Madakaripura: The Hidden Legend
Posted by Lisa Febriyanti on May 27, 2009 in ladang hikayat, ladang pelesir
Sudah cukup lama nama Madakaripura membahana dalam kepala saya. Sejak saya mulai tertarik untuk menelusuri apapun yang berbau Kerajaan Majapahit. Sejak saya mulai mengumpulkan serpihan-serpihan literatur tentang Kerajaan yang seringkali menjadi inspirasi kebesaran Nusantara ini. Sejak itu pula, Madakaripura saya catat diam-diam sembari memendam harap: suatu saat saya harus ke sana!

Harap saya terpenuhi ketika dalam sebuah pelesir ke Gunung Bromo, Madakaripura ternyata tinggal selangkah lagi dituju. Meski lelah setelah menuntaskan malam di Penanjakan, tak menyurutkan niat untuk tetap menjenguk air terjun itu. Menurut riwayat sejarah, inilah ladang peristirahatan Sang Gadjah Mada sehabis peristiwa paling fenomenal dalam sejarah Nusantara, yang membentangkan apriori tak berujung antara Jawa dengan Sunda, di medan Perang Bubat.
Mahapatih yang sering digambarkan bertubuh gempal dengan gelung rambut membulat itu, merasa gagal pada sumpahnya, menjadi tertuduh utama dan penanggungjawab lara Bubat, lalu meluruh dan menyepi ke tempat yang sudah ia idamkan, Tongas, di Madakaripura. Riwayat sejarah yang ini, rupanya tak semua orang tahu, karena seingat saya, dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, tak ada lagi kisah tentang Gadjah Mada usia Perang Bubat.
Madakaripura adalah air terjun dengan bentuk yang unik dan eksotik. Gemuruhnya memang tidak spektakuler, tetapi lokasi air terjunnya yang membentuk ceruk di tebing, di kelokan yang buntu, membuat saya pada titik itu sangat memaklumi pilihan Sang Mahapatih untuk menyepi di sini. Letaknya tersembunyi, namun dahsyatnya kekuatan alam jelas terpampang di sana.
Sesungguhnya, ada lima air terjun di Madakaripura. Tiga terlihat dengan jelas, sedangkan dua yang lainnya, tersembunyi di balik air terjun yang lain. Yang paling besar, tingginya 200 meter. Di tengah tebing, di balik air terjun besar itu menganga lubang yang melintang secara horisontal. Penduduk sekitar percaya, di lubang itulah Gadjah Mada pernah duduk tepekur dan bersemedi.
Menuju lokasi Madakaripura dari Bromo ataupun dari Surabaya, jalanan mulus bisa dilalui. Namun, makin dekat ke pintu gerbang Madakaripura, jalanan makin menyempit. Bahkan kesulitan jika ada dua mobil berpapasan.Di pintu gerbang, petugas sigap menghitung jumlah pengunjung di kendaraan. Untuk satu orang dikenai biaya Rp2.500.
Setelah memarkir mobil, pengunjung akan langsung didatangi oleh penduduk setempat yang menawarkan jasa sebagai guide untuk membantu meniti jalan menuju air terjun. Madakaripura rupanya pernah dihantam longsor, sehingga pedestrian terputus dan mengharuskan penikmat air terjun turun menyeberang ke sungai berbatu-batu untuk mencapainya. Mereka menawarkan harga Rp30.000 untuk sekali antar.
Bersama rombongan, saya harus berjalan kurang lebih satu kilo dua ratus meter sebelum cipratan air terjun mulai menetes di baju kami. Kadang kami harus naik ke jalan setapak, tak berapa lama turun lagi meloncati batu-batu kali yang airnya cukup deras. Para guide itu memang benar-benar menjalankan tugasnya, menuntun serta menunjukkan jalan terbaik dan tidak membahayakan.
Di tengah lenggang langkah sepanjang jalan serupa lorong panjang, saya terpesona dengan jajaran pohon di tebing kiri dan kanan. Pohon-pohon itu seperti memiliki jari jemari yang bergandeng tangan antara satu dengan yang lain. Tanaman rambat yang melingkunginya, ikut membuat semburat hijau makin tebal di permukaan tebing.
Situasi seperti itu membuat saya jadi membayangkan diri seperti rombongan penjelajah yang ingin menguak dan mengeksplorasi peradaban kuno yang hilang. Bayangkan saja, langkah-langkah kaki bersamaan dengan lengangnya jumlah pengunjung di hari Minggu, ditambah dengan gemerisik pohon-pohon, tebing hijau yang ditumbuhi tanaman rambat ditingkahi suara air dari sungai yang mengalir. Dan yang mengherankan, meskipun penat berjalan di tengah rintik gerimis, tak sekalipun keluhan capek keluar dari mulut kami. Rasa yang ada justru semangat yang membuncah untuk segera sampai ke air terjun.
Mendekati air terjun, guide mengingatkan bahwa semburat air terjun bisa membuat kami kuyup. Kami langsung cepat-cepat menyimpan barang berharga yang mudah rusak kena air di sebuah tas plastik (jika tidak membawa, di sana sudah ada yang menjual), serta menyelimuti tas-tas kamera juga dengan tas plastik. Agar tak benar-benar basah, kami memutuskan menyewa payung seharga Rp2.000 untuk dipakai mendekati air terjun.
Semakin dekat air terjun, lorong semakin menyempit, batu-batu makin terjal ditapaki dan hawa makin dingin. Di ujung lorong, tidak tepat di tengahnya, namun menjorok ke bagian kiri, air dengan kekuatan besar melimpah dari atas. Sayang sekali derasnya cipratan air di air terjun besar itu membuat kami ragu untuk membuka kamera terlalu lama. Jadi, tak banyak gambar-gambar yang dilakukan sepenuh hati disimpan di memori kamera.
Hampir kuyup ketika kami memutuskan untuk meninggalkan air terjun besar itu dan menyusur arah balik. Tak jauh dari situ, kami menghirup bau gorengan. Hmmm, nikmat sepertinya untuk istirahat sejenak di sebuah kedai kecil yang ternyata sudah menyiapkan penganan kecil dan minuman hangat. Sembari meneguk minuman hangat, kami berbincang ringan tentang aktivitas keseharian dengan ibu pemilik kedai dan guide.

Dari situ kami tahu bahwa, Madakaripura juga sering menjadi tempat semedi orang-orang yang hendak mencari ilmu batin. Tamu semacam itu banyak datang dari berbagai tempat, terutama dari Bali. Soal guide, ada kisah juga dibalik keseharian mereka. Untuk mendapatkan klien, mereka harus mengantri sesuai giliran. Saat itu ada 34 guide yang harus rela menunggu giliran. Kadang dalam satu minggu tak ada satu tamu pun yang mereka antar. Karena tak semua pengunjung menggunakan jasa guide. Dengan panjangnya jarak tempuh serta lumayan sulitnya medan, saya kira harga penawaran awal guide tadi sangat worthed, apalagi mengingat mereka bisa jadi dua minggu sekali baru mendapatkan pelanggan.
Kedai kecil tempat kami menikmati jeda itu smemang engaja dibentangkan di sana. Ibu pemiliknya bahkan memasak air dan menyiapkan gorengan langsung dari dekat air terjun itu dengan kayu bakar. Saya melirik teko tempat menjerang air panas yang sudah tak keruan bentuknya. Jelaga hitam memenuhi hampir seluruh tubuh teko, ditambah lagi penyok di beberapa tempat. Jika saya menyebut teko, ibu itu menyebutnya ketel. Sudah lama tak mendengar kata itu. Tapi dari ketel tua itulah segelas teh hangat yang menurut saya sangat nikmat, menggelincir masuk ke kerongkongan.

Saya sempat menanyakan jenis teh yang dibenamkam di air panas itu. Ibu pemilik warung yang rupanya senang diajak berbincang, berbegas mengambil bungkusan dan mengangsurkan satu sachet dauh teh kering bermerk Wayang. Ketika saya teliti, sayang sekali tak ada tulisan Made in Indonesia (hehehhe)…ketika, hendak saya kembalikan ibu berkata, “Buat oleh-olehnya Mbak-nya saja.” Aduh, tentu saja saya girang, karena satu sachet itu cukup untuk satu ketel besar!
Madakaripura, dengan patung Gadjah Mada yang menyambut di depan gerbangnya menjadi penutup yang manis pelesir saya ke Bromo.

Madakaripura, dengan pesona kekuatan alamnya, adalah sebuah legenda yang masih tersembunyi dan lebih banyak dieksplorasi sisi pariwisatanya ketimbang sejarahnya. Tapi, di akhir hari itu, satu lagi agenda tentang Majapahit saya centang, pertanda sudah terpenuhi. Masih banyak serakan lain yang belum saya datangi. Nanti, suatu hari nanti, agenda ini akan semua saya centang!
whuah… piknik, gambarnya bagus. jadi inget tawangmangu
eh, ada ceret kebak angus…
isnuansa´s last blog post..Komentar Vs Tidak Komentar
isnuansa | May 27, 2009 | Reply
mbaknya, mbok saya dikasih teh wayang-nya. sak srupuuuut…saja…
aku terkesan banget sama ketelnya, Cha. suwer ! budaya serba praktis, ternyata menggantikan ketel yang akrab denganku di waktu2 kecil dulu dengan dispenser.
goenoeng´s last blog post..menunggu hujan reda
goenoeng | May 27, 2009 | Reply
seperti nama besarnya gajah mada, harumnya ada dimana- mana.
Pf: oleh-oleh tehnya bisa krim ke saya ? ( ha ha ha )
eko magelang´s last blog post..Olympiade Dulinan (dolanan)
eko magelang | May 28, 2009 | Reply
seperti nama besarnya gajah mada, harumnya ada dimana- mana.
Pf: oleh-oleh tehnya bisa krim ke saya ? ( ha ha ha )
eko magelang | May 28, 2009 | Reply
Air yang tujun dari langit…
Udara yang sembab dikelilingi bebatuan licin…
Dan yang paling luar biasa adalah lumut-lumut hijau..
Benar-benar menggoda…
tengku puteh´s last blog post..SELAMAT KEMBALI PULANG SAHABAT
tengku puteh | May 28, 2009 | Reply
Keren banget tempatnya!!! wahhh pengen segera beli kamera dan berkunjung!!
Raffaell | May 28, 2009 | Reply
dahsyaaatttt!!!! tempatnya oke banget….cocok buat tempat kontemplasinya sang maha patih…
pingin kesana nih jadinya, siapa tahu masih ada jejaknya.
geRrilyawan´s last blog post..NEAR DEATH EXPERIENCE
geRrilyawan | Jun 1, 2009 | Reply
Catatan perjalanan yang keren!
Jay´s last blog post..Semir Sepatu
Jay | Jun 1, 2009 | Reply
Keteli… Keteli…
Aku seolah mengikuti perjalanmu kali ini. Bukan saja karena rawianmu yang ngelangut ini, tapi juga karena kau bawa aku serta ke sana sejak pergi hingga pulang ke Surabaya. Ahuhuuuu…
Daniel Mahendra | Jun 2, 2009 | Reply
Jangkrik…arek iki wis tutuk Madakaripura. Aku gak tahu oleh mbek Mamaku le’ ono acar nag air terjun iki. hik…hik…take me there please…
Ada satu legenda, jika ada burung yang keluar dari arah air terjun itu, you’d better not to go there.
Nia | Jun 21, 2009 | Reply
aqmau tanya tempat mardakaripura lebih tepatnya dmn yah?pengen bgtz kesan hiks,,hiks,,,,
aqsuka bgtz,,,,air terjunnya bnr2 eksotis,,bs kasih tau gak? oh yah via mail bs gak?yah sekalian mgkn ada yg aq tanyain lebih banyak gtu ^_^ thx,,,
or via FB juga bs alamatnya sama kok,,i’ll be wait u’r messages ^_^
lila | Aug 7, 2009 | Reply
Madakaripura emang dasyat banget…..
sebelum lebaran kemaren, saya bertiga dengan suami dan anak (usia 3 thn) pergi kesana.
Pake guide sekalian porter tas dan gendong anak. Jadi gak masalah pergi2 dengan membawa balita.
Sayangnya hasil poto kemaren itu kurang bagus2.
Someday, mudah2an bisa kesana lagi.
Ririen | Oct 2, 2009 | Reply
Emang Madakarepura suasanannya exotis dan lebih terasa suasana spritual (mistis) aq baru kesana dan secara tidak sengaja aku dapat foto yang berlatar belakang alam,dan setelah aku amati ternyata hampir mirip sama wajah dari patih gajah mada seperti dalam patung/gambar yang kita lihat dalam pelajaran sejarah dulu.
Sayang aq tidak bisa meng upload foto tsb.
Mungkin klo ada waktu lagi jika aku kesana akan kuambil lagi gambar tsb dgn jelas.
tanto | Nov 18, 2009 | Reply
iya,,keren bgt.
tapi sayang di sana banyak tukang palaknya..
jadi takut de ke sana sendirian..
huh
nabila | Dec 18, 2009 | Reply