang kebun bukan hanya menanam. Agar tumbuhan itu bisa bertumbuh dengan indah, dia perlu memupuk, dia perlu merawat, dia perlu menyirami, dia bahkan perlu berbicara dengan tanamannya, melakukan pertukaran energi dengannya. Dan itu tidak dilakukan di awal saja. Tapi di setiap kebutuhan, bahkan di setiap langkahmu.”
Aku mencerna kata-katanya.
Zen melanjutkan, “Dan kau biarkan tanaman ini mengkerut, menghilangkan kebiasaanmu menyirami dan merawatnya, sehingga ia mengering bahkan tanpa kau ketahui”.
Aku menggenggam tangannya dalam diamku. Aku tak hendak mengingkari kata-katanya lagi. Aku memang bukan tukang kebun yang baik. Membiarkannya mengkerut begitu rupa di saat vampir-vampir lain menginginkanku dan membiarkannya kering ketika aku berkelindan memenuhi hasratku sendiri. Aku paham kini, betapa berartinya Zen ketika dia sedang meninggalkanku. Saat dia di sampingku, aku tak lagi mengindahkannya. Melupakan hal berharga yang sebenarnya aku miliki dengan mencari penghargaan yang lain. Pantas saja, denting gelas itu makin nyaring ketika dia pergi. Lalu memudar pelan ketika nada-nada lain dalam hatiku berbicara.
“Yang paling tolol dari semua ini, butuh waktu tiga abad untuk kau menyadarinya!” katanya sembari mengukir senyum yang miris di bibir.
Reaksi itu justru membuat aku tertawa. Menertawakan diriku sendiri.
Bagiku, vampir perempuan di hadapanku ini adalah vampir paling cantik yang aku temui selama tiga abad terakhir dan seharusnya menjadi yang paling cantik selama usia imortalku. Aku tahu aku sangat mencintainya, dan mestinya tak cukup hanya dengan mengucap dan merasakan rindu. Seperti tukang kebun itu, tak cukup menanam, cinta yang ini harus terus dipupuk dalam waktu yang memang diperlukan. Keabadian yang kumiliki memang tak hanya diisi dengan cinta, tapi selain usia, hanya cinta yang bisa mengiringi keabadianku, bukan hal-hal mortal lainnya. Untuk yang satu itu, tugas “tukang kebun” memang membuat segalanya tetap terjaga dan indah.
“Dan…,” ia menggantungkan kalimatnya.
Apa lagi?
“Aku juga masih perlu belajar menjadi tukang kebun,” lalu terburai lah tawanya.
Vampir pasangan abadiku ini sungguh gila. Berdiam diri sebentar, berharap dimengerti tanpa berkata apa-apa, dan jika tak ada yang aku lakukan, dia pun pergi. Dia belajar dengan caranya sendiri dan membiarkan aku belajar dengan caraku sendiri. Hmm..cara yang hebat untuk menjalani keabadian.
:tabik untuk tukang kebun, yang bekerja untuk keabadian.
thanks to Stephani Meyer di Twilight, atas inspirasi, dialog yang menggugah, serta petikan pelajaran bahwa cinta dan kasih sayang tak hanya bekerja dalam keseragaman, tapi juga menjadi indah dalam keberagaman.
akhirnya selesai jg, numpang komen lagi..
dari awal saya tertipu, ternyata zen itu yg jd ceweknya.. hahaha
keren endingnya, dialognya jg ngalir. mantab dah..
lilliperry´s last blog post..[Masihkah] Garuda Di Dadamu
lilliperry | Jun 26, 2009 | Reply
Sedari awal, aku udah menduga ada benang merah dengan “Twilight”, karena film itu termasuk yang terkini menyegarkan ingatan tentang keabadian, makanya aku lebih suka kata Vampire disembunyikan saja ditengah cerita dan itu akan lebih membebaskan imajinasiku..(aku)…
btw, keren abis Cha..
lanjut yang lain..
sementara ini beda beda IP kalo kamu perhatiin, alias masih jadi infanteri warnet…
acer sux
Arif Nofiyanto´s last blog post..Ternyata Aku Tidak Sendiri
Arif Nofiyanto | Jun 26, 2009 | Reply
oalahh…ini baru tulisan.
baca dulu, kawan..
Kidnapper | Jun 29, 2009 | Reply
Cinta itu bagai tukang kebun, ide yang menarik ketimbang harus mengingat cinta platonik yang berlangsung hanya seminggu
tengku puteh´s last blog post..CERITA TENTANG MASA LALU
tengku puteh | Jul 2, 2009 | Reply
tersenyum puas !
karena sudah tamat.
Heeem mbak… hebat ya bisa menggabungkan sejarah kedalam tulisan.
btw kadangkala kita manusia sering take someone for granted..
ah jadi bercermin
nice mbak Icha
Eka Situmorang – Sir´s last blog post..Sebuah Pertanyaan [Alnect Komputer]
Eka Situmorang - Sir | Jul 10, 2009 | Reply