Corporate Culture dan Pembentukan Karakter

office

Pada suatu waktu, saya pernah menjadi bagian dari perusahaan yang memiliki serangkaian corporate culture sebagai filosofinya. Karyawan yang bergabung di dalamnya, diharuskan mempelajari budaya perusahaan itu dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari (terutama di kantor). Di sini, korporat kemudian menjadi bagian dari pendidikan bangsa yang melembaga. Dengan segala aturannya, membentuk karakter sesuai dengan misi dan visi yang diembannya.

Tempat saya bekerja dulu, memiliki ikon-ikon budaya yang intinya menggambarkan sikap-sikap positif dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari peduli, kerja sama, rendah hati, inisitiaf, kreatif, optimis, komunikatif, tanggung jawab hingga profesional. Semua karakter ini, dibumikan dengan berbagai aktivitas perusahaan, terutama untuk karyawannya.

Perusahaan ini sangat concern terhadap pendidikan karyawannya. Pengembangan diri karyawan mendapatkan porsi perhatian yang cukup besar. Tiap bulan, ada pemilihan karyawan teladan. Salah satu aspek yang dihitung dalam menilai keteladanan karyawan adalah dari ikon budaya yang disematkan. Bahkan ada ujian tertulis untuk menghapal dan praktik sehari-hari budaya itu dalam pekerjaan rutin.

Beberapa silabus training juga disediakan untuk karyawan yang telah memenuhi beberapa persyaratan, sesuai dengan materi training. Bahkan, saya pernah mengikuti program promosi jabatan dengan proses pelatihan dan persiapan diri untuk jabatan baru selama tiga bulan. Tujuannya agar promosi itu menjadi pas bagi si pemangku jabatan, dengan bekal pengetahuan yang lebih.

Saya merasakan betul bagaimana budaya perusahaan itu bisa menjadi sebuah pembentuk karakter yang positif. Terlihat seperti ajang “doktrinasi” dari sisi perusahaan ke karyawan, tapi di balik itu semua, perusahaan yang memiliki budaya kuat, melahirkan citra yang positif bagi masyarakat awam atau paling tidak memberikan gambaran, bagaimana roda perusahaan itu bisa berjalan di mata masyarakat awam.

Minggu lalu, saya bertemu kawan yang juga memiliki budaya kuat di perusahaannya. Ia bekerja di perusahaan otomotif ternama di negeri ini. Saat ini, perusahannya mengemban budaya dan kampanye safety riding. Ia bercerita, jika ada karyawan yang ketahuan tidak melaksanakan safety riding, misalnya tidak menggunakan alat-alat pengaman saat mengemudi, melanggar rambu di jalan, lalu bisa dibuktikan melalui foto, hukumannya adalah dipecat jadi karyawan. Wah, keras juga. Tapi dari sebuah kedisiplinan itu, melahirkan karakter positif bagi individu-individu di dalamnya.

Tadi pagi, saya baru menyapa teman di mantan kantor yang memiliki budaya itu. Saat akan berbincang, ia minta izin untuk berdandan dulu. Menurutnya, sekarang ada tambahan peraturan lagi. Karyawan wanita, meskipun itu di back office, diwajibkan untuk rapi dan berdandan sewajarnya di kantor. Ini merupakan salah satu upaya pelaksanaan budaya profesional dan pencitraan perusahaan yang bonafit. Karena, meskipun back office, mitra kerja sering datang berkunjung untuk langsung ketemu kawan-kawan di back office. Wah, aturan yang ini sudah masuk ke ranah pribadi, meskipun hasilnya memang untuk profesionalitas dan pencitraan.

Budaya perusahaan, dalam upaya memberikan citra positif perusahaan sekaligus menjadi salah satu lembaga untuk membentuk karakter individu, lalu dari individu berharap bisa direplikasi dalam kehidupan sehari-hari, ditularkan pada orang lain. Lebih jauh, saya malah berharap, karakter positif budaya bangsa ini bisa juga diterapkan dengan sistem seperti budaya perusahaan itu. Tentu saja dibutuhkan komitmen dan kedisiplinan dari semua pihak.

Memang sangat tidak mudah. Ketika kita masuk ke perusahaan sudah membawa budaya masing-masing, kebiasaan masing-masing, karakter masing-masing. Yang sudah terbentuk sekian tahun, mengakar dalam tingkah kita. Tentu saja akan ada benturan antara karakter pribadi dengan karakter budaya yang ditetapkan perusahaan. Tapi dengan sosialisasi, hubungan vertikal antara perusahaan dan karyawan, saya yakin budaya perusahaan bisa menjadi sebuah pondasi untuk memulai sebuah karakter positif.

Saya lalu teringat ucapan seorang kawan, perusahaan itu (tempat saya bekerja dulu) adalah sebuah sekolah dan tempat belajar banyak hal positif. Karena memang, banyak bukti (walaupun bukan semua), semua “jebolan” atau yang pindah dari perusahaan itu paling tidak mampu mengambil makna positif dari kata profesionalitas.

gambar dicomot dari sini

7 Comment(s)

  1. Nah, engkau sebagai alumni jebolan almamatermu itu, bagaimana? Dapat memetik makna positif dari kata profesionalitas yang kau maksud itu? ;)

    aku banyak belajar dari situ…dan beberepa kuterapkan juga ketika membentuk komunitas, baik yang profesional maupun tidak. salah satu yang paling aku ingat adalah, selalu mengucapkan terima kasih ketika berhubungan secara personal dengan seseorang. ini malah coba kuterapkan ke hampir semua lini, bahkan pada satpam yang tugasnya menyeberangkan jalan, meski agak teriak, ucapan terima kasih itu adalah sebuah penghargaan yang sangat pantas baginya……

    yang susah adalah kita berhadapan dengan individu berbagai dengan karakter yang sudah mengakar…kadang dibilang basi atau gak perlu lah kaya gitu…tapi menurutku itu tetap harus direplikasi…bagaimanapun penerimaannya…hehehehhehehe

    Daniel Mahendra | Dec 9, 2008 | Reply

  2. Memang betul. Perusahaan adalah sekolah pembentuk karakter. Di perusahaan saya dulu dan sekarang adalah buktinya. Karena itu berbahagialah yang pernah kerja di perusahaan yang mempunyai budaya kerja yang bagus.

    Btw, tulisannya keren..

    makasih Mas Yusuf atas tambahan informasi dan kunjungannya ke ladangkata…:)

    Mochamad Yusuf | Dec 9, 2008 | Reply

  3. kebanyakan [mungkin] di corporate manusia [karyawan] ditandai dengan angka, kemudian dari angka muncul peringkat dan itu yang akan menjadi ukuran kepatuhan kita pada corporate.
    apakah itu sesuatu yang sangat penting mbak ?

    sebentar Mas Eko, yang dimaksud penting apanya niiih? apakah yang dimaksud adalah angka? kalau memang iya…ya tentu saja angka itu sangat penting. hampir semua lini kehidupan individu di negeri ini berkutat dan dihitung juga dengan angka. dalam hal doktrinasi corporate culture, tak dapat dipungkiri, kekuatan korporat ada pada angka yang ditukarkan dengan tenaga karyawannya. kalau mau tetep kerja ya harus manut aturan. gitu gampangnya. di baliknya, aturan-aturan yang berbasiskan pada budaya itulah yang sedang saya percakapkan di sini. sekelompok aturan yang mengajarkan untuk lebih berkarakter positif…..:)

    eko magelang | Dec 9, 2008 | Reply

  4. ada juga perusahaan besar yang gak punya budaya belajar sama sekali.
    karena waktu rekrut karyawannya nyolong karyawan orang, pekerja seniornya ngerasa kayak raja, pegawai dari perusahaan yang udah lama kerja merasa bisa nyolot ke karyawan baru walaupun jabatannya lebih tinggi, kesalahan dibiarin aja asal bukan pekerjaan dirinya sendiri, selama orang lain yang salah ya gak usah diperbaiki, kalau mau dimarahin aja…
    ada lho perusahaan kayak gitu, saya gak akan bilang ke siapa2 nama perusahaannya..
    saya gak mau dianggap menyebarkan berita nggak sedap mengenai TVOne… biar aja itu tidak diketahui perusahaan apa :)

    hahahhahaha…lah itu sudah jelas disebutkan :p

    http://jpcats.com | Dec 10, 2008 | Reply

  5. boleh sharing tidak? (siapa saja yg mau bantu) untuk kegiatan karyawan yang bisa mengaplikasikan budaya perusahaan dalam hal integritas, kira-kira seperti apa ya? mohon masukannya di email ke ata_cantiques@yahoo.com. Terima kasih.

    sudah saya coba bantu lewat email ya Ata…mudah2an bisa dimanfaatkan…:) makasih kunjungannya…

    ata | Dec 10, 2008 | Reply

  6. saya juga almamater perusahaan seperti itu *nggak mau kalah nih* dalam mengahadapi orang berbagai karakter ternyata kita harus bisa menyelami lalu mengadjust diri menjadi pribadi yang bisa nyambung dengannya
    sayang tempat kerja sekarang kalau tidak punya karakter yang kuat malah jadi tidak punya etos kerja & tidak peduli dengan lingkungan

    tomy | Dec 11, 2008 | Reply

  7. saya minta bantuanx arti / jabaran integritas untuk budaya perusahaan…tolong ya…

    setyo | Aug 25, 2010 | Reply

Post a Comment