Keabadian dan Tukang Kebun (2)
Posted by Lisa Febriyanti on Jun 22, 2009 in ladang kreasi
Keabadian dan Tukang Kebun sebelumnya
Rasanya baru kemarin ketika aku pertama kali melihatnya. 14 Juli 1789, penyerbuan ke Penjara De Bastille. Sebuah momentum yang mengawali Revolusi Perancis. Aku melihat sosoknya diantara kerumunan orang-orang yang marah pada monarki. Kulitnya yang pucat, matanya yang kelam serta geraknya yang sangat gesit untuk ukuran manusia biasa, langsung bisa kukenali sebagai salah satu ciri kaumku. Di tengah gemuruh massa yang berseru “Vox Populi, Vox Dei!”, aku masih bisa mendengar desis dan geram dari bibirnya. Tahu aku perhatikan, dia menoleh ke tempatku berdiri. Terpana beberapa saat, mungkin tak mengira ada juga yang seperti dia. Bahkan dekat dengannya.
Sebuah pedang hendak menyambar dari belakangnya. Aku melesat, meraih tubuhnya. Menganyunkan tubuhnya dalam pelukanku, menghindari kilat pedang yang bercampur darah menyentuh tubuhnya. Saat itulah mata kami bertaut.
“Kau pasti tahu, aku tidak akan mati hanya dengan goresan pedang saat itu,” dia membaca pikiranku. Mengetahui bahwa aku mengenangkan pertemuan pertamaku dengannya.
“Tapi, kau yang akan membuat banyak orang mati. Kau pasti akan marah jika sedikit saja terluka. Bukan engkau yang aku selamatkan. Para revolusioner itu. Mereka sudah cukup menderita dengan Louis XVI,” aku tahu, pikiran Zen langsung meloncat pada kilat pedang yang hampir menggores bahunya dan masa hidup di bawah dua tekanan sekaligus. Monarki dan Gereja.
“Lebih dari 10 tahun kebersamaan kita, Zen. Lalu kau pergi begitu saja,” aku memutus ingatannya.
“Aku tidak pergi. Aku hanya menyingkir. Ambisimu dengan ekspansi Bonaparte itu membuatku lelah. Matamu tidak lagi coklat, tapi menjadi lebih keruh dan kau makin kerap mendesis. Aku ada di dekatmu, tapi kau seperti jauh,” gantian dia yang menatapku lekat.
Aku terdiam. Sebelumnya Zen tak pernah bicara tentang itu. Aku kira dia memang sudah bosan denganku. Dia pergi untuk ambisiku?
Pernyataannya itu membangkitkan pengertian baru di kepalaku, “Tapi sesungguhnya kau tak pernah jauh kan? Jujur padaku, kau sengaja meninggalkan aromamu pada tempat-tempat yang kau pikir akan aku datangi? Betul begitu?” aku mulai membaca pikirannya.
Zen tak segera menjawab pertanyaanku. Lima belas detik kemudian dia bergumam, “Seandainya kau tahu dari dulu.”
Aku terkesiap. Aku memutar lagi pertemuan-pertemuanku dengannya. Setelah Perancis, kami bertemu kembali di Inggris, tepat ketika Belanda harus menyerahkan seluruh negara jajahannya kepada Inggris. Itu kebersamaan kami yang singkat. Di tahun 1811, hampir saja aku menyusul perjalanan Raffles ke Pulau Jawa, jika saja Zen tak kemudian menghilang. Aku yakin, jika aku ke Jawa, menyusul Raffles menjadi Letnan Gubernur Jawa pada waktu itu, aku akan kehilangan Zen untuk selamanya.
Bagi kami, kaum vampir, hidup berpindah-pindah sudah menjadi keharusan. Jika tidak, kemudaan kami akan menjadi pertanyaan banyak orang. Drama kematian yang berulang-ulang harus kami ciptakan agar manusia di sekeliling kami tak pernah curiga.
Demi Zen, aku memilih bertahan di Inggris, sambil mencarinya, meskipun gejolakku untuk melihat Jawa tak tertahankan. Bagiku, tanah itu sungguh eksotik. Aku sudah banyak mendengar keelokannya. Negeri dengan peradaban kuno yang luas namun menjadi jajahan Belanda yang jauh lebih kecil darinya. Untung saja, sekembalinya Raffles dari Jawa, dia segera membuat sebuah buku mengenai Jawa, History of Java. Aku membacanya, sembari mencari tahu dimana Zen ku.
Aku bertemu kembali dengannya lebih dari tiga puluh tahun kemudian, pada 1845, ketika Texas resmi menjadi negara bagian Amerika Serikat. Aku sudah hampir seperti gelandangan saat itu. Tak ada komunitas yang menyertaiku. Aku bersorak ketika hidungku menangkap aromanya. Dan dia di sana. Aku baru menyadari, dia sepertinya sudah menungguku. Girang yang kurasakan menutup kemungkinan itu. Ya betul, dia berdiri di sana. Dengan sengaja, memperlihatkan dirinya di tempat sepi, bukan di tengah kerumunan. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?
Hampir 20 tahun kami bersama lagi. Zen, masih dengan kejutan-kejutannya. Di suatu waktu ia begitu tenang dengan senyumnya, di waktu yang lain dia begitu murung. Tapi tetap tak banyak kata yang keluar. Sepanjang yang aku kenal, kebiasaannya ini membuat Zen nampak menganggap semua persoalan bukan himpitan baginya. Seperti angin saja yang bertiup, sekencang apapun, dalam beberapa saat pasti akan menghilang. Ah, dan itu sangat mirip dirinya. Angin.
Aku mengiringi Jenderal Ullyses Grant berperang di Sungai Mississippi ketika Civil War Amerika meruyak dan menggerogoti pemerintahan baru Presiden Lincoln, ketika aku tak lagi menemukan Zen di rumah. Dia sudah pergi lagi. Tanpa pesan.
“Kau terlalu besar buatku saat itu,” dia selalu tahu apa yang aku pikirkan.
Aku terhenyak. Kaget dan bingung. Alasan apa lagi itu?
“Semua orang mengelukanmu. Orang kepercayaan Ullyses Grant yang tak pernah kalah dalam setiap pertempuran. Kau yang membuat Sang Jenderal dipercaya sebagai Jenderal Terbaik oleh Lincoln.”
“Lalu?”
“Nah, sekarang kau yang menggampangkan,” Zen membalasku dengan telak.
“Pernah merasa tak dipandang sebelah mata? Ketika kau menikmati semua itu, pernah berpikir tentang aku? Ah, mungkin kau jawab iya. Tapi, seberapa besar? Sebesar inginmu saat mengendusi dimana aku berada? I dont think so,” dia berkobar dan menggeram, tanpa jeda. Tangannya sudah mengepal. Mungkin tinggal menunggu aku bergerak, satu inchi saja, dia sudah pasti akan menubrukku.
Aku diam tak bergerak.
Zen melanjutkan, “Kau tak lagi memikirkan aku, toh aku sudah di sampingmu. Dan itu kesalahan terbesarmu!”
Kenapa jadi aku yang salah? Aku mengingat saat-saat dia menghilang. Aku memang begitu menggebu menemukannya. Mencari jejaknya dan mengendusi baunya. Dulu kukira ia begitu bodoh membiarkan baunya mudah aku telusuri. Tapi sekarang aku menyadari, Zen sengaja melakukan permainan ini. Dia justru hewan buruan yang sangat pintar. Di saat naluri berburuku menggelegak, di saat aku begitu menginginkannya, dia justru sangat senang. Dia meninggalkan jejak dimana-mana untuk aku telusuri.
Di Jerman, 1867, ketika dia tiba-tiba aku jumpai tengah duduk di sebuah ladang dengan membaca buku Das Kapital, karya Karl Marx. Kami bercinta tanpa lelah, mulai malam hingga pagi di ladang itu. Keesokan harinya, dia pergi, meninggalkan buku Das Kapital cetakan pertama itu dalam pelukanku.
Sebelum itu, aku merasa sempat melihatnya di 1833, tapi aku tak beruntung mendapatinya tersenyum untukku. Letusan Krakatau pada 26 dan 27 Agustus itu membuat dunia kelam. Debu vulkanik menghalangi penciumanku. Aku seperti melihat bayangannya berkelebat, tapi aku tidak yakin.
“Itu memang aku. Sengaja mengulang jejakku, untukmu,” dia membenarkan pikiranku.
Perang Dunia I di tahun 1914 hingga 1918 memiliki arti yang sangat mendalam bagi kami. Perang besar dengan melibatkan banyak sekali pasukan itu, membuat kami justru lebih merapat dan bersatu. Kami hidup berpindah-pindah lebih kerap, baik di Eropa maupun Asia, tak ada yang luput dari imbas perang ini. Tapi kami justru menikmatinya. Kami jelas tidak takut mati oleh perang, tapi kami tak ingin makin membuat para prajurit itu panik mengetahui diri kami yang sebenarnya. Sepasang vampir yang sedang kasmaran dan bisa menghabiskan satu peleton prajurit dengan sekali kibas jika sedang marah. Di saat begitu, kami lebih baik bersembunyi jika tidak ingin menjadi incaran negara-negara yang ingin memenangkan perang.
Kebersamaanku dengannya kini terngiang, seperti sebuah film yang terhampar dengan layar di depanku. Aku memang bersamanya, tapi agenda-agendaku menjadi vampir yang tak sekadar menjalani keabadian juga tak pernah aku lewatkan sedikitpun. Aku ingin berjaya atas diriku sendiri. Apakah itu salah? Apakah itu yang membuatnya pergi?
bersambung di:
mbak, saya tersesat kesini..
salam kenal sekalian numpang komen…
ceritanya menarik sekali, dari masa ke masa..
btw nyampe ke indonesia ndak mbak..? hehe
ditunggu lanjutannya..
lilliperry´s last blog post..Selamat Datang di Pasar NKRI
lilliperry | Jun 23, 2009 | Reply
tutuge suk kapan ?
eko magelang´s last blog post..Makam Maulana Malik Ibrahim
eko magelang | Jun 23, 2009 | Reply
Nunggu lanjutannya,
tu knapa pake dibilang vampir? smoga bukan blunder ne cha.
abis tour of history..apa yah..*bertanya tanya*
Arif Nofiyanto´s last blog post..Ternyata Aku Tidak Sendiri
Arif Nofiyanto | Jun 23, 2009 | Reply
Vampir??
Pantasan bisa hidup lama.
Tapi saya gak berani menyimpulkan dulu, takutnya di seri ketiga jadi beda alurnya.
Ditunggu !
Eka Situmorang – Sir´s last blog post..Hesti Ingin Menari
Eka Situmorang - Sir | Jun 24, 2009 | Reply
gag.. gag salah… buktinya, sambungannya ‘keluar’ dan rame di perbincangkan
hhehehehhe… salam kenal iia
genialbutuhsomay´s last blog post..Get Connected with Line Art
genialbutuhsomay | Jun 25, 2009 | Reply
maaf nii komennya di sini, di kamar sebelah udah sampe 102… ck ck ck…
hihihihihihi…
saiia gag tau itu termasuk apa, tp yg jls saiia nyebutnya Line Art… heheheh,,, terimakasih kunjungannya dan komennya… (sebenernya itu paduan antara vector sama LineArt campur Painting… puyeng2 dahh… sama saiia juga puyeng nii
genial´s last blog post..Get Connected with Line Art
genial | Jun 26, 2009 | Reply
Keabadian, hemh. Entah mengapa ketika membaca bulu roma Abu berdiri. Betapa keabadian itu bisa terasa sangat menyakitkan, sebuah hidup tanpa istirahat.
tengku puteh´s last blog post..CERITA TENTANG MASA LALU
tengku puteh | Jul 2, 2009 | Reply