Inspirasi Perih Fitri Nganthi Wani
Posted by Lisa Febriyanti on Jun 17, 2009 in ladang budaya, ladang puisi
Siapa yang tidak perih, ketika terus berada dalam situasi gamang, ketidaktahuan dan diberangus kebersamaanya dengan seseorang yang begitu dikasihi? Fitri Nganthi Wani, baru berusia 11 tahun ketika ayahnya, Wiji Thukul dihilangkan paksa oleh Orde Baru. Hingga sekarang, Wiji Thukul belum pula kembali ke keluarganya, belum kembali bercanda dan berpelukan dengan kawan-kawannya, dan belum pula kembali ke puisi-puisinya yang sederhana, realistis sekaligus indah, meski kerap menyuarakan ketertindasan. Dan perih gadis itu, bergema ke telinga, menyodok relung hati, lewat puisi-puisinya.
Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah
Peluncuran buku puisi “Selepas Bapakku Hilang” karya Fitri Nganthi Wani di Graha Bhakti Budaya semalam, sungguh menjadi sebuah pesan bahwa perih itu bukan milik Wani seorang. Kawan-kawan, simpatisan dan semua yang pernah mengenal Wiji Thukul ikut terguncang dan tak ingin berhenti berteriak, “kembalikan kawan kami!”. Warna ini yang membuat acara peluncurannya menjadi spektakuler. Adalah Iwan Fals, Oppie Andaresta, Sitok Srengenge dan PM Toh, sederet nama besar yang ikut membacakan dan melagukan puisi Wani pada malam itu. Kemasannya bukan hanya sekadar peluncuran buku, tapi merupakan paduan hiburan sekaligus pesan pengingat. Lewat beberapa aliran lagu, mulai balada, rock, acapella, R&B, kumpulan kata-kata tentang HAM, diperkaya tata lampu dan tata suara a la konser musik, mengalun begitu menawan dan membuat badan saya ikut bergoyang. Eits, bukan saya saja kok, sebelah saya Nia Damayanti ikut menaikkan tangan ke atas dan di sebelah saya yang lain, Daniel Mahendra, saya yakin juga ikut menggoyangkan kepala dan mengetukkan kakinya mengikuti irama, meskipun ringan saja, tak seheboh kami.

seluruh pendukung acara
Oke, itu satu hal yang membuat acara peluncuran begitu semarak. Hal penting lainnya adalah bagaimana Wani menggarap puisinya? Nama Wiji Thukul jelas memberikan semburat tebal bagi perjalanan Wani. Baik sebagai ayah maupun sebagai inspirator. Puisi-puisi Wani memiliki gaya yang hampir tak beda dengan ayahnya. Membumi dan menggunakan bahasa yang tidak ambigu. Tapi, dari membaca kumpulan puisinya, saya menilai, Wani berani menambahkan warna tersendiri, warna pemikiran gadis seusianya yang mencari makna cinta tanpa harus dramatis dan mendayu-dayu, memendam amarah pada rezim yang membuat keluarganya hingga kini kehilangan sosok ayah, anak yang rindu ayahnya, serta kekaguman pada ibunya. Wani berani berbicara atas namanya sendiri di panggung puisi. Bolehlah kita tengok satu puisinya yang dibacakan dengan sangat melangut di atas panggung semalam,
RINDU ADIK PADA AYAH
Adikku sayang,
Menangislah sejadimu
Luapkan segala emosimu
Tapi jangan kau tanya
Di mana ayah kita
Karena kakak tak tahu
Di mana ia berada
Adikku sayang,
Inilah nasib kita
Janganlah putus asa
Apa yang kau inginkan dari anak lain?
Mereka bisa sekolah
Kau pun juga bisa
Mereka bisa mainkan drum dan gitar
Kau pun juga bisa
Apa yang kau inginkan dari mereka
Kaupun bisa miliki semuanya
Namun jangan kau tanya
Mengapa kita tidak punya ayah
Karena ibu pernah berkata
Ayah kita bukan hanya ayah kita
Ia kini milik banyak orang
Karena ia putuskan menjadi pejuang
Dari itu semua, adikku
Janganlah lemah walau ayah tak ada
Jadikanlah semua ini awal
Dari perjalanan hidupmu
Untuk menjadi lelaki sejati dan pemberani
(7 Desember 2005)
Bisa dibayangkan emosi yang meruyak dalam diri gadis kelahiran 6 Mei 1989 itu. Sebagai kakak, yang hatinya remuk, ia berusaha mendorong adiknya, Fajar Merah, yang juga marah. Mendulangi adiknya dengan serpih kekuatan agar sebagai satu-satunya laki-laki yang masih bertahan dan menunggu tetap tegar. Semalam, diiringi gitar Fajar Merah, Wani membacakan puisi di atas dengan sangat sangat sangat menyentuh. Bibir saya terkatup, merinding dengan lengking suara dan intonasinya yang pas. Ah Wani!
Di tengah marahnya, Wani tetap gadis biasa yang merasakan cinta. Di buku kumpulan puisinya bertebaran puisi-puisi tentang cinta, yang lagi-lagi sederhana namun indah. Mari, saya cuplik satu diantaranya:
KIRA-KIRA
Kira-kira 3 taun yang lalu
Kita berdekatan
Kira-kira 2 tahun yang lalu
Kita jadian
Kira-kira 1 tahun yang lalu
Kita bertengkar
Kira-kira 11 bulan yang lalu
Kita bermaafan
Kira-kira 1 bulan yang lalu
Kau kurindukan
Kira-kira 9 jam yang lalu
Kita berpelukan
Kira-kira 3 jam yang lalu
Pada saat mendung kelabu
Ku ingin lagi bertemu
Kira-kira 5 menit yang lalu
Ku bertanya padamu
Kira-kira…
Maukah kau hidup bersamaku?
(7 Februari 1005)
Tak banyak kata mendayu, melow dan lebay dalam kletik-kletik puisi cintanya. Wani menuturkan keberaniannya dalam cinta justru dengan cara yang sederhana, namun penuh penekanan dan kepastian. Puisi cinta tak nampak romantis di tangannya, tapi menunjukkan pemahamannya yang mendalam, bahkan untuk gadis seusianya. Wani menyoal cinta dengan logika, seperti satu bait puisinya yang berjudul Sesaat Tentang Cinta,
Sekarang gadis ini menyimpulkan
Cinta bagai pelajaran matematika yang membingungkan
Namun dengan logika
Cinta akan ada jawabannya
Opening Act
Baru 20 tahun usianya, tapi inspirasi perihnya membawa kematangan berpikir dan mencipta kata dengan berani, mendalam namun tetap sederhana. Beberapa panggung budaya dan kemanusiaan pernah menjadi saksi lantang puisinya, diantaranya Malam Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2003. Wani sudah menetapkan garisnya. Tetaplah berani, Wani!
mbak saya lupa ngabari, kalau mas franky sama mas garin itu mau berdongeng di yogya.
atau malah sampeyan sudah mirsani.
eko magelang´s last blog post..Menyelusuri Surabaya Lama
eko magelang | Jun 17, 2009 | Reply
mbak.. salam kenal..
saya datang dari blog tetangga..:)
awalnya, saya tertarik dengan judul postingnya..dan tentu dengan Wiji Thukulnya.. dan nama Patjar Merah, eh.. Fajar Merah maksudnya..:)
hm, jadi pingin baca puisi2nya Wani..
trims..
salam,
hesra´s last blog post..Untuk *CMJ
hesra | Jun 17, 2009 | Reply
maaf, komen lagi..
mbak..kalo’ ke Jogja..mbok ketemu..sapa tau aku juga bisa ngintip sopo itu, Garin…ya…
boleh yah…:)
hesra´s last blog post..Ideologi Nasi
hesra | Jun 18, 2009 | Reply
Kekuatan Wiji Thukul masih menyelimuti Fitri, semoga saja wani segera terlepas dari bayang-bayang Wiji. Aku ingin melihat wani bukan wani yg diatasnya tergambar wiji tukhul.
Semoga.
*Terinspirasidaribulastriygselaluditemaniaayahnya*
Jamal eL Ahdi | Jun 19, 2009 | Reply
wah, sayang sekali saya ndak ikutan acara menarik ini, mbak icha, rupanya darah kepenyairan wiji thukul telah mengalir ke dalam tubuh nganthi wani. dada saya tiba2 terasa sesak setiap kali mengingat nasib penyair yang gencar menyuarakan derita wong cilik itu. semoga perjuangan wiji yang belum selesai bisa dilanjutkan oleh anak2 terkasihnya.
sawali tuhusetya´s last blog post..Saya Sudah Tak Muda Lagi?
sawali tuhusetya | Jun 20, 2009 | Reply
ya ampun …. ternyata yang disebut-sebut Kang DM penganyam kata itu mbak lisa ladang kata yah?!
*anyway kenyataan tentang wani dan lain-lain itu kalau bukan karena mbak icha dan kang DM, kecil kemungkinan saya tahu …
mascayo´s last blog post..Untuk apa anda memakai helm?
mascayo | Jun 21, 2009 | Reply
Wah iyaaa… puisi-puisinya indah…
Memang dengan puisi, segala isi hati dapat terjembatani..
munyuk mentel´s last blog post..Thank You for Being My Friend
munyuk mentel | Jun 25, 2009 | Reply