Buku dan Film: Dua Sisi Mata Uang atau Keping Puzzle?
Posted by Lisa Febriyanti on Jun 8, 2009 in ladang baca
Dua media hiburan itu kini makin saling erat bertautan. Film yang diadaptasi dari novel atau karya sastra lainnya, kerap diharapkan menjadi penggenap citra yang sudah dimuntahkan lewat kata-kata. Ada yang berhasil, bahkan ada yang melebihi harapan, tapi banyak yang dikritik habis-habisan karena jauh dari citra yang sudah melekat di kepala. Yang terakhir ini ikut membuktikan, kadang kata-kata lebih liar menerobos alam imajinasi, ketimbang gambar-gambar yang sudah diatur dari scene ke scene.
Dalam hal tautan antara buku dan film, kebiasaan lama saya adalah membaca bukunya dulu baru menonton film. Lagipula, jika memang diadaptasi dari buku, jelas bukunya keluar dulu baru muncul ide membuat filmnya. Beberapa buku yang saya baca, kemudian saya tonton filmnya: X-Men (Stan Lee & Jack Kirby untuk Marvel Comics Universe), The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe dan Prince Caspian (C.S. Lewis), The Da Vinci Code (Dan Brown), Kite Runner (Khaled Hosseini), Laskar Pelangi (Andrea Hirata), Message in a Bottle (Nicholas Sparks) dan beberapa lagi yang sekarang sedang lepas dari ingatan saya.
Menonton film-film adaptasi itu, sama menghiburnya dengan menonton film-film lain yang tak berkait dengan buku. Sayangnya, kepala saya sudah punya intensi sendiri tentang kisah yang diangkat. Dan sayang yang kedua kalinya, apa yang di kepala saya ternyata lebih liar daripada gambar-gambar itu. Yang saya nikmati kemudian adalah sajian special effect (jika ada) atau iseng mencari perubahan cerita atau bahkan bloopers. Karena itu, dalam kasus buku dan film, sekarang ini saya berusaha untuk tidak membawa intensi saya dalam gedung bioskop atau ruang menonton TV (melalui DVD). Di luar itu, saya punya metode lain untuk membuat sebuah film tidak menjatuhkan imaji yang saya dapatkan dari membaca buku. Saya mencobanya di film-film kolosal yang memang sangat menggoda untuk menyandingkan buku dengan filmnya.
Serial Harry Potter dan The Lord of The Ring, Jumper dan Transformer (yang juga akan jadi serial) adalah film yang sukses menyundul jempol saya terangkat (khusus untuk Transformer, saya menjura untuk special effectnya). Film-film itu saya tonton, tanpa membaca bukunya terlebih dahulu. Saya memutuskan untuk tak merubah persepsi saya lagi, dengan tetap tidak membaca bukunya, seusai menonton. Saya biarkan genangan ingatan saya pada Harry Potter berujung pada sosok Daniel Radcliffe dan meletakkan sosok Orlando Bloom untuk Legolas Greenleaf di Lord of The Ring. Saya biarkan hati terlena dengan long coat Hayden Christensen ketika memerankan David Rice di Jumper atau mengenang suara Optimus Prime yang bariton, namun lembut. Saya cukupkan sampai di situ saja. Film itu sudah cukup meyakinkan dan menganggumkan. Ini metode pertama. Dan berhasil! Film-film kolosal itu tetap menempati ruang dengan tirai indah di hati saya.
Nah metoda kedua. Saya baru melakukan percobaannya dengan Twilight. Ketika Twilight Saga (Stephenie Meyer) masuk ke jaringan toko buku, saya sengaja menahan diri untuk tidak membelinya. Karena, saya sudah mendengar, filmnya akan segera beredar juga. Saya tekankan pada diri sendiri bahwa masih tak layak untuk membeli bukunya sebelum membuktikan kehebatan ceritanya di film. Pikir saya, jika di film memukau, maka serialnya yang total seharga Rp295.000 itu bisa layak jadi koleksi.
Oke, Twilight sudah saya tonton. Sedikit terlambat memang. Film ini sudah heboh sejak semester awal tahun 2009, dan saya baru menontonnya kemarin! Film berdurasi 121 menit itu membuat saya terpesona dengan Robert Pattinson yang memerankan Edward Cullen, si vampir tampan dan kecuekan Kristen Stewart sebagai Bella Swan.
Saya menimbang, apakah saya akan bertahan seperti metode pertama atau masuk ke metode kedua, dengan segera membeli bukunya? Ah, saya tak tahan, saya yakin ada yang tercecer dari novelnya dan tidak termaktub di film. Saya putuskan untuk membeli bukunya. Seharian membacanya, dan benar juga, dialog-dialog memikat antara Bella dan Edward dalam buku serasa memancarkan aura cinta yang lebih pekat. Karakter mereka menjadi lebih kuat. Saya merasakan metode kedua ini bukan saling menghancurkan, tapi bagi saya justru saling melengkapi. Film tak jatuh citranya di benak saya, lalu melengkapinya dengan novel, meskipun serasa seperti menonton film ulang, memperkuat pesona kedua tokoh remaja itu.
Eh, eh..terlepas dari segala metode ini semua, kalian boleh tetap saja menganggap buku dan film itu hiburan semata. Jangan terlalu dianggap seriuslah. Saya menulis ini juga karena sedang tidak bisa tidur hehhehe…
Tetap baca..tetap nonton film! Biarkan saja, apakah mereka dua sisi mata uang atau keping puzzle yang melengkapi. Keduanya tetap bisa menggelilitik rasa, menjadi cermin bagi kehidupan nyata jika kita bisa belajar dari keduanya atau paling tidak memberi hiburan.
Catatan:
Film selanjutnya: Angels and Demon..menggunakan metode melepaskan intensi..karena sudah baca bukunya.
Selanjutnya lagi, yang paling saya tunggu sepanjang satu tahun terakhir: Transformer 2: Revenge of the Fallen (rencana release Juni 2009)

Menurut Abu pribadi seh lebih baik menonton dulu baru membaca. Kenapa, karena buku lebih luas cakupannya dan itu tidak mampu diterjemahkan langsung kedalam scene. Dan setelah menonton, biasanya imajinasi kita terhadap buku yang kita baca tersebut menjadi lebih liar dan hidup…
tengku puteh´s last blog post..ODE SEEKOR ELANG
tengku puteh | Jun 8, 2009 | Reply
Jaman dulu saya penggemar baca buku, komik dan novel novel kelas berat, sejak jaman internet, tv semakin modern, saya jadi males baca…. hehe
Raffaell´s last blog post..Blogging platform terbaik 2009
Raffaell | Jun 8, 2009 | Reply
Kalu dah baca buku males nontonnya.
Kalu dah nonton masih mungin bacanya.
merusak alam imagi ku saja.
Susah payah ku bangun meter demi meter dihancurkan oleh visualisasi yg mengecewakan.
Jamal eL Ahdi | Jun 9, 2009 | Reply
idem bangets ama Om Raffael, namun kayaknya untuk produk dari luar tidak juga. karena kualitas antara keduanya (menurut saya) selalu terjamin dan mempunyai ke-khas-an terendiri.
katakataku´s last blog post..Jiwa yang Terjebak
katakataku | Jun 9, 2009 | Reply
sampai saat ini, aku lebih suka membaca bukunya, bila ‘keluar’ dua versi, buku dan film. memang lebih menuntut kita berimajinasi. sebelum jaman2 sekarang ini, dulu kayaknya aku juga pernah kecewa ketika dibuat sinetronnya ‘opera jakarta’ yang jauh panggang dari api, belum lagi salah satu novelnya s mara gd, yang hasilnya idem.
buku dulu, atau film dulu ? hmm… tergantung mood lah. santai…
goenoeng´s last blog post..pareng, maturnuwun…
goenoeng | Jun 10, 2009 | Reply