Kitab Pemoeas Dahaga dan Empat Pengembara

Empat pengembara, datang dari empat penjuru mata angin. Berawal dari titik yang berbeda lalu bertatap pada noktah yang sama. Empat, seperti kaki meja yang seimbang. Empat, tak ada yang sama.

Sebuah perjalanan tanpa misi mempertemukan mereka pada sebuah bangunan kayu yang sederhana. Bangunan bertingkat dua yang membiaskan rona-rona hangat. Udaranya menebarkan aroma khas Jawa yang mistik sekaligus menenangkan.

Seorang lelaki berdestar batik dan berbaju hitam menyambut mereka dengan senyum ramah.

“Selamat datang para pengembara. Silakan masuk dan beristirahat di sini.”

“Bangunan apa ini, Kisanak?” pengembara, satu-satunya perempuan bertanya.

“Ini adalah Istana Djendela. Kami menamakannya demikian karena di sini lah tempat untuk memandang segala sesuatu, di sini lah kami menawarkan dunia yang berbeda, tanpa harus kalian masuki, cukup memandang dari sebuah jendela yang lebar. Di sini adalah sebuah jeda untuk memutuskan apakah kalian akan tetap di dalam atau kembali berjalan.”

kitab22

Empat pengembara bertatapan. Masih bergeming.

“Di tempat ini para pengembara akan mendapatkan Kitab Pemoeas Dahaga,” lelaki itu melanjutkan.

“Kitab apa?” pengembara, lelaki berbaju hitam memanggul bekal yang cukup padat mengeluarkan suara.

“Singgahlah sejenak, kalian akan tahu nanti,” lelaki berdestar itu menjawab sembari melenggang masuk, meninggalkan empat pengembara yang kembali saling bertatap.

Entah siapa yang memulai, tapi yang kulihat kemudian mereka sudah duduk di ujung ruangan. Istana Djendela sedang ramai dengan para pengembara yang menikmati jeda dan menyesap Kitab Pemoeas Dahaga. Mereka rupanya memilih tetap berdekatan. Mungkin di kepala mereka terus memendam tanya tentang Istana Djendela dan Kitab Pemoeas Dahaga. Aku terus mencuri pandang, mengamati apa yang mereka lakukan selanjutnya.

Lelaki berdestar itu menghampiri mereka, menyerahkan empat buah kitab. Aku tersenyum, melihat dengan tak sabarnya mereka meraih kitab itu. Aku yakin, sesudah ini mereka akan membulatkan mata membaca isi kitab itu. Ya, seperti saat aku pertama datang dulu.

Benar saja, lelaki pengembara berbaju hitam itu terkesiap dengan isi kitab. Dibolak baliknya kitab itu, diteliti pelan isinya. Sementara pengembara perempuan seperti sudah tahu apa yang ia cari di kitab itu. Pengembara berbaju putih, dengan perawakan paling kecil di antara mereka, membaca dalam isi kitab itu. Pengembara satu lagi, dengan rambut berjela-jela di pundaknya, tenang bersandar membacai kitab itu.

kitab11

“Silakan kalian pilih satu saja dulu diantara yang disebutkan di kitab itu. Begitulah peraturannya di sini. Satu pilihan hanya untuk satu waktu,” lelaki berdestar menjelaskan.

Lama tak ada suara. Mereka masih sibuk bertanya dan memilih dalam hati.

“Jika begitu, bolehkah aku memilih Kho Ping Ho Lihai? Aku selalu menyukai Kho Ping Ho,” perempuan pengembara meminta.

Lelaki berdestar menggangguk dan mencatat.

“Hmm..biar aku pilih Koeminoem Air Kata-kata,” lelaki pengembara dengan rambut berjela mengambil giliran selanjutnya.

Lelaki berdestar mengganguk dan mencatat.

Lalu giliran pengembara kecil berbaju putih yang bersuara, “Aku..Wisanggeni Toembas AC. Menarik sekali sepertinya yang ini.”

Lelaki berdestar menggangguk dan mencatat.

“Kalian sudah memilih rupanya. Entah apa itu semua, tapi jika aku diminta memilih, aku akan berkata Mangoen Wijaya Loear Biasa,” terakhir laki-laki berbaju hitam meminta sembari menutup kitab.

Lelaki berdestar menggangguk dan mencatat, lalu pergi meninggalkan mereka.

kitab4

Aku masih memandangi mereka. Mencoba mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Tapi Istana Djendela terlalu ramai. Tak banyak kata yang bisa masuk ke telingaku. Aku hanya bisa melihat mereka bertukar kata, sesekali tertawa, menyalakan tembakau, mencatat sesuatu, tertawa lagi. Renyah.

Lelaki berdestar datang, membawa empat pilihan mereka. Cepat mereka sesap dan aku bisa melihat betapa kelegaan merambati wajah mereka. Persis seperti judul kitab itu. Pendar-pendar aura mereka bisa kulihat dari sini. Yang semula buram, kini merekah berkat kitab itu. Aku tersenyum, mengingat pertama kali aku diperkenalkan pada Kitab Pemoeas Dahaga.

kitab3

Cahaya dari balik jendela besar mulai lindap. Tinggal sedikit yang menerobos. Lelaki berbaju hitam berdiri dan meraih bekalnya. “Aku harus melanjutkan perjalanan. Ini pertemuan yang menyenangkan, kawan. Dan tentang Kitab Pemoeas Dahaga, tolong ingatkan padaku jika aku melupakannya. Ini kitab luar biasa. Maaf, aku tak bisa tinggal.”

Ketiga pengembara tersenyum, maklum bahwa jeda sudah habis. Waktunya bagi mereka untuk kembali ke jalur yang sudah mereka tempuh masing-masing. Menuntaskan perjalanan mereka. Waktu yang telah menyeret langkah mereka bertemu di Istana Djendela dan kini waktu yang menarik kaki-kaki mereka untuk segera beranjak.

Aku terus memandang. Mengikuti gerak ketiga pengembara yang masih tinggal melanjutkan kata-kata. Kali ini mereka tampak lebih serius dari sebelumnya. Bergantian berbicara. Sejenak aku melihat aura mereka makin benderang, sepertinya mereka menemukan pertemuan kata yang menarik. Cukup lama mereka berpijar, tapi kemudian mereka pun pergi mengambil arah yang berbeda, seperti arah mereka datang tadi.

Istana Djendela masih hiruk pikuk ketika aku mendengar alunan lagu mengalun. Entah dari dunia mana lagu itu datang….

if you’re lost you can look
and you will find me
time after time
if you fall I will catch you
‘ll be waiting
time after time
after my picture fades and darkness has
turned to gray
watching through windows

Pertemuan, perjalanan…semua dilingkupi waktu.

Aku sesap ramuan terakhirku dari Kitab Pemoeas Dahaga, lalu beranjak juga ke jalanku sendiri. Jedaku pun sudah berakhir.

Istana Djendela masih berdiri di sana. Terus ada untuk para  pengembara yang datang dan pergi, time after time.

jogja, sebuah petang

13 Comment(s)

  1. haha! kitab pemoeas dahaga di djendelo yang sudah tjapek berdiri sejak 05!

    jadi pengembara berbaju hitam itu akhirnya perlu diselamatkan juga untuk turun dari goenoeng pengembaraannya ya, cha? wakakak! pengembara cemen dia. *dipentung pengembara pake kitab gemuk*

    senang berkenalan dengan seorang pengembara perempuan dalam suatu “kebetulan” yang menyenangkan, cha.

    hahahah Betul Mbak..pengembara yang satu itu kalah sama batuk dan…tiket! :p…tapi darinya juga kebetulan itu mampir ke kita ya….

    btw..abaikan pertanyaan bodohku tentang kepulanganmu itu Mbak…itu basa-basi yang basi dariku hahahhahaha…

    marshmallow | Mar 16, 2009 | Reply

  2. Sang pengembara kehausan disini, bolehkan mampir???

    TENGKU PUTEH´s last blog post..HIKAYAT SANG PEGEMBARA BAGIAN DUA

    sudilah tuan pengembara juga mampir ke sini..istana ini terbuka untuk pengembara dari manapun..silakan masuk, tuan…rebahkah lelah tuan, puaskan dahaga, tuan..di sini…:)

    TENGKU PUTEH | Mar 16, 2009 | Reply

  3. Nama minumannya benar-benar unik dan Jogja banget. Membaca tulisan ini seperti membaca bagian dari kisah seseorang yang mencari kitab untuk menemukan apa yang dia cari. Hehehe…
    :-)

    Aveline Agrippina´s last blog post..Menangis

    kitab itu juga mengandung ilmu kanuragan yang mampu melegakan tenggorokan…itu bukan yang sering dicari saat matahari sedang garang menebar panas? :)

    Aveline Agrippina | Mar 16, 2009 | Reply

  4. Sang pengembara berpakaian hitam-hitam itu memang kerap disesat-sesatkan oleh keadaan. Untunglah ia singgah ke Istana Djendela. Sehingga bertemu dengan kisanak-kisanak pengembara lain yang baik hati. Dan bersulang minuman pemoeas dahaga di sana.

    Gluk! Gluk! Gluk!

    Daniel Mahendra´s last blog post..Perjalanan Menggelikan

    bukan Guk! Guk! Guk! hahahahahah

    Daniel Mahendra | Mar 16, 2009 | Reply

  5. sayang, pengembara dari Tlatah Tengah tak bisa bergabung. saat itu sedang dalam lakunya menuju Padepokan Banyumanik, yang telah lama ditinggalkan.
    maafkan, mungkin lain waktu kita bisa berjumpa Ni Sanak.

    goenoeng´s last blog post..bulan belum lagi sempurna

    Wahai Kisanak pengembara dari Tlatah Tengah yang sudah kesohor kegarangannya, memang sayang sekali tak bisa kujumpa di noktah pengembaraan kami di Istana Djendela…padahal ingin sekali kumenimba ilmu kanuragan darimu…

    ah waktu..semoga akan jadi milik perjumpaan kita nanti..semoga, Kisanak…

    goenoeng | Mar 16, 2009 | Reply

  6. hahaha..
    jd teringat si tukul.

    “kembali ke laptop”

    teringatnya di bagian mana ya Mas? pengembara bernama Tukul sepertinya belum mampir ke Istana Djendela ;)

    aryf | Mar 16, 2009 | Reply

  7. Itu warung di dekat stasiun tugu opo mbak. Kok seru banget para pendekar mampir ke situ?

    tampaknya menunya juga bisa menambah kadigdayan

    Istana ini di pinggir kota Mas Hejis…tepatnya di Gejayan…dan ya memang benar..ramuannya menyegarkan, jiwa dan raga :)

    Hejis | Mar 17, 2009 | Reply

  8. Buset, lucu banget, dimana nih lokasinya ?
    Idenya briliant, kalo di inggrisin apa artinya ya

    Raffaell´s last blog post..Ngapelin cewe ke bioskop

    Sebuah tempat yang sering menyebut dirinya hot ngelesot, internet coema-coema..Djendela Cafe, Jogja…coba deh ditranslate hehehheh aku sih kurang yakin akan semegah namanya dalam bahasa aselinya hehehehe

    Raffaell | Mar 17, 2009 | Reply

  9. siapa saja sih empat pengembara itu, mbak icha? hehehe …. terus kalau empat pengembara itu pilih kitab yang sama bagaimana? bisa jadi pertemuan empat pengembara jadi makin asyik atau justru akan terjadi pertengkaran hebat, wakakaka ….

    kalau empat pengembara itu sampai ngotot memilih nama yang sama dalam kitab itu, saya akan sarankan untuk mencari begawan yang tinggal di Kendal..Begawan yang kesohor arif lagi bijaksana dalam menyikapi segala perseteruan …

    tiga dari empat pengembara itu beberapa kali mengunjungi pelataran padepokan Kendal…satu diantaranya baru saja memberanikan diri menjumpai pemilik padepokan, walaupun harus melalui halang rintang perjalanan yang menggeligan ;) (ups!)..dan dua pengembara lainnya sedang sangat menunggu giliran perjumpaan dengan beliau…:)

    sepertinya masih banyak antrian menunggu di sana..;)

    sawali tuhusetya | Mar 17, 2009 | Reply

  10. Aduh, lama sekali rasanya aku nggak berkunjung ke blog yang cantik ini. Blog ini bagiku adalah ladang kesejukan karena tulisan mbak lisa yang menyejukkan hati

    Che Susanto´s last blog post..1001 SIASAT HADAPI UJIAN

    Wah satu lagi Begawan Che sudi mampir ke mari…Agar lebih sejuk, silakan memilih satu dari pilihan yang dimiliki Istana Djendela di atas, Beg..(panggilan begawan maksudnya hehheeh)

    Apa kabar, Pak Santo? Hampir dua bulan purnama tak muncul nih..

    Che Susanto | Mar 18, 2009 | Reply

  11. uniqe bgt cerita na mbak icha!
    inspiratif dan berdaya khayal..
    di jogja ya?? bolehh tuh kl ke jogja ikutan mapir k sn.. heheh..
    Boleh tau alamat lengkap na? xb

    ivy´s last blog post..aku n lelah..

    Di Toga Mas, Jogja, Jalan Affandi (dulunya dikenal dengan nama Jalan Gejayan)…cukup populer di Jogja kok Vi…:)

    ivy | Mar 21, 2009 | Reply

  12. Nyi sanak, aku mencari kitab kesatu dan pedang naga, tolong tunjukkan arahnya. :D

    Yoga´s last blog post..Jangan Tidur!

    Ni sanak..kitab itu sungguh langka..kau harus bertapa seribu malam dulu untuk mendapatkannya…jika kau sanggup..arah selatan yang harus kau tempuh..jangan lagi percaya utara hahahhahah

    Yoga | Mar 22, 2009 | Reply

  13. ternyata pengembaraanku belum seberapa
    baru pertama kali ini mendengar Istana Djendela
    sudilah Nisanak tunjukkan padaku
    kemana gerangan pongkrangan diriku harus menuju

    tomy´s last blog post..IBU JENDRA, DIALEKTIKA KEARIFAN LELUHUR NUSANTARA

    Jogjaaaaaaaa….:D

    tomy | Apr 23, 2009 | Reply

1 Trackback(s)

  1. Mar 19, 2009: from O(h) Mami… Oblong Itu Menyehatkan… - Yainal.Web.Id

Post a Comment