Keabadian dan Tukang Kebun (1)

dininggelasKau tentu tahu bagaimana bunyi denting gelas, bukan?” aku menatap lekat matanya.

Sedetik dia tahu bahwa aku sedang menghujamnya dengan pandangan yang menuntut. Dia sadar itu, kemudian mengalihkan matanya ke cangkir bulat yang sedang dipegangnya. Dia menjentikkan jarinya ke cangkir dan terdengarlah bunyi ‘tek!’, pelan saja, karena cangkir separuh penuh dan lebih tebal dari gelas yang kumaksud.

“Seperti ini?”

“Bukan. Seharusnya lebih nyaring,” aku mencari-cari matanya lagi.

“Lalu kenapa?”

“Bayangkan jika dentingnya itu bisa kau dengar sepanjang kau membuka mata. Terus berdenting, tanpa henti. Suaranya indah sekaligus menyakitkan. Bisa terbayang?” aku terus memandanginya, berharap bisa melihat bagaimana reaksi perempuan itu.

Bola matanya naik ke atas. Jari telunjuknya mengetuk bibir berkali-kali. Dia benar-benar membayangkan bagaimana bunyi denting gelas yang tak pernah berhenti itu.

“Ya, aku sudah dapat bayangannya. Lalu?” Aku mendesah. Perempuan ini suka bertingkah memang. Aku memang bilang untuk membayangkannya, tapi aku tak berharap  dia sungguh-sungguh membayangkan seperti itu. Seharusnya dia sudah langsung paham. Ah, tapi dia bukan aku. Dia tetap dia. Sepanjang tiga abad yang kukenal,  dia tidak berubah.

“Seperti itu rindu buatmu,” aku memutuskan tak mengomentari tingkahnya.

Dia terdiam. Mungkin tak mengira aku menganalogikan denting gelas itu dengan rinduku. Tak mengira aku punya rasa sekuat itu, hingga tiga abad kehidupanku. Jika memang ini boleh dibilang kehidupan.

“Kemana saja kau?” aku melanjutkan.

“Berkeliaran, berburu, sekaligus bersembunyi jika memang aku harus sembunyi,” dia menjawab ringan.

Aku mendesah lagi. Sepertinya dia tak pernah menganggap rasaku penting baginya, meskipun sudah ribuan kali aku mengatakan padanya. Perempuan ini datang dan pergi sekehendaknya sendiri. Bodohnya, aku selalu tak bisa mencegahnya. Bagiku, alasan terpenting aku mencintainya adalah melihatnya bahagia. Walau aku tahu, dalam daftar bahagianya, seringkali aku tak masuk hitungan. Tapi setiap kali dia tersenyum dengan mata berbinar-binar, aku luluh. Kubiarkan diriku didera rasa sakit, asal jangan dia.

“Zen, apakah kau akan pergi lagi?” aku menyerukan pertanyaan yang aku sudah tahu pasti jawabannya.

“Belum tahu”.

Persis seperti yang aku kira. Pertemuan ini pun, bukan karena dia yang ingin. Aku yang selalu mencoba mencegatnya di berbagai tempat. Mengendusi baunya dimanapun aku berada. Beberapa kali aku beruntung, tapi dia terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Kadang memang benar-benar sendirian. Kadang yang lain, bergerombol dengan teman-temannya. Berganti masa, teman-temannya pun berganti. Dan dia selalu bisa mengumpulkan temam-temannya yang baru.

bersambung di:

Keabadian dan Tukang Kebun (2)

8 Comment(s)

  1. rindu, kenangan… indah tapi menyakitkan ?
    begitu ?

    goenoeng´s last blog post..geni kalandara

    Tidak hanya tentang itu…sabar hingga habis cerita ini kututurkan ya hehehhe

    goenoeng | Jun 21, 2009 | Reply

  2. Inget tukang kebun jadi inget di puncak di rumah nenek…. hehe banyak tukang kebun handall

    Raffaell´s last blog post..Konser Pesta Malam Indonesia

    Hey, Raf…aku belum menyebutkan tukang kebunnya..siapa tahu memang Tukang Kebun nenekmu itu heheheh

    Raffaell | Jun 22, 2009 | Reply

  3. sepertinya kita ingin menjadi sahabat yang baik buat mereka,tapi kadang mereka tak menghendakinya.

    eko magelang´s last blog post..Cerdas Memilih Pemimpin, dari DONGENG UNTUK BANSA

    heheh Mas Eko..memang aneh ada yang menampik persahabatan ya…ikutin hingga penghabisan yo mas…:)

    eko magelang | Jun 22, 2009 | Reply

  4. kadang kita ingin menjadi sahabat yang baik buat mereka,tapi kadang mereka tak menghendakinya.

    eko magelang | Jun 22, 2009 | Reply

  5. Kali kedua saya mampir mbak :)
    salam kenal ya mbak…

    baca ini, jadi teringat rasa itu..
    rasa yg bertepuk sebelah tangan dan mesti berusaha untuk menggapai hatinya..
    I surely know the feeling :)

    Eka Situmorang – Sir´s last blog post..Pelepas Stress dalam perjalanan Pulang (2)

    Loh, kunjungan kedua Eda Eka? halah…maap ndak disuguhin apa-apa…duh bertepuk sebelah tangan? Jadi inget PUPUS hihihihi…eh tunggu lanjutannya ya..tangan yang sebelahnya lagi kira-kira akan menepuk siapa heheheh

    Eka Situmorang - Sir | Jun 22, 2009 | Reply

  6. Aku suka dengan cerita yang banyak pendetailan macam ini. Juga tentang “pikiran positif” didalamnya.

    Kupastikan, aku nunggu kelanjutannya.

    Dan..kupastikan Bli Arif tidak akan menunggu lama untuk kelanjutannya…eng..ing..eng…:D

    Arif Nofiyanto | Jun 22, 2009 | Reply

  7. hehehe maunya disuguhi berlian bisa gak mbak ?
    hihihi

    Eka Situmorang – Sir´s last blog post..Hesti Ingin Menari

    Berlian Hutahuruk, mau? :D

    Eka Situmorang - Sir | Jun 24, 2009 | Reply

  8. cinta, rindu itu menjengkelkan!!! Tapi mengapa ku selalu terlarut kedalam jaring-jaringnya :(

    tengku puteh | Jul 2, 2009 | Reply

2 Trackback(s)

  1. Jun 22, 2009: from Keabadian dan Tukang Kebun (2) : ladangkata
  2. Jun 26, 2009: from Keabadian dan Tukang Kebun (habis) : ladangkata

Post a Comment