Arya Penangsang vs Joko Tingkir (1)

Kisah pertarungan antara Arya Penangsang dengan Joko Tingkir adalah sebuah cerita konspirasi politik perebutan tahta dan penuntasan dendam di Kasultanan Demak, yang berakhir dengan runtuhnya kejayaan Demak. Sepeninggal Arya Penangsang, riwayat kerajaan pesisir Jawa mulai bergeser ke pedalaman, di tangan tlatah Pajang.

1549

Damar baru saja dinyalakan. Pendarnya lindap merebak di sebuah ruangan sempit. Di remang itu, hanya jangkrik-jangkrik yang berani bersuara. Kumpulan jangkrik itu seakan berseru pada dua sosok yang tepekur dalam ruangan, untuk segera mengambil keputusan. Arya Penangsang duduk mencakung di hadapan gurunya, Sang Sunan Kudus. Sejak beberapa waktu lalu, mereka berdiam. Tapi Sunan Kudus tahu, di dada Arya Penangsang bergelora sebuah amarah yang sulit untuk diredam lagi. Amarah yang ditimbulkan oleh dendam atas kematian ayahnya, Raden Kikin, yang setelah kematiannya dikenal sebagai Pangeran Sekar Seda ing Lepen.

“Kanjeng guru, sudah kucoba menengkarapkan api dendam ini pada Prawoto. Tapi sungguh sobek hati ini melihat sepupuku itu duduk di dampar kencana Demak, tak terusik oleh lakunya yang menyebabkan ayah pralaya 20 tahun silam,” Arya Penangsang akhirnya bersuara.

Sang Sunan menghela napas. Paham sekali akan dendam yang menggelora dari dada murid kesayangannya. Ia tahu betul perbuatan Prawoto memang tak bisa dimaafkan. Membunuh pamannya sendiri, agar sang ayah, Sultan Trenggana mulus naik tahta menggantikan Pangeran Sabrang Lor, memegang tampuk tertinggi Kesultanan Demak.

Lebih dari 20 tahun Sultan Trenggana membawa Demak melangkah ke gemilang Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Menyingkirkan Arya Penangsang menjadi Bupati Jipang Panolan. Arya Penangsang masih diam dan bertekuk sembah pada pamannya. Mengolah wilayahnya sebagai bawahan Demak nan makmur dan kesohor seantero Nusantara. Tapi ketika Sultan Trenggana mangkat di Panarukan, dampar kencana menjadi milik Prawoto yang memiliki nama kecil Raden Mukmin, amarah itu kembali membesut dinding-dinding hatinya.

Malam ini, Arya Penangsang ingin mendapatkan pangestu dari gurunya. Sebuah sokongan yang sangat berarti atas penuntasan dendam lama yang tak kunjung mengabar langkahnya.

“Lakukankah apa yang menurut kata hatimu pantas dilakukan,” singkat Sang Guru mengucap kata.

Arya Penangsang menyembah Sang Guru. Hatinya yang pepat menjadi lowong. Ia tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia pun beringsut keluar. Meninggalkan Sang Guru yang segera meniup damar. Malam hitam pekat. Di luar sana burung bence bernyanyi. Menyanyikan lagu duka yang akan menyelimuti Demak. Sebentar lagi.

bersambung ke bagian dua (sedang digarap)

29 Comment(s)

  1. bagus….
    seperti SH. Mintardja, nda’ sabar nunggu lanjutannya :D
    ditunggu, ya mbak :D

    goop | Dec 10, 2008 | Reply

  2. Wew..teringat bacaan saya ketika SD, buku2 cerita tanah jawa di perpustakaan SD saya yang kecil di pedalaman Toraja sana..salah satu yang melekat kuat : Joko Tingkir,nyumbat mulut banteng ngamuk dengan tanah liat untuk mencari nama masuk ke lingkungan kerajaan… :-) CMIIW
    =-=-=-=
    Saya kagum dengan tanah jawa dan cerita2 kerajaannya yang begitu beragam… :-)

    M4nk | Dec 10, 2008 | Reply

  3. menunggu lanjutannya..
    weh mbak icha kerennn
    ;)

    sekelebatsenja | Dec 10, 2008 | Reply

  4. waduh, cerita-cerita babad jadul. jadi malu saya, karena nggak pernah baca cerita macam gini yang asli dalam negeri :(

    isnuansa | Dec 10, 2008 | Reply

  5. wah, ini cerita bersambung dg menggunakan setting sejarah kerajaan jawa masa silam. romantisme terhadap kejayaan masa silam tiba2 muncul, mbak icha. saya selalu melihat ketragisan yang dialami oleh tokoh2 yang sengaja disingkirkan oleh penguasa. aduh, aku ingin membaca lanjutan serail berikutnya aja deh, mbak. takut kuwalat kalau nebak2, hiks.

    sawali tuhusetya | Dec 10, 2008 | Reply

  6. aku suka sekali dengan sejarah, sebenarnya sudah tahu cerita selanjutnya, tetapi membaca cerita diatas malah membuat penasaran karena olahan kata yang cukup indah dan menarik.

    Ditunggu kisah selanjutnya !

    suwadi | Dec 10, 2008 | Reply

  7. Sayangnya…belum banyak komikus yang mau membuat komik dengan cerita macam begini. Kalo ada, mungkin saya bakal menjadi orang pertama yang akan membeli komiknya.

    Arief | Dec 11, 2008 | Reply

  8. Sayangnya anak-anak kita sekarang lebih tertarik membaca buku HARRY POTTER duh sedihnya…..

    sejutaasa | Dec 11, 2008 | Reply

  9. Cerita yang menarik.
    Maaf, saya awam dalam masalah babad nusantara ini.
    Kalau dinamakan ‘babad’ apa masih ada aspek sejarahnya ya?
    Atau sudah masuk kategori legenda atau cerita rakyat (yang belum tentu benar jalan ceritanya)

    Yudi | Dec 11, 2008 | Reply

  10. nungguin Ratu Kalinyamat tapa sinjang rambut :mrgreen:
    harap-harap cemas

    tomy | Dec 11, 2008 | Reply

  11. Boleh juga mba…
    kalo perlu, dilanjutin kayak P LKH gimana, babad demak atw apa..kek judulnya..ada sejarahnya kan…

    Arya Kamandanu | Dec 14, 2008 | Reply

  12. Icha back to basic !!!
    Keren euii…
    Lanjut…

    Ferry | Dec 22, 2008 | Reply

  13. Sebagai orang lamongan asli, yang berlabel Joko Tingkir,,,,Saya meminta bantuaanya untuk kejelasan Cerita Asli Joko Tingkir… Sebab dari makam beliau saja banyak cerita berbeda…

    Bayu´s last blog post..Maju Karena Penelitian

    Bayu | Jan 4, 2009 | Reply

  14. Wah ceritanya seru juga.. ditunggu kelanjutannya… mau tau versinya… endingnya gimana ya… sama seperti kebanyakan ga???

    Eka Riyadi | Mar 1, 2009 | Reply

  15. Ada bagian k 2nya gk??

    Lagi cari inspirasi nh buat bikin bagian k 2

    pppppp | Apr 5, 2009 | Reply

  16. Cerita…
    Demak-Pajang-Mataram sangat menarik…
    bagi Abu menariknya adalah pergeseran budaya maritim demak menjadi pertanian Mataram

    tengku puteh´s last blog post..HANYALAH LELAKI BIASA

    tengku puteh | Apr 6, 2009 | Reply

  17. Tetap sabar menanti dg berdebar hati munculnya tokoh fiksi versi penjinakkata yang melegenda sekaliber Maesa Jenar, Simolodra, Lowo Ijo, Pasingsingan, Dalang Mantingan, dll. (dheg dheg….. dheg dheg….. dheg dheg…..)

    Ki Dhalang Sulang | Apr 7, 2009 | Reply

  18. aduh cpetan donk critanya q dah nunggu lama nuih 2 minngu yang lalu q dpet tgz dri guru udah nunggu lma eh ga keluar”

    aya | May 18, 2009 | Reply

  19. Penangsang selama ini selalu jadi antagonis.kejujuran sejarah amat mahal di negeri ini.cerita ini bisa buat alernatif

    yusup | Jul 3, 2009 | Reply

  20. Kalau dari cerita kayanya sakti2 bener orang jaman dulu, tapi kq dijajah belanda ampe ratusan tahun…?

    dede | Aug 2, 2009 | Reply

  21. sayang tidak lengkap

    pekik | Aug 18, 2009 | Reply

  22. Di Rampungin Dungz tu cerita, kalo bisa sih langsung kirim ke E-Mail aku..

    asdi | Sep 1, 2009 | Reply

  23. kita Gak orang jawa aja seneng bc ceritanya, bangga donk jdi orang jw…

    Kamarudin | Sep 14, 2009 | Reply

  24. mohon cerita itu jangan dibumbui macem macem kami pihak yag masih terkait dengan orang -orang yang anda ceritakan merasa terdzolimi jika cerita itu terlalu memojokkan kakek buyut kami.
    Pangeran Sekar sedo ing lepe dan aryo panangsang. karena Raden Kikin dan Raden Mukmin adalah satu keluarga meskipun raden Mukmin alias sultan trenggono adalah anak dari selir sedangkan Raden kikin adalah anak dari istri kedua yang sah di demak. tapi meskipun begitu kita liat siapa yang memulai pembunuhan

    no name | Oct 9, 2009 | Reply

  25. keluarga besar saya punya dokumen silsilah, nama-namanya mirip

    nalatarunakusumah | Oct 10, 2009 | Reply

  26. bekin cerita jangan buat penasaran

    life: duh, iya Mas Eko..pena ini sedang terhenti di titik cerita itu..sedang melalangbuana kemana-mana. Mudah2an ada energi untuk meneruskannya..makasih..

    eko | Nov 24, 2009 | Reply

  27. seru bos kisahnya, tapi bagian duanya mana kok ‘ngak ketemu saya cari

    mamas wae | Jun 1, 2010 | Reply

  28. bro ada yang tau silsilah raden anggoro jati nggak ya…kalo ada email aku ke tito.prastowo@yahoo.com

    trims

    Tito Prastowo | Jun 21, 2010 | Reply

  29. terima kasih atas ceritanay…
    kunjungi juga blog saya di ichwana.blogdetik.com dan di blog.unand.ac.id/ichwana
    terima kasih….
    kunjungi website kumpulan jurnal kami : http://repository.unand.ac.id

    dodi ichwana | Jun 25, 2010 | Reply

Post a Comment