Keabadian dan Tukang Kebun (1)
Posted by Lisa Febriyanti on Jun 21, 2009 in ladang kreasi
Kau tentu tahu bagaimana bunyi denting gelas, bukan?” aku menatap lekat matanya.
Sedetik dia tahu bahwa aku sedang menghujamnya dengan pandangan yang menuntut. Dia sadar itu, kemudian mengalihkan matanya ke cangkir bulat yang sedang dipegangnya. Dia menjentikkan jarinya ke cangkir dan terdengarlah bunyi ‘tek!’, pelan saja, karena cangkir separuh penuh dan lebih tebal dari gelas yang kumaksud.
“Seperti ini?”
“Bukan. Seharusnya lebih nyaring,” aku mencari-cari matanya lagi.
“Lalu kenapa?”
“Bayangkan jika dentingnya itu bisa kau dengar sepanjang kau membuka mata. Terus berdenting, tanpa henti. Suaranya indah sekaligus menyakitkan. Bisa terbayang?” aku terus memandanginya, berharap bisa melihat bagaimana reaksi perempuan itu.
Bola matanya naik ke atas. Jari telunjuknya mengetuk bibir berkali-kali. Dia benar-benar membayangkan bagaimana bunyi denting gelas yang tak pernah berhenti itu.
“Ya, aku sudah dapat bayangannya. Lalu?” Aku mendesah. Perempuan ini suka bertingkah memang. Aku memang bilang untuk membayangkannya, tapi aku tak berharap dia sungguh-sungguh membayangkan seperti itu. Seharusnya dia sudah langsung paham. Ah, tapi dia bukan aku. Dia tetap dia. Sepanjang tiga abad yang kukenal, dia tidak berubah.
“Seperti itu rindu buatmu,” aku memutuskan tak mengomentari tingkahnya.
Dia terdiam. Mungkin tak mengira aku menganalogikan denting gelas itu dengan rinduku. Tak mengira aku punya rasa sekuat itu, hingga tiga abad kehidupanku. Jika memang ini boleh dibilang kehidupan.
“Kemana saja kau?” aku melanjutkan.
“Berkeliaran, berburu, sekaligus bersembunyi jika memang aku harus sembunyi,” dia menjawab ringan.
Aku mendesah lagi. Sepertinya dia tak pernah menganggap rasaku penting baginya, meskipun sudah ribuan kali aku mengatakan padanya. Perempuan ini datang dan pergi sekehendaknya sendiri. Bodohnya, aku selalu tak bisa mencegahnya. Bagiku, alasan terpenting aku mencintainya adalah melihatnya bahagia. Walau aku tahu, dalam daftar bahagianya, seringkali aku tak masuk hitungan. Tapi setiap kali dia tersenyum dengan mata berbinar-binar, aku luluh. Kubiarkan diriku didera rasa sakit, asal jangan dia.
“Zen, apakah kau akan pergi lagi?” aku menyerukan pertanyaan yang aku sudah tahu pasti jawabannya.
“Belum tahu”.
Persis seperti yang aku kira. Pertemuan ini pun, bukan karena dia yang ingin. Aku yang selalu mencoba mencegatnya di berbagai tempat. Mengendusi baunya dimanapun aku berada. Beberapa kali aku beruntung, tapi dia terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Kadang memang benar-benar sendirian. Kadang yang lain, bergerombol dengan teman-temannya. Berganti masa, teman-temannya pun berganti. Dan dia selalu bisa mengumpulkan temam-temannya yang baru.
bersambung di:
rindu, kenangan… indah tapi menyakitkan ?
begitu ?
goenoeng´s last blog post..geni kalandara
goenoeng | Jun 21, 2009 | Reply
Inget tukang kebun jadi inget di puncak di rumah nenek…. hehe banyak tukang kebun handall
Raffaell´s last blog post..Konser Pesta Malam Indonesia
Raffaell | Jun 22, 2009 | Reply
sepertinya kita ingin menjadi sahabat yang baik buat mereka,tapi kadang mereka tak menghendakinya.
eko magelang´s last blog post..Cerdas Memilih Pemimpin, dari DONGENG UNTUK BANSA
eko magelang | Jun 22, 2009 | Reply
kadang kita ingin menjadi sahabat yang baik buat mereka,tapi kadang mereka tak menghendakinya.
eko magelang | Jun 22, 2009 | Reply
Kali kedua saya mampir mbak
salam kenal ya mbak…
baca ini, jadi teringat rasa itu..
rasa yg bertepuk sebelah tangan dan mesti berusaha untuk menggapai hatinya..
I surely know the feeling
Eka Situmorang – Sir´s last blog post..Pelepas Stress dalam perjalanan Pulang (2)
Eka Situmorang - Sir | Jun 22, 2009 | Reply
Aku suka dengan cerita yang banyak pendetailan macam ini. Juga tentang “pikiran positif” didalamnya.
Kupastikan, aku nunggu kelanjutannya.
Arif Nofiyanto | Jun 22, 2009 | Reply
hehehe maunya disuguhi berlian bisa gak mbak ?
hihihi
Eka Situmorang – Sir´s last blog post..Hesti Ingin Menari
Eka Situmorang - Sir | Jun 24, 2009 | Reply
cinta, rindu itu menjengkelkan!!! Tapi mengapa ku selalu terlarut kedalam jaring-jaringnya
tengku puteh | Jul 2, 2009 | Reply