Pola dan Gelombang
Posted by Lisa Febriyanti on Mar 30, 2009 in ladang inspirasi, ladang kisah
Pernahkah kalian berpikir tentang pola kehidupan yang kalian jalani? Yak saya tulis di situ kata pola. Penggambaran bahwa hidup bukan 100% misteri. Bagi saya, hidup punya pola dengan kecenderungan berulang. Dari pola yang cenderung berulang itu lah kita bisa belajar dan lebih siap dalam menghadapi hidup.
Dini hari, ketika pola kehidupan saya sendiri membayang bersama embun yang mulai datang. Deadline di depan mata, tapi editing naskah belum juga rampung 100%. Masih ada highlight berwarna kuning, tanda bahwa bagian itu masih belum “sexy” dan perlu saya edit lagi, di beberapa bagiannya. Tapi membaca berulang-ulang naskah dalam waktu berdekatan rasanya bukan metode yang saya pilih untuk mengedit. Itu justru membuat jenuh. Jadilah saya memilih berpindah sebentar untuk tetap menghidupkan energi menulis, dengan cara..ya menulis..tapi di sini..di blog yang coklat ini.
Ah ya, pola kehidupan. Saya rasa, pola kehidupan saya memiliki gambar gelombang. Hmm, pasti banyak diantara kalian juga memiliki gambar yang sama. Mari saya ajak untuk mengingat pelajaran fisika lagi. Ketika kita bicara gelombang, maka hal yang mutlak diajak serta adalah getaran.
Dalam hukum fisika, getaran adalah gerakan bolak-balik secara berkala melalui titik seimbangnya. Contoh sederhana adalah penggaris yang diletakkan di pinggir meja, kemudian disentuh atau dihentak, maka akan timbul getaran. Lebih jauh lagi, getaran itu merambat melalui sebuah medium, sehingga peristiwa perambatan ini disebut dengan gelombang.
Jika dianalogikan dengan kehidupan, getaran adalah segala sesuatu yang datang menyentil, menghentak, atau menghampiri hidup kita, dari getaran kemudian tercipta sebuah gelombang yang panjang pendeknya berbeda bagi tiap orang. Tergantung bagaimana besar getaran yang menghentak dan tergantung bagaimana labilnya benda yang menerima getaran itu.
Gelombang saya adalah gelombang transversal, karena getarannya berjalan tegak lurus terhadap arah rambat gelombang. Hmm, paling gampang membayangkan adalah ketika mengikat tali di salah satu ujungnya dan ujung yang lain kalian pegang, lalu sentaklah tali itu, maka tali akan mengalirkan getaran naik dan turun pada tali. Seperti itulah gelombang transversal.
Getaran yang hadir bergerak naik dan turun membentuk gelombang. Getaran hidup saya ini, rasanya memang naik turun dengan tajamnya. Tak pernah mendatar. Ia merambat naik, lalu pernah tepat sampai di puncak. Jumawa saya di sana. Tak lama, setelah itu ia pun turun kembali hingga ke titik nadir. Sebagai balasannya, sebentar lagi ia pun akan beranjak naik. Terus merambat, dan saya akan menunggu sampai titik hidup saya sampai puncak untuk kesekian kalinya.
Siap di puncak adalah hal mudah, tapi siap di titik nadir itu yang berulang-ulang butuh ketahanan dan kekuatan yang makin ke mari, makin besar. Saya yakin, gambar gelombang ini juga dimiliki banyak diantara kalian. Ini bukan sesuatu yang asing.
Nah, yang membedakan bagi tiap individu adalah panjang gelombangnya. Saya sudah menganalisa pola kehidupan saya sendiri. Gelagat yang saya tangkap, panjang gelombang itu usianya berulang tiap satu dasawarsa. 10 tahun.
Saya ingat, tahun 1986, saya memasuki fase baru bagi hidup saya. Tahun itu, secara fisik saya beranjak menjadi perempuan dewasa. Setelah itu tak banyak fase baru yang getarannya cukup kuat, selain tambah usia, naik kelas dan kelulusan. Tahun 1996, juga adalah fase baru bagi kehidupan saya, tahun ini kehidupan baru sebagai tahanan politik meghampiri hidup saya. Keluar dari sana, hidup saya selalu tak pernah sama lagi. Setelah itu, tak ada pindah fase baru lagi hingga 2006, saya melompati sebuah fase baru lagi. Saya memutuskan keluar dari zona aman di kantor dan menjalani kehidupan independen sebagai road warrior. Dan, setelah itu sekali lagi kehidupan saya tak lagi sama.
Ok, panjang gelombang berikutnya juga sedikit memperlihatkan periode satu dasawarsa. Kali ini berhubungan dengan kematian. 1998 adalah pertama kali saya melihat kematian lebih dekat dan pribadi. Sebelumnya, kematian hanya lewat. Di tahun itu, saya harus melepas seorang yang sangat dekat untuk dipeluk kematian. Sepuluh tahun berikutnya, di 2008, kematian seorang yang begitu dekat dan saya kasihi kembali datang. Kali ini saya menyerah, meski lagi-lagi mencoba menghalangi. Kematian, kapan-kapan kita akan berdialog lagi bukan?
Nah, sekarang saya sedang menguji analisa dasawarsa ini. Tahun 1999 adalah tahun kepindahan. Di tahun itu, saya hijrah dari Surabaya ke Jakarta. Lalu, sekarang 2009, saya akan hijrah kemana lagi ya?
Bagaimana dengan kalian, punya analisa panjang gelombang untuk kehidupanmu sendiri?
: catatan menunggu pagi
perempuan kan punya siklus bulanan. bumi, bulan, matahari, dan segala sesuatu di alam raya juga punya siklus. manusia sebagai bagian dari alam tentunya bersiklus pula. karena itulah ada perhitungan hari baik untuk berbagai fase kehidupan. *nyambung gak nyambung kayaknya*
SJ´s last blog post..Gitaris Amrik Juga Belajar ‘Mati Sakjeroning Urip’
SJ | Mar 30, 2009 | Reply
wah saya kok belum terpikir ya dengan analisa sampean………..
dafhy´s last blog post..Internetan Murah Menggunakan Hp Dengan Telkomsel
dafhy | Mar 30, 2009 | Reply
Bulan Maret dan April adl yg plng riskan dlm hidup saya… Entah mengapa di bln2 ini merasa tak nyaman…
tengku puteh´s last blog post..PENGLIHATAN FATAMORGANA
tengku puteh | Mar 30, 2009 | Reply
Siapa tahu ke mana kaki melangkah 10 detik lagi atau 10 jam lagi? Bahkan aku yang punya kaki saja tak tahu akan ke mana melangkah. Aku yang punya tangan saja tak tahu dengan apa yang akan kulakukan, termasuk tanpa sengaja tangan ini bergerak meninggalkan jejak di blog ini
Analisa panjang tak bisa selamanya tetap. Pasti ada yang berubah, entah banyak ataupun sedikit.
Aveline Agrippina´s last blog post..Sejauh Mana Anda Peduli dengan Bumi?
Aveline Agrippina | Mar 30, 2009 | Reply
saya setuju. tapi sayangnya, kita (eh, saya ding) ga pernah belajar. kalo di masa lalu saya melakukan kesalahan, saat saya tiba di ujung gelombang satunya di masa mendatang pun saya masih akan melakukan kesalahan yg sama.
btw, minta izin nge-link blog ini ke blog saya ya..
ezra´s last blog post..Aku adalah Sebatang Pohon
ezra | Mar 31, 2009 | Reply
saya juga punya gelombang yg hampir mirip, dan saya sebut dg siklus enam tahunan…
1992-1998, saya di sumatera barat
1998-2004, saya di riau
2004-sekarang, saya di jogja
apakah 2010 akan pindah lagi? sepertinya iya…
apakah itu suatu kebetulan? entahlah…
vizon´s last blog post..birah i
vizon | Apr 1, 2009 | Reply
ntah kbetulan ato ga.. yg jlas aku percaya itu..
fadielajah | Apr 1, 2009 | Reply
Tuhan menciptakan alam semesta beserta segala isinya memang sudah dilengkapi dengan sistem tertentu (dari tulisan para pakar religi yang saya baca dan saya dengar). Tapi (kata mereka lebih lanjut)tak setiap individu (baca:manusia) mampu menyentuh signal yang ini. Makasih, Mbak Icha, saya mau nyoba ikutan mencari lamda pada lika-liku jalan panjang yang telah saya lalui selama ini. E, siapa tahu bisa menambah kadar kebijakan saya (pribadi). Okai!
Ki Dhalang Sulang´s last blog post..Budaya “Mantu” A-la Gus Mus
Ki Dhalang Sulang | Apr 4, 2009 | Reply
wah, cha. aku malah belum pernah terpikir untuk membaca panjang gelombangku sendiri. mustikah aku mulai untuk cohort, atau kilas balik saja?
apa ini berarti aku orang yang kurang kontemplasi atau tidak pernah peduli pada rencana jangka panjang? wew… *kuatir*
marshmallow´s last blog post..If The Joke Was On You
marshmallow | Apr 5, 2009 | Reply
OOT lagi cha… ada award lg buat icha yang mesti diambil ^_^
Lala´s last blog post..Award Lagi
Lala | Apr 6, 2009 | Reply
hidupku seperti tokoh mitologi yunani *lupa namanya..malas googling* hendak mendorong batu besar menuju puncak bukit, untuk kemudian sesampainya di puncak jatuh menggelinding kebawah.
terus menerus dilakukan, bagai suatu pekerjaan sia-sia
ternyata aku perlu mengambil waktu sejenak untuk merefleksi
meski terus jatuh, aku telah melampaui beberapa puncak tanpa kusadari
hmmm… hidup tak pernah menjadi kesia-siaan
tomy´s last blog post..IBU JENDRA, DIALEKTIKA KEARIFAN LELUHUR NUSANTARA
tomy | Apr 8, 2009 | Reply
Saya pernah dengar tentang perulangan kejadian dalam hidup yang disebut gelombang ini. Tentu menarik mengetahui tiga karakteristik gelombang hidup kita masing-masing : amplitudo dan panjang gelombang. Bukankah ini unik untuk tiap diri?
Konon, gelombang hidup kita adalah superposisi dari gelombang-gelombang kecil dan besar (baik amplitudo maupun panjang gelombangnya). Konon pula, manusia diberi kekuatan untuk mengatur karakteristik getaran hidupnya, sehingga pula gelombang unik kita adalah buah dari selarasnya dua gelombang. Pola diri sebagai bagian alam, dan pola gelombang “diri” sebagai wakil “Diri” yang agung. Manusia akan menjadi wahana beralunnya gelombang multidimensi yang hanya bisa indah…
Hanya bisa indah…
Bukankah titik nadir itu sangat bermanfaat?
Dan karenanya pola gelombang hidup tak lagi menggelisahkan selagi nadir, atau melengahkan selagi puncak?
Seorang pujangga memberi nama indah nadir ini : penderitaan yang tahu berterima kasih…
Tak ada nadir dan tak ada puncak lagikah nantinya? nggak juga…
hanya beralih dari gelombang transversal ke jenis gelombang yang lain,
yang kian lembut namun bertenaga sangat tinggi..
Gelombang dengan amplitudo dan panjang gelombang mendekati nol… Seperti ungkapan seorang psikiater : matilah tiap hari, agar bisa hidup kembali tiap hari pula…
Menarik sekali cara Anda membaca hidup…
meski agak asing hari ini.
Tantripala´s last blog post..Andalah Dunia Ini (You Are The World)
Tantripala | Apr 8, 2009 | Reply
selalu saja pandai untuk memaknai semua, termasuk hidupmu juga cha.
:] sebelum th 1999 kok belum pernah ketemu ya, padahal aku disini di kotamu.
eko magelang´s last blog post..Balikpapan….. aku kembali
eko magelang | Apr 8, 2009 | Reply
nah, kayaknya aku merasakan getaran yg sama seperti tahun lalu. saat mendekati pertengahan tahun ini.
hah, semoga dapat kulewati dengan baik. aku hanya berharap itu… biar dapat kutunggangi turun naiknya gelombang itu dengan baik.
semoga, kaupun juga, ni sanak.
goenoeng´s last blog post..selembar daun waru
goenoeng | Apr 8, 2009 | Reply
selama ini aku selalu berpendapat bahwa setiap peristiwa yang mampir dalam kehidupanku adalah sebuah episode baru dengan pemain dan cerita yang berbeda. kadang aku tidak siap dengan kisah yang ada di dalamnya. aku merasa harus terus melangkah tanpa pernah memperhatikan bahwa hidup ternyata punya pola dan gelombang. tapi setelah membaca blog ini, sepertinya aku harus berhenti sejenak dan melakukan perenungan.. apa benar hidup ku juga berpola?? salam kenal dari aku..
aku (yang) sedang belajar untuk menulis..
titie | Jun 26, 2009 | Reply