Cinta untuk Mak Obang

Mak Obang datang dengan wajah bersemu merah. Aku mencuri pandang dari jendela rumahku saat ia melangkah masuk dan membuka pagar.  Senyumnya tertahan di bibir, tapi semu merah dari wajahnya tak bisa disembunyikan. Aku perhatikan sudah tiga hari ini, wajah yang sama ditunjukkan perempuan yang sudah beranjak senja ini ketika datang ke rumahku. Awalnya aku pikir ada berita menggembirakan yang diterimanya pada pagi hari sebelum ia berangkat. Tapi tiga hari berturut-turut seperti itu, pasti ada sesuatu yang menjadi penyebabnya.

Aku bukan orang yang suka turut campur urusan orang lain sebenarnya. Terlebih jika urusan itu tak ada hubungannya dengan aku. Tapi melihat wajah Mak Obang, lalu akselerasi gesitnya ketika mencuci pakaian dan membersihkan rumah, membuatku tergelitik. Aku yang sedang dihinggapi writer block, terpana dengan gerak Mak Obang yang mengalami percepatan. Apa gerangan di balik semu merah itu?

“Sedang senang sepertinya, Mak?” Aku bertanya ketika tubuh tambunnya lewat di depanku.

Mak Obang tertawa, “Neng ini bisa saja. Ndak ada apa-apa, Neng.”

Jawabannya itu makin menggelitik dan sungguh tidak memuaskan, karena disampaikan dengan senyum yang bermakna. Mak Obang langsung berlalu ke belakang, mengambil pakaian kotor dan memilah-milah yang berwarna dengan yang putih. Mak Obang memang sengaja aku panggil tiap hari ke rumah untuk mencuci, setrika dan membersihkan rumah. Pagi datang, menjelang sore dia sudah pulang. Aku sangat terbantu dengan adanya Mak Obang, pekerjaan menulis yang membutuhkan konsentrasi penuh seharian menjadi tak terganggu dengan pekerjaan rumah.

Pandanganku terus melekat pada gerak Mak Obang. Lalu, satu gerakannya kembali mengagetkanku. Mak Obang bersenandung! Bibirnya yang penuh bergumam-gumam menyerukan alunan pelan tembang Jawa, Yen In Tawang Ana Lintang. Ketika kata dalam lagu itu seharusnya Cah Ayu, digantinya menjadi Den Bagus. Ada apa ini? Hampir setahun Mak Obang setiap hari bekerja di rumahku tak pernah sekalipun ia menyenandungkan sebaris lagupun. Ia banyak bekerja dengan diam. Kalaupun ada suara yang keluar dari mulutnya biasanya mengomentari tayangan televisi atau koleksi bajuku yang tak lepas dari warna hitam.

Aku menunggu hingga Mak Obang agak senggang bekerja, lalu mengajaknya bicara. Toh hari ini aku yakin tak akan mampu menelurkan rangkaian kata-kata. Mulai semalam, aku kedatangan writer block. Penyakit yang amat ditakuti penulis.

“Mak Obang sedang merindukan siapa?” Aku langsung bertanya.

“Ah Neng ini kok menggoda saja dari tadi. Saya kan sudah tua, mau rindu sama siapa?” Senyum itu muncul lagi.

“Lagu tadi kan biasanya buat orang yang kedanan, Mak. Emangnya Mak kedanan sama siapa toh?”

Mak Obang tak menjawab, ia kembali tersenyum. Kali ini aku yakin ia tengah memikirkan seseorang.

“Neng, apa masih pantas perempuan tua seperti saya ini kedanan?”

Aha. Ini dia. Perempuan ini memang tengah dilanda asmara. Aku sudah menebaknya dari tadi. Binar mata, semu merah di wajah, serta senyum terkembang itu milik virus asmara. Tapi sama siapa? Yang aku tahu Mak Obang hidup sendirian. Suaminya sudah lama meninggal. Anak-anaknya bekerja di luar kota. Mak Obang bertahan hidup dengan bekerja sebagai pengurus rumah seperti di rumahku ini. Setahuku, aktivitasnya dari hari ke hari hanya dari rumahnya ke rumahku. Dia sering bercerita, tiap malam hanya duduk di depan televisinya menunggu kantuk datang.

Mak Obang justru tak banyak dikenal orang karena ia memang tak banyak keluar dari rumahnya. Perempuan ini tipikal penyendiri. Dalam hidupnya, sosialisasi hanyalah sebuah pekerjaan yang tak dibutuhkan dalam hidupnya. Tapi itu tak membuat Mak Obang jadi pribadi yang egois. Di rumahku, tanpa ada perintah, Mak Obang bukan hanya menjalankan tugas wajibnya, kadang juga ikut merapikan barang, menyirami tanaman atau menyiapkan secangkir kopi untukku di sore hari, sebelum ia pulang. Ia sesungguhnya ramah dan sangat baik, hanya kesendirian rupanya sudah menjadi pilihan bagi dirinya.

Aku memandangi Mak Obang yang tengah menyetrika baju di teras belakang rumahku. Aku sengaja duduk di dekatnya, sambil menggenggam segelas dingin air jeruk. “Siapa laki-laki itu, Mak?” Aku tak ingin berpanjang-panjang. Aku tahu dipancing dengan bagaimanapun akan susah keluar kata-kata dari perempuan itu. Karena itu aku  memutuskan bertanya langsung padanya.

Mak Obang menghentikan gerakannya, dua detik saja dan mengembanglah lagi senyumnya. Lalu kepalanya ditekuk tanda ia malu ditanya begitu.

“Neng, ingin tahu?”

“Ya, kalau Mak Obang memberi tahu. Kalau tidak, aku tidak akan memaksa.”

“Kang Dasuki, Neng,” Mak Obang menyebut nama laki-laki itu dengan manis sekali. Ada semburat di wajahnya saat itu. Semburat yang keluar dari segenap jiwannya. Wajah bulat Mak Obang menjadi indah sekali dipandang. Aku tahu, sesungguhnya Mak Obang punya wajah yang menarik, tetapi beban hidup dan kesendirian telah membuat tabir bagi wajah itu. Dan kini, aku sungguh-sungguh bisa melihat wajah sumringah itu kembali muncul. Virus itu memang edan! bertahun-tahun Mak Obang tak pernah mengulum senyum. Sekarang virus itu seperti memecahkan batu di sana.

Soal Kang Dasuki, aku juga kenal dengannya. Kang Dasuki adalah tukang ojek yang mangkal di pojok komplek. Setahuku Kang Dasuki memang sudah duda. Isterinya sudah lama meninggal. Dia tinggal bersama anak semata wayangnya yang bekerja sebagai buruh. Dibanding dengan tukang ojek lainnya, Kang Dasuki memang yang paling sepuh.

Sembari tangannya maju mundur menggenggam setrika, Mak Obang menceritakan asal muasal kedekatannya dengan Kang Dasuki. Rupanya, karena kerap menggunakan jasa ojek Kang Dasuki untuk mengantarkan pulang, mereka jadi dekat. Meskipun sudah lama kenal, tapi baru-baru saja Kang Dasuki berani mengunjungi Mak Obang di rumahnya. Kadang membawa makanan kecil untuk disantap bersama di teras rumah sederhana Mak Obang.

Aku mengulum senyum mendengar cerita Mak Obang. Bagiku kini, Mak Obang nampak seperti bocah ABG yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ia menceritakan segala kebaikan Kang Dasuki dengan binar mata yang luar biasa cemerlang. Ia bercerita bagaimana Kang Dasuki menghormatinya sebagai perempuan, meskipun ia sudah tak lagi muda. Ia bilang kini selalu semangat tiap bangun tidur karena ingin cepat-cepat bertemu Kang Dasuki. Apa yang ia rasakan membuat tenaga tuanya mendapat dorongan hidup. Aku merasakan semangat hidup Mak Obang kini menyala-nyala di sela rasanya.

“Neng, tapi apa masih pantas ya, orang tua seperti saya dan Kang Dasuki itu berkasih-kasih? Apa ini namanya cinta?” Mak Obang meragu.

“Mak,  yang namanya cinta itu tak ada batasan umur. Cinta ada selama jiwa kita masih ada.”

Mak Obang terdiam, seperti memikirkan sesuatu.

“Tapi Mak, karena Mak Obang dan Kang Dasuki sudah sangat dewasa, cintanya juga harus dewasa. Cinta yang dewasa ada tanggung jawab, Mak. Itu kalau menurut saya,” aku melanjutkan.

“Saya tahu maksud Neng. Saya dan Kang Dasuki sepakat ingin menikah. Daripada jadi omongan banyak orang, Neng.”

Aku tertegun dan bersyukur, cinta Mak Obang ini bukan sekadar bualan rasa.

“Aku turut bahagia, Mak,”  aku memeluk Mak Obang dan ia pun balas memelukku. Dari matanya ada genangan air di sana yang ditahan agar tak jatuh.

“Terima kasih Neng, jika ini memang cinta, tolong doakan saja, ini jadi bahagia saya di dunia dan menjadi penuntun bahagia akhirat saya.”

“Aminnn…”

Aku meninggalkan Mak Obang dan kembali ke komputerku. Tiba-tiba, ada seribu kunang-kunang dengan benderangnya memijar di kepalaku. Ada serangkum kata-kata yang siap aku transfer dari kepala ke tanganku, menghapus writer block. Edan betul virus itu, aku yang tak punya rasa, kecipratan sedikit saja, langsung ikut kesetrum seperti ini. Edan!

Tapi, benar! kegesitan Mak Obang, semu di wajah Mak Obang, semangat Mak Obang, keraguan yang muncul dengan kebahagiaan yang dirasakan di hati Mak Obang, kisah Mak Obang dan Kang Dasuki yang sekian lama terpisah oleh kehidupan dan justru baru dipertemukan sekarang, membuat aku ingin mengumpat pada apa yang dinamakan cinta itu.

Bukan mengumpat jengkel, tapi gemas! Rasa yang satu itu, sejuta kali dipertanyakan tetap saja ia sering datang mengejutkan. Siapa saja, kapan saja, dimana saja, dalam batas apa saja dan kondisi bagaimanapun, gilanya cinta bisa hadir!

Senyum Mak Obang masih membayang di kepalaku, senyum terindah yang pernah aku lihat dari perempuan itu melebur dengan kisah-kisah cinta yang pernah aku alami, yang pernah aku dengar, yang pernah aku baca, yang pernah aku lihat. Pikirku berputar, membentuk kata-kata: cinta memang sering paradoks, ia bisa terlihat begitu kongkrit, dari segala sikap, kompromi dan kepemilikan. Tapi ia masih juga disebut cinta meski tak ada sikap, melewatkan kompromi dan membentuk penyerahan diri total dan tak peduli pada kepemilikian, cinta sudah disebut cinta sejak pertama kali ia terbit.

Entah benar, entah tidak…

10 Comment(s)

  1. bener. cinta emang begitu

    CHE SUSANTO´s last blog post..MENGEMBALIKAN “ROH” PENDIDIKAN

    Wah Pak Che…sudah banyak makan asam dan garam cinta rupanya…;)

    CHE SUSANTO | May 30, 2009 | Reply

  2. Cinta bisa bisa jadi apa aja kok, kapan aja dimana aja, kapan aja dalam bentuk apa aja, cuman mata kita aja yang ngga bener bisa ngeliat atau ngga,,,

    Raffaell´s last blog post..Membuat Slide Persentasi Online

    yaks.. sepakat, Raf..cinta ada dalam ragam bentuk..dan ini kadang yang bikin susah untuk melihatnya..apalagi untuk membedakan mana cinta yang aseli dengan cinta yang palsu..

    Raffaell | May 30, 2009 | Reply

  3. wah, ternyata seperti itu perasaan dan ekspresi perempouan yg sedang jatuh cinta, ya, mbak icha, hehe … sampai2 sudah berumur pun tingkahnya berubah seperti SBG. semoga saja mak obang benar2 menemukan cintanya.

    sawali tuhusetya´s last blog post..Membangun Citra Diri

    Edan kan, Pak?..doanya saya sampaikan ke Mak Obang..makin berbunga-bunga didukung doa Pak Sawali..

    sawali tuhusetya | May 30, 2009 | Reply

  4. Saya ikut membayangkan suasana relung hati Mak Obang di saat melantunkan tembang “Yen ing tawang ana lintang … Kang Dasuki… Aku ngenteni sliramu…”
    Ikut berdoa semoga cinta mereka berdua dapat berlabuh di jenjang pernikahan, barakallahulaka. Tolong Mbak Icha, kalo Mak Obang – Kang Dasuki jadi nikahan, beritanya diposting lagi, nggih.

    Kalau perlu tanggapan wayang gubahan Ki Dhalang, piye? siap to Ki?

    Ki Dhalang Sulang | May 31, 2009 | Reply

  5. wah…puber ke berapa ini….? hehehe…piss ya mak obang :) .
    ketika cinta sudah menyapa…kang dasuki serasa arjuna hehehe….(dosa saya ini nggodain orang sepuh).

    geRrilyawan´s last blog post..NEAR DEATH EXPERIENCE

    puber ke 17 kalinya :) )…

    Mak Obang lagi senyum-senyum di dapur kok..malah makin merah bersemu pipinya digodain…

    geRrilyawan | Jun 1, 2009 | Reply

  6. “Cinta itu tak berwarna, tak berbentuk, tidak terdefenisikan hanya dirasakan”

    Siapa saja akan terbuai oleh pesonanya, bukan begitu mbak Lisa. Sayangnya dunia ini memiliki angkara yang mampu mengubah cinta menjadi kebencian…

    Buat Mak Obang, titip pesan mbak Lisa. Jagalah selalu ketulusannya…

    tengku puteh´s last blog post..LEGENDA KAKI DEWA

    cinta dan benci..kadang tipis bedanya…

    Pesan untuk Mak Obang akan saya sampaikan, Abu…

    tengku puteh | Jun 1, 2009 | Reply

  7. Waaaah tulisannya bagoes sekaleeee….. :D
    Virus cintaaaa… Emank dahsyaat… ^_^

    Munyuk Mentel´s last blog post..Update Status di Facebook

    Hehehe..cinta di dunia munyuk juga juga dahsyat kah? :D

    Munyuk Mentel | Jun 4, 2009 | Reply

  8. Weleh2…Emak…I Lop U…lho…:P

    http://sendit.wordpress.com

    Dita | Jun 4, 2009 | Reply

  9. mak mak , ampun DJ

    Baju | Jun 4, 2009 | Reply

  10. Hmmm…

    Daniel Mahendra´s last blog post..Sukimin Ingin Jadi Lurah

    Daniel Mahendra | Jun 15, 2009 | Reply

Post a Comment