Kepada Puan
Posted by Lisa Febriyanti on Mar 20, 2009 in ladang inspirasi, ladang kisah
Puan yang serupa bintang,
Sahaya melihat riak di mata Puan malam ini. Puan sembunyikan tangis?
Apa ini masih kisah prodeo jiwa yang membebat kepak sayap Puan lagi? Atau ini sekelumit resah yang tak bisa Puan alamatkan lewat sebuah kata pun? Malam sedang hangat, Puan, berceritalah, sahaya akan dengarkan.
Ah Puan, masih juga terdiam. Atau Puan justru ingin agar sahaya saja yang merampai kata, hanya agar Puan tidak merasa sendiri? Aih, Puan menggangguk pelan. Ya, sahaya akan bercerita untuk Puan. Ini kisah tentang Puan jua.
Puan yang seindah purnama,
Sahaya mengenal Puan dengan baik. Sebaik sahaya kenal ibu sahaya sendiri. Tapi sepanjang waktu sahaya mengenal Puan, sepanjang itu pula sahaya kerap bertanya, apa yang ada di dalam hati Puan sebenarnya? Kerap sahaya cermati, hidup Puan sempurna, penuh tawa dan tak kurang suatu apa pun, tapi setelah semua terlelap, Puan tersedu seperti merindu.
Tak jarang saya melihat Puan berderai air mata dalam diam. Lalu Puan berlari ke taman, berlarian dengan kupu-kupu, membiarkan air di ujung mata Puan hilang dilibas angin. Puan seakan begitu menikmati hempas sinar di kulit putih Puan, begitu peka telinga Puan mendengar air mengalir. Tapi mata Puan masih juga tak bisa diajak menipu. Ia masih menyimpan genang di sana. Makin menggenang dan dalam.
Puan yang sehangat mentari,
Sahaya lalu pelan-pelan memahami arti diam Puan. Sahaya lalu pelan-pelan meraba topeng senyum yang sering Puan perlihatkan di taman itu. Dengan mata batin, sahaya melihat sayap-sayap patah dari balik gaun Puan yang gemilang.
Puan, sayap itu sudah terlampau parah lukanya. Hentikan larimu, berhentilah menghujam diri sendiri. Puan tahu, kesalahan terbesar dalam hidup ini adalah mencoba memenuhi harapan semua orang. Tidak akan bisa, Puan. Tak akan pernah berhenti harapan semua orang itu dialamatkan pada Puan. Sementara, Puan terpuruk tanpa daya. Hingga kapan Puan bisa bertahan?
Lihatlah wahai Puan yang seharum mawar, mereka menjajah hati dan pikiran Puan dengan keinginan mereka dan membikin Puan tertunduk seperti ini. Hidup ini soal pilihan Puan. Lalu yang menjadikannya berwarna adalah konsekuensinya. Tak ada pilihan yang benar dan salah. Puan akan tahu pilihan itu jadi yang terbaik setelah Puan melewatinya.
Kenapa Puan? Bingung bersikap? Yah, sahaya tahu Puan, serba tak enak memang jika Puan menyembunyikan sayap Puan. Sahaya juga tahu, sayap itu kepaknya layak membumbung. Sekian bebatnya menunjukkan banyak kepaknya yang tak terentang ke angkasa. Demi harapan orang lain.
Puan yang setegar karang,
Ya, sahaya katakan setegar karang, karena sahaya tahu Puan punya jiwa yang kuat. Sahaya bisa merasakan degup irama semangat Puan yang menggebu akan segala sesuatu. Sahaya bisa meraba kekar sayap yang sesungguhnya Puan miliki, tapi sekarang harus memendam luka, terbebat dan perih dalam diam. Jadilah diri sendiri Puan, tak semua orang bisa menerimanya, tapi paling tidak itu membuat Puan bisa tersenyum tanpa topeng dan lega mengepak……..
untuk puan sahaya dalam mimpi mikrokosmosnya.
dan untuk puan-puan lain dengan sayap-sayap patah dan mulut terbungkam
catatan: candid photo taken by icha armed with nikon D40x. terima kasih puan kecil untuk posemu
Nice and artistic article… kata=katanya manis banget..
Thanks buat senandungnya..
Joddie´s last blog post..Hidup Seperti Warung Makan
Joddie | Mar 20, 2009 | Reply
semenjak kita dilahirkan. kita tidak hanya menghidupi hidup kita sendiri. kita juga menghidupi hidup orang lain. kita dibebani dengan keharusan untuk membahagiakan orang lain. mereka spertinya tidak sadar bahwa membahagiakan diri kita sendiri pun bukanlah perkara mudah bagi kita.
spertinya masih banyak orang sperti puan di sini.
ezra´s last blog post..flannel
ezra | Mar 20, 2009 | Reply
Tulisan bagus dengan rangkaian kata yang indah…
Masih banyak Puan yang terkungkung dan terpasung jiwanya … perlu uluran tangan dan cahaya semangat untuk membuka “Mata hatinya”….
Panglatu´s last blog post..Pulanglah Anakku Sayang….
Panglatu | Mar 21, 2009 | Reply
coolz mbak!
nancap bgt dah…
btw fto na di mana ya?
rumah gadang ya? jd kangen plg! >,<
ivy´s last blog post..aku n lelah..
ivy | Mar 21, 2009 | Reply
saya suka dg penggunaan bahasa mbak icha yang amat kental dg bahasa melayu, hehe … ternyata tuah bahasa melayu itu masih ada dan terasa hingga sekarang.
sawali tuhusetya | Mar 22, 2009 | Reply
Puan Icha, kelak foto saya ya, lalu kita cari kupu-kupu ditaman bersama, mau?:)
Yoga´s last blog post..Jangan Tidur!
Yoga | Mar 22, 2009 | Reply
Puan itu bahasa yang sering dipake di Malaysia, orang melayu khusus nya, nice story
Raffaell´s last blog post..Cari cari MP3 Yuk!
Raffaell | Mar 23, 2009 | Reply
aih. mantab.
elTyaga´s last blog post..siker
elTyaga | Mar 23, 2009 | Reply
cha…, ada award lagi buat icha di blogku diambil yaaa
Lala´s last blog post..Sisterhood Award
Lala | Mar 23, 2009 | Reply
Ini bukan tentang Puan anak petinggi partai ntu kan?? he..he..
Pemilihan kata2nya keren Mbak..*menjura*
M4nk´s last blog post..Trip to Batu Karas
M4nk | Mar 24, 2009 | Reply
Tahu engkau wahai puan
Hati sahaya tlah tertawan
Remuk rindu redam kasmaran
Oleh senyummu sungguh menawan
Hahahaha….
Salam kata, mbak Lisa….
TENGKU PUTEH´s last blog post..BUKAN ROMAN PICISAN
TENGKU PUTEH | Mar 24, 2009 | Reply
replika toh? jd bkn di padang dunk..
emg di mana mbak?
btw,thx buat bantal na ya! >,<
sementara dipake dulu..sampai sy menemukan bantal saya sendiri.. wkwkkw…
ivy | Mar 25, 2009 | Reply