Ingin Berbeda atau Membuat Perbedaan?

Suatu kali, saya dengan Growing Fun diundang untuk mengisi materi belajar dan bermain di Kinderland Pondok Indah. Di sana, saya mengenal satu sosok kecil yang menarik. Namanya Chaterine. Kelas K2 (TK B).

Chaterine sudah cas cis cus berbahasa Inggris. Ya, terang saja, di Kinderland semua pelajaran disampaikan menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Ia anak yang lincah dan pintar. Namun, bukan hanya itu yang membuat saya tertarik padanya.

Dalam permainan yang kami sajikan, Chaterine selalu aktif dan cepat tanggap pada pola permainan. Dibanding kawan-kawannya, ia melakukan strategi yang berbeda. Contohnya, saat giliran kelompoknya mengejar, Chaterine tahu menempatkan diri di barisan depan. Sedangkan ketika ia tahu giliran kelompoknya yang dikejar, ia langsung berpindah ke barisan belakang sendiri, agar mudah menyelamatkan diri. Dan dengan strategi itu, ia pun unggul.

Saya perhatikan memang ada satu yang istimewa dari gadis kecil ini. Saya tahu ia sangat menikmati permainan yang kami sajikan, tapi ketika kami melontarkan pertanyaan apakah anak-anak menikmati permainan, semuanya menjawab dengan semangat “Yesssss…“, kecuali Chaterine. Sedetik setelah teman-temannya bilang yes, ia justru bilang “No“. Saat itu saya sempat berpikir, ia bukan gadis kecil yang mudah dipuaskan. Tapi seorang guru berbisik kepada kami, “Itulah Chaterine, ia selalu ingin berbeda dari teman-temannya.”

Aha…yak, saya melihat itu dari Chaterine. Selalu ingin berbeda. Mungkin tak ia sadari, mungkin itu caranya menarik perhatian a la anak-anak. Tapi ia memang selalu mau yang berbeda.

Mengingat Chaterine kembali sekarang, saya lalu berpikir tentang diri saya sendiri. Rasanya, saya tak beda jauh dari gadis kecil itu. Sejak kanak-kanak, saya memang selalu ingin yang berbeda. Saya selalu memilih yang berbeda dari kebanyakan orang.

Ketika perempuan kecil sebaya saya bermain masak-masakan dan boneka, saya memilih ikut menggelas benang layangan. Ketika setiap sore anak-anak bermain di halaman depan, saya memilih naik ke atas pohon jambu di halaman belakang dan membaca buku di sana. Ketika, semua teman-teman saya menggunakan jam di tangan kiri, saya pun mengubah posisi jam saya, menjadi di tangan kanan. Ketika, semua teman-teman SMP saya memilih menggunakan kaos kaki putih semata kaki, saya memilih kaos kaki yang panjangnya hampir menyentuh lutut. Tak ada sebab, tapi karena ingin yang berbeda.

Dan pilihan itu berlanjut hingga saya menentukan jurusan kuliah. Ketika semua sepupu saya sudah memilih jurusan ekonomi dan hukum, saya justru tak mau menjamahnya. Jujur ketika saya memilih dua jurusan, Teknik Industri dan Ilmu Komunikasi untuk UMPTN, saya pun tak punya gambaran seperti apa ilmu yang saya dapat nantinya. Tapi waktu itu saya hanya ingin memilih sesuatu yang berbeda. Ugh, sound like anak K2 itu ya? hehehhehe..

Lalu, ketika banyak orang justru memilih zona aman bekerja di kantor, saya justru meninggalkannya dan memilih berjuang sendiri, menjadi road warrior (mobile worker, meminjam istilah Hermawan Kartajaya).

Ketika orang lain melihat sesuatu adalah biasa, saya justru mencari yang tidak biasa dari sesuatu itu, mencari sesuatu yang unik, agar bisa saya kuliti dan dedah.

Dan masih banyak pilihan-pilihan lain menunjukkan perbedaan. Lalu, dari beberapa pilihan itu tak jarang beberapa komentar masuk ke telinga saya. “Kamu ini aneh, cha!”. Hingga ratusan pertanyaan ditujukan kepada saya kenapa saya harus memilih yang berbeda. Hingga ribuan ketidakmengertian orang-orang yang berhadapan dengan saya.

Entahlah, sampai saat ini saya juga tak mengerti mengapa saya hampir selalu menginginkan sesuatu yang berbeda. Dan seringkali pandangan naif saya pun menguasai dalam melihat yang berbeda itu. Rasanya untuk saat ini, itu bukan hanya untuk mencari perhatian orang saja.

Tapi sekarang, ketika saya sudah banyak memilih yang berbeda. Satu hal terpetik dalam benak saya. Adakah pilihan yang berbeda itu bisa membuat perbedaan, bagi diri saya dan bagi lingkungan saya.

Saya sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir hendak saya arahkan kemana hidup saya ini. Dan saya yakin, tiap individu yang lahir di dunia ini selalu punya misi dan manfaat bagi kehidupan, sekecil apapun itu. Nah, untuk orang yang suka sok memilih dan melihat sesuatu berbeda ini, apakah itu bisa untuk membuat perbedaan, yang lebih baik tentunya, bagi dunia kecil saya?

Saya, sendirian, sanggupkah membuat perbedaan?

Ada yang bisa kasih masukan?


siang yang panas di tengah Jawa

11 Comment(s)

  1. He he he, inilah salah satu indikator yang menarik perhatian saya untuk Mbak Icha. Tampil beda (ataupun apa istilahnya), memang sangat lekat pada Mbak Icha. Ini terimplementasi pada pilihan tampilan blog Anda yang ‘nyeleneh’( desain, konten, pilihan gaya bahasa, dll), sehingga sangat menarik perhatian saya. Menggelar keinginan lain dari pada yang lain (unik, khas, eksklusif) dibutuhkan dasar ‘aiqiu’ yang di atas rata2 loh, Mbak.
    Dan sekedar masukan (tak penting)silakan dikembangkan terus naluri Mbak Icha yang ingin beda dari yang lain ini, namun ada kalanya pada ‘koridor’ tertentu, sekali sekali perlu sama dengan yang lain-lain*halah*

    Ki Dhalang Sulang | Mar 14, 2009 | Reply

  2. Mo kasih masukan apa ya??? bingung non! he…3x!

    Rychan´s last blog post..Humor Sufi part songo

    Rychan | Mar 14, 2009 | Reply

  3. Tentu saja bisa :) , bila tau kpn saat yg tepat berdiri di depan dan kpn hrs berada di belakang.

    aryf | Mar 14, 2009 | Reply

  4. Berdengung-dengung pada kalimat: “itulah kamu, Cha!!”

    Ferry H | Mar 15, 2009 | Reply

  5. Very nice topic, Antara ingin berbeda dan akhirnya membuat perbedaan, jadi terfikir sama aku, gimana caranya ingin berbeda tapi ngga membuat perbedaan

    Raffaell´s last blog post..Ngapelin cewe ke bioskop

    Raffaell | Mar 15, 2009 | Reply

  6. beda itu bagi saya mah biasa, cuma kalau bedanya sampai 39 itu, jadi pusing mbak.

    eko magelang´s last blog post..Balikpapan….. aku kembali

    eko magelang | Mar 17, 2009 | Reply

  7. hmmm…
    bukannya dengan berbeda pasti membuat perbedaan ya? sekecil apapun itu!
    rambut putih di antara rambut hitam pasti na terlihat bkn? >,<
    tapi ga ada yg salah dgn hal itu..
    at least tdk spt puan dalm cerita mbak icha..
    Saya lupa tepatnya, ada ikan yang suka berenang melawan arus! Masa kita manusia ga bs? wkwkwk..
    keep on going..

    ivy´s last blog post..aku n lelah..

    ivy | Mar 21, 2009 | Reply

  8. Tentu Cha.

    Yoga´s last blog post..Jangan Tidur!

    Yoga | Mar 22, 2009 | Reply

  9. Dunia terasa berbeda ketika anda memandang saya
    Lebih terasa berbeda ketika anda memandangnya melalui mata saya
    Saya sering memandang dunia dengan cara yang berbeda
    Dari sudut pandang yang berbeda
    Sudut pandang yang tidak semestinya

    Salam kenal juga…
    Saya senang menikmati tanaman di ladang anda. :D

    adasupriadi´s last blog post..Konstruksi Tanah Pondasi Candi Borobudur

    adasupriadi | Mar 25, 2009 | Reply

  10. Suatu ketika Sang Guru menunjuk pada suatu pengertian Hindu bahwa semua penciptaan merupakan “leela,” yakni permainan Allah, dan alam semesta merupakan lapangan bermain-Nya. Tujuan spiritualitas, kata Sang Guru, adalah menjadikan seluruh kehidupan sebagai permainan.
    Pernyataan itu berkesan terlalu naif bagi seorang tamu puritan. “Lalu tidak adakah artinya bekerja?”
    “Tentu saja ada. Tetapi pekerjaan menjadi spiritual hanya ketika diubah menjadi permainan.”

    tomy´s last blog post..IBU JENDRA, DIALEKTIKA KEARIFAN LELUHUR NUSANTARA

    tomy | Apr 8, 2009 | Reply

  11. Yo’opo gak beda. Semua teman di Komunikasi sibuk belajar menjadi penyiar dan memperdalam ilmu periklanan atau PR. Icha malah sibuk berdiskusi dengan suhu Rendro tentang MDH, EkPol dan What’s to be done. Aku ingat betul Icha dan BimPet adalah murid favorit Rendro untuk soal teori. Heru untuk soal gerakan, dan nia..di soal lain ha…ha…

    Nia Damayanti | Apr 24, 2009 | Reply

Post a Comment