Pelesir ke Papuma
Posted by Lisa Febriyanti on Mar 3, 2009 in ladang pelesir

Pasir putih, semburat matahari terbit dari balik awan, kumpulan atol yang berdiri megah, birunya air laut, buaian ombak dan semilir angin dari pantai selatan, menunggal dalam satu sajian rupawan dari Papuma.
Pesona Jawa Timur menawarkan sebuah “surga” bagi pecinta pemandangan alam dan pantai. Sebuah pantai yang masih bersih dan indah, terletak di Selatan Kota Jember, tepatnya di Kecamatan Wuluhan.
Papuma, sebuah nama yang cukup unik kedengarannya. Terbentuk dari akronim, Pantai Putih Malikan. Unik yang lain, di sebelah Pantai Papuma ada juga wisata pantai yang sudah kesohor, Watu Ulo, memiliki pasir berwarna hitam, sedangkan Papuma yang letaknya bersebelahan, dipenuhi pasir putih yang halus.
Dari Surabaya, Papuma dicapai setelah empat sampai lima jam perjalanan. Saya dan rombongan sengaja berangkat dini hari agar sepagi mungkin bisa sampai di Papuma. Maklum, bukan pemandangan indah saja yang ingin kami sesap, tapi juga semburat sinar matahari pagi yang sangat elok jika tertangkap kamera.
Perjalanan dini hari lancar ditempuh. Porong yang biasanya macet, lengang terbuka. Memasuki kota Jember, kami makin bersemangat. Itu berarti sudah dekat di tempat tujuan, sekira satu jam lagi. Petunjuk arah lengkap tersedia. Tinggal mengikuti jalan. Mendekati Papuma, jalan mulai menanjak dan meliuk.
Beruntung pos penjagaan di Papuma buka 24 jam, sehingga kami tak perlu menunggu benderang untuk bisa masuk. Untuk masuk ke Papuma, saat ini jalan yang dibuka adalah melalui area Pantai Watu Ulo terlebih dahulu. Ini yang membuat tiket harus bayar dua kali. Pertama di Watu Ulo tiketnya Rp3000/orang di weekdays atau Rp5000/orang untuk weekend dan hari libur. Ada tambahan Rp7000 untuk satu mobil. Yang kedua, masuk ke Papuma, juga bayar dengan harga tiket yang sama, tapi tanpa tambahan charge untuk mobil. Jangan khawatir, sangat sepadan dengan pemandangan yang akan diperoleh di sana.
Senyap menyergap, tapi gemuruh ombak sudah menyapa. Masih remang pagi yang menguar di angkasa. Kami memutuskan untuk menyewa sebuah cottage untuk meletakkan barang-barang dan menunggu matahari memulai hari.
Ada dua jenis cottage yang bisa dipilih. Rp150.000 dengan satu tempat tidur dan Rp250.000 untuk dua tempat tidur yang punya kelebihan letaknya di pinggir pantai.
Ketika matahari sudah mengintip, kami bergegas ke pinggir pantai. Beruntung tak ada hujan di pagi itu. Tapi awan masih menggayut di ujung Timur.Remang mulai benderang.

Matahari bergerak cepat, menebar sinar. Dan segera saja, benderang menyapu pantai. Ini pertama kalinya saya ke sini, dan langsung takjub dengan beberapa atol yang tersebar di dekat pantai. Karang-karang berwarna gelap itu kokoh menantang, kontras dengan birunya laut yang bersinar ditimpa sinar matahari.
Fajar pagi tak lama kami nikmati, karena mata yang semalaman begadang agak perih diajak bertentangan dengan matahari. Kami kembali ke cottage dan merebahkan tubuh.
Satu jam saya tertidur. Ketika saya terbangun, yang lain masih asyik dengan tidurnya. Saya memutuskan untuk jalan sendiri menyusur pantai. Menenteng kamera, saya melenggang langkah. Satu tempat yang ingin saya tuju, Siti Hinggil. Sebuah tempat di bukit kecil yang memang sengaja disiapkan untuk menyesap pemandangan Papuma dari ketinggian.
Garis pantai rupanya berbelok, membentuk huruf L, bukan lurus semata. Siti Hinggil persis terletak di sudut belokan. Tak payah untuk naik ke sana, karena sudah disediakan tangga beton dan tak terlalu tajam ketinggiannya. Sampai di Siti Hinggil, sebuah atol yang menurut saya paling eksotik baru terlihat. Sebelumnya atol ini tak nampak dari pantai kami bersiram fajar.

Ada yang unik di sekitar atol itu, arusnya bertumbukan dan bertemu di sebuah sudut, seperti garis horisontal dan vertikal yang bertemu secara bersamaan. Dan dari Siti Hinggil, pandangan bisa luas menebar. Memandang Papuma dari ketinggian, mata disuguhi pemandangan pagi yang elok. Inilah Indonesia, sedikit menyurut dari perkotaan yang sumpek dengan gempuran globalisme.
Papuma, bisa dibilang masih belum tersentuh modernisme. Tak seperti Anyer atau Pangandaran yang sudah dibombardir hotel-hotel mewah ataupun restoran besar. Di sana hanya sebuah cottage sederhana namun bersih berjumlah tak lebih dari sepuluh, warung-warung sederhana dengan duduk di atas balai-balai dan menu makanan laut segar yang ditawarkan. Justru itu menambah eksotisnya.
Dari pengelola cottage saya mendapatkan informasi, Papuma tak hanya menawarkan wisata pantai, bisa juga wanawisata. Di sekitar Papuma memang masih terbentang hutan lebat. Trekking dan mengunjungi beberapa gua misterius juga ditawarkan di sana. Didampingi dengan pemandu yang minta bayaran Rp75.000-Rp100.000, kita bisa trekking menembus hutan.
Dan tentang atol-atol yang bertebaran itu, informasi yang saya dapat terbentuk dari batu Malikan dan diberi nama seperti nama-nama dewa dalam khasanah Hindu, seperti Krisna, Batara Guru, Narada. Ada pula yang diberi nama Nusa Barong dan Kodok, karena bentuknya mirik kodok.


Menjelang siang, saya pun turun dari Siti Hinggil. Perut sudah berontak, sedari pagi belum terisi. Saya pun kembali ke cottage dan membangunkan rombongan untuk segera makan siang. Kami pun memilih satu dari deretan warung di sana. Menu yang kami minta adalah ikan bawal dan kerapu bakar, lalap sambal dan es teh manis.

Selepas siang, mulailah aksi foto-foto. Tak hirau matahari siang yang memanggang kulit, jepretan kamera terus bertambah, hingga jam tiga sore tak terasa, kami sudah dijilat ombak. Kepalang basah, kami pun turun menerjang ombak. Wah, harus hati-hati, karena selain landai, ombak pantai selatan kerap menyeret dengan cepat.
Sore yang temaram kami lalui dengan menghampar tikar di sisi Siti Hinggil untuk menanti senja. Di situlah memang tempat yang tepat menikmati matahari menggelincir. Sayang, mendung terlalu tebal dan menghalangi matahari. Kami memutuskan untuk kembali ke Surabaya, setelah gelap mulai menggenang hari. Meninggalkan Papuma, saya berkata dalam hati, “Terima kasih Papuma untuk sajianmu, saya akan kembali untuk bertemu senja”.

Salute banget buat mbak Icha yang makin “full Indonesian”. Moga2 di suatu saat saya ada kesempatan vakansi ke Papuma, untuk menyesap sinar mentari pagi, menggoret pasir putih malikan dengan ribuan inisial kekasih, nyentuh atol dengan debar hati gemuruh kasih yang gulung gemulung bak debur ombak malikan ngepung siti hinggil papuma *halah halah halah* (njajal email baru, Mbak, hayo sinten niki Ning)
Kayugung Susuhingangin | Mar 3, 2009 | Reply
Seru perjalananmu Cha.
Btw, ada wrong typo di kalimat akhir…
ferryh | Mar 3, 2009 | Reply
Sadis… Masihkah Indonesia harus dikatakan miskin???
Aveline Agrippina´s last blog post..Apa yang Kalian Tujukan pada Hidup Ini?
Aveline Agrippina | Mar 3, 2009 | Reply
Lautnya sangat biru…
mau…mau…mau… mandi…
tengku puteh | Mar 3, 2009 | Reply
baru tahu di Jawa Timur ada taman Eden, selain sedikit informasi yang saya dengar tentang Alas Purwa & hutan2 Banyuwangi yang masih ditemukan banyak merak juga pantai2 indah dengan ombaknya yang asyik buat surfing
hmm…sungguh saya berharap sekali bisa travelling ditempat2 indah itu
tomy´s last blog post..Yang Tersembunyi.. (sebuah halaman narsis)
tomy | Mar 4, 2009 | Reply
huahhh…
bagus bgt!! ada t4 ginian toh di jatim..
mau..mau.. jd mupeng deh!! >,<
pdhl baru jg liburan k lombok….
Geloo ya.. indonesia bgt kaya!!
ngomong2 pantainya uda dibeli org asing ga???
so sad bgt kl jwban na iya.. hbs yg d sktr lombok uda py nya org arab n luar semua..
DAMN!! lama2 semua t4 bgus di indo bkn lg py org indo… ironis bgt ne!! T_T
( koq jd curcol ya… maap ^^ )
ivy´s last blog post..atau..
ivy | Mar 4, 2009 | Reply
papuma… entenono tekaku.
eko magelang´s last blog post..Legenda tahun 70 an, The Gembell’s
eko magelang | Mar 5, 2009 | Reply
Sudah belasan tahun nggak kesana. Nampaknya makin bersih. Foto-fotomu elok dan bercerita.
Yoga´s last blog post..Komitmen
Yoga | Mar 6, 2009 | Reply
kalau sudah bertemu posting seperti ini maka pikiran berasa nyaman dan hati ingin rasanya ikut mencicipi.
*Lain kali ajak-ajak dong
mascayo´s last blog post..Alhamdulillah sudah seminggu saya tidak merokok
mascayo | Mar 7, 2009 | Reply
Pasir Putih Malikan! Wow!
Siapa tahu Papuma kelak bisa jadi objek wisata sekasta “Bali Beach”? Jempol 7las kagem Mbak Icha and The Gang’s. He he he….
Ki Dhalang Sulang | Mar 8, 2009 | Reply
Indah nian, mbak Icha. Itu motonya pake kamera apa? Bagus banget lho, mbak!
Hejis´s last blog post..Cerbung: Adinda, Kau Pasti Bangga Aku Mencintaimu
Hejis | Mar 12, 2009 | Reply
Masih di Papuma, Cha?
Ferry H´s last blog post..Penulis pertama
Ferry H | Mar 14, 2009 | Reply
uuuuuuuuulala…..
what a beautiful beach i’ve ever seen in my whole life…
lucky me that my boyfriend from jember…
and he is planning to take me to papuma and watu ulo beach …
thanx for the info…..
cant wait to get there as soon as possible…
ajeng HP | Jun 8, 2009 | Reply
top banget deh mbak potonya
kulo nyuwun nggih potone
sugiy | Oct 17, 2009 | Reply
woooowWw…
keren fotO” nYa….
andita rully | Feb 15, 2010 | Reply
Salut fotonya Aku aja yang orang dipinggiran WatuUlo gak pernah pergi sana
Vira Anggriawan | Feb 19, 2010 | Reply
kelihatannya sangat menarik. numpang tanya… kalau dengan sepeda motor kira-kira sulit tidak? maksud saya, apakah jalannya licin berlumpur atau mungkin liat lengket?
arang rider | May 14, 2010 | Reply
HARAPAN KITA SMG KONDISI LINGKUNGAN HUTAN DAN PANTAI DI JEMBER SELATAN TETAP TERJAGA……….TDK SPRT MALANG SELATAN YG SDH TDK ADA LAGI APA YG DISEBUT HUTAN……..SEMUA SDH BABLAS….GUNDUL…..KERING KERONTANG……..SEDIH……..
aremaniaJKT | Jun 29, 2010 | Reply