Saya Juga Bisa Menyebalkan!
Posted by Lisa Febriyanti on Dec 11, 2008 in ladang kisah
Minggu ini banyak waktu luang. Bagi saya, ini waktu yang tepat untuk istirahat dan melakukan hal-hal yang tak sempat saya lakukan di hari-hari penuh aktivitas. Salah satunya check up rutin kadar Thyroid dan tentu saja jalan-jalan ke mall (ting!). Tapi ternyata di sore yang luang ini saya sedang berperan jadi orang yang menyebalkan. Dan tulisan ini hanya sebuah curhat panjang saya yang menyebalkan.
Drama menyebalkan sore ini sebenarnya dipicu oleh perihal remeh. Awalnya, begitu keluar dari mall, saya lihat ada selebaran promosi sebuah salon mobil dijepitkan pada wiper di kaca depan mobil saya. Saya juga lihat selebaran berwarna kuning itu dijepitkan di mobil-mobil lain yang sedang parkir. Saat itu kaca yang melambari selebaran sedang basah, habis tertimpa air hujan. Waktu selebaran itu hendak saya ambil, ternyata ia lengket di kaca mobil. Jadilah kaca depan di sedikit bagiannya bernoda kertas kuning, seperti baru saja ada stiker yang ditempel di sana. Geram saya, meski saya tahu bahwa bisa saja bekas itu hilang kalau digosok dengan air. Tapi itu bukan cara penyelesaian yang saya lakukan.
Salon mobil yang menempelkan selebaran ada di lantai yang sama dengan tempat mobil saya parkir. Saya langsung datangi dan meminta sang pemasang selebaran untuk membersihkan kaca mobil saya. Mereka terlihat enggan dan saya tahu dari pandangan mata mereka, saya dilihat sebagai orang yang sangat cerewet. Prettt! biarkan saja. Saya pikir itu hak saya, setelah akibat aksi “penempelan” selebaran itu justru mengotori kaca mobil saya.
Tak berhenti di situ. Si “pembersih” yang kemudian memang menghapus noda itu dengan air justru berujar dengan nada sinis, “Ini mah bisa dibersihkan dengan air saja kok, Bu. Gitu saja kok repot”. Wuih, langsung serentetan kata pedas keluar dari mulut saya. Sekian mata memandang karena saya cukup keras berbicara. Saya tahu, saya sedang sangat menyebalkan di mata dia. Tapi dia juga harus tahu, saya jadi repot karena aksi itu. Dan episode menyebalkan itu berakhir dengan saya membanting pintu mobil, tanpa ucapan terima kasih padanya.
Bicara soal menyebalkan, di jalanan, saya termasuk orang yang bisa sangat menyebalkan jika sedikit saja terganggu. Pernah satu pagi, saya terjebak di kemacetan. Pamer paha-padat merayap tanpa harapan. Tapi mobil di belakang saya kerap membunyikan klakson untuk bergegas. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali. Lah, bagaimana bisa bergegas kalau di depan juga merambat.
Kesal sekali waktu itu. Saya pun akhirnya diam saja, tak ikut maju ketika mobil di depan sudah merambat maju. Makin kencanglah klakson dibunyikan dari mobil belakang. Saya cuek saja membiarkan. Tapi itu tidak lama, saya pun maju lagi. Hanya sekadar melampiaskan kekesalan. Parahnya, aksi klakson mobil tak segera berhenti, ia tetap saja mengklakson meskipun tahu di depan juga merambat. Di tengah lalu lintas sangat padat itu, saya lalu turun dari mobil dan mendatangi mobil di belakang. Dengan kesal, saya lampiaskan kekesalan saya dengan berbicara keras dan meminta sang sopir menyudahi aksi klaksonnya. Ia hendak menjawab dengan kekesalan yang sama, tapi saya tak memberinya waktu, karena saya segera kembali ke mobil dan berdiam diri.
Sang sopir mungkin juga kesal dengan aksi menyebalkan saya yang tak mau maju. Ia pun mencari jalan lain ke samping, menerobos mobil di kirinya, berlalu menyalip saya, sembari mengklakson panjang saat mobilnya berhasil melalui mobil saya. Dan saya tahu, pagi itu saya sangat menyebalkan baginya.
Satu lagi peran menyebalkan ketika saya sedang duduk di sebuah restaurant kecil. Waktu itu saya sedang menyantap makan siang. Beberapa meja masih kosong. Saya memilih agak di pojok, di dekat pasangan yang sedang makan dengan canda-canda mesra. Di tengah kenikmatan saya makan, tiba-tiba sang lelaki dari pasangan itu mendatangi meja saya dan begitu saja mengambil semua tissue yang tersedia di meja saya, tanpa permisi. Lah, sopan sekali ya. Bukankah masih banyak meja kosong lainnya yang juga ada tissuenya? Atau bisa juga ia minta pada pelayan restauran, ketimbang menghabiskan tissue di meja yang sedang ada orangnya. Ughhh, langsung naik ke ubun-ubun emosi saya.
Saya lalu memikirkan cara yang telak membalasnya. Setelah selesai makan, saya cepat-cepat melangkah mendekati pasangan itu dan dengan sangat menyebalkan mengambil balik tissue (masih bersih tentunya) yang sudah diambil dari meja saya, tanpa permisi juga. Mereka berdua memandang saya dengan kaget. Tapi tak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Saya lalu membayar makanan dan keluar dari restauran. Merasa menang dengan cara yang menyebalkan.
….saya termasuk orang yang bisa sangat menyebalkan…. untung masih ada kata bisa coba kalo ngga ada, bisa runyam deh kalo tiap hari deket Anda *hehhehe……..
Btw. Deskripsi blognya bagus, tapi tidak semua kata lho
katakataku | Dec 11, 2008 | Reply
haha….kayaknya kita sama,sist. gak trima kalo di bikin sebel orang. aku pernah mberhentiin bis di tengah jalan gara2 jalan seenak udhel’e juga. dan lain2, banyak juga. terus yang paling parah, pernah harus ngadepi orang 7 seorang diri gara2 pas simpangan mobil sama mobil, dia yang salah, eh aku dikatain ‘guendeng !’. ya, tak kejar…nggak taunya yang keluar, ya itu tadi 7 orang dan lanang kabeh, hehe…..untung malah mereka yang ngeper, sambil minta maaf. padahal, aku wis deg2 plas.
goenoeng | Dec 11, 2008 | Reply
saya selalu bertanya sama diri sendiri apakah saya lebih mudah didekati atau malah membuat orang menjauhi?
saya pikir saya seringnya menyebalkan hu..uh
tomy | Dec 12, 2008 | Reply
saya pun mungkin akan melakukan hal sama jika dalam posisi Mbak
isnuansa | Dec 12, 2008 | Reply
kayaknya lg PMS neeeh….
mooring unmooring | Dec 12, 2008 | Reply
Wow!! Wow!! Wow!!
Hahaha!! Mantep tenan arek iki!
Kalo jalan sama orang kayak gini, kayaknya everyting is gonna be oke! Hihi.
Terkadang kondisi yang membuat emosi kita muncrat, pada hakekatnya menguji kita juga kan, Lis…
Daniel Mahendra | Dec 14, 2008 | Reply
Posting yg menyebalkan
LoL
*aku mo ketawa dulu*
aryf | Dec 17, 2008 | Reply