Yang Tak Berubah Diantara Perubahan

Hari ini, ketika termenung-menung dalam sebuah ruang tunggu terminal, ada perihal yang semburat di benak saya. Sebuah kilasan tentang betapa perubahan tak henti mengiringi kehidupan manusia. Perihal itu muncul sembari saya mengamati lalu lalang orang di terminal dengan beragam gaya dan pesan dalam kemasan pakaian dan atribut.

Beberapa tahun lalu mungkin bandara tak seramai ini. Bepergian, baik dalam hal bisnis maupun wisata dianggap sesuatu yang istimewa. Tapi sekarang? Banyak yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Lima sampai empat tahun lalu, mungkin tak banyak orang yang membuka laptopnya di ruang publik, karena penggunanya masih terbatas. Kini? laptop, notebook, desktop dan yang terkini netbook banyak mewarnai ruang publik, termasuk terminal ini. Sembari menunggu jadwal keberangkatan, membuka portable komputer bukanlah sesuatu yang dikategorikan unjuk kepemilikan. Sudah biasa.

Tiga sampai dua tahun yang lalu, kamera digital pocket menjadi raja dalam menggantikan kamera analog. Dengan semakin meningkatnya penyuka fotografi, kamera digital SLR menjadi lebih diminati karena beragam kebisaannya. Yang sedang belajar motret pun ramai-ramai melirik kamera jenis terakhir itu. Dan produsen pun makin gencar mengeluarkan model-model terbaru.

Setahun yang lalu, pengguna blackberry juga masih sangat terbatas. Saya masih ingat, waktu itu hanya satu dari kawan yang punya blackberry yang merupakan bekal dari kantornya yang berskala internasional. Akhir-akhir ini, blackberry menyemak layaknya tanaman blueberry. Soal fungsi bukan lagi jadi patokan utama dalam memilikinya. Blackberry adalah gaya hidup. Sekarang.

Cepat sekali rasanya perubahan demi perubahan datang. Menggantikan yang lama menjadi baru. Menggantikan yang terbatas fungsinya menjadi dalam satu genggaman. Bahkan banyak yang menggantikan model tradisional dipoles menjadi modern. Dan, modernitas membawa nama baru: keseragaman.

Saya lalu mencari-cari, apa ya hal-hal yang tak berubah?Aha, dalam pengalaman saya yang terbatas, saya menemukan dua hal. Satu, lagu Bohemian Rhapsody nya Queen. Bayangkan, lagu itu diciptakan tahun 1975 oleh Freddie Mercurie. Namun setelah hampir 34 tahun usianya, ia tetap seperti tak pernah tergerus zaman. Saat itu, Bohemian Rhaposody dikenal bukan hanya karena melodinya, juga karena mendobrak mainstream nada-nada lagu yang sedang trend. Sekarang? Bohemian Rhapsody tetap saja Bohemian Rhapsody. Lagunya tetap unik dan tak tergantikan. Bahkan saya masih juga mendengarkan di beberapa radio dan masih tertinggal di koleksi lagu beberapa kawan.

Kedua, alat catut untuk memeriksa tiket kereta api. Entah sejak kapan alat itu mulai digunakan, tapi sampai sekarang, kondektur tetap berkeliling memeriksa tiket kereta api dengan alat yang sama. Saya tak meneliti apakah alat itu masih alat yang sama ketika pertama kali digunakan. Tapi sejauh saya amati, ia tetap memiliki fungsi sama dan menciptakan lubang yang sama di tiket. Mulai dari kereta ekonomi hingga eksekutif. Meski sekarang sudah era digital, catut itu tetap tak tergantikan. Apa jadinya kondektur tanpa catut?

Lucunya, saat tadi menyerahkan boarding pass sebelum masuk ke terminal, petugas melakukan dua aktivitas. Pertama, scanning bar code yang tertera di boarding pass, kemudian melakukan pembolongan tiket dengan alat pembolong kertas. Dan bolonglah tiket saya itu. Sebelumnya saya tak pernah tahu bahwa boarding pass juga perlu dibolongi layaknya tiket kereta api, tapi hari ini metode itu membuat saya tersenyum. Scanning dan membolongi kertas!

Saya baru menemukan dua hal itu. Bagaimana dengan Anda, di sekitar Anda, adakah yang tak berubah?

14 Comment(s)

  1. Hehe, jadi inget alat pembolong tiket itu. Sudah lama juga saya tidak naik kereta api.

    Hmmm, apa ya, yang nggak berubah? Kemiskinan.
    Di satu sisi Notebook, Blackberry dll mewakili kemewahan yang semakin mewabah, di satu sisi, rumah-rumah kumuh sepanjang bantaran kali, kereta-kereta ekonomi yang penuh sesak sampai ke atap, mewakili sebagian kecil kemiskinan yang belum mampu dientaskan di negeri ini.

    isnuansa´s last blog post..SEO-SEOan

    Ah ya..kemiskinan…masih ada, nyata dan di depan mata..kapan bisa berubah ya Mbak…
    Di satu sisi kota, orang2 berbaju fancy memenuhi mall mewah dan rame2 berinvestasi pada apartemen2 mewah juga. Di sisi yang lain, jangan terpikir ke mall, untuk makan saja mereka sudah berpeluh, dari hari ke hari tak pernah berubah…

    isnuansa | Jan 28, 2009 | Reply

  2. Gara-gara baca tulisan ini langsung yang terbayang di kepala tuh Pak Kondektur yang keliling sambil bawa alat pembolong itu.. hehe.. Maklum, hobi naik kereta api… :)

    Yang tidak berubah di sekitar aku…
    Mmm… ada satu. Cak Yit, penjual bakso yang keliling kompleks. Dari jaman aku masih kecil sampai sebesar ini, dia jualan bakso melulu, tanpa ada variasinya.
    Padahal dia tuh termasuk orang yang berada dan punya duit tabungan yang buanyak *udah aku tengok kapan hari! hehehe*, tapi tetep, jualan bakso adalah pekerjaan mulianya setiap hari…

    Hm, ini sama seperti yang Mbak maksud nggak ya?
    Kalau nggak… nanti aku komentar lagi ya… hehe…

    heheheh…itu bisa juga, Jeung…tapi kalo bicara profesi, rada susah mengukurnya Jeung, sebagai suatu stagnansi dalam perubahan. Tetap setia pada profesi biasanya disebabkan karena tak ada pilihan lain atau memang cinta mati dan tak ingin pindah ke lain hati.

    Ayo cari lagi, kali ini yang berhubungan dengan produk budaya dan peradaban manusia..dulu dan kini, yang tak ikut perubahan zaman gitu..hehehhehe

    Lala | Jan 28, 2009 | Reply

  3. Bohemian Rhapsody…. ah ingat masa masa itu, tidak berubah ternyata.

    p] sambil nunggu boarding, onok-onok wae sing dipikir Cha.

    eko magelang´s last blog post..Pusat Informasi Mojopahit

    Itulah mas, kalo sedang diam, pikiran saya senang berkeliaran kemana-mana. Serunya, kalo tiba-tiba nemu ide untuk pekerjaan, yang lelah dicari-cari setelah berjam-jam di depan komputer…mak bedunduk muncul begitu saja. Karena itu saya selalu membawa notes dan pena dalam tas saya, jaga-jaga tiba-tiba ide liar muncul. Agar tak teraborsi sama lupa, cepat-cepat saya catat. Ato kalo tidak ya catat di handphone hehehehhe

    eko magelang | Jan 29, 2009 | Reply

  4. cha… ada awards buat icha, ambil ya di blogku :D

    Lala´s last blog post..Awards Borongan

    ahuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…dapat award? makasih ya Lala…….*langsung nyabet awardnya sembari masih mengunyah lontong sayur hehehehhe

    Lala | Jan 29, 2009 | Reply

  5. yang gak berubah dalah diriku adalah page rank googel masih nol besaar :D

    purwaka´s last blog post..Surabaya-Bali

    hehehehe…kalo sudah berubah, makan-makan yaks :p

    purwaka | Jan 29, 2009 | Reply

  6. Sambil senyum-senyum, saya lebih fokus pada proses penciptaan ‘ungkap fenomena’ ini, Teh Icha. Peka banget Anda punya kamera bawaan, lebih peka di banding kamera digital merk apapun. Ditambah power naluri di bidang deskripsi dan narasi (gak maido, Cah, di belakang Anda khan ada PAT, he he he he he….)

    Hohohoho…PAT..tentu saja, Ki Dhalang. Beliau itu yang pertama kali menimbulkan cinta saya pada sastra. Saya selalu meletakkan nama beliau sebagai tokoh yang saya idolakan dan buku-bukunya selalu saya sebutkan ketika ditanya pilihan buku favorit.

    Soal kamera bawaan itu, insyaallah jadi berkah bagi saya ya…mudah-mudahan terus berkembang jadi kamera yang bermanfaat, bukan jadi kamera a la infotainment hehehehehe

    Ki Dhalang Sulang | Jan 29, 2009 | Reply

  7. Apa yang ada di dunia ini berubah, kecuali perubahan itu sendiri.
    Tapi kok ya mbak Icha sempet-sempetnya ngutak-utik catut.. he.. he..

    Hejis´s last blog post..PERKAWINAN TANPA KERTAS

    Nah sekarang saya jadi ada tambahan pikiran. Itu catut adalah produk yang sangaaaaaaaaaaat long lasting…trus sekarang nasib pabrik yang memproduksinya itu gimana ya..masih produksi ndak ya? hehhee

    Hejis | Jan 30, 2009 | Reply

  8. Nasi Mbak..semodern apapun orang Indonesia,sesering apapun masuk rumah makan cepat saji..ujung2nya kita bakal balik untuk mencicipi nasi.. :-)
    =-=-=-=-=
    *satu yg bisa dikenang dari negeri yg carut-marut ini*
    Belilah dari petani Indonesia..*upps..ini slogannya ‘Juragan’ ntu yak… ;-)

    M4nk´s last blog post..Missing Day…

    heheheh ya…jadi inget sama ungkapan yang bilang,”ah, ngapain takut, sama-sama manusianya..sama-sama makan nasinya..”

    M4nk | Jan 30, 2009 | Reply

  9. Ya. Perubahan!
    Dulu, aku tak mengenalmu. Kini aku mengenalmu.
    Bagiku itu sebuah perubahan yang radikal!

    (Huahahaha…)

    Daniel Mahendra´s last blog post..Bukan Tiket Sekali Jalan

    hahaha…di jidatku ada label progresif revolusioner :p

    Daniel Mahendra | Jan 30, 2009 | Reply

  10. Bukan makhluk terkuat atau terpandai yang dapat bertahan sepanjang zaman mbak lisa, melainkan yang dapat menyeseuaikan diri dgn perubahan….

    Halah, kok Darwin baget Abu jadinya…

    TENGKU PUTEH´s last blog post..KEHIDUPAN YANG TERKADANG PARADOKS

    Ada benarnya juga Tengku. Tap contoh di atas yang saya sebutkan, masih ada hal-hal yang tak berubah dan tak lekang oleh zaman, maupun tergerus perubahan. Mereka juga tetap ada dan memiliki fungsi, justru menjadi unik. Itu menurut saya.

    TENGKU PUTEH | Jan 30, 2009 | Reply

  11. Bagaimana dengan Anda, di sekitar Anda, adakah yang tak berubah?

    cinta saya kepada istri saya tetap seperti dulu,tidak ada yg berubah,hahaha

    suit…suit…yang cinta isteri….salam buat si mbak nya yo mas…

    langitjiwa | Feb 1, 2009 | Reply

  12. Salam kenal buat Mbak Icha. Waduh! menarik banget artikelnya. Dari bahan yang sangat sederhana dapat disajikan menjadi barang yang sangat menarik ( ibarat tepung terigu dapat jadi aneka kue yang lezat). Menurut saya, salah satu yang tak pernah berubah sejak jaman baheula hingga jaman global ini adalah menangis dan tertawa. Siapapun pun pasti pernah mencoba ( ha ha ha ha). Matur nuwun.

    Salam kenal kembali, Pak. Wah, satu lagi penduduk Sulang berkunjung ke ladang saya. Sembah nuwun, Pak. Kue ini semoga juga lezat di lidah orang lain saat mengecapnya.

    Menangis dan tertawa ya? kalau jaman dahulu, ketika frase menangis dan tertawa itu ditemukan, seperti menjadi penanda sebuah kondisi. menangis untuk kesedihan, tertawa untuk kebahagiaan. Tapi sekarang, saya banyak juga ketemu dengan orang-orang yang bersedih tapi tertawa menghadapi laranya, lalu orang-orang yang menangis karena kebahagiaan yang kini begitu langka diterimanya…heheheh makna tangis dan tawa bisa berbaur begitu rupa, tapi yang tak berubah memang emosi dan hentakan jiwa yang dibawa saat kedua aktivitas itu dilakukan

    Sakti62art | Feb 3, 2009 | Reply

  13. Kadang utk beberapa hal saya lebih suka sesuatu tidak berubah utk menjaga ke-orisinalitas dari sesuatu itu. Contohnya yaa Bohemian Rhapsody itu…

    Viva La Old School….;)

    Salam kenal dan makasih udah ngasih info di blog saya mbak…

    Brandal Surga´s last blog post..Kecanduan Facebook gara-gara Mafia Wars

    Yah, saya setuju…biarkan hal-hal yang tak berubah itu dalam putarannya sendiri…

    Brandal Surga | Feb 5, 2009 | Reply

  14. iya mbak icha, bener kata mas hejis, nasi…
    katanya meskipun udah makan apa aja tapi bilangnya belum makan kalo belum ada nasi masuk ke perut, hehehehe

    Yup mas…apalagi jika nasinya hangat digabung sama sambal terasi, lalap sayuran, dan kerupuk….enaknya benar-benar gak ada yang ngalahin, dibanding sejuta perubahan dan wisata kuliner di luar sana…

    Agung Mojosari | Feb 5, 2009 | Reply

Post a Comment